Cinta karena harta akan musnah, karena rupa akan termakan usia.Tapi cinta karena Allah, akan kekal abadi sampai Jannah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurusysyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19.Akhirnya Dapat Pekerjaan
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...___________...
Wajah Arya terlihat begitu menyeramkan sekarang, matanya melotot tajam, pipinya berkali-kali menggembung, hidungnya kembang kempis karena nafasnya yang tidak beraturan.
Tangannya mengepal sempurna, dia sangat marah baru kali ini ada seorang gadis yang menolaknya. Meskipun bibirnya mengatakan tidak masalah namun ternyata tidak dengan hatinya, hatinya sangat panas dan tidak terima kalau ada seorang yang berani menolak keinginannya.
"Dasar jelek, hitam, kurus kering, pendek, norak dan tidak menarik-menarik nya sama sekali berlagak sok jual mahal, berlagak sok menolak padahal aku yakin dia juga sama saja seperti gadis lain yang hanya mencari sensasi di hadapan ku supaya bisa aku sentuh, cuihh!! "
Katanya tak peduli namun nyatanya Arya terus mengomentari gadis yang barusan menolaknya, dalam sekejap saja seorang Arya yang dingin angkuh sekarang lebih banyak bicara, bahkan dia bicara seorang diri sekarang di ruangannya.
"Aku tidak butuh orang seperti dirinya, masih banyak gadis yang mengantri ingin bekerja di sini, gadis yang lebih cantik, seksi dan juga menarik, dan tentunya gadis yang akan bersedia melakukan apapun yang aku minta."
Arya nyengir sinis, hilang satu tumbuh seribu itu yang di pikirkan oleh Arya. Penolakan Arini bukanlah masalah untuknya lagian Arini juga bukan gadis yang masuk dalam standar gadis yang akan bekerja di sana.
𝘛𝘪𝘯𝘨...
Satu pesan singkat masuk ke dalam ponsel Arya, dengan cepat Arya melihatnya. "Eyang! " Duduknya yang semula bersandar pada kursi kebesarannya kini beralih tegak karena ingin membaca pesan dari Eyangnya.
"Semoga bukan masalah perjodohan." Celetuknya.
"𝘌𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘶. 𝘋𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶. "
Arya mengernyit bingung, untuk apa Eyangnya datang ke sana? dan kenapa juga tidak langsung masuk seperti biasanya. "Ngapain eyang datang?"
Tak akan dia dapatkan jawabannya jika dia tidak datang langsung ketempat di mana eyangnya berada.
Sebenarnya malas sekedar untuk datang namun mau bagaimana lagi.
Arya berdiri membenarkan jasnya lalu bergegas pergi ke taman, hanya eyangnya saja yang bisa membantunya untuk menolak perjodohan itu, jadi Arya harus bisa membahagiakan Wati.
Di depan ruangannya Arya dihadang oleh Toni, Arya pun berhenti sejenak untuk memastikan apa yang diinginkan oleh asisten tersebut.
"Tuan, sebentar lagi meeting mingguan akan dilaksanakan apakah...? "
"Tunda! " Arya langsung pergi setelah mengatakan sepatah kata dari beberapa kata pertanyaan yang dilontarkan oleh Toni.
Toni hanya mengangguk pasrah karena dia tidak bisa melakukan apapun jika sang pemimpin sudah menghendaki itu.
Dengan langkah pelan namun pasti Arya akhirnya sampai juga di tempat yang diminta oleh Wati, Arya terdiam sejenak dia juga berhenti dengan mengerutkan kening saat melihat 2 wanita duduk berdampingan di satu bangku.
Arya tahu jika salah satu dari mereka adalah Wati eyangnya, tapi satunya lagi Arya tidak tahu namun melihat warna hijab yang dia kenakan sepertinya dia mengenal wanita itu.
Untuk lebih meyakinkan diri Arya berjalan mendekat dan ingin menyapa Wati namun sebelum itu terjadi Arini sudah lebih dulu menoleh dan melihatnya, seketika Arini berdiri dan melotot ke arah Arya.
"E-eyang, ini orang yang aku ceritakan tadi, orang yang tidak waras itu," Tangan Arini menunjuk ke arah Arya yang sudah ada di sana.
Wati yang melihat langsung berdiri sementara Arini dia bersembunyi di balik punggung Wati karena dia ketakutan.
"Eyang, tolong Arini. Arini tidak mau tertangkap lagi. Dia kesini pasti karena mau menangkap Arini." Arini terus bersembunyi di punggung Wati, bahkan wajahnya pun juga menempel di sana, hanya kadang-kadang dia akan mengintip kecil.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘌𝘺𝘢𝘯𝘨? 𝘋𝘢𝘯..., 𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘴! 𝘚𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘸𝘢𝘳𝘢𝘴? " Mata Arya membulat kata-kata Arini yang menyatakan dirinya adalah orang yang tidak waras.
"Kamu tenang saja Arini, dia tidak akan berani mengganggumu, ada eyang di sini." Tangan Wati terangkat, mengelus tangan Arini yang ada di atas bahunya.
"Tapi Arini takut, Eyang. " Rintihnya.
"Eyang, apa-apaan ini? Kenapa eyang bersamanya? Apakah dia juga mau mencari sensasi pada Eyang! " Ucap Arya dingin.
"𝘌𝘺𝘢𝘯𝘨?𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘦𝘺𝘢𝘯𝘨?"
Arini mengernyit bingung saat Arya memanggil Wati dengan sebutan eyang juga seperti dirinya.
"Apa yang kamu lakukan padanya?" Tanya Wati dengan dingin lebih dari suara Arya.
"Arya tidak melakukan apapun." Jawabnya mengelak, "Hem..., memang apa yang dia katakan pada, eyang? Pasti dia mengadu hal-hal yang buruk, dasar wanita bisanya hanya menggunjing saja." Sinis Arya sembari memandang rendah Arini.
"Ternyata seperti itu ya watak dari para perempuan! Mereka semua sama saja. Karena tidak bisa mendapatkan perhatianku dia mencari cara lain..., hem..., sungguh perempuan jal*ng."
"Arya!! " bentak Wati dengan sangat emosi.
"Apa itu yang eyang ajarkan padamu! Pantas saja sampai sekarang kamu belum mendapatkan teman wanita, semua wanita pasti takut dengan kelakuan mu! "
Tak habis pikir bagi Wati kalau ternyata Arya juga tak bisa menjaga bicaranya juga di saat di luar rumah, dia kira hanya saat bersama orang tuanya saja dia akan berkata seperti itu tapi nyatanya dia juga mengatakan itu pada orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal bahkan bisa di perkirakan itu orang asing baginya.
"Apa sih, Eyang? Bukannya dari dulu Arya memang seperti ini?" Arya duduk begitu saja di hadapan Wati, memalingkan wajahnya malas dari Arini juga dari Wati.
"Eyang, Arini pergi saja ya?" Ingin sekali Arini segera pergi dan jauh-jauh dari orang yang sangat membuatnya merinding acap kali melihatnya, tatapan mata yang begitu tajam, aura wajah yang sangat dingin dan suara yang begitu berat membuatnya tak betah lama-lama ada di sana.
"Bagus, pergi saja dari sini. Lagian siapa juga yang membutuhkan wanita buruk rupa sepertimu," Sinis Arya.
"Lebih baik buruk rupa ya, Pak Tuan! Daripada hatinya yang buruk!" jawab Arini tak mau kalah.
"Emangnya hati siapa yang buruk!? "
"Hati siapa lagi? Hati Pak Tuan , lah! " Arini sungguh berani dia begitu sungut-sungut menjawab setiap kata yang keluar dari Arya, tak ada ketakutan seperti sebelumnya dia sudah terbiasa di hina karena kekurangannya dan dia tidak mau sampai dia terus di rendahkan.
