NovelToon NovelToon
Mafia Berhati Malaikat

Mafia Berhati Malaikat

Status: tamat
Genre:Contest / Mafia / Cintapertama / Tamat
Popularitas:587.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Sebelum baca siapkan tissue dulu ya 🤧🤧

Javier Louis adalah seorang anak laki-laki yang di buang karena ibunya tidak menyukai keberadaannya. Anak hasil dari pemerkosaan membuatnya di benci dan tidak di terima.

"Kau memang tidak pernah salah, hanya takdirmu yang salah, kehadiranmu menjadi petaka dan membuat jalan hidupmu seperti ini."

Sementara di sisi lain, Xaviera Careen mengalami kesedihan atas kematian ibunya. Ia begitu terpukul hingga selalu menyalahkan dirinya.

"Aku merindukannya, sangat merindukannya. Setiap detik dalam hidupku, aku merindukannya. Dadaku sangat sesak sampai tidak bisa bernapas, apa yang harus aku lakukan? Datanglah...sapa aku dalam mimpi."

Tangisan Xaviera yang begitu menyayat hati.

Bagaimana nasib Javier dan Xaviera. Apakah mereka akan bahagia? Bagaimana dengan nasib percintaannya?

Happy reading 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKU TAK PERNAH MELAKUKANNYA.

💌 MAFIA BERHATI MALAIKAT 💌

 

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

KEDIAMAN ALFONSO REINALD

Alfonso salah satu kelompok mafia termuda pada masa keemasannya. Ia dikenal sebagai gangster yang sangat mahir dalam berbisnis. Bisnisnya di kenal mendunia dan mampu mengantarkannya menjadi mafia terkaya. Ia melakukan trik untuk merebut kekuasaan. Alfonso percaya bahwa pengetahuan dan informasi adalah kekuatan. Semakin Ia memiliki banyak pengetahuan dan informasi, semakin banyak pula peluang untuk memenangkan kompetisi bisnis. Alfonso sendiri tidak menyukai kekerasan. Ia di kenal paling berkuasa sebagai orang yang tegas, konsisten dan tidak tergoyahkan. Majalah Global Living Magazine bahkan pernah memasukkan namanya sebagai pria terkaya ke tujuh sedunia. Alfonso memiliki pencapaian mimpi yang nyata dan mampu membuktikan bahwa dirinya bisa melakukan hal yang baik.

Alfonso berubah ketika ia mengenal cinta, Ia menyukai wanita yang sekarang menjadi istri dan ibu untuk anaknya Carlissa. Ia menyadari sesuatu bahwa tidak selamanya ia berada di dunia kelam ini. Ia kini melakukan kebaikan-kebaikan tanpa diketahui orang lain. Alfonso bersyukur mendapat kesempatan langka untuk mengubah jalan hidup yang sebelumnya kelam dimana seseorang bisa memulai hidup baru. Alfonso masih menjalankan bisnisnya dengan baik. Sampai sekarang ia di juluki sebagai Mafia berhati malaikat dan ia mencari seseorang untuk meneruskan semua bisnis yang dijalankannya sampai saat ini. Alfonso sendiri tidak ingin Carlissa masuk ke dunia bisnisnya yang kejam ini.

ALFONSO REINALD.

Alfonso melangkah keluar dari kamar sambil membenarkan jasnya. "Kau cari tau tentang anak itu, untuk sementara biarkan ia kembali ke pasar. Tempatkan beberapa anak buah kita di sana. Aku ingin melihat apakah anak itu jujur atau tidak."

"Baik tuan," Dion menjawab singkat lalu menunduk sebagai bentuk konfirmasi.

Alfonso tersenyum samar di sana. Ia begitu penasaran dengan Javier. Sikap beraninya hampir sama seperti dengan dirinya. Ia seperti melihat dirinya pada sosok Javier. Tatapan matanya menunjukkan bahwa ia anak yang kuat dan berani.

"Daddy....?" Carlissa bangun dari duduknya dengan ekspresi kesal. "Aku sudah terlambat." Carlissa mendengkus sambil membuang wajahnya tidak suka. Ia melipat tangannya di depan dada.

"Maaf sayang, ini sudah jam berapa?" Alfonso menyisihkan lengan jasnya untuk melihat jam. "Ini baru pukul sepuluh sayang."

