Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
"Jadi, Alana... jika ingatan visualmu tentang kamarku begitu hebat, dan aroma tubuhmu masih tertinggal jelas di benakku, coba jawab satu pertanyaanku ini."
Devran perlahan melepaskan dekapannya, namun kedua tangannya tetap bertumpu di atas meja kerja, mengurung tubuh Alana yang masih terengah-engah di antara kedua lengan kekarnya.
Mata elangnya berkilat tajam, memancarkan tatapan penuh jebakan yang mengunci pandangan hazel Alana.
Alana mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar, mencoba mengumpulkan kembali sisa-siga harga dirinya yang baru saja runtuh.
"Pertanyaan apa lagi, Devran? Saya rasa semua hal yang ingin saya katakan sudah cukup jelas."
"Belum cukup jelas bagiku sebelum kamu menyebutkan satu tanggal spesifik," sahut Devran, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang namun sarat akan intimidasi yang menekan mental.
Pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat, menghitung setiap perubahan ekspresi di wajah Alana.
"Di mana kamu menghabiskan malam pada tanggal 12 November lima tahun yang lalu?"
DEG.
Pertanyaan itu seperti hantaman palu besar yang langsung meremukkan ketenangan Alana yang baru saja ia bangun. Warna merah di wajahnya seketika memudar, digantikan oleh pucat pasi yang teramat sangat.
"K-Kenapa... kenapa Anda menanyakan tanggal itu?" Alana terbata-bata, tangannya yang berada di bawah meja saling meremas dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hanya memastikan ingatanmu, Alana Kirana," jawab Devran dengan senyuman tipis yang sangat dingin, senyuman seorang predator yang tahu mangsanya telah masuk ke dalam perangkap yang sempurna.
"Malam itu adalah malam di mana pesta perayaan ulang tahun Adhitama Group digelar di Bandung. Malam di mana seluruh sistem keamanan kamar penthouseku disabotase. Dan malam di mana seorang wanita menyelinap masuk ke dalam selimutku."
"Saya... saya tidak ingat!" Alana memalingkan wajahnya dengan cepat, menolak menatap mata elang Devran yang seolah bisa membaca setiap kebohongan di dalam kepalanya.
"Lima tahun sudah berlalu, Devran! Mana mungkin saya mengingat satu tanggal acak dalam hidup saya!"
"Itu bukan tanggal acak untukmu, Alana. Dan jangan pernah berbohong lagi di depanku!" bentak Devran rendah, suaranya yang berat bergetar oleh amarah yang tertahan.
Ia meraih dagu Alana dengan jemarinya, memaksa wanita itu untuk kembali menatapnya. "Jika kamu tidak mengingat tanggal itu, lalu bagaimana kamu bisa melahirkan Leo tepat sembilan bulan setelah malam itu?"
"Mengapa rekam medis kelahiran Leo di Zurich mencatat bahwa dia lahir prematur di minggu ke-36, yang jika dihitung mundur... hari pertamanya berasal dari malam tanggal 12 November?!"
Alana membelalakkan matanya penuh syok. "Anda... Anda memeriksa rekam medis saya di Swiss?!"
"Aku memeriksa apa pun yang ingin kuketahui, Alana," desis Devran, matanya menggelap penuh dengan dominasi yang mutlak.
"Uang dan kekuasaanku bisa membuka pintu brankas paling rahasia sekalipun di Eropa. Jadi sekarang, katakan yang sebenarnya. Malam itu, di kamar nomor 4502 penthouse Bandung... kamulah wanita yang menangis di bawahku, kan?!"
"Bukan! Bukan saya!" Alana berteriak panik, air matanya kembali meluncur deras karena merasa seluruh privasi dan rahasia hidupnya telah dikuliti habis tanpa sisa oleh pria di depannya.
"Lepaskan saya, Devran! Anda keterlaluan! Anda tidak punya hak untuk menginterogasi hidup saya seperti ini!"
"Aku punya hak penuh atas wanita yang membawa darah dagingku, Alana!" balas Devran, suaranya menggelegar di dalam ruangan kerja yang kedap suara itu.
"Aku hanya butuh pengakuan langsung dari mulutmu! Katakan ya, dan aku akan menyerahkan seluruh duniaku kepadamu dan Leo! Kenapa kamu begitu keras kepala untuk menolaknya?!"
"Karena saya tahu duniaku dan duniamu tidak akan pernah bisa menyatu!" Alana membalas bentakan Devran dengan sisa seluruh tenaganya, dadanya naik turun mengatur napas yang memburu.
"Anda pikir dengan uang Anda, Anda bisa membeli masa lalu saya yang hancur?! Anda pikir dengan pengakuan ini, Anda bisa menghapus ketakutan saya setiap malam selama lima tahun karena takut orang-orang Siska menemukan tempat persembunyian kami?!"
Devran tertegun, cengkeramannya pada dagu Alana perlahan melonggar. Rasa bersalah kembali menusuk ulu hatinya melihat penderitaan yang begitu nyata dari balik mata hazel wanita itu.
"Alana... aku..."
"Jangan sebut nama saya dengan mulut Anda yang egois itu, Tuan Adhitama," potong Alana dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es, menatap Devran dengan tatapan penuh permusuhan yang mendalam.
"Tanggal 12 November lima tahun yang lalu... saya hanya seorang gadis bodoh yang salah memasuki ruangan karena minuman saya telah dicampur sesuatu oleh orang-orang Lorenza."
"Dan jika waktu bisa diputar kembali, saya lebih baik mati tenggelam di sungai daripada harus masuk ke dalam kamar Anda malam itu."
