Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lift Anti-Mainstream
Bunga menatap heran Bian yang kini masih diam tanpa berganti posisi. Tatapan setajam elang Bian seakan mengintimidasi Bunga.
Untuk pertama kalinya Bunga kembali dibuat terkejut dengan tindakan Bian. Cowok itu sudah berhasil meraba paha mulus miliknya. Bahkan usapan itu sangat pelan dan....
Bruk
Dengan kesadaran yang masih menguasainya Bunga mendorong tubuh Bian agar menjauh. Gadis itu melepaskan hoodie milik Bian yang tadi dikenakannya. Bukan untuk dikembalikan, tetapi untuk menutupi paha mulus miliknya.
"Jangan macem-macem lo sama gue!" tegas Bunga yang diam-diam membuat smirk di wajah Bian.
Cowok itu tersenyum menang saat tahu jika kenekatannya tadi untuk mnyentuh Bunga membuat nyali gadis itu untuk tetap membiarka paha mulusnya terlihat menciut, terbukti dari Bunga yang kini sudah menutupi bagian pahanya.
"Lucu," kekeh Bian yang masih dapat didengar oleh Bunga. Terapi tidak ada niatan dari gadis itu untuk membalas cibiran Bian tadi.
Pukul setengah 7 malam. Mobil Bian sampai di parkiran apartemen. Keduanya masih duduk dan terdiam di dalam mobil.
"Ini." Bian menyerahkan ponsel milik Bunga yang sengaja dia sita.
Bunga menerimanya. Berniat untuk keluar dari mobil Bian. Dia sudah cukup lelah dan harus bersiap-siap kerja beberapa jam lagi.
"Thank untuk hari ini," ucap Bian membuat langkah Bunga terhenti. Gadis itu menoleh ke arah Bian. "Cara lo terlalu norak untuk bisa jalan bareng gue," jawab Bunga membuat Bian terkekeh.
Setelahnya Bunga benar-benar pergi menunggalkan Bian yang masih berdiam diri di dalam mobilnya. Cowok itu menghubungi nomor Ibundanya. Mengatakan jika baru saja ia berkunjung ke vila keluarga mereka.
Sampai di apartemen. Bunga langsung merebahkan tubuhnya, dia harus beristirahat sejenak sebelum berangkat kerja nanti. Tadi malam dia sudah ijin, dan malam ini Bunga berniat untuk tetap bekerja meski badannya terasa lelah akibat perjalanan ke puncak tadi yang memerlukan beberapa jam.
"Una!" suara lantang dari lelaki lemah gemulai itu terdengar saat Bunga baru saja datang.
Bunga melambaikan tangan seraya berjalan ke arahnya. "Udah dapat berapa?" tanya Bunga membuat Deni mencebik.
"Eike baru sampai ya... Ye kenapa sih tadi bolos?" tanya Deni yang tidak menemukan Bunga tadi di sekolah.
"Oh..gue nggak enak badan," singkat Bunga membhat Deni mengernyit. "Tapi ye udah baikan kan sekarang?" cowok itu menatap Bunga khawatir.
"Kalau udah di sini berati gue udah siap tempur," jawab Bunga membuat keduanya tertawa.
"Rasel mana sih? nggak masuk dia?" tanya Bunga yang tidak melihat keberadaan salah satu sahabatnya.
"Dese udah lagi di atas sama atm nya," jelas Deni membuat Bunga mengangguk.
"Hei sayang-sayang mimi," perempuan dengan rambut blonde itu menemui Bunga dan Deni yang masih berbincang.
"Gimana udah baikan sayang?" tanya Mimi kepada Bunga.
Gadis itu mengangguk dengan senyum. "Bagus, di dalam sana udah ada yang nanyain kamu, buruan gih kasih servis terbaik kamu," suruh Mimi membuat Bunga tersenyum.
"Duluan deb," pamit Bunga dan diangguki oleh Deni. "Yes baby," jawab Deni menatap kepergian Bunga.
Cowok itu beralih menatap Mimi yang masih berdiri di sebelahnya. "Mi, eike kapan dong, udah gatel ini," keluh Deni membuat Mimi menggeleng.
"Kamu ikut saya dulu deby, bantuin pijit tante variska," suruh Mimi membuat Deni membrengut.
Cowok lemah gemulai itu lebih suka menemani lelaki g*y atau Om-Om yang mau memakai jasanya dari pada memijit Tante-tante yang menurutnya tidak membuat adrenalinnya meningkat.
Bunga masuk ke salah satu kamar hotel yang sudah bodyguard Mimi beritahu. Gadis itu menutup pintu setelah masuk ke dalam kamar yang sudah tercium bau alkohol.
"Baby sayang," suara itu membuat Bunga menoleh.
Terlihat lelaki paruh yang sedang berdiri dengan senyum di wajahnya.
"Om." Bunga menghampiri lelaki itu dan memeluknya.
"Om sangat rindu denganmu baby, apa lagi sentuhanmu," ucapnya seraya meremas b*k*ng milik Bunga.
