Bagai tersambar petir, saat Marinka tahu dan harus menyaksikan suami yang baru dia nikahi selama 3 bulan, memutuskan menikah kembali secara diam-diam. Tidak ada yang tahu seperti apa rasa sakit yang Marinka rasakan saat ini, pria yang dicintainya sejak lama, sudah bermain api dibelakangnya.
Marinka harus menerima kenyataan pahit, saat tahu gadis yang dinikahi suaminya adalah gadis yang dia kenal, bahkan mereka dengan tega merebut ranjangnya agar bisa menyingkirkan Marinka dari hidup mereka.
Akankah Marinka menyerah? atau Marinka akan bertahan demi pria yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19. Setuju
"Bagaimana? apa kamu sudah menemukan wanita yang cocok untukku?" tanya Ezra.
Yuda menggelengkan kepalanya, tanda dia belum menemukan wanita yang cocok untuk sahabatnya itu.
"Tadi ada wanita yang cocok sebenarnya, tapi wanita itu sangat matre. Saat dia tahu akan menikah dengan pengusaha nomor satu di kota J, dia langsung meminta mahar sebanyak 10 triliun. Wanita itu pasti sudah gila, apa dia fikir tubuhnya seindah dan selayak itu mendapatkan uang sebanyak itu? aku saja belum pernah melihat uang sebanyak itu."
"Lalu apa yang kamu katakan padanya?"
"Aki tidak mengatakan apapun. Aku langsung mengeluarkan uang dua ribu rupiah, dan langsung menempelkan uang itu ke dahinya."
Ezra tertawa keras saat mendengar ucapan Yuda. Temannya itu memang suka melakukan hal-hal yang konyol.
"Lalu bagaimana rekasi dari wanita itu?"
"Tentu saja dia marah dan mengatakan aku penipu."
"Penipu?"
"Ya. Dia bilang aku menipunya karena ingin menjodohkannya dengan pengusaha kaya nomor satu kota J."
"Sebenarnya masuk akal kalau dia mengatakan itu. Kalau difikir-fikir, orang sepertiku memang tidak pantas menerima perjodohan seperti itu, rasanya seperti aku ini sulit laku saja."
"Zra. Bagaimana kalau kamu coba menemui Marinka. Siapa tahu dia bisa menyelesaikan masalahmu ini."
"Tidak Yud, aku tidak ingin memanfaatkan gadis polos itu. Kasihan, dia pasti sangat tertekan."
"Ya terserah saja, tapi waktumu tidak banyak. Om dan Tante pasti akan menghubungimu terus menerus."
"Ckk...bikin stres saja."
"Oh ya, apa kamu sudah membaca informasi tentang Marinka?"
"Iya aku hampir lupa. Dimana kamu menyimpan berkas tentang gadis itu?"
"Lihat diloker sebelah kirimu, waktu itu aku menyimpannya disana."
Ezra membuka laci loker sebelah kiri, dan menemukan sebuah amplop coklat ditumpukkan paling atas.
Ezra perlahan membuka amploo coklat itu dan membaca isinya dengan teliti.
"Jadi awalnya dia anak yang di adopsi dari panti asuhan? dia diadopsi oleh keluarga Herman dan Paulin. Mereka juga memiliki seorang putri kandung bernama Karina. Apa hanya ini informasi yang kalian dapatkan?"
"Ya cuma itu saja. Info lainnya tidak terlalu penting tentang sekolahnya bukan?"
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa dia bisa mengalami hal sekeji itu? pasti ada hal yang tidak beres."
"Kenapa tidak kita tanyakan langsung saja padanya?"
"Iya. Mungkin dengan begitu kita bisa membantu kesulitannya."
"Kalau itu benar, kamu bisa memanfaatkan kesulitannya itu untuk barter denganmu."
"Ckk...kamu masih saja ingin memanfaatkan dia."
"Entah mengapa aku merasa kamu cocok dengan gadis itu. Dia sangat imut dan menggemaskan."
"Jangan mulai lagi deh,"
"Ayo kita jenguk dia. Dia pasti merasa bosan tidak punya teman bicara, kalau kamu memang tidak menginginkan dia, aku ingin belajar mendekatinya."
"Mulai lagi..."
Yuda terkekeh melihat wajah tidak senang diwajah sahanatnya itu. Mereka pun meutuskan untuk menemui Marinka dirumah sakit. Marinka yang baru selesai membersihkan diri, terkejut saat melihat kedatangan Ezra dan Yuda.
"Celaka, apa dia kesini ingin menghitung jumlah hutangku?" batin Marinka.
"Aku sungguh menyesal membuatnya secantik ini. Jujur saja, dia bahkan lebih cantik dan sexy dari Jihan. Yuda benar, dia memang kandidat yang cocok menjadi istri kontrakku, tapi aku tidak mungkin memaksanya kan?" batin Ezra.
"Tu-Tuan, apa anda kesini ingin memberitahuku tentang jumlah hutangku?" tanya Marinka.
