Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 ( Sakit Hati )
Di dalam mobil tangis Benazir kembali pecah. Awan pun menenangkan Benazir dengan terus memeluknya. Sesekali ia membelai dan mencium kepala Benazir. Suci yang melihat Benazir menangis pun tak kuasa menahan tangis. Meski ia tak tahu persis apa yang terjadi, tapi sebagai seorang ibu nalurinya ikut merasakan penderitaan Benazir.
" Sudah Sayang. Jangan menangis lagi. Lupakan semuanya. Biar Kakakmu yang ngurus semuanya nanti...," bujuk Suci dengan air mata berderai.
" Ibu...," rengek Benazir sambil beralih menghambur ke pelukan Suci.
Suci pun memeluk Benazir dengan erat. Keduanya menangis dan membuat suasana di dalam mobil dipenuhi aura kesedihan. Awan, Darma dan Gama hanya terdiam menyaksikan dua wanita yang mereka cintai itu menangis.
Darma nampak mengeratkan pegangannya di kemudi seolah berusaha menahan kemarahannya. Sedangkan Gama nampak mengepalkan tangan dan merapatkan giginya sambil menatap nanar keluar jendela. Hanya Awan yang terlihat lebih tenang. Ia mengelus rambut Benazir sambil memandang ke depan. Terlihat tenang di permukaan tapi dalam hatinya bagai gunung api yang menyimpan bara yang suatu waktu siap meletus dan menghanguskan semuanya.
Setelah beberapa saat kemudian, Benazir dan Suci menghentikan tangisnya. Walau masih saling memeluk, tapi kini mereka terlihat lebih tenang.
Mobil memasuki halaman rumah besar peninggalan Thohari, ayah Benazir. Di depan pintu terlihat Yanti yang menggendong bayinya nampak memunggu kedatangan mereka dengan senyum di bibirnya.
" Liat Nak. Oma datang tuh. Hallo Oma...," sapa Yanti sambil mengarahkan wajah sang anak kearah Suci.
" Assalamualaikum Cucu Oma...," sapa Suci sambil tersenyum.
Dengan sigap Awan dan Darma membantu Suci turun dari mobil lalu mendudukkannya di atas kursi roda. Kemudian Darma mendorongnya mendekati Yanti dan Aqila.
" Wa alaikumsalam Oma...," sahut Yanti lalu mencium punggung tangan Suci.
Yanti juga mencium punggung tangan suaminya. Lalu ia menoleh kearah Benazir sambil mengerutkan kening. Ia melihat wajah Benazir yang sembab karena menangis. Dan Yanti penasaran karenanya.
" Benaz Sayang. Kamu kenapa...?" tanya Yanti lembut.
Benazir menggeleng lalu menghambur memeluk Yanti. Melihat Benazir yang kembali menangis, Awan pun meraih Aqila dari gendongan Yanti lalu menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Semua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tengah. Yanti yang awalnya nampak kebingungan pun mulai mengerti apa yang terjadi. Ia mengelus punggung Benazir untuk menenangkannya.
" Jadi sebaiknya Kamu pindah ke sini Ben, secepatnya...," kata Darma datar.
" Betul. Biar Aku antar Kamu ambil semua keperluanmu nanti...," kata Gama mendukung ucapan Darma.
" Iya Kak. Aku mau sekarang aja ngambil semua barangku...," sahut Benazir cepat.
" Apa ga sebaiknya Kalian istirahat dulu...," saran Suci.
" Ga bisa Bu. Arjuna udah keterlaluan. Dan Kita ga bisa biarin Benaz tetap tinggal sama orang kaya gitu. Bisa besar kepala dia nanti...," sahut Awan tegas sambil mengayun Aqila dalam gendongannya.
" Terserah Kalian aja kalo gitu. Tolong jaga Benaz. Jangan sampe Arjuna menyentuhnya lagi walau cuma seujung kuku...," kata Suci dingin.
" Siap Bu...!" sahut Awan, Darma dan Gama bersamaan.
Mereka pun membagi tugas siapa yang akan mengantar Benazir ke rumahnya untuk mengambil semua barangnya. Akhirnya diputuskan Darma dan Gama yang akan mengantar Benazir.
\=\=\=\=\=
Benazir menatap pedih setiap sudut rumah yang telah ditempatinya selama hampir dua tahun ini. Banyak kenangan yang tercipta di setiap sudut rumah itu. Kenangan manis dan buruk silih berganti melintas di kepala Benazir.
Sedangkan Gama dan Darma nampak duduk menunggu di ruang depan. Mereka mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah yang pernah menjadi istana cinta Benazir dan Arjuna itu dengan tatapan kesal. Tak lama kemudian terdengar suara koper diseret oleh Benazir. Gama dan Darma menoleh kearah asal suara dan melihat Benazir yang kembali terisak.
