DERYNE MIKAELSON si duyung cantik yang sudah lama tinggal di lautan, harus kembali ke daratan karena telah menolong seorang anak kecil. Sosok Ryn yang menyenangkan membuat gadis kecil itu memohon pada Ayahnya, untuk menjadikan Ryn sebagai pengasuhnya.
LUCAS, Ayah dari Suri yang dengan terpaksa mengijinkan gadis asing untuk tinggal di rumahnya. Banyak sekali perbedaan dari suasana rumah itu ketika Ryn mulai tinggal disana. Satu persatu rahasia terbongkar! Apakah sebenarnya hubungan Lucas dan Suri, benarkah mereka hanya Ayah dan anak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YES!! I'am Mermaid - Ep. 19
Tadi sore, setelah Ryn memandikan Suri dan membawa gadis itu untuk makan malam bersama, Suri sengaja ingin berdua saja dengan Ayahnya. Di saat-saat itu, Suri berhasil membuat ayahnya mencium pipi kirinya, dan sekarang Ryn juga mencium di bagian pipi yang sama. Bagi Suri, itu sama saja dengan berciuman secara tidak langsung.
"Wah-wah Suri, kau memang pintar!" Puji Suri pada diri sendiri. "Hmm, tugas untuk membuat orang dewasa jatuh cinta memang membuat capek, apalagi status Ayah yang sudah punya pacar seorang penyihir itu!" Imbuh Suri dengan perasaan sebal.
"Donat... Donat... Donat..." Gumam Ryn senang saat berjalan menuju dapur, sebelum itu dia harus melewati ruang keluarga terlebih dahulu untuk bisa sampai ke sana.
Eh? Kenapa dia.... - Ryn.
Ryn berjalan mengendap-endap setelah mengetahui ada Lucas yang sedang duduk melamun di ruang keluarga, di depan pria itu terlihat ada sebotol alkohol beserta gelas mungil yang biasa digunakannya. Pria itu tertunduk dan menyanggah kepalanya dengan kedua tangan.
Hmm... Bukan urusanku kan? - Ryn.
Duyung cantik itu benar-benar melewati Lucas begitu saja, seolah sedang tidak melihat bahwa ada seseorang yang sedang duduk di tempat itu. Ryn menuju dapur dan langsung membuka pintu kulkas, gadis itu berjongkok untuk mencari donat yang ia sembunyikan di rak paling bawah.
Setelah berhasil menemukan donatnya, Ryn lantas berdiri. Belum sempat ia menutup pintu lemari es itu, pintunya sudah tertutup sendiri karena dorongan dari seseorang di belakang gadis itu.
"Bisa-bisanya kau menganggap ku seperti kotoran!"
Hah?! - Ryn.
Ryn berbalik, tubuhnya tersentak kaget ketika melihat Lucas sudah berdiri menatapnya. Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Ryn dengan amat tajam, bahkan bungkus donat Ryn sampai terjatuh saking kagetnya.
"Uh-um... Hai" Sapa Ryn sambil melambaikan tangannya. Gadis itu tersenyum memandang Lucas yang nampak kesal melihatnya. "A-anu... Aku akan pergi"
Ryn mencoba untuk merunduk dan melewati tangan Lucas yang sedang menghalangi jalannya. Bukannya memberi jalan, Lucas malah ikut menurunkan posisi lengannya agar gadis itu tidak bisa pergi begitu saja.
"Hei!!" Ryn melotot menatap Lucas dengan pandangan sebal. "Mau mu ini apa sih? Aku kan tidak mengganggu, kenapa menggangguku?"
"Tidak mengganggu?" Lucas menaikkan sebelah alisnya. "Kau lewat begitu saja di belakangku, padahal jelas-jelas kau tau ada aku disana!" Imbuh pria itu sambil menunjuk sofa tempatnya duduk tadi.