Gadis itu sedikit melenguh, mendapati pepanggannya yang baru saja pulang dari bisnisnya di luar negeri. Tetapi bukan itu yang membuat Bunga menahan nikmat, tangan dari lelaki itu sudah menjalar kemana-mana.
"Om ada hadiah untuk kamu, tapi sebelumnya kasih yang sepesial untuk Om malam ini," ucapnya seraya membelai wajah cantik Bunga.
Bunga menangguk, lalu menuntun lelaki itu dengan gaya sens*alnya untuk menuju ranjang.
"Malam ini untuk Om," ucapnya seraya mendorong lelaki tersebut di atas ranjang.
Pagi harinya Bunga hampir saja terlambat ke sekolah jika saja Deni tidak membangunkannya. Lelaki lemah gemulai itu menginap di apartemen Bunga tadi malam. Mereka pulang bersama menggunaka mobil yang Bunga bawa.
"Na bangun deh, kebo banget sih ye." Deni menggoyang-goyangkan tubuh Bunga.
"Deby pleas deh, ini hari minggu gue mau tidur sepuasnya!"
Pletak
"Auw!" rintih Bunga mendapat pukulan di kepalanya dari Deni.
"Mimpi ye, cepetan bangun pakai seragam, biar eike siapin sarapan," omel Deni persis seperti emak-emak.
"Ck, udah kayak mak komplek aja tuh ben-"
"Apa?" galak Deni menoleh ke arah Bunga.
Bunga bangkit, lalu berjalan ke arah Deni. "Udah kayak emak komplek jablai!" ucap Bunga lalu mencium pipi Deni singkat. Gadis itu masuk ke kamar mandi sebelum mendengar omelan dari Deni.
"Una, si*lan ye! bikin eike nggak bisa marah aja deh!" teriak Deni yang tidak lagi dihiraukan oleh Bunga. Gadis itu sudah sibuk dengan kegiatannya di kamar mandi.
"Na...tadi mal-" ucapan Deni terjeda saat melihat Bian yang juga akan berangkat sekolah.
Lelaki itu sedang menatap Bunga dan juga Deni secara bergantian.
"Emezing, Bian di sini?" tanya Deni menatap tidak percaya. Sementara yang ditatap malah menatapnya dengan sinis.
Bunga menoleh, mendapati Bian yang memang sedang menatap mereka dengan tatapan berbeda. Tetapi Bunga cuek, toh..dirinya dan Bian sudah tidak terjalin hubungan apa-apa. Ponsel Bunga sudah dikembalikan dan kejadian kemarin Bunga coba tepis demi keamanan hati dan perasaannya nanti dikemudian hari.
Dia tidur sama si cebong? batin Bian penuh tanya.
Meski Deni ini lelaki lemah gemulai, tetap saja sejatinya Deni itu ialah laki-laki yang memiliki batang, Bian tidak suka sekalipun Deni sahabat Bunga.
Di dala lift. Deni terus menatap punggung tegap Bian. Posisinya Bunga dan Deni ada di belakang cowok itu.
"Na kok nggak bilang sih apartemen dese di sini juga?" bisik Deni.
Bunga menoleh. "Nggak penting," jawab Bunga ikuy berbisik.
"Ih...yang kayak gini eike suka Na," timpal Deni lagi membuat Bunga menggeleng. "Tapi nggak ada dui-" seketika ucapan Bunga terhenti saat mengetahui jika cowok SMA seperti Bian pernah mau membayarnya dengan begitu mahal hanya untuk mengurung Bunga disebuah kamar hotel VIP. Beruntung keesokannya Bunga membalikan uang yang sudah ditransfer oleh Bian. Dengan alasan Bunga bukan gadis murahan meski pakaian yang dikenakan mencerminkan demikian.
"Ada kok duitnya, eike yakin banget, buktinya ye tinggal di apartemen mewah ini," lagi-lagi Deni berucap tetap pada keyakinannya.
Ting
Pintu lift terbuka. Beberapa orang yang berada di sana keluar termasuk Deni, tetapi disaat Bunga ingin keluar, Bian sudah lebih dulu mencekal tangannya dan menarik Bunga kembali masuk ke dalam lift. sampai pintu lift kembali dia tutup. Seakan tidak ingin membiarkan orang lain masuk untuk mengacaunya. Sengaja Bian tekan lantai paling atas untuk memperpanjang waktu.
Bruk
Bian mengurung Bunga di dinding lift. Gadis itu menatap Bian tidak mengerti, sampai dimana Bian sudah berhasil mengambil bibirnya untuk kembali dinikmati.
Gadis itu tercekat, tangannya reflek mencoba mendorong tubuh Bian, tetapi semakin dia mencoba, semakin Bian memaksa untuk lebih dalam.
Bian melepas pag*tan di antara mereka. Menatap Bunga dengan tatapan yang susah diartikan. "Lo tidur sama dia?" tanya Bian bersamaan dengan pintu lift yang kembali terbuka.
__
Beri dukungannya ya gaes karena aku akan lebih rajin buat up cerita ini