Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergian Yang Meruntuhkan
Nada dering HP Andira berbunyi. Memecah keheningan kelas.
"Tring... triiing..."
Nomor tidak dikenal muncul di layar benda pipih itu.
Pas jarinya mau ngusap layar, perasaan Andira udah gak enak banget.
Dadanya sesek. Tangannya dingin.
"Halo... apa betul ini Ibu Andira, istrinya Pak Renaldi?"
suara seorang wanita dari seberang. Nadanya cepet.
"I-iya, ini saya sendiri. Ini siapa ya?"
jawab Andira. Suaranya was-was. Banyak tanya di dalam hati.
"Mbak, ini saya perawat di RS Sehat Bersama,"
jawab perawat itu. Kedengeran suara sirine ambulans dari belakang.
"Ada apa dengan suami saya ya, Mbak?"
tanya Andira. Suaranya mulai getar.
"Suami Ibu kecelakaan dan sedang dalam penanganan,"
ucap perawat itu pelan, tapi nusuk banget.
Dengan lemas dan kaget, HP itu terlepas dari tangan Andira.
"Pluk." Jatuh ke lantai.
Kelas yang tadinya sunyi langsung ribut.
Anak-anak teriak bareng, "Ibu, Ibu kenapa... Ibu..."
Suara itu sampe ke ruang guru.
Beberapa guru langsung lari ke kelas Andira.
Pas masuk, mereka liat Andira udah duduk lemas di kursi.
Matanya kosong. Bibirnya pucat.
Intan langsung nyamperin. Dia dekap Andira kenceng.
"Kamu kenapa, Andira... Kamu kenapa?"
"Hiks... hiks... hiks..."
Andira cuma bisa diem dan nangis. Gak ada kata yang keluar.
Salah satu murid jawab polos, "Tadi Ibu ditelepon dari rumah sakit, Bu.
Katanya suami Ibu kecelakaan."
"APAAA?! Ayo kita ke rumah sakit!"
pinta Intan. Dia langsung gendong tas Andira, gandeng tangannya.
Butuh waktu 15 menit mereka sampe di rumah sakit.
Intan sama Andira langsung ke bagian UGD.
Napas mereka ngos-ngosan.
"Maaf, Mbak, permisi. Pasien atas nama Renaldi yang baru kecelakaan
di ruangan mana ya?" tanya Intan. Suaranya panik.
"Mbak istrinya ya?" tanya perawat.
"Bukan, Bu. Saya temen istrinya. Ini istrinya,"
jawab Intan sambil nunjuk Andira yang lemas.
Perawat itu liat Andira, terus nunjuk arah.
"Itu, Bu. Pasiennya sekarang di ruang jenazah.
Dari sini lurus, belok kanan, abis itu belok kiri.
Pas di pojokan sana, Bu."
"APAAA..." Andira kaget. Kakinya langsung lemas.
Andira nangis sejadi-jadinya. Dia lari ngikutin arah yang ditunjuk.
Intan nyusul dari belakang.
Sampe di sana, pintu ruang jenazah kebuka.
Dingin banget hawanya. Bau obat nyengat.
Di atas brankar, ada tubuh suaminya.
Tidur kaku. Gak bernyawa. Ditutup kain putih sampe dada.
Wajah Renaldi masih sama kayak pagi tadi.
Tapi udah gak ada napasnya lagi. Gak ada senyumnya lagi.
Andira langsung teriak. "MASSS!!!"
Dia lari, pegang tangan suaminya yang udah dingin.
"Mas, bangun Mas... Ini aku, Sayang... Mas janji mau jagain aku seumur hidup...
Mas bangun... Mas..."
Andira pingsan. Tubuhnya ambruk di lantai.
Intan langsung teriak minta tolong. Suster-suster dateng.
*_**_***
Di ruang tunggu, Intan ambil HP Andira.
Dia buka grup WA "Keluarga".
"Halo, ada apa nelpon jam segini? Kayak gak ada kerjaan aja kamu.
Bukannya jam segini lagi ngajar anak orang?