Arya kembali berdiri, tersenyum sinis ke arah Arini, "Berani sekali kamu, apa kamu tidak mengenal siapa saya! " Ucapan Arya meninggi sehingga membuat Arini dan Wati terperanjat bersamaan.
Mata yang melotot tajam ke arah Arini membuat Wati merasa geram sendiri, hingga akhirnya dia melayangkan jitakan di kepala Arya, " 𝘊𝘵𝘢𝘬...
"Kamu itu sudah dewasa, kamu tidak malu memelototi gadis kecil seperti Arini! Bahkan kamu tidak malu menantang seorang gadis, apa kamu tidak malu dengan para kolega mu kalau sampai mereka melihat kamu seperti ini?!" Kecam Wati.
Jitakan yang begitu keras membuat Arya langsung mengelus kepalanya, dia meringis itu sudah pasti, rasanya memang sungguh sakit meskipun yang melakukan itu adalah seorang nenek-nenek.
"Apa sih, Eyang! sakit kan! kalau Arya amnesia bagaimana? apa eyang tidak akan menyesal! " keluh Arya dengan mimik yang terlihat sangat lucu.
Melihat itu membuat Arini terkikik geli, Arya yang ini sungguh berbeda dengan Arya yang barusan, "Seharusnya Pak Tuan itu berwajah seperti itu, itu sungguh imut daripada yang tadi kayak preman! " ledek Arini.
Mata Arya melotot, astaga..., dia di sebut seperti preman? "Apa kamu bilang! Aku? Preman?! " Pekik Arya dengan menatap sinis sementara yang di tatap malah semakin terkekeh tak ada rasa takut sama sekali, "Awas kamu ya! akan aku balas nanti! "
Baru kali ini Wati melihat Arya yang begitu banyak bicara, pria dingin yang irit bicara kini dia sedikit boros dengan kata-katanya meskipun itu karena berdebat dengan Arini, biasanya Arya hanya akan banyak bicara kalau dia lagi emosi itupun dengan karyawannya yang melakukan kesalahan.
"Arya, Eyang minta kamu menerima dia bekerja di kantor mu!" Ucapan Wati seketika membuat Arya dan Arini terbelalak.
"APA!? " pekik keduanya bersamaan.
Keduanya langsung cengo saling lempar pandang lalu berganti dengan tatapan sinis.
"Tidak tidak tidak, Arya tidak mau orang buruk rupa yang norak seperti dia bekerja di kantor Arya, Arya tidak mau..." Arya menggeleng kasar dia tidak akan mungkin membiarkan gadis seperti Arini bekerja di tempatnya, apa kata semua orang nantinya? Bagaimana dengan peraturan yang sudah sejak lama dia pertahanan hingga sekarang kalau begitu.
"Nggak! Arini juga nggak mau kerja sama orang nggak waras kayak dia, Eyang. Yang ada dia terus menindas Arini! " Arini pun tak mau tinggal diam dan menerima pekerjaan itu begitu saja, meskipun dia membutuhkan pekerjaan namun dia juga tidak mau bekerja dengan orang yang menyebalkan seperti Arya.
"Lagian siapa juga yang mau menerima cewek seperti kamu! " Sinis Arya.
"Siapa juga yang mau bekerja sama orang kurang satu ons seperti Anda! " Arini tak mau kalah.
"Diamm!! " Bentak Wati hingga akhirnya suara yang melengking keras itu berhasil menghentikan perdebatan mereka berdua.
"Arini, kamu sedang mencari pekerjaan kan? dan ini adalah kesempatan yang baik untuk kamu. Masalah Arya, biar Eyang yang urus. Kalau sampai dia macam-macam kamu lapor sama Eyang, " ucap Wati mencoba memberikan pengertian pada Arini.
"Dan kamu Arya, kalau kamu tidak menerimanya maka eyang tidak akan mau membantu kamu menghadapi mama dan papa kamu, kamu tau kan seperti apa mereka, " ancam Wati.
"Tapi Eyang, Arya tidak mungkin memperkerjakan orang seperti dia, " rengek Arya.
"Arini juga tidak mau , Eyang. Lebih baik Arini nggak dapat kerja hari ini daripada bekerja dengan orang seperti dia," Arini melengos dia sama sekali malas melihat Arya.
"Apa kamu bisa jamin besok kamu bisa mendapatkan pekerjaan?" tanya Wati dan Arini langsung menggeleng, "Nah, maka dari itu kamu harus menerima tawaran dari Eyang. Dan ya, anggap saja kamu bekerja dengan Eyang, bagaimana? kamu setuju kan?"
Arini tampak menimang-nimang tawaran itu, memang dia tidak bisa jamin sih akan mendapatkan pekerjaan besok ataupun lusa, tapi dia juga tidak mau bekerja dengan Arya, dia tidak mau kalau sampai di paksa untuk mengenakan baju yang kurang bahan seperti tadi.
"Mau ya.. " Wati begitu memohon, dia percaya Arini adalah gadis yang baik dia memiliki harapan bahwa Arini bisa mengubah pandangan Arya terhadap wanita nantinya.
"Tapi Eyang, " Arini masih sangat ragu.
Meskipun diam Arya terus berdemo dalam hatinya semoga Arini menolak permintaan Wati. Meskipun watak Arya yang keras dengan semua orang tapi dia tidak bisa melawan keinginan dari Wati.
"𝘛𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬... " 𝘚𝘦𝘳𝘶𝘯𝘺𝘢.
"Oke, tapi ada syaratnya. Arini tidak mau pakai pakaian kurang bahan seperti tadi, dan pak Tuan harus jauh-jauh dari Arini dengan jarak lima meter. "
Wow.., hebat bukan si Arini. Bahkan belum juga bekerja di kantor Arya dia sudah memberikan syarat selayaknya dia adalah bos nya.
"Hello!! Di sini saya bos nya! Kenapa situ membuat peraturan sendiri? " Arya sungguh tak habis pikir, bagaimana seorang Arya di kendalikan oleh seorang wanita seperti ini.
"Tuh kan, Eyang! Pak Tuan tidak akan mau dengan syarat yang Arini berikan. Ya sudah kalau begitu Arini pergi saja. Anggap saja kita tidak pernah bertemu, " Arini hendak membalikkan badan namun di hentikan oleh Wati.
"Sabar Arini, Arya pasti mau kok, " Wati langsung melototi Arya pokoknya Arini harus bekerja di kantor Arya bagaimanapun juga, "Arya." panggil Wati menekankan.
"Tapi, Eyang? "
"Arya., " Wati semakin bertambah geram.
Melihat mata Wati yang tidak bersahabat membuat Arya tak bisa berbuat apapun lagi kecuali hanya menurutnya, "iya iya! Saya setuju! " Jawabnya dengan malas.
"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨? " Arya mengernyit sendiri.
"Nah, begitu dong. Tuh Arini, Arya sudah setuju jadi kamu besok bisa bekerja di kantor ini. Ingat, bekerjalah dengan baik, kalau ada apa-apa lapor dengan Eyang, " ucap Wati dan Arini hanya mengangguk senang.
"𝘈𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢. " Batin Arini.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬? 𝘒𝘢𝘯𝘵𝘰𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶, " Batin Arya.
__
Bersambung..
_____________
ini memang pasangan unik lah ya arini dan Arya
wuah Arya junior sudah mau otw ini semoga lancar ya lahiran nya jangan membuat kerecokan di rumah sakit nanti agar para dokter dan perawat tidak bingung 😅😅😅
nah lho Arya salah jawab kan makanya kalau istri sedang mengagumimu jangan kamu komplain dia keluar kan kata" yg bisa bikin kamu bingung