Menjalankan sebuah pernikahan rahasia dan dengan terpaksa pula, tidak pernah ada dalam bayangan Aura Aneshka. Ia hanya memimpikan untuk membina
rumah tangga yang sederhana dengan seorang lelaki yang sholih dan bertanggung jawab. Tapi semua impian yang sudah tampak di depan mata itu hancur berantakan ketika pemilik kekuasaan di tempatnya bekerja masuk begitu saja dalam kehidupannya dan mengacaukan hari-harinya.
Damaresh Willyam, penguasa tertinggi PRAMUDYA CORP. Tak pernah tau kalau akibat perbuatannya mengikat Aura Aneshka dalam pernikahan yang hanya di maksudkan untuk menunjukkan kekuasaannya pada bawahannya yang di anggapnya terlalu pembangkang itu, justru membawanya pada masalah baru yang tak pernah ingin di temuinya selama ini. Yaitu cinta.
Dapatkah sebuah ikatan yang awalnya hanya di maksudkan untuk permainan itu, menjadi sebuah ikatan yang sebenarnya.
Bagaiamana jika pada akhirnya, Damaresh harus memilih antara cintanya atau tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Menyerah
prangg
Dekstop itu berpindah tempat ke lantai marmer dalam posisi telungkup dan ada bagiannya yang terburai keluar. Sadis sekali perlakuan Edgard padanya, komputer meja yang tak berdosa itu yang selalu menemani hari-hari kerjanya yang bahkan sering di puja-pujanya karna kemampuannya menyimpan rahasia sangat bisa dipercaya, kini bernasib naas terkena imbas kemarahan Edgard yang luar biasa.
Edgard menatap nyalang Daniel yang telah memberinya dua informasi yang sangat tidak ingin di dengarnya. Gagal, Satu kata laknat yang tak pernah ingin didengar Edgard itu ternyata disampaikan oleh Daniel yang membuat Edgard murka. Bak murkanya sang merapi yang siap memuntahkan lahar panasnya.
Daniel ingin menghilang saja rasanya melihat sorot mata Edgard yang ingin menelannya hidup-hidup. Pasti sebentar lagi akan ada pertunjukan kanibal di ruangan CEO Mediatama itu, Daniel bergidik.
"Bagaimana itu bisa terjadi Daniel?" Edgard membentak.
"Winata Group lebih memilih Blanc Compani yang memiliki design sama persis seperti yang kita ajukan, sehingga kita diduga menjiplak karya mereka,"
jawab Daniel dengan suara tegas dan posisi tegap bersiap untuk lari kapan saja, jika tiba-tiba Edgard kalap dan menyerangnya.
"Bagaimana bisa, Blanc Compani punya design yang sama persis dengan kita?"
"Saya juga tidak tau pak,"
"Dan kau berani melaporkannya padaku dalam kondisi kau tidak tau jawabannya!" bentak Edgard.
"Kami sudah melakukan sesuai prosedur seperti biasa pak, dan hal ini baru pertama kali terjadi."
"Apa ada pengkhianat di dalam team mu?"
"Saya rasa tidak ada, kami belum merekrut pegawai baru,"
Edgard mendudukkan dirinya kembali di kursi dengan nafas turun naik karna emosi, lelaki itu merenggangkan lilitan dasinya karna dadanya yang terasa sesak kini.
Daniel diam-diam mencuri pandang padanya, berharap dirinya akan segera diusir keluar. Sungguh bagi Daniel dirinya lebih baik diusir dengan tidak hormat untuk keluar dari ruangan ini dari pada menyaksikan kemarahan Edgard yang seakan membuatnya akan kena serangan jantung sebentar lagi.
Sebagai perusahaan pengembang, Mediatama selalu sukses memenangkan tiap-tiap proyek besar selama ini bahkan bisa menyaingi developer yang lebih besar dan lebih lama perjalanan kiprahnya di seantero Surabaya.
Tentu saja semua itu tak lepas dari nama besar Pramudya Corp yang ada di belakangnya.
Pertama kalinya dalam sejarah, Mediatama gagal memenangkan Proyek yang menjadi incarannya selama ini, bahkan dua proyek sekaligus, milik Winata Group dan salah satu perusahaan BUMN yang tiba-tiba memutus kontrak secara sepihak.
Edgard berang, pasalnya jika hal itu sampai didengar Damaresh tamatlah riwayatnya. Damaresh pasti akan menggunakan hal tersebut untuk menekan posisinya sebagai CEO Mediatama. Karna sudah terhitung tiga kesalahan besar yang dilakukan Edgard yang mana dengan hal tersebut sudah memenuhi Syarat bagi Damaresh untuk mendepak Edgard dari kursi kebesaran Mediatama Corp.
Kini lelaki itu harus memutar otaknya agar jangan sampai kabar ini didengar oleh Damaresh Willyam.
Namun ternyata masih ada lagi satu pukulan yang harus di terima oleh Edgard.
"Satu lagi pak!" Daniel segera akan menuntaskan laporannya yang terakhir.
"Apa!?" Edgard kembali mengeluarkan suara menggelegarnya.