Kapan ngajar anak sendiri, ups... hahaha,"
jawab Imel pas telpon diangkat. Nadanya nyinyir.
"Maaf, Mbak. Saya Intan, temennya Andira.
Saya mau kasih tau kalau Mas Renaldi kecelakaan.
Sekarang di RS Sehat Bersama," ucap Intan. Suaranya gemetar.
"Gimana keadaannya?" sambar Lia. Suaranya panik.
"Halah, paling akal-akalan mereka aja,"
sindir Imel. Dia gak percaya.
"Tidak, Mbak. Mas Renaldi gak bisa diselamatkan
Andira pingsan. Jadi aku mutusin nelpon kalian.
Kebetulan aku tau kode HP Andira karena biasa pinjem buat nelpon,"
jelas Intan panjang lebar. Air matanya jatuh.
"APAAA?! Iya, baik. Aku sama suami ke sana sekarang,"
jawab Lia panik.
"Iya, aku juga ke sana," timpal Imel.
20 menit kemudian, Imel sama Ikbal dateng.
Lia sama Rendi juga nyusul.
Tapi mereka bukan prihatin liat Andira yang masih pingsan di sofa.
Begitu liat Andira, Imel langsung nyamperin.
"Plak!"
Tamparan keras mendarat di pipi Andira yang baru sadar.
Kuat banget sampe kepala Andira miring.
"Dasar mandul! Kamu apain adik aku sampe dia bisa meninggal gini, hah?!"
teriak Imel. Matanya merah. Ludahnya nyiprat.
"Aku juga kaget, Mbak. Waktu ditelepon perawat rumah sakit ini. Hiks... hiks..."
jawab Andira sambil megang pipinya. Air matanya deres.
"Alasan aja kamu! Dasar mandul!"
sambung Imel. Dia mau nampar lagi.
"Sudah, Mbak! Sudah! Jangan hakimi dan sakiti Andira gini!
Dia juga terpukul!"
sambar Lia. Dia langsung narik tangan Imel.
Rendi pegang bahu istrinya. "Iya, Mel. Udah. Ini bukan waktunya."
Imel gak terima. "Gak! Harusnya dia yang mati, bukan adik aku!
Nikah 6 tahun gak kasih anak, sekarang ngasih musibah!"
Andira cuma bisa nunduk. Dia peluk badannya sendiri.
Kedinginan. Pikirannya kosong.
Intan langsung peluk Andira dari belakang.
"Udah, Ndir. Gak usah dengerin. Kamu gak salah apa-apa."
Dokter keluar dari ruang jenazah.
"Maaf, keluarga pasien. Bisa masuk buat identifikasi?"
Renaldi dibawa ke ruangan. Andira dipapah Intan.
Pas liat kain putih disingkap, Andira langsung jerit lagi.
"Mas... Mas kenapa tinggalin aku, Mas?
Mas bilang mau nemenin aku sampe tua...
Mas janji mau makan martabak bareng aku tiap malam...
Mas bohong ya, Mas?"
Andira usap pipi suaminya yang udah dingin.
Dia cium kening Renaldi. Air matanya netes ke wajah suaminya.
"Maafin aku, Mas. Aku gak bisa jagain Mas...
Aku istri gagal, Mas..."
Lia ikut nangis. Dia peluk Andira dari samping.
"Sabar ya, Ndir. Mas Renaldi pasti sayang banget sama kamu."
Imel di pojokan malah ngomel ke Ikbal.
"Kan bener kataku. Perempuan mandul itu sial.
Bawa sial ke keluarga kita."
Ikbal diem aja. Mukanya tegang. Dia liat ke arah Andira, terus noleh.
Jenazah Renaldi dimandiin. Dikafani.
Andira ikut nyiram air terakhir. Tangannya gemetar.
"Mas, maafin aku ya. Aku gak bisa kasih Mas anak...
Tapi aku sayang Mas banget. Sayang banget, Mas,"
bisik Andira di telinga suaminya yang udah dingin.
Pas jenazah mau dibawa ke mobil ambulans, Andira kejar.
