NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Lima Pengawal dan Cermin yang Sudah Diganti

Pukul enam tiga puluh pagi, Vivi membuka pintu kamar dengan gerakan sangat pelan.

Ia sudah mengenakan pakaian olahraga longgar. Tas kecil tergantung di bahu, berisi hasil pemeriksaan, botol air tersegel, dan sepatu latihan. Rencananya sederhana: turun, sarapan cepat, lalu meminta sopir mengantarnya ke studio untuk bertemu Regina. Bukan menari. Hanya membicarakan jadwal.

Secara teknis, itu tidak melanggar larangan latihan dua hari.

Tangannya baru menyentuh gagang pintu luar ketika lima suara menyambut serempak.

“Selamat pagi, Nyonya.”

Vivi tersentak sampai tasnya hampir jatuh.

Lima orang bersetelan gelap berdiri di lorong. Empat laki-laki dan satu perempuan. Tidak semuanya setinggi dua meter, tetapi bahu mereka cukup lebar untuk membuat lorong rumah terasa menyempit.

“Kalian siapa?”

Perempuan di tengah maju setengah langkah. “Tim pengamanan pribadi Nyonya. Saya bertugas mendampingi di area privat dan pemeriksaan barang.”

Laki-laki di sebelahnya memperkenalkan diri sebagai mantan tenaga medis lapangan. Yang lain memiliki keahlian analisis perilaku, pertarungan jarak dekat, menembak, serta keamanan digital. Beberapa kemampuan saling tumpang tindih, seolah Sebastian tidak merekrut pengawal melainkan membentuk unit untuk operasi khusus.

“Aku hanya mau turun untuk sarapan,” kata Vivi.

“Kami ikut, Nyonya.”

“Lima-limanya?”

“Formasi dapat disesuaikan.”

Pintu kamar di seberang terbuka. Sebastian keluar dengan kemeja hitam, rambut masih sedikit basah, dan tangan kanan terbalut perban bersih.

Tatapannya turun ke tas Vivi. “Kamu mau ke mana?”

“Sarapan.”

“Dengan sepatu balet?”

Vivi memeluk tas ke dada. “Setelah itu mungkin bertemu Miss Regina. Hanya bicara.”

“Telepon dari rumah.”

“Aku tidak bisa selamanya bersembunyi.”

“Dua hari bukan selamanya.”

Jawaban itu menyebalkan karena benar.

Vivi menunjuk lima orang di lorong. “Dan ini apa? Aku minta pengawal perempuan di area privat, bukan satu regu untuk mengepungku.”

“Nadya gagal dengan kamera. Dia mengirim obat. Ketika gagal lagi, dia mengirim orang dengan palu.” Suara Sebastian tetap rendah. “Aku tidak akan menunggu percobaan keempat.”

“Mereka tidak boleh mengikutiku sampai ke kamar atau kamar mandi.”

“Tidak.”

“Tidak boleh mengambil ponselku.”

“Tidak.”

“Dan kalau aku pergi setelah masa istirahat selesai, satu orang perempuan masuk studio. Empat lainnya menjaga akses luar.”

Sebastian menatapnya beberapa detik. “Dua orang di dalam gedung. Satu perempuan di area latihan, satu di lorong umum.”

Vivi menimbang. “Sementara, sampai Nadya ditahan.”

“Sampai ancamannya selesai.”

“Sebas.”

“Sampai festival selesai dan penyidik memastikan jaringan pelakunya tidak tersisa.”

Itu masih berlebihan, tetapi memiliki batas yang dapat diperiksa.

“Baik,” kata Vivi. “Tapi pagi ini mereka tidak perlu mengawaliku ke meja makan seperti rombongan kepala negara.”

Sebastian memberi isyarat. Empat orang segera mundur ke ujung lorong. Pengawal perempuan tetap berada dekat tangga, cukup jauh untuk tidak mendengar percakapan biasa.

Kemajuan kecil.

***

Regina menelepon saat Vivi menyelesaikan sarapan.

“Saya mendengar seluruh kronologi dari pengacara,” katanya. Suaranya serak. “Kalau saya tidak meninggalkanmu sendirian...”

“Kalau aku pulang saat diminta, itu juga tidak terjadi,” potong Vivi. “Kita tidak bisa terus memilih siapa yang paling bersalah di antara orang yang tidak membawa palu.”

Regina terdiam.

“Yang bersalah penyerang dan orang yang membayarnya,” lanjut Vivi. “Bukan Miss Regina, bukan sopir, bukan aku.”

“Kamu masih ingin berlatih?”

“Setelah dokter mengizinkan. Untuk sementara di rumah. Miss Regina bisa datang beberapa kali untuk koreksi?”

“Tentu. Saya bawa rekaman koreografi dan jadwal baru. Studio akan ditutup sampai seluruh sistem listrik dan akses belakang diperiksa.”