"Pengajuan suntikan dana ke Pramudya ditolak pak, .."
belum juga selesai Daniel menuntaskan ucapannya, Edgard sudah menggebrak meja dengan keras membuat Daniel segera mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Keluar!" Akhirnya ucapan yang ditunggu Daniel, keluar juga dari mulut Edgard. Daniel langsung berbalik badan dan bergegas keluar tak lupa menutup pintu rapat-rapat.
Daniel masih bersandar di pintu ruangan CEO itu sambil menghela nafas lega akhirnya aku berhasil keluar dengan nyawa masih ada dalam ragaku. batinnya. Namun seketika Daniel menegakkan tubuhnya dan menunduk hormat terhadap seorang lelaki yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
"Edgard ada di dalam?" tanya lelaki itu penuh wibawa.
"Iya pak," Daniel segera menggeser tubuhnya memberi jalan pada lelaki tampan penguasa Pramudya Corp itu untuk masuk kedalam.
Apa kabarnya Edgard dengan kehadiran Damaresh yang tiba-tiba, padahal baru saja ia hendak menyusun taktik untuk mengelabui Damaresh, belum juga rencana itu tersusun, Damaresh sudah berdiri di depannya dengan gagahnya.
"Eeh Aresh, du..duduk!" Edgard sedikit gugup. Ah salah bukan hanya sedikit tapi sangat terlihat kalau dia gugup, wajahnya bahkan terlihat pucat.
"Kau sakit?" tanya Damaresh.
Ayolah itu bukan sebentuk perhatian dari Damaresh padanya, tapi itu sindiran yang dapat dipahami oleh Edgard.
"Aku baik-baik saja," sahut Edgard cepat seraya mengatur nafasnya agar terlihat tenang sementara hatinya merutuki kedatangan sepupu sekaligus rivalnya dalam perang dingin yang sudah ia kobarkan sejak lama itu.
sial, kenapa dia selalu datang tiba-tiba seperti malaikat maut saja.
"Siapa barusan yang keluar dari sini?" tanya Damaresh setelah duduk sempurna di depan Edgard.
"Dia, Daniel kepala bagian team kreatif dan pengembangan,"
"Lulusan UCLA?"
"Iya,"
"Ku kira Daniel itu cukup pantas untuk menduduki kursi CEO Mediatama mulai besok," Damaresh telah memulai serangannya. Edgard langsung membisu.
"Waktu sehari cukup kan, untukmu berkemas, Edgard?" Lagi, serangan kedua dari Damaresh.
"A..aresh.." Edgard benci berada di posisi ini, apalagi harus memohon pada Damaresh, yang sudah terlahir sebagai sepupunya dan juga terlahir sebagai saingannya. Dari dulu Edgard selalu kalah telak dari Damaresh yang memang punya kecerdasan di atas rata-rata. Dan dari dulu hidup Edgard tak pernah tenang karna selalu di banding-bandingkan dengan Damaresh oleh papa dan mamanya, sehingga Edgard mengutuk kelahiran Damaresh ke dunia ini.
Dan kini, ia harus memohon pada orang yang sangat tak diinginkan keberadaannya itu. Tapi selain memohon apalagi yang bisa di lakukannya sekarang.
"Aku akan memperbaiki semuanya, Aresh. Aku janji,"
"Bahkan kau kalah sebelum bertempur, Ed," Damaresh mencibir.
"Seharusnya kami yang mendapatkannya, tapi design kami dijiplak," Edgard berusaha menjelaskan duduk persoalannya, berharap Damaresh percaya.
"Kenapa bisa?" Damaresh sepertinya tertarik dengan penjelasan itu.
"Database team kreatif, bocor."
"Sudah tau pelakunya?"
Edgard menggeleng, dalam hati ia berjanji akan segera menemukan pelaku yang dimaksud.
"Aku."
"Apa?" Edgard hampir terbelalak.
"Ya.Aku pelakunya." Damaresh memperjelas keterangannya.
"Kau?" Edgard mau mengingkari pendengarannya saat ini.
"Ayolah Ed, tidak usah kaget begitu, aku hanya menyambut permainanmu saja," Damaresh menyeringai.
"Apa maksudmu?" Edgard langsung naik pitam.
"Perkara penggelapan dana yang kau lakukan tentang Proyek RS Medika, itu aku sudah tau sejak lama, dan aku tidak pernah berminat untuk mengusiknya, aku membiarkanmu bersenang-senang dengan uang itu.
Tapi kau mengusikku," Damaresh menunjuk tepat dada Edgard.
"Kau mengusikku dengan mengirimkan wanita simpananmu itu padaku, Aku hanya membalas gertakanmu dengan membawa Aura yang bisa menjadi saksi sikap curangmu. Tapi kau tak sadar diri ya Ed,"
Damaresh bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di belakang Edgard yang duduk diam dengan wajah beku.
"Kau malah kembali mengusikku dengan menyerang orang-orang di dekatku, maka ini lah jawabanku.
Aku hanya menunjukkan sedikit kekuatanku padamu, tapi kau sudah kebakaran jenggot begini.