Dia peluk peti mati itu.
"Mas, jangan pergi... Aku takut sendirian, Mas...
Siapa yang masakin aku kalo pagi? Siapa yang ngecup kening aku?
Mas... Mas..."
Intan sama Lia narik Andira pelan-pelan.
"Udah, Ndir. Ikhlasin ya. Mas Renaldi udah tenang di sana."
Mobil ambulans jalan pelan. Andira lari ngikutin.
"Mas! Mas tunggu aku, Mas!"
Dia kepleset. Jatuh. Lututnya lecet.
Tapi dia tetep bangun, lari lagi.
Sampe di pemakaman, hujan turun deres.
Andira berdiri di depan liang lahat. Basah kuyup.
Pas tanah pertama diturunin, Andira menjerit.
Jeritannya pecah. Nembus langit.
"MASSS!!! KEMBALI MAS!!! AKU GAK KUAT SENDIRI!!!"
Imel di belakang malah bisik ke tetangga,
"Tuh kan, lebay. Sandiwara. Emang udah takdir mandul."
Lia denger. Dia langsung noleh, matanya tajam.
"Cukup, Mbak! Adik kita baru aja meninggal!"
Prosesi selesai. Orang-orang pulang satu-satu.
Andira masih duduk di samping makam. Diguyur hujan.
Intan buka payung, nutupin Andira.
"Ndir, pulang yuk. Kamu sakit nanti."
Andira geleng. "Aku mau di sini aja, Ntan.
Nemenin Mas. Dia takut gelap."
Malamnya di rumah, Andira duduk di teras.
Tempat biasa dia sama Renaldi minum teh.
Kursi Renaldi masih ada di situ.
Gelas teh anget masih ada. Uapnya udah hilang.
Andira pegang gelas itu. "Mas, tehnya udah dingin.
Gak ada yang niup lagi buat aku."
Dia nyium gelas itu. Nangis lagi.
HP nya bunyi. Chat dari nomor gak dikenal:
"Selamat ya, Bu Guru. Bebas gak ada suami.
Bisa nikah lagi cari yang subur. Ahaha."
Andira lempar HP itu. Pecah.
"Kenapa kalian gak berhenti nyakitin aku?!
Suamiku baru aja mati!"
Dia teriak ke langit. Hujan bercampur air mata.
Intan dateng bawa selimut. Nyelimutin Andira.
"Udah, Ndir. Mas Renaldi pasti gak mau liat kamu gini."
Andira nyender ke bahu Intan. "Ntan, sakit banget.
Rasanya dadaku dicabik. Mas janji gak ninggalin aku...
Tapi dia ninggalin aku duluan..."
Intan elus rambut Andira. "Aku tau, Ndir. Aku tau sakitnya.
Tapi kamu harus kuat. Buat Mas Renaldi juga."
Andira ngangkat wajah. Matanya sembab.
"Ntan, aku janji. Aku gak akan cerita ke siapapun
kalau Mas yang 'mandul'. Aku gak akan biarin orang injak harga diri Mas.
Biar aku aja yang dituduh mandul seumur hidup."
Intan nangis. "Kamu hebat banget, Ndir.
Mas Renaldi pasti bangga punya istri kayak kamu."
Andira liat ke arah kamar.
Baju Renaldi masih gantung di hanger.
Wangi parfumnya masih ada.
"Mas, aku janji jaga nama baik Mas.
Aku janji jadi istri yang Mas mau.
Walaupun Mas udah gak ada,"
bisik Andira ke angin malam.
Hujan masih turun. Tapi di hati Andira,
hujannya lebih deras. Karena yang pergi bukan cuma suami.
Tapi separuh jiwanya.
Sebelum masuk rumah, Andira noleh ke makam.
"Makasih ya, Mas, udah milih aku 6 tahun.
Makasih udah jagain aku sampe napas terakhir Mas."
Lampu teras dimatiin. Andira masuk pelan.
Ninggalin kursi kosong yang gak akan ada yang dudukin lagi.
Tapi cinta Renaldi? Gak akan pernah kosong.