"Cerai, atau kamu mau jadi yang kedua!"
Pagi itu Elena dan Arsen suaminya tengah melakukan sarapan bersama seperti biasanya, namun satu kalimat tanya dari Arsen sukses menghancurkan hati Elena berkeping-keping.
Arsen memiliki wanita lain yang ia cintai, dan Arsen akan menikahinya. Menduakan Elena yang sudah setia menunggunya selama dua tahun bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
#19
Hubunganku dan Kak Arsen membaik mulai hari itu, sikapnya semakin hangat dan memperlakukanku dengan lembut.
Saat bangun pagi, ia menemaniku masak bahkan membantu membersihkan rumah, kami membagi tugas dan mengerjakan bersama sambil diselingi canda tawa.
Ia mengantarku saat pagi, juga menjemputku saat pulang, bahkan saat waktu istirahat, terkadang ia berkunjung ke cafe, kecuali saat Nindy dan teman-temannya yang datang, Kak Arsen justru tak datang.
Selain itu, Kak Arsen juga menemaniku belanja, menemaniku nonton drakor di rumah sebelum tidur, mengajakku berolahraga di hari Minggu, dan sesekali bersepeda saat sore. Hidupku berubah, seiring berubahnya sikap Kak Arsen.
Kak Arsen membagi waktu dengan baik untukku dan Nindy, cukup mudah karena Nindy adalah sekretarisnya, selama sehari penuh ibaratnya Nindy bisa bersama dengan Kak Arsen, jadi saat ia bersamaku, Nindy tak merasa kekurangan perhatiannya, hanya saja, Kak Arsen masih belum juga menyatakan perasaannya padaku, dan dia hanya menganggapku sebagai adik perempuannya di hadapan Nindy.
Aku masih harus mengalah dan terima jadi yang ke dua jika itu menyangkut Nindy.
Kak Hengky? Beberapa kali ia menemuiku, dan sebisa mungkin aku menghindarinya. Hingga beberapa hari ini, ia tak lagi datang, mungkin sudah menyerah.
Terkadang, aku merindukan kebersamaan kami, tatapan mata Kak Hengky, juga senyum manisnya, tapi aku segera menepis rasa itu, ada hati Kak Arsen yang harus kujaga. Apa lagi hubungan kami saat ini sudah sangat baik. Aku harus menjadi wanita yang setia.
***
"Dah semua!" aku melambaikan tangan pada Hadi, Yoyo dan Sisca yang masih di cafe, beres-beres untuk segera menutup tempat kerja kami, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Aku selalu pulang terlebih dulu sebelum mereka, terlebih sekarang Kak Arsen selalu menjemputku.
"Mau makan apa?" tanyaku saat kami dalam perjalanan pulang.
"Ehmm,,,, apa ya?" Kak Arsen nampak berpikir, wajahnya terlihat imut dengan ekspresinya yang seperti itu.
"Bagaimana kalau ayam geprek, aku ingin yang pedas-pedas."
Aku mengulas senyum lebar pada Kak Arsen.
"Tentu, itu cukup mudah."
"Dan tangan ajaibmu selalu membuat semua terasa lebih nikmat." seru Kak Arsen membuat hatiku berbunga-bunga.
"Elena,"
"Hemm?"
"Kau dan Hengky?"
Aku menoleh tajam ke arah Kak Arsen, terkejut dengan apa yang ia katakan.
"Maksud Kakak, apa dia masih menemuimu?"
Yah, beberapa hari yang lalu setiap Kak Hengky datang, aku selalu menceritakannya pada Kak Arsen.
Aku menggeleng pelan beberapa kali, entah mengapa hatiku merasa sedih, apa aku sedih karena telah kehilangan sosoknya? Tapi kenapa? Bukankah sudah ada Kak Arsen?
Kak Arsen tiba-tiba menggenggam tanganku, membuatku terkejut. Ia mengulas senyum sangat manis, dan aku membalasnya dengan senyuman tulus.
***
Aku menggoreng ayam Krispy dan menyiapkan bumbu sambal.
Tiba-tiba kedua tangan Kak Arsen melingkar di pinggangku, sampai ke depan perut.
"Kak Arsen?"
"Hemm?" Ia menjatuhkan dagunya di pundakku. Hatiku berdebar dan jantungku berdegup kencang.
Ini adalah pertama kalinya Kak Arsen bersikap manis seperti ini. Memperlakukanku seperti seorang wanita, layaknya pasangannya.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanya Kak Arsen berbisik di telinga.
"I-i iya, tentu saja," aku mengangguk gugup.
"A-a aku sangat mencintai Kak Arsen."
Satu kecupan mendarat di pundakku yang polos, aku mengenakan dress tanpa lengan dengan tali penyangga biasa.
Jantungku semakin berdegup kencang tak dapat lagi kukendalikan, tapi ada rasa senang yang sangat amat memenuhi relung hati.
Tanpa sadar aku mengulas senyuman, dan Kak Arsen menambah kecupannya di pundakku, kemudian naik ke atas sampai leher.
"Aah,,,, Kak...." kurasakan getaran yang luar biasa, ada apa dengan tubuhku? Kenapa darahku berdesir hebat dan aku merasakan sesuatu yang aneh?
Kak Arsen mematikan kompor, kemudian ia mengangkat tubuhku, menggendong ala bridal membawaku masuk ke dalam kamarku.
"Kak Arsen?" kedua mataku beradu pandang dengan kedua matanya yang sayu, Kak Arsen jauh terlihat 100% lebih tampan dari biasanya. Dan aku lagi-lagi jatuh cinta pada orang yang sama.
Kak Arsen membaringkanku di atas ranjang, ia berbaring di sebelahku, mengelus wajahku mengamatinya dengan intens.
"Kau sangat cantik, Elena! Maafkan Kakak karena telah mengabaikanmu selama ini." jemari Kak Arsen membelai lembut pipiku. Dan jempolnya bergerak lembut pada bibirku.
Ia lantas sedikit mengangkat tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajahku, deru napas kami yang panas saling bertabrakan. Kupejamkan mata kala Kak Arsen semakin mendekat. Ia menciumku lembut. Sangat nikmat.
Bibir kami saling menempel, mengingatkanku yang pernah menempelkan bibirku pada bibir Kak Hengky waktu aku setengah mabuk malam itu. Namun ini berbeda.
Kak Arsen membuka bibirku dengan bibirnya, kemudian ia mulai menye.sap dan melu.mat.
Aku tidak tahu harus melakukan apa, tapi ini terlalu nikmat, aku sangat menyukainya, ini sangat enak.
Kak Arsen bergerak semakin cepat, ia menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku, membe.litkan lidah kami berdua, menge.mut dan menyesap, membe.lit dan melu.mat.
"Aahh,,,," de.sahku yang lolos begitu saja saat Kak Arsen melepas tautan bibir kami. Kubuka kedua mataku dan Kak Arsen menatapku intens.
"Is this your first kiss?" tanya Kak Arsen membuatku menunduk, malu. Aku belum pernah ciuman, tidak pernah tahu bagaimana orang melakukannya, sempat menempelkan bibirku pada bibir Kak Hengky dan kukira itu adalah ciuman pertamaku, tapi aku salah, ciuman yang Kak Arsen berikan berbeda, dan aku tak bisa membalasnya karena aku tidak tahu bagaiman ciuman itu.
Senyum Kak Arsen mengembang, ia mengelus pipiku, kemudian mengangkat daguku.
"Aku sangat beruntung," lirihnya bahagia. Ada kebanggaan yang terpancar dari sorot matanya.
Kak Arsen kembali menautkan bibir kami, kali ini sedikit lebih kasar, tak selembut tadi, tapi nikmatnya justru berkali lipat.
