Terlahir jelek? Tidak masalah, dengan satu usapan aku bisa merubah paras seseorang menjadi wanita cantik.
Tapi, tiba-tiba suatu hari dia harus berada di ruangan yang sama dengan CEO selama 24 jam. Siapa yang bisa membantunya untuk menyembunyikan fakta bahwa dia sebenarnya adalah gadis jelek?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syakira Sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di kerjain
Alana kini telah berada di dapur rumah Zayn, sedang menyiapkan masakan makan malam sesuai titah dari pemuda itu.
Manik mata Alana memicing tajam pada pemuda yang duduk di kursi makan sembari bermain ponsel, sedang menanti masakan Alana terhidang.
“Dia menghukumku,” gerutu gadis cantik ini sembari tangannya meremmas-remmas potongan dada ayam ke dalam balutan tepung. Seolah meluapkan kekesalannya.
Menarik napas kasar Alana kembali mengingat kejadian yang baru saja dia lalui saat pulang berbelanja bersama Gisel.
Bagaimana dia menghadapi kegalakan pemuda itu.
“Ingat Vampir China, selama kau tinggal di rumah ini kau tidak boleh pergi sesukamu! Mulai hari ini selain bekerja kau tidak boleh ke mana-mana.”
“Yah, kak.”
“Itu hukuman untukmu! Kau hanya boleh pergi jika aku memberi izin.”
Ya, itu hukuman yang ia terima setelah terlambat pulang ke rumah karena berbelanja dengan Gisel.
“Seenaknya saja dia! Dasar tukang atur,” oceh Alana lagi, ia semakin terkekang saja.
“Vampir China cepat! Aku sudah kelaparan!” teriak di seberang sana sembari menatap ke arah ponselnya.
“Iya, kak.”
Remmasan tangan Alana di wadah berisi tepung semakin kuat. Uh dia sangat sebal namun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Kalau lapar dari tadi kenapa tidak pesan makan saja, kenapa harus menungguku memasak,” gerutu Alana.
Kali ini Alana sedang menyiapkan menu masakan sederhana yaitu ayam goreng. Ya karena menurut ibunya Vino suka makanan yang berbahan dari ayam, dan hanya inilah yang bisa ia buat dengan cepat ayam goreng crispy kw ala kfc itu.
Setelah menghabiskan waktu beberapa saat kini, Alana menarik napas lega.
“Akhirnya selesai, wah kelihatannya enak sekali.” Alana menatap hasil masakannya yang baru saja dia angkat dari penggorengan.
“Kita tes kriuk cek,” ucap Alana mengalun sembari mengusap ayam goreng crispynya dengan pisau seperti yang sering di lakukan ala chef.
Senyum puas terbit dari wajah Alana ayam gorengnya terbungkus tepung yang begitu garing.
“Kak Vino pasti suka!”
“Aku juga sudah sangat lapar, sejak tadi hanya berbelanja sampai lupa makan,” keluh Alana.
Berkutat dengan masakan telah selesai. Ayam goreng Alana telah siap kini ia akan menghidangkannya ke meja makan dimana Zayn telah menunggunya sejak tadi.
“Sudah siap kak,” ucap Alana setelah semua terhidang di meja.
“Kenapa gerakanmu lambat sekali,” oceh Zayn sinis sudah merasa sangat lapar.
“Maaf kak. Aku memasak ayam goreng crispy, kakak pasti suka.”
Zayn membalas dengan mendengkus, sok tahu sekali dia jika dia akan suka.
Alana lalu mengisi piring di hadapan Zayn dengan nasi lalu ikut bergabung duduk di kursi. Menatap pemuda itu telah menyantap ayam goreng crispy buatanya.
“Bagaimana kak? Enakkan?” tanya Alana ingin tahu bagaimana kesan tentang makanan kesukaannya yang tersaji.
“Biasa saja!” balas Zayn dengan wajah datar sambil menyantap makanan.
Biasa saja! Alana mencebikkan bibirnya, Ah tidak bisa menghargai kerja keras orang! Tapi, Apa benar biasa saja? kemarin malam dia masih ingat bagaimana Zayn tega menghabiskan tanpa sisa makanan untuknya.
Mengabaikan kesan Zayn dia juga akan makan. Demi apa-pun dia juga sudah sangat lapar.
Alana duduk di kursi di hadapan Zayn hendak mengisi piring dengan nasi namun terhenti saat dering ponselnya yang berada di saku celana berdering.
Ya ampun, Alana berdecak dia sudah sangat lapar, tapi mengapa ada lagi yang menghubunginya.
Mengganggu saja ...
Alana menghentikan aksinya lalu meraih ponsel di sakunya.
Gisel ...
Alis Alana mengening menatap nama yang tertera. Ia pun menjawab panggilan itu.
“Ada apa Sel?”
“Huaaaaaa.” Suara tangisan di seberang sana.
“Sel ada apa?” Alana menjadi panik mendengar suara tangisan Gisel.
Alana kemudian melangkah menjawab panggilan Gisel.
“Daddyku Lan, dia masih menghukumku. Dia tidak jadi mengizinkanku ikut ke pesta itu,” lapor Gisel.
“Ya ampun Gisel itu hanya pesta.”
“Alana aku tidak bisa bertemu dengan Arion, aku tidak bisa berfoto atau minta tanda tangannya.”
“Sudah lain waktu kan bisa.”
“Arion Miroslav aktor nomor satu, sangat sulit menemuinya. Ini adalah kesempatan Lan.”
“Ya mau bagaimana lagi.”
“Alana ini semua gara-gara nenek sihir itu.”
Alana menghela napas berat, turut prihatin dengan nasib Gisel bagaimana tidak dia sudah menyiapkan segalannya namun niatnya itu terhempas. Gisel gagal ke pesta yang begitu dia harapkan, itu berati besok hari akan menjadi waktu yang berat sepanjang waktu sahabatnya itu akan terus mengoceh.
Setelah beberapa saat mendengar curahan hati Gisel panggilan telepon terputus.
Alana kembali ke meja makan. Manik mata Alana melotot terkejut saat mendapati makanan yang ada di meja.
“Ya, dia ... dia ... kulit ayamnya mana?” ucap Alana tebata-bata.
“Dia hanya makan bagian tepung kriuknya!
Ayamnya bugil,” geram Alana mengepalkan tangan.
Ah, sebal, makanan memang masih tersisa namun hanya ayam gorengnya sudah tak berkulit berbalut tepung.
“Dia tega ... Aku Cuma di sisain ayam bugil udah ngak ada kriuknya!” oceh Alana.
“Dasar dzolim, aku kan hanya menjawab telepon sebentar," umpat Alana dengan mata memicing tajam.
Uhg ... menyebalkan ... lagi-lagi dia kerjai oleh pemuda itu.
tapi kenapa sekarang kamu tidak pernah muncul lagi..