Kedua mata Ryn mengikuti kemana arah jari telunjuk Lucas menunjuk, gadis itu hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. "Mmm, oke! Jadi kau ingin, setiap bertemu atau melihatmu, aku harus menyapamu begitu??"
"Haiishh!!" Lucas mengusap wajahnya sendiri dengan gusar. "Sudahlah lupakan!"
"Kau ini kenapa sih?! Mabuk ya??" Ryn memungut bungkusan donat yang jatuh ke lantai, tentu saja setelah Lucas memberinya ruang untuk bergerak. "Berhentilah minum-minum seperti itu, memangnya ada masalah apa sampai kau harus melarikan diri ke alkohol?"
Lucas melirik Ryn sekilas, "Bukan urusan mu! Tidak usah sok memperdulikan aku"
Ryn berjalan menuju meja makan, ia duduk di salah satu kursi dan mulai membuka bungkusan donatnya. Gadis itu tak menyalakan lampu pada lantai satu, dan membiarkan seluruh lampu padam, hanya ada sedikit cahaya dari pantulan lampu taman dan lampu disekitar kolam renang.
"Kau benar, dari awal aku memang tidak terlalu memperdulikan urusan mu kok. Tadi itu hanya basa-basi, hehehee" jawab Ryn polos.
Ya Tuhan! Gadis ini benar-benar tidak menganggap ku ada ya?! - Lucas.
Pria tampan itu buru-buru menarik kursi dan duduk di sebelah Ryn, dia melihat bungkusan donat yang tergeletak di depan Ryn. "Apa ini?"
"Donat" sahut Ryn cuek, "Kalau kau mau, ambil lah! Aku juga membeli ini dengan uangmu kok"
"Aku tidak suka makanan manis, itu bisa merusak hasil olahraga ku selama ini"
Ryn menatap Lucas serius, ia ingat bahwa memang selama ini Ryn tidak pernah melihat pria di sampingnya itu memakan makanan dengan tinggi kalori dan gula.
"Lalu apa yang kau makan?" Tanya Ryn untuk melanjutkan obrolan. "Setiap pagi Nany selalu membuatkan mu makanan berwarna hijau di dalam gelas itu, apa itu? Terkadang aku penasaran"
Tuk!
Lucas menyentil dahi Ryn, membuat gadis itu langsung memundurkan wajahnya jauh dari Lucas. Ryn mengusap-usap dahi nya dan menggerutu kesal di depan Lucas, entah apa yang sedang ia keluhkan, Ryn tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.
Apa sih?! - Ryn.
"Kalau kau memang penasaran, kenapa kau juga tidak meminta Nany untuk membuatkan mu minuman itu? Aku dengan senang hati akan mengijinkan" Lucas tertawa kecil melihat ekspresi dan tingkah Ryn.
"Sungguh? Apa benar-benar boleh?"
"Iya" jawab Lucas menganggukkan kepala. "Kau melarang ku untuk meminum alkohol, tapi kau sendiri memakan makanan manis. Bukankah itu juga tidak bagus untuk tubuh?"
"Aku kan jarang memakan ini" Ryn membela diri, "Ini enak loh, apa kau yakin tidak ingin mencobanya?"
Lucas menatap donat dengan lelehan coklat diatasnya, pria itu kemudian beralih menatap Ryn yang masih asyik memakan kue berlubang tersebut.
SET!!
HAP!!
"HEI, HEI!!" Ryn berteriak kencang, ketika tanpa permisi, Lucas menarik tangan Ryn dan membuat kue yang ada ditangan Ryn berhasil dimakan oleh Lucas. Pria itu tersenyum puas dengan pipinya yang menggembung akibat melahap setengah donat yang tersisa.
Ryn menggebrak meja dengan kedua tangannya, gadis itu menatap Lucas dengan marah. "Tega nya kau melakukan itu, itukan rasa favorit ku!!!" Ucap Ryn sambil mencengker*m kedua bahu Lucas.