"Kau seperti tidak tahu dengan Carlissa, sejam sebelum mulai, dia harus sudah ada di sana." Tiba-tiba muncul Floren di sana, ia merapikan rambutnya kembali dengan jari tangannya. Penampilannya sudah rapi dan siap berangkat.

"Daddy, ini pertunjukan terakhirku sebelum berangkat ke Perancis. Ya, jelaslah aku tidak mau terlambat. Aku harus tetap disiplin. Aku ingin mereka menilaiku apa adanya, bukan karena aku anak dari keluarga Reinald yang selalu di agungkan. Tapi Carlissa ingin menunjukkan bahwa semua ini hasil dari usahaku sendiri, dad. Aku ingin menjadi contoh yang baik untuk teman-teman Carlissa yang ingin seperti Carlissa juga."

"Iya daddy tahu sayang." Alfonso tersenyum dan merangkul pundak Carlissa lalu mencium puncak kepala putrinya dengan sayang.

Carlissa di kenal anak mandiri dan perfeksionis. Terbukti semua dari hasil usahanya sendiri, bulan depan Carlissa akan berangkat ke Perancis, Ia mendapat beasiswa dari Kedutaan Perancis. Ia akan mengikuti masterclasses di Akademi musim panas di Nice yang sangat bergengsi, dengan pianis dunia. Ini adalah hadiahnya atas memenangkan kompetisi yang pernah diikutinya di sini. Sebenarnya Carlissa tidak pernah memikirkan soal hadiah. Tapi yang membuatnya berbangga hati, untuk kali ini dia akan berkolaborasi dengan penyanyi handal Celine Dion. Ini membuat Carlissa begitu nervous. Di sini Ia memegang tanggung jawab yang besar. Tidak hanya itu, ia mendapat tekanan untuk membuktikan kualitasnya di forum musik dunia. Carlissa bangga pada dirinya sendiri. Di usianya yang ke 12 tahun ia menjadi pianis handal. Ada sesuatu yang baru, yang bisa ia tawarkan sebagai pianis, bukan hanya pamer kecepatan jari dan virtuositas di karya-karya piano Beethoven, Chopin yang itu lagi dan itu lagi. Tapi Carlissa harus bisa menciptakan instrumen dan membuat anak-anak seusianya menjadi musikus yang kreatif dan handal.

"Kau dengar sendiri, anakmu tidak mau terlambat sayang. Kau sudah mengenalnya, dia anak yang keras pada pendiriannya." Floren setengah berbisik kepada suaminya. Ia lalu tersenyum di sana.

"Mommy, aku tidak keras kepala." Carlissa mendengarnya. Ia dengan cepat protes dan tidak terima.

"Hahahaha." Alfonso tertawa awkward. Ia mengeratkan pelukannya kepada Carlissa.

"Bagaimana kabar anak yang kau bawa tadi malam, sayang?" tanya Floren sambil menyeruput teh hangat yang sudah tersedia di atas meja.

"Kabarnya baik, lukanya sudah di obati."

"Siapa dad?" Belum lagi di Jawab, Javier sudah keluar dari kamar. Mata Carlissa memicing ke arah lelaki yang wajahnya babak belur habis di pukul. Anak lelaki itu sedang berjalan menunduk ke arah mereka. "Siapa dia dad?" Tanya Carlissa memandang ke arah Alfonso.

"Dia Javier Loius, tadi malam dia ditemukan pingsan di tengah jalan. Daddy membawanya ke sini."

"Lukanya lumayan sayang." kata Floren meletakkan kembali cangkir yang dipegangnya tadi dan melihat ke arah Javier.

"Ehmm, tadi malam aku langsung menghubungi dokter keluarga dan langsung menangani Javier." Alfonso menjawabnya.

"Kenapa daddy membawanya ke sini. Kita tidak tahu siapa dia. Di jaman sekarang banyak modus penipuan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Dan aku rasa dia berpura-pura pingsan." Carlissa menatap Javier tak suka.

"Huss... jangan bicara seperti itu. Tidak baik berprasangka buruk sayang. Dia bukan pura-pura pingsan, kau tidak lihat wajahnya habis dipukul preman." Kata Floren memberi nasehat.