Tubuh Kak Arsen bergerak menin.dihku. Aku menyadari posisi macam apa ini? Meski aku ta berpengalaman, tapi aku tak sepolos itu, setidaknya, aku pernah melihat Kak Arsen melakukannya dengan Nindy di sofa ruang tamu. Yah, meski hanya punggungnya yang naik turun, tapi tentu aku mempunya sedikit gambaran tentang bagaimana orang ber.cinta.
"Kak!" lirihku mendorong pelan dada Kak Arsen. Ia yang sudah menelusupkan wajahnya ke leher sontak berhenti dan menatapku, menyipitkan kedua matanya penuh tanya.
"Jangan sekarang," ucapku memberikan penolakan.
Ia semakin mengernyit, sampai dahinya berkerut.
"Kenapa? Kau belum siap?"
Aku menggeleng pelan.
"B-bu bukan itu,"
"Lantas?"
"Aku halangan!"
Skip. Kak Arsen berdiri dengan raut muka yang kecewa.
***
Aku duduk di meja kasir, memainkan ponsel sambil bekerja, berbalas pesan singkat dengan Kak Arsen.
"Apa tamunya sudah pulang?" tanya Kak Arsen entah sudah yang ke berapa kali.
"Belum, mungkin besok, atau nggak lusa." balasku menggoda, padahal sebenarnya tadi pagi aku sudah mandi suci.
"Aah,,,, lama sekali. Kapan kita bisa menapaki surga bersama?"
Aku tertawa kecil membaca pesan Kak Arsen dalam hati.
"Are you happy?"
Sontak aku mendongak. Menatap kaget pada sosok pria yang beberapa waktu ini telah menghilang. Kak Hengky, dia berdiri di depan meja kasir. Dengan mata yang sendu. Wajah yang kuyu. Tak kulihat semangat yang biasanya paling membara siap membakar dunia, kini api itu telah redup. Dan mungkin aku menjadi salah satu penyebabnya.
Aku mengangguk gugup berkali-kali.
"A a I'm happy!" jawabku lirih.
Ia memalingkan muka sambil menarik nafas dalam mengerjapkan mata berkali-kali. Menggigit bibir bawahnya seperti memendam rasa perih.
"Bahagia terus, ya? Aku juga bahagia jika kamu bahagia." mata Kak Hengky berubah berkaca-kaca. Hatiku ikut merasa nyeri melihatnya.
Benarkah Kak Hengky mencintaiku dan dia terluka atas penolakanku? Tapi tentu saja tidak bisa, aku sudah menikah dan aku mencintai suamiku.
"Aku pergi, jaga diri ya! Saat aku kembali nanti, aku ingin melihatmu lebih bahagia lagi, dan bisa memperkenalkanmu dengan orang yang juga membuatku bahagia."
Aku menelan saliva kasar mendengar pernyataannya, bahkan setetes air matanya menetes membasahi pipi.
"P-pe pergi?" tanyaku terbata.
"Aku akan ke Amsterdam. Untuk beberapa bulan ke depan. Baik-baik, ya?"
"H-h Hemm!" aku mengangguk. Tak kusadari air mataku pun menetes.
Kak Hengky berbalik, melangkah dua langkah kaki, kemudian berhenti dan berbalik kembali.
Ia merogoh kantong celana, mengeluarkan sesuatu dari sana, dan menyodorkannya di atas meja kasir, memberikannya padaku.
"Hadiah kecil, kumohon terima."
Aku mengangguk menanggapi. Dan Kak Hengky benar-benar melangkah pergi setelah itu. Meninggalkanku yang telah menemui bahagia, yah, setidaknya kami pikir begitu.
Kak Hengky, dia adalah orang tepat yang datang di waktu yang salah.
Aku berdiri, meraih hadiah kecil pemberiannya dan berlari mengejarnya sampai terhenti di depan pintu, melihat Kak Hengky yang masuk ke dalam mobilnya dari balik pintu kaca cafe.
"Sampai jumpa!" lirihku sedih saat mobil Kak Hengky mulai melaju. Air mataku berlinang mengantar kepergiannya.
***
btw lanjut donk yg banyak up nya.
sayang kl nanggung