Kata-kata Alana yang teramat kejam itu bagai belati yang menghujam tepat di jantung Devran. Pria itu mundur satu langkah, menatap Alana dengan pandangan yang bergetar hebat.
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Devran Adhitama, ada seorang wanita yang menganggap malam kebersamaan mereka sebagai sebuah kutukan yang paling menjijikkan.
"Begitu besarnya kebencianmu padaku, Alana?" tanya Devran, suaranya mendadak terdengar serak dan rendah, kehilangan seluruh keangkuhannya yang tadi.
"Ya. Saya membenci Anda, dan saya membenci seluruh takdir yang mengikat kita," jawab Alana tegas, menegakkan punggungnya seraya merapikan blazernya yang sedikit berantakan.
"Sekarang, jika interogasi bodoh ini sudah selesai, biarkan saya keluar."
Devran mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, mencoba menahan gejolak posesifnya yang kembali ingin mengurung wanita itu.
Namun, tepat saat suasana di antara mereka mencapai titik ketegangan yang paling kritis, sebuah ketukan tergesa-gesa terdengar dari arah pintu masuk utama ruang kerja pribadi.
TOK! TOK! TOK!
"Tuan Besar! Ini saya, Reno. Ada hal yang sangat darurat yang harus saya sampaikan sekarang juga!" suara Reno terdengar sangat cemas dari balik interkom dinding.
Devran menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosinya sebelum menekan tombol pembuka pintu otomatis di meja kerjanya.
"Masuk, Reno."
KLEK.
Pintu besar berlapis kulit itu terbuka. Reno melangkah masuk dengan napas yang sedikit terengah-engah, wajahnya tampak sangat pucat, dan di tangan kanannya, ia mencengkeram sebuah amplop putih tebal berlogo rumah sakit internasional terbesar di Jakarta dengan sangat erat.
Alana yang melihat logo rumah sakit itu mendadak merasakan firasat buruk yang teramat sangat. "R-Reno... apa itu?"
Reno tidak langsung menjawab Alana. Ia berjalan cepat mendekati meja kerja Devran, mengabaikan atmosfer canggung dan tegang yang masih tersisa di antara bosnya dan Alana.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Reno meletakkan amplop putih tebal itu tepat di atas sketsa panel dinding milik Alana.
"Maaf saya harus mengganggu, Tuan Besar, Ibu Alana," ujar Reno, suaranya sarat akan bobot informasi yang sangat besar.
"Sore tadi, setelah kejadian peretasan yang mengarah ke rumah Siska, saya mengambil sampel DNA cadangan milik Leo Kirana dari data pemeriksaan kesehatan wajib yang dilakukan oleh pihak hotel saat mereka pertama kali check-in kemarin pagi."
Alana langsung berdiri dari kursinya dengan wajah yang mendadak hilang kesadaran.
"Reno! Apa yang kamu lakukan?! Siapa yang mengizinkanmu mengambil data kesehatan anakku?!"
"Ibu Alana, tolong tenang dulu," sahut Reno penuh sesal namun tetap profesional.
"Saya melakukannya atas perintah prosedur keamanan Adhitama Group untuk memastikan tidak ada ancaman biologis atau identitas palsu yang masuk ke lingkungan Tuan."
"Reno, langsung ke intinya," potong Devran tegas, matanya kini tertuju lurus pada amplop putih di atas mejanya. Jantungnya yang biasa berdetak stabil kini mulai berdegup dengan ritme yang liar.
"Bagaimana hasil tes laboratoriumnya?"
Reno menarik napas panjang, menatap Devran dan Alana bergantian sebelum akhirnya membuka suara.
"Hasil analisis perbandingan kecocokan genetika antara Tuan Besar Devran Adhitama dan anak laki-laki bernama Leo Kirana... dinyatakan positif 99,99%, Tuan Besar," ucap Reno dengan lantang dan jelas.
"Leo Kirana secara hukum biologis adalah anak kandung Anda. Namun..." Reno menggantung kalimatnya, wajahnya berubah menjadi sangat muram.
"Namun apa, Reno?! Jangan membuatku kehilangan kesabaran!" bentak Devran, menyambar amplop itu dengan kasar dan merobek isinya.
"Namun, dari hasil tes darah lengkap yang tertera di halaman kedua, tim dokter menemukan adanya sebuah keanehan dalam struktur sel darah Leo, Tuan," lanjut Reno dengan suara yang mengecil, menatap Alana yang kini sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya kembali mengalir deras.
"Leo terdeteksi memiliki gejala awal dari penyakit genetik langka Sindrom Malabsorpsi Seluler. penyakit yang sama persis dengan yang pernah diderita oleh mendiang Ibu Kandung Anda lima belas tahun lalu."
Ruangan kerja itu seketika jatuh ke dalam kesunyian yang paling mencekam. Dokumen hasil laboratorium di tangan Devran bergetar hebat saat matanya membaca baris demi baris kesimpulan medis di halaman kedua.
Alana yang sudah tidak mampu menahan beban kenyataan itu akhirnya jatuh terduduk kembali di kursinya, menyembunyikan wajahnya di atas meja kerja Devran sembari menangis histeris.
Rahasia terbesar tentang penyakit bawaan Leo yang selama ini ia sembunyikan di Swiss, kini telah terbongkar bersamaan dengan identitas ayah kandungnya.
Devran perlahan menurunkan dokumen itu, matanya menatap sosok Alana yang hancur di depannya, lalu beralih menatap Reno dengan kilat mata yang dipenuhi oleh badai emosi yang baru, sebuah kombinasi antara rasa kepemilikan mutlak terhadap putranya yang telah terbukti, dan rasa ketakutan luar biasa akan bayang-bayang kematian yang kini mengintai darah dagingnya sendiri.