Hanya dengan menjentikkan jariku, Winata group, Blanc Compani dan perusahaan BUMN itu patuh pada perintahku." Damaresh menepuk pundak sepupunya itu dengan pelan.
Damaresh kemudian menunduk dan berkata dengan setengah berbisik di samping kepala Edgard.
"Ku harap kau puas Ed, karna aku sudah meladeni permainanmu,"
Dan lelaki itu kembali berdiri tegak, memasukkan kedua tangan dalam saku celana kemudian melangkah pelan hendak keluar.
"Aku akan memberitaukan semuanya pada kakek,"
Edgard menahan langkah Damaresh dengan ancamannya.
"Silahkan!" Damaresh menanggapi santai, bahkan kelewat santai. "Apa kau pikir, kakek akan lebih percaya padamu?, Ckk" Damaresh berdecak menatap Edgard.
"Kau sepertinya belum terlalu mengenal siapa tuan Willyam Pramudya ya, mana mungkin kakek akan lebih mendengarkanmu dari pada aku yang mampu menghasilkan puluhan triliun tiap tahun?"
Damaresh berkata dengan pongahnya.
"Aku ini," Damaresh menunjuk dadanya sendiri.
" Adalah aset berharga keluarga besar Willyam Pramudya, apa kau pikir kakek akan mau kehilanganku?"
Edgard menghembuskan nafasnya kasar, harus diakui kalau ucapan Damaresh itu memang benar, siapapun tak bisa memungkirinya. Kini ia juga harus mengakui kalau keputusannya bermain-main dengan Damaresh adalah keputusan yang salah.
"Jika kau masih ingin menabuh genderang perang denganku, dengan senang hati aku akan meladeni.
Tapi," Damaresh mengangkat bahunya dengan cibiran.
"Bagaimana kau akan bisa melawanku, jika setelah ini kau sudah tidak akan duduk di kursi itu lagi," Damaresh menunjuk kursi CEO itu dengan menyeringai.
Selanjutnya ia kembali meneruskan langkah hendak keluar.
"Tunggu Aresh!" Edgard mengejarnya dan menghadang langkah sepupunya itu dengan nafas memburu. "Aku salah, aku mengaku kalau aku salah,"
Edgard berkata masih dengan nafas memburu seperti habis mengejar layangan putus. Padahal tak seberapa jauh jaraknya ia harus melangkah dari posisi duduknya untuk mencapai posisi Damaresh berdiri saat ini.
Tapi kenapa nafasnya sampai memburu, itu karna setengah mati ia menekan ego-nya untuk bisa mengucapkan dan mengakui kekalahannya di depan Damaresh.
"Aku menyerah. Aku menyerah untuk mengusikmu lagi. Tak hanya kau tapi juga orang-orang di dekatmu."
Putus Edgard lagi.
Damaresh memicingkan mata menatapnya.
"Apa kau ingin aku percaya kepadamu?"
"Kau bisa pegang ucapanku!"
"Sampai kapan?"
"Selamanya," Yah Edgard telah memutuskan untuk menyerah saja. Karna ternyata segala usahanya selama ini hanya membuatnya seperti menggali kuburannya sendiri. Lebih baik berhenti dari pada nanti dia akan berakhir dengan berada di jalanan.
"Lalu?"
"Bantu aku Aresh, bantu aku untuk mendapatkan semuanya kembali, sebentar lagi kakek akan datang dari LN. Aku ingin saat itu semuanya sudah kembali seperti semula," Hanya tak terlihat saja kalau Edgard itu berlutut di depan Damaresh, memohon untuk di kabulkan keinginannya.
"Baik, aku pegang ucapanmu," Damaresh iba juga melihat sepupunya yang angkuh itu kini berada dalam kondisi seperti sekarang.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Edgard penuh harap.
"Kau perintahkan team kreatifmu untuk merubah satu titik saja dari designnya. Dalam dua jam dari sekarang
design itu sudah harus kau kirim ke Winata Group."
"Baik, baik. Aku mengerti."
Damaresh segera berbalik badan meneruskan niat awalnya untuk pergi.
"Terima kasih, Aresh," ucap Edgard.
"Kau bisa juga berterima kasih. Tapi aku tak hanya butuh ucapan terima kasihmu," Balas Damaresh.
"Baik, aku paham." sahut Edgard.
Damaresh pun segera keluar dari ruangan itu layaknya seorang petarung yang menang telak dari lawannya.
Kaivan yang memang menunggunya diluar segera mengekorinya. Setiba di dalam Elevator.
"Pak ada telfhon untukmu!" Kaivan memberikan ponselnya.
"Kau terima saja Kai," Damaresh enggan menerima telfhon itu.
"Ini urgens harus kau sendiri yang bicara," Terang Kaivan.
Setelah diawalinya dengan decakan kesal, Damaresh pun menerima panggilan telfhon itu bicara sekejab dan
kembali memberikan telfhonnya pada Kaivan.
"Kita ke rumah Arra, sekarang." Damaresh memberi titah setelah mereka keluar dari Elevator.
"Baik pak,"