Lucas mendekatkan wajahnya pada Ryn, yang spontan saja membuat gadis bermata biru itu melebarkan kedua bola matanya. "Kalau kau begitu ingin makan yang ini, ambil saja di mulutku..."
Si-si-sinting! - Ryn.
"Aakhhh!!" Ryn berteriak kesal, dia mendorong tubuh Lucas jauh-jauh dari hadapannya. Tanpa ia sadari, rona merah menyembul di kedua pipinya. "Seharusnya kalau kau mau, ambil saja yang ini"
"Apa bedanya dengan yang aku makan?"
Gadis itu menoleh memandangi pria bodoh disampingnya. "Sudah aku bilang kan?! Itu rasa favoritku!!"
SRAKK!!!
Ryn bangkit berdiri dari duduknya, gadis cantik itu membawa pergi sisa donat yang ada. Ia hendak makan di tempat lain, tempat yang tidak ada Lucas nya tentunya! Ia menghentak-hentakkan kedua kakinya saat berjalan, ingin memberi tanda bahwa dia tengah kesal.
"Hei, mau kemana?!"
"Bukan urusanmu!" Ryn mengacungkan jari tengahnya kepada Lucas.
"Cepat kembali kesini dan duduk!" Lucas menepuk kursi di sampingnya, kursi yang baru saja ditinggalkan oleh Ryn beberapa detik yang lalu.
"Tidak mau"
Lucas menghela nafas panjang, "Cepat kembali atau kau ku pecat!! Aku akan mengganti donat yang ku makan barusan, sepuluh kali lipat"
Mendengar ancaman dan hadiah yang akan diberikan oleh pria itu, Ryn lantas melangkah mundur tanpa berbalik arah. Setelah sampai ke tempat yang di tuju, gadis itu memutar badannya dan segera duduk kembali di samping Lucas. Ia tersenyum manis sambil mengeluarkan sisa donatnya.
"Hehehe..."
"Gadis pintar!" Puji Lucas, ia mengangkat tangan kirinya dan mengusap kepala Ryn dengan lembut.
Bisa-bisanya dia mengancam dan membujukku secara bersamaan - Ryn.
"Oke deh, demi donat" gumam Ryn lirih, ia menghadap ke arah lain saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Kau mengatakan sesuatu?"
Ryn menoleh menatap mata Lucas lalu tersenyum. "Ah! Tidak kok, hehehe"
Lucas terdiam memandangi wajah Ryn, pria itu melipat kedua tangannya di atas meja. Tanpa bicara apapun, dia menyembunyikan wajahnya dibawah sana. Ryn mendesah, dia hanya diam saja dan memakan donatnya, gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
Apa ini? Apa dia sebenarnya kesepian? - Ryn.
"Terima kasih Ryn..."
"Eh! Kau mengatakan sesuatu?" Ryn mendekatkan telinganya pada Lucas. "Aku tidak dengar"
Lucas melirik dari posisinya yang sedang menyembunyikan sebagian wajahnya itu. Tatapan matanya terasa hangat saat memandang Ryn, kedua mata mereka bertemu, membuat gadis bermata biru itu tercekat namun tak bisa melakukan apa-apa.
Sungguh, siapapun yang berada di posisi Ryn dan memandang wajah Lucas yang seperti itu, pasti akan segera memeluk ataupun menciumnya. Tentu saja, itu khusus bagi para gadis yang berhati lemah
Deg!
Ya Tuhan... - Ryn.
BERSAMBUNG!!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa klik tombol Like, Favorit, Vote dan tinggalkan komentar yang mendukung! Hanya dukungan dari kalian yang bisa membantu saya tetap semangat!! Daah... ☺️♥️🙏
semangat, kuat sehat ya kak nesaaaa😍😍♥️♥️
semangat kak neess aku pasti selalu nunggu update mu,, 🌷🌷🌷🌷🌷😊😊😊🤗🤗🤗💝💝💝