Di balik suami yang posesif, menyimpan sebuah rahasia besar!
Alan akan selalu melempar benda-benda yang terdekat dengannya ketika ia kecewa dengan Nesa, ia memang tidak pernah memukul istrinya—pria itu akan menumpahkan kekesalannya pada barang-barang di rumahnya.
Nesa sebenarnya tidak tahan lagi, tapi hanya demi Ribi—putri semata wayangnya dirinya bersabar menghadapi perangai buruk suaminya yang tempra mental. Tapi bencana itu datang, saat Nesa mengetahui jika sang suami tidur dengan wanita lain hanya satu kalimat yang terucap.
"Mari kita cerai!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi wu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19
Bagian - 19
Hai... maaf kalau agak Slow update, karena aku juga ada kerjaan di apk sebelah.
Terima kasih sudah mau nunggu, semoga nggak lupa alurnya, yah.
Jangan lupa follow IG-ku @Novi_wu01
Tencu
_________
Nesa menangkup mulutnya dengan kedua tangan, dirinya tidak percaya, jika keputusannya untuk bertahan ditolak oleh Alan, meskipun awalnya—memang dia ingin meninggalkan lelaki itu. Tapi Nesa tidak bisa membiarkan Alan menanggung semua ini sendiri.
Alan memang bersalah, tapi mungkin karena ia tidak pernah puas dengan Nesa, bahkan Nesa menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjadi istri terbaik untuk Alan, dan meninggalkannya di kala masa sulit seperti ini.
"Aku iklaskan kamu, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu," pungkasnya, dengan nada suara bergetar.
Nesa benar-benar tak kuasa menahan derai air matanya sendiri, kakinya bahkan bergetar hebat ketika kata talak keluar dari mulut Alan. Padahal awalnya dirinya-lah yang ingin pergi dan berpisah dengan suaminya. Tapi mengetahui jika Alan mengidap penyakit mematikan, seketika membuat hatinya luluh.
***
"Untuk apa kamu kembali?!" dengus Mama Alan, saat melihat menantunya kembali ke hotel dan meninggalkan anaknya sendiri di ruang perawatan.
"Ma... Mas Alan telah mengucapkan talak padaku, Mas Alan minta Nesa untuk kembali ke rumah bapak." Nesa meraih tangan Ribi, bersiap untuk pulang.
"Omong kosong! Mana mungkin Alan seperti itu! Pasti kamu yang minta diceraikan, pasti itu!" serunya, dengan nada suara tinggi.
"Ma... Pa. Aku kembali ke sini, karena ingin memperbaiki hubunganku dengan suamiku. Dan ketika suamiku sudah tidak menginginkanku lagi, lebih baik aku pergi," jawab wanita itu, berbalik badan dan pergi. Ia benar-benar tidak tahan dengan teriakan, makian, dan umpatan dari mertuanya.
"Dasar Mantu kurang ajar!" pekik wanita paruh baya itu, mengumpat pada menantunya. Namun hal itu tak di dengarkan oleh Nesa, dan ia memilih kembali ke rumah Bapak dan Ibunya.
Nesa mencoba kuat di hadapan putrinya, meskipun saat ini dirinya ingin menangis bahkan meraung, tapi semua itu dia tahan hanya karena—agar Ribi tidak melihat hancur leburnya hati seorang Nesa, wanita yang telah melahirkannya.
Saat berjalan keluar dari hotel, dengan menggandeng tangan putrinya, Ribi menggoyangkan tangan agar sang ibu memperhatikan dirinya. Mata bulat itu menatap ke arah wajah ibunya yang nampak sembab.
"Bu... kita nggak jadi pulang, ya?" Pertanyaan Ribi, membuat Nesa seketika menatap ke arah putrinya. Nesa langsung menghentikan langkahnya, meletakkan tas ke lantai, kemudian berjongkong menggenggam pundak putrinya.
"Ribi, dengerin Ibu, Ayah sama Ibu mau tinggal sendiri-sendiri mulai sekarang, dan Ribi akan tetap sama ibu di rumah mbah kakung."
"Kenapa harus tinggal sendiri-sendiri, kan kita masih bisa tinggal di Jakarta bareng ayah," jawab Ribi.
"Nanti ibu jelasin, kalau Ribi udah paham." Nesa tak kuasa membendung air matanya, hingga dirinya harus repot-repot membuang muka, hanya ingin menyembunyikan tangisan di depan buah hatinya.
Tak disangka sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di depan lobi hotel, mobil yang tak asing untuk Nesa, itu adalah Eriawan—ternyata pria paruh baya itu sejak tadi menunggu putrinya di depan hotel. Ia benar-benar tidak bisa melepas anak kesayangannya untuk kembali bersama pria b*jin*an seperti Alan. Kaca mobil itu terbuka. Dengan raut wajah khawatir Eriawan berkata, "Masuk, nduk!"
Eriawan keluar dari mobil, meraih tas yang berisi baju Nesa dan Ribi yang sejak tadi di tenteng anaknya, meletakkan di jok belakang. Sementara Nesa duduk di depan memangku Ribi.
Melihat ayahnya yang begitu menyayanginya membuat Nesa tidak bisa menahan air matanya, ia menyerah —meraung dalam pelukan bapaknya memeluk tubuh lelaki paruh baya itu dengan erat.
"Maafin Nesa, Pak. Nggak mau dengerin Bapak. "
"Bapak nunggu kamu di sini, karena Bapak yakin, kamu pasti pulang, nduk!"
"Njih Pak. Mas Alan mengucapkan talak untuk Nesa," pungkas wanita itu di tengah-tengah isak tangisnya.
"Alhamdulillah." Hanya kata hamdallah yang bisa Eriawan ucapkan saat Alan melepaskan putri kesayangannya itu.
Tangan Eriawan meraih kepala Ribi yang nampak kebingungan melihat ibunya menagis. Ia mengelus rambut cucu satu-satunya itu. "Pulang ya, Nduk. Besok Mbah Kakung daftarin Ribi sekolah, di sini," pungkas pria paruh baya itu.
**
Saat keduanya kembali ke rumah, keduanya di sambut dengan tatapan lega dari seorang ibu. Nesa yang turun dari mobil langsung berlari memeluk ibunya dengan erat. "Maafin Nesa, Buk!"
"Wes... tak popo, nduk! (Sudah ... tidak apa-apa!)," pungkas Sang ibu dengan mengelus dan mencium rambut anaknya. Ia wanita yang paling lega saat melihat buah hatinya kembali bersama suaminya.
"Alan wes megat anakmu, Bu.(Alan sudah menceraikan anakmu, Bu). " Eriawan menghampiri keduanya dengan menggandeng cucunya.
"Sudah... nggak usah sedih, mungkin Alan bukan jodohmu! Yakin Gusti Allah sudah mempersiapkan jodoh terbaik untuk kamu, besok," hibur ibunya.
"Kalau aku tinggal di sini, mesti aku bakalan repotin bapak sama ibu."
"Bapak masih bisa ngasih makan kamu sama Ribi, meskipun cuma lauk tahu tempe," sahut Eriawan.
"Tuh... denger ngendikane bapak! (Tuh... denger ucapan bapak!)" ucap Ibu Nesa, menghibur putrinya.
suka bgt
mudah2 Han author nya GX lama2 up ny