Ezra saling berpandangan dengan Yuda. Yuda tiba-tiba mengedipkan mata kearah sahabatnya itu.
"Memangnya kamu punya uang 6 milyar untuk membayar hutang-hutangmu itu? kalau ada bayar itu saja, hutang yang lain tak perlu kuhitung lagi."
Marinka menggelengkan kepalanya dengan wajah tertunduk.
"Sebenarnya didalam tas ku ada sebuah cek senilai 1 milyar. Itu hadiah kompensasi, tapi sayang aku kehilangan tas itu saat terjadi kebakaran malam itu."
"Apa yang kamu maksud tas ini?" tanya Yuda yang memang berniat mengembalikan barang-barang milik Marinka. Melihat itu mata Marinka berbinar, wanita itu segera meraih tasnya dan memeriksa semua isinya.
"Ah...syukurkah ceknya masih ada. Cek ini aku serahkan untuk tuan saja, anggap ini cicilan pertamaku."
"Lalu bagaimana kamu membayar sisanya?" tanya Ezra.
"Aku rela jadi pembantu dirumah tuan seumur hidupku."
"Pembantu?"
"Iya. Aku tidak memiliki siapapun lagi didunia ini, semua orang tidak ada yang menginginkanku. Itulah sebabnya aku ingin dilenyapkan oleh orang-orang itu."
"Siapa orang yang kamu maksud?"
"Mantan suamiku dan istri barunya beserta keluarganya." Jawab Marinka.
Ezra dan Yuda terkejut saat Marinka mengatakan dirinya telah bersuami.
"Kamu sudah menikah? tapi dikartu identitasmu..."
"Menyedihkan memang. Seharusnya seseorang yang sudah menikah, kartu identitasnya juga sudah berubah, dan memiliki kartu keluarga sendiri. Tapi aku ini berbeda, aku bahkan tidak masuk dalam kartu keluarga siapapun lagi."
"Marinka, ceritamu sungguh membuatku bingung," ujar Ezra.
"Aku ini hanya anak adopsi oleh keluarga angkatku, aku di adopsi saat usiaku 8 tahun. Aku kira mereka mengadopsiku karena ingin memiliki seorang putri, tapi ternyata aku hanya dijadikan sebuah tameng untuk keluarga mereka. Bahkan urusan perjodohanku, mereka juga yang mengaturnya. Aku sangat bahagia saat tahu orang yang akan dijodohkan denganku adalah orang yang aku sukai sejak sekolah menengah atas, tapi ternyata aku keliru. Orang yang disukai suamiku adalah adik angkatku sendiri. Mereka diam-diam menikah secara siri, setelah pernikahanku baru menginjak 3 bulan. Bahkan suamiku membawa maduku untuk tinggal satu atap dengan kami. Mereka menipuku agar aku mau bercerai dengan suamiku dengan alasan menyelamatkan status bayi yang dikandung maduku, dan berjanji akan menikahiku secara siri. Tapi nyatanya aku ingin dilenyapkan."
"Maaf seharusnya aku tidak menceritakan ini pada kalian, aku tidak ingin kalian berfikir aku hanya menjual iba."
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan kedepannya?" tanya Ezra.
"Aku tidak tahu."
"Marinka. Setelah mendengar ceritamu, aku jadi ingin menganggap semua hutangmu menjadi lunas. Tapi sejujurnya aku juga sedang berada dalam masalah saat ini."
"Masalah apa? apa tuan ditagih rentenir? sehingga tuan ingin menagih hutang padaku?"
"Bu-Bukan itu masalahnya," Ezra menggaruk pelipisnya.
"Jadi apa?"
"Marinka sebenarnya aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku, seolah aku ini sedang memanfaatkanmu padahal kamu sendiri sedang berada dalam kesulitan. Aku tidak ingin kamu berfikir, aku merendahkanmu mentang-mentang kamu sedang terpuruk dan terlilit hutang."
"Tuan. Sebenarnya ada apa? apa yang bisa kubantu untukmu? anda sudah banyak membantuku, aku akan senang hati membantu anda."
"Orang tuaku ingin aku mencari menantu untuknya. Sedangkan kekasihku baru bisa pulang 6 bulan lagi karena dia seorang model internasional. Masalahnya orang tuaku mendesakku menikah secepatnya. Emm...kamu mau tidak menikah kontrak denganku selama 6 bulan sampai kekasihku itu kembali?"
"Eh...kamu tidak usah khawatir, seluruh hutangmu akan aku anggap lunas. Dan kamu bisa mengajukan satu permintaan lagi padaku."
Marinka terdiam. Wanita itu tampak berfikir keras, dia sama sekali tidak merasa direndahkan oleh Ezra, karena pria itu memintanya penuh dengan sopan santun dan kehati-hatian.
"Aku setuju." Jawab Marinka yang membuat mata Ezra bersinar terang.
"Tapi....
tetap semangat/Ok//Good/