" Udah semuanya...?" tanya Darma sambil meraih handle koper dari tangan Benazir.
" Iya udah...," sahut Benazir cepat.
" Cukup. Jangan tangisin dia lagi. Percuma. Kamu liat sendiri kan. Dia ga ada di sini karena dia lagi sibuk nemenin selingkuhannya itu di Rumah Sakit. Kamu tuh udah ga penting lagi baginya. Jadi udah seharusnya Kamu juga menganggap dia ga lagi penting untukmu...," kata Gama sambil menarik Benazir ke dalam pelukannya.
" Aku sakit hati Kak...," kata Benazir sambil menangis di pelukan Gama.
" Iya, Aku tau. Yuk Kita pergi sekarang. Lama-lama di sini bikin emosiku naik lagi...," kata Gama sambil membawa Benazir pergi dari rumah itu.
Darma nampak duduk di belakang kemudi sambil menunggu Benazir mengunci pintu rumah ditemani oleh Gama. Setelahnya Gama menggandeng tangan Benazir dan membawanya masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju cepat meninggalkan rumah itu.
Benazir kembali menangis saat meninggalkan rumah itu di belakangnya. Ia memejamkan matanya seolah tak ingin lagi melihat semua hal yang sering dijumpainya di sekitar rumah itu. Gama kembali memeluk Benazir dan membiarkan bajunya basah karena air mata Benazir.
\=\=\=\=\=
Paula membuka matanya perlahan. Ia menyentuh perutnya karena merasakan sakit yang amat sangat di sekitar perutnya.
" Paula...," panggil Arjuna lirih.
Paula menoleh kearah Arjuna yang duduk menungguinya di samping tempat tidur. Terlihat kelelahan di wajah Arjuna. Dan Paula hanya terdiam sambil menatap kosong kearah Arjuna.
" Aku kenapa, perutku sakit sekali...," kata Paula sambil meringis menahan sakit.
" Kamu baru aja keguguran...," sahut Arjuna.
Mendengar jawaban Arjuna, Paula nampak tersenyum sinis.
" Heh, keguguran. Syukurlah. Aku emang ga menginginkan bayi itu. Menyusahkan saja...," kata Paula sambil melengos.
" Apa katamu...?!" tanya Arjuna marah.
" Aku bilang, Aku bersyukur bayi itu pergi. Aku memang tak menginginkan bayi itu karena pasti bakal membuatku susah...!" sahut Paula sambil menatap tajam kearah Arjuna.
" Kamu sakit Paula...," kata Arjuna datar.
Arjuna lalu berdiri dan melangkah keluar dari kamar tempat Paula dirawat. Ia merasa sakit hati saat mendengar ucapan Paula tadi. Arjuna memilih pergi ke kantin untuk menyegarkan diri dengan segelas kopi.
Sambil menunggu pesanan kopinya tiba, Arjuna membuka ponselnya. Di sana ia melihat foto Benazir yang sedang tersenyum cantik di layar ponselnya. Arjuna ingat, ia memang sengaja menjadikan foto Benazir sebagai wallpaper di layar ponselnya agar bisa selalu mengingatkan status pernikahan mereka. Tapi ternyata foto Benazir tak cukup menghentikan petualangan cinta Arjuna.
" Benaz Sayang. Maafin Aku ya. Aku akan kembali dan jelasin semuanya nanti kalo urusan sama Paula ini udah selesai. Aku bakal jujur sama Kamu dan berharap Kamu mau maafin Aku. Aku juga mohon Kamu narik kata-katamu yang minta cerai dari Aku...," gumam Arjuna sambil menyentuh foto Benazir dengan ujung jarinya.
Arjuna menghentikan aksinya saat pelayan kantin datang dan meletakkan kopi pesanannya di atas meja.
" Silakan Pak...," kata pelayan itu ramah.
" Makasih Mbak...," sahut Arjuna sambil tersenyum.
" Sama-sama Pak...," kata pelayan kantin sambil berlalu.
Arjuna meneguk kopi itu perlahan. Ia kembali merasa sedih saat teringat ucapan Paula tadi. Tapi Arjuna berusaha mengerti keadaan Paula yang shock berat karena ditalak oleh suami sirinya itu. Ia berharap, mereka bisa kembali bersama setelah Paula sembuh nanti. Bagaimana pun Paula hamil karena ulahnya. Dan Arjuna hanya ingin menunjukkan tanggung jawabnya pada Paula tanpa memikirkan perasaan Benazir yang terluka karena ulahnya.
bersambung