Mereka sepakat tidak mempublikasikan bukti sebelum pengacara dan penyidik menyelesaikan pengaitan akun. Festival tetap berjalan. Regina akan datang lusa untuk evaluasi pertama.

Vivi menutup telepon dengan perasaan lebih ringan.

Pak Yanto menunggunya di dekat ruang latihan rumah. “Lantainya sudah diperiksa, Bu Vivian. Papan longgar telah diganti. Ruangan juga dibersihkan tanpa pewangi.”

“Terima kasih, Pak Yanto.”

Ia masuk. Cahaya pagi memenuhi ruangan. Barre kayu telah dipoles, dan cermin besar di dinding tampak lebih terang daripada ketika ia memeriksanya beberapa malam lalu.

Vivi mendekat.

Di sisi bingkai, ada garis dempul baru. Warna cat dinding di sekitarnya berbeda sedikit.

“Cerminnya diganti?”

Pak Yanto berhenti terlalu lama sebelum menjawab. “Ya, Bu.”

“Kapan?”

“Sekitar tiga minggu lalu, ketika Ibu pergi bersama Bu Jocelyn.”

“Kenapa?”

“Pak Sebastian meminta kaca observasi lama diganti dengan cermin biasa.”

Kaca observasi.

Vivi menoleh perlahan. “Apa maksudnya?”

Pak Yanto menatap lantai. “Ruangan ini dahulu terhubung ke ruang kecil di balik dinding. Kacanya dapat dilihat dari sisi dalam ruangan tersebut.”

Jantung Vivi berdegup keras.

Ia tidak pernah mengetahui hal itu dalam kehidupan pertama. Bahkan sampai mati, ia mengira cermin tersebut hanya bagian dari studio yang disiapkan suaminya.

Sekarang, berdasarkan fakta yang berdiri di depan mata, ada kemungkinan Sebastian pernah mengamatinya dari balik dinding tanpa ia sadari.

“Ruang kecilnya masih ada?”

Pak Yanto menunjuk panel sempit di lorong luar. Kuncinya sudah dilepas. Ketika dibuka, hanya tampak ruang kosong berdebu dengan bekas dudukan kursi dan kabel yang telah diputus.

“Apakah ada kamera atau rekaman?” tanya Vivi.

“Tidak ada kamera, Bu. Kaca itu hanya memungkinkan orang melihat langsung dari sisi ini.”

“Apakah Sebastian pernah masuk?”

Pak Yanto merapatkan kedua tangannya. “Saya tidak berada di ruangan ini setiap waktu. Saya tidak bisa memberi jawaban yang pasti.”

Itu bukan pengakuan. Bukan pula penyangkalan. Vivi menyimpan pertanyaan tersebut bersama semua hal lain yang baru ia temukan tentang suaminya dalam kehidupan ini.

Vivi kembali ke depan cermin. Ia menempelkan ujung jari, menyorotkan senter, lalu mengetuk beberapa bagian. Pantulan dan jarak bayangannya sama seperti cermin biasa. Tidak ada sisi gelap yang bisa melihat balik.

Sebastian telah menggantinya sebelum Vivi memutuskan kembali menari.

Ia tidak tahu apakah itu rasa bersalah, ketakutan ketahuan, atau upaya sungguh-sungguh menghormati batas. Namun tindakan itu dilakukan saat tidak ada siapa pun yang meminta.

“Pak Yanto,” katanya, “jangan beri tahu dia bahwa kita membicarakan ini.”

“Baik, Bu Vivian.”

***

Di ruang kerja, Sebastian berdiri menghadap jendela ketika Pak Yanto masuk membawa jadwal keamanan.

“Ibu menerima pengaturan lima orang, Pak,” lapor sang pengelola rumah. “Dengan batas sampai festival dan penyidikan jaringan selesai.”

“Ada lagi?”

Pak Yanto ragu. “Bu Vivian bertanya tentang cermin ruang latihan.”

Jari Sebastian pada ambang jendela menegang.

“Apa yang kamu katakan?”

“Bahwa kaca observasi lama telah diganti dan ruang belakang dikosongkan.”

Sebastian tidak bergerak.

Ia sudah memutus kabel, membuang kursi, dan mengganti kaca itu karena setiap kali melihat ruangan kecil tersebut, ia teringat betapa mudahnya keinginan menjaga Vivi berubah menjadi pelanggaran. Ia terlambat memahami batas itu, tetapi ia telah mencoba menghapus jalannya.

Sekarang Vivi tahu jalan itu pernah ada.

“Apakah dia marah?” tanyanya.

“Bu Vivian hanya meminta saya tidak menyampaikan bahwa kami membicarakannya.”

Suara Sebastian turun sampai hampir bergetar.

“Dia membenciku, ya?”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!