Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Ketenangan di Puncak Gunung dan Pencerahan Dao
Matahari terbenam di ufuk barat, membiaskan cahaya jingga kemerahan ke seluruh puncak Gunung Bintang Jatuh. Hujan Roh Cair telah berhenti, meninggalkan dedaunan dan bebatuan di sekte itu berkilau bagai permata. Keheningan menyelimuti puncak gunung, sebuah kontras yang tajam dengan pembantaian yang terjadi di langit perbatasan beberapa hari lalu.
Di dalam Aula Utama, Lin Xuan duduk bersila di atas takhta kristal bintangnya. Meskipun kultivasinya berada di puncak Ranah Jiwa Baru Lahir, ia tidak merasa puas. Ia sadar bahwa Kekaisaran Suci hanyalah semut kecil di atas panggung benua, dan mereka hanyalah pembuka jalan bagi musuh yang lebih besar seperti Kuil Naga Laut.
"Sistem, tampilkan kondisi sekte saat ini," gumam Lin Xuan.
[Sekte Bintang Jatuh (Peringkat 8)]
[Kekuatan Sekte: Puncak Jiwa Baru Lahir (Lin Xuan)]
[Anggota: 2 Murid Inti (Ye Chen, Su Yue'er), 1 Penatua (Li Canggong)]
[Fasilitas: Menara Waktu, Paviliun Senjata Surgawi, Paviliun Kitab Suci, Paviliun Alkimia, Gerbang Teleportasi Ruang-Waktu.]
[Poin Sekte: 14.500]
Lin Xuan mengangguk puas. Sektenya sudah memiliki infrastruktur dasar yang cukup untuk menopang satu sekte tingkat tinggi di alam fana. Namun, ia menyadari satu kekurangan fatal: jumlah murid. Sekte tidak akan pernah menjadi besar hanya dengan dua orang jenius. Ia membutuhkan kader-kader yang setia dan tangguh.
"Tunggu saja," gumamnya, "saat Turnamen Seratus Sekte nanti, aku akan menguras habis jenius-jenius terbaik di seluruh benua."
Di area Paviliun Binatang Buas yang baru saja dibangun, Li Canggong sedang duduk di atas tong kayu, menenggak araknya sementara Xiao Hei—si Anjing Neraka yang sudah tumbuh seukuran anjing dewasa dalam waktu singkat—sedang menatap tajam ke arah dua murid utama di depannya.
Ye Chen dan Su Yue'er berdiri di tengah arena latihan. Mereka baru saja menyelesaikan sesi latihan tanding intensif. Pakaian mereka kotor, dan ada memar di lengan Ye Chen, namun mata keduanya memancarkan api semangat yang membakar.
"Kalian terlalu mengandalkan kekuatan murni dan teknik tingkat tinggi," suara Li Canggong memecah kesunyian, tegas dan dingin. "Ye Chen, kau menggunakan api untuk membakar segalanya, tapi kau lupa bahwa api tanpa kendali hanyalah pembakaran diri sendiri. Su Yue'er, teknik esmu memang mematikan, tapi kau terlalu kaku. Es yang sejati bisa berubah bentuk, bisa lembut, dan bisa menyelinap seperti air."
"Penatua Li, apa yang harus kami lakukan?" tanya Ye Chen sambil mengusap darah di bibirnya.
Li Canggong berdiri, membuang botol araknya yang sudah kosong. "Guru kalian memberikan teknik kelas Surga dan Bumi bukan agar kalian menjadi mesin pembunuh. Belajarlah untuk menyatu dengan alam. Pergilah ke hutan terlarang di utara gunung. Di sana terdapat ribuan binatang buas. Jangan gunakan senjata, jangan gunakan teknik tingkat tinggi. Gunakan hanya pemahaman kalian akan elemen."
"Berburu tanpa senjata?" Su Yue'er mengernyit. "Itu sangat berbahaya."
"Baguslah," sahut Li Canggong santai. "Kematian adalah guru terbaik. Siapa pun yang berani mengambil risiko, dialah yang akan mencapai puncak."
Ye Chen dan Su Yue'er bertukar pandang. Tanpa sepatah kata pun, mereka berbalik dan melesat menuju hutan terlarang. Mereka tahu bahwa Lin Xuan selalu memberikan tantangan yang tampaknya mustahil, namun selalu membuahkan hasil luar biasa.
Sementara murid-muridnya ditempa, di perbatasan laut timur, situasi jauh lebih gelap.
Di dalam kuil raksasa yang terletak di dasar samudra, suara dentuman lonceng tua menggema hingga dasar palung terdalam. Ribuan naga laut dan kultivator Kuil Naga Laut berbaris rapi. Di depan mereka, seorang pria tua berjubah biru tua, yang sisik naga di tubuhnya hampir menutupi separuh kulitnya, duduk di atas takhta karang hitam.
Itu adalah Leluhur Naga Laut, sosok kuno yang telah tertidur selama ribuan tahun.
"Ao Hai terbunuh... dan pasukannya musnah," suaranya parau, bergema di seluruh aula bawah laut.
"Leluhur, kita harus membalas kematian Utusan Ao Hai dan merebut kembali Pecahan Jantung Dunia!" seorang komandan naga laut berteriak dengan penuh amarah.
Leluhur Naga Laut berdiri, auranya memancar hingga membuat air laut di sekitarnya mendidih. "Tidak sekarang. Energi di daratan itu telah berubah. Ada sosok yang menanamkan fondasi ilahi di sana. Kekaisaran Suci hanyalah boneka yang bodoh."
Leluhur itu melirik ke arah utara, ke arah benua daratan.
"Tunggu hingga bulan purnama datang. Saat itu, segel perbatasan akan melemah. Aku sendiri yang akan memimpin pasukan untuk meratakan gunung itu. Jika seseorang berani menghalangi jalan Kuil Naga Laut, bahkan jika dia adalah titisan Dewa, dia harus membayar dengan nyawanya."
Sebuah rencana besar sedang dirajut di dasar samudra. Badai yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya sedang menanti Gunung Bintang Jatuh. Namun, Lin Xuan, yang berada di puncak gunungnya, justru sedang asyik bereksperimen dengan cetak biru bangunan baru dari sistem.
"Paviliun Pencerahan Dao?" gumam Lin Xuan sambil melihat hologram di depannya. "Jika aku membangun ini, aku tidak perlu lagi memberikan umpan balik kultivasi secara manual. Murid-muridku bisa belajar langsung dari esensi semesta. Bagus... ini akan sangat mempercepat peningkatan kekuatan mereka."