“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 Kebahagiaan
Angin malam menyapa wanita yang tengah duduk di teras rumah kontrakan petakan. Arumi menatap lekat bulan yang bersinar terang kebahagiaan yang datang saat ia mulai mendekatkan dirinya kepada Tuhan kini semakin mendatanginya,
Arumi tersenyum kala selintasan wajah lelaki tampan yang berhasil mencuri hatinya, terbayang Arumi menggeleng kan kepalanya menyadarkan dirinya — dari lamunan sesatnya.
" Kenapa ya Samudra itu beda?, dia tenang — dewasa. Ngga kaya Bang Adrian " Gumam Arumi ia Tetiba menepuk dahinya kala mengingat suatu hal yang penting.
" Oh ya aku belum kenal terlalu dekat sama dia, aku bahkan manggil dia main Samudra aja!.. Aku harus panggil dia abang kali ya? " Kata Nya lalu tersenyum ia tidak sabar esok
" Rumi! " Seruan itu membuat mata Arumi melirik pagar kecil yang melindungi rumah kontrakan nya yang minimalis,
" Bang Samudra! " Arumi bergegas mendatangi lelaki tersebut. Ia menatapnya heran pasalnya ini sudah pukul sepuluh malam
" Maaf aku ganggu ya? " Tanya Samudra Arumi menggeleng " Ngga. Aku cuman takut di kira ada apa-apa sama warga, kenapa bang kesini?" Sahut Arumi pelan
" Bang? "
" Ya aku rasa kamu lebih tua dariku, sudah sewajarnya aku panggil bang. Rasa hormatku padamu " Jelas Arumi membuat Samudra menganggukkan kepalanya, " Aku tadi telefon kamu — mau ajak makan tapi kamu ngga angkat, ternyata lagi melamun! " Kata Samudra sedikit menyindir
Arumi menyengir kuda " Aku lupa ponselku di cas! " Sahut nya Samudra mengacak-acak rambut wanita itu, Tatapan mereka bertemu membuat satu sama lain jadi canggung
" Kamu siap-siap sana, kita makan sekarang "
" Emang nya ada makan malam sekarang? "
" Ada ini kan malam minggu "
" Aku tinggal ambil tas kok! " Arumi berlenggang pergi ke dalam selang beberapa menit ia mengambil tas selempang miliknya,
Matanya terbelalak saat melihat motor hitam sport yang begitu mahal ia rasa, ia meneguk ludahnya " Kapan abang pakai motor kesini? Kenapa tidak kedengaran suara nya? " Cecar Arumi
" Kamu kebanyakan melamun, jadinya abang datang ngga tau " Sahut Samudra ia memasangkan helm untuk wanita itu. Namun tetiba Arumi mengambil nya ia menundukkan kepalanya hatinya bergetar
" Apa kamu ngga malu jalan sama orang, yang sudah pernah di renggut kesucian nya oleh makhluk lain? " Tanya Arumi tetiba dengan suara serak Samudra bisa melihat ada luka dan kecewaan terpatri di manik legam itu,
" Menurut aku kita semua sama!, yang beda cuman hatinya " Tegas Samudra membuat Arumi tersenyum haru ia tanpa sadar memelum lelaki itu. " Makasih banyak abang selalu ada untuk aku. Kalau bukan karena abang— aku sudah jadi arwah " Ungkapnya
" Aku ngga bakal selalu ada untukmu, Rumi ingat itu "
" Ya manusia ngga ada yang abadi " Sahut Rumi Cepat ia naik ke motor tersebut di susul oleh Samudra tetiba tangan Samudra melingkari, lengannya di pinggang lelaki itu
" Biar ngga jatuh! " Ucapnya di balik helm full face Arumi tersenyum wajahnya memerah untuk kedua kalinya ia jatuh hati, ia harap hatinya tidak jatuh ke lubang yang sama.
***
Angin malam begitu menenangkan sekali, Arumi melirik sekeliling aroma makanan tercium sepanjang jalan — masih banyak pendagang kaki lima yang mencari rezeki di malam yang dingin ini. Hatinya terenyuh melihatnya
Dulu ia juga seperti itu, namun kini? Ia sudah bisa kerja dan melanjutkan pendidikan nya ia mengambil sekolah paket semenjak ia di Terima di supermarket milik saudaranya Samudra.
" Kamu mau makan apa? " Tanya Samudra agak keras
" Terserah kamu! " Sahut nya
" Mie ayam gimana? "
" Boleh tuh! "
Motor sport itu terhenti di kedai mie ayam yang ramai. Sorot mata pengunjung ke arah Arumi membuat Arumi tidak nyaman, ia bergegas mencari tempat duduk
" Selamat datang neng mau pesan apa? " Tanya ibu penjual mie ayam menatapnya dengan tatapan dalam. " Aku mau mie ayam biasa satu pake pangsit goreng, " Sahut Arumi ia menoleh ke Samudra
" Abang mau apa? " Tanya Arumi
" Sama'in aja "
" Satu lagi juga sama jadi dua, minumnya air mineral! " Pinta Arumi
" Dua neng jadinya? " Tanya ibu penjual menatapnya ragu " Ya "
" Tunggu sebentar ya"
" Ya bu "