FLOREN REINALD.

Javier menghentikan langkahnya tepat di depan pria yang membantunya. Ia membungkukkan badannya untuk memberi hormat. "Selamat pagi, tuan! Terima kasih atas bantuannya dan hari ini saya akan pulang." ucap Javier dengan sopan. Ia kembali menegakkan punggungnya dan memberikan senyum terbaiknya kepada lelaki yang sudah berbaik hati menolongnya.

"Sebaiknya kau makan siang dulu sebelum pergi, Javier. Ibu Amelia, kau bisa menyiapkannya. Jangan lupa berikan pakaian yang telah dibeli pak Bram tadi."

"Maaf tuan, saya sudah merepoti anda dan terima kasih sebelumnya. Hari ini saya akan kembali ke pasar. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."

"Baiklah kalau begitu." Alfonso mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Javier. "Ambil ini, aku rasa kau membutuhkannya."

Dengan cepat Javier menolaknya, "Tidak tuan, saya tidak bisa menerima ini. Anda sudah membantu saya, itu sudah lebih dari cukup." Javier mengibaskan tangannya.

Alfonso tersenyum lagi. "Baiklah kalau kau tidak mau menerimanya."

"Tuan, ini pakaian yang sudah di beli pak Bram." Amelia mengulurkan tangannya dan memberikan kepada Javier.

"Terima kasih tuan, semoga Tuhan membalas kebaikan anda." Javier berulang kali membungkukkan badannya. "Kalau begitu saya permisi dulu tuan, nyonya..." Ucap Javier dengan sopan. Carlissa membuang mukanya ketika Javier tersenyum kepadanya. Ia lalu melangkah pergi bersama dengan Amelia.

"Sepertinya dia anak yang baik sayang, apa orangtuanya tidak mencarinya?"

"Aku rasa juga begitu, orang tua mana yang tidak mencemaskan anaknya yang tiba-tiba menghilang." Alfonso menarik napas singkat, lalu menatap ke arah putrinya lagi. "Oke sayang, sekarang kita berangkat," Kata Alfonso tersenyum dan beranjak meninggalkan ruang tamu.

Sementara Javier menolak lagi di antar dengan supir yang telah di tugaskan Alfonso untuk mengantarnya sampai ke pasar.

"Maaf pak, saya bisa menggunakan bis. Aku hanya ingin tahu, dimana halte bisa di sini, ya pak?"

"Biar saya yang mengantar anda ke pasar." ucap pria itu terus menyakinkan Javier.

"Tidak pak," Javier lagi-lagi menolak. "Saya naik bis saja."

Dengan tarikan napas singkat pria itu pun akhirnya mengiakan. "Baiklah, halte bis ada di persimpangan tiga. Kau bisa belok kanan dari sini."

"Terima kasih pak," Javier tersenyum lagi. Ia berjalan kembali mendekati pagar kokoh itu. Javier begitu terkejut ketika pagar itu terbuka otomatis. Matanya terbelalak karena begitu kaget. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, agar security yang berjaga di sana tidak menyadari kebodohannya.

Tinnnn...tinnnn...tinnnn

Bunyi klakson mobil terdengar begitu nyaring di telinga Javier. Dengan cepat ia, membungkukkan badannya dan membiarkan mobil itu pergi lebih dulu. Javier kembali menegakkan badannya dan melihat mobil mewah itu melaju meninggalkan tempat itu.

Javier membalikkan badannya lagi, memandang ke arah rumah itu. Ia berdecak kagum dengan senyum sumringah. Desain rumah yang bergaya Eropa paling klasik yang begitu mewah. Javier tersenyum lagi, ia lalu meninggalkan rumah itu dengan menggunakan bis yang langsung menurunkannya di pusat pasar di daerah xx. Saat melihat Javier datang, Simon langsung berlari cepat menemui Javier.

"Javier, ada apa dengan wajahmu?"

"Aku di pukul preman di sini, pak."

"Astaga," Simon melihat ke belakang lagi. Wajahnya terlihat tegang. "Javier, lebih baik kau pergi dari sini." Simon dengan cepat memutar tubuh Javier agar segera pergi dari sana.

Javier mengerutkan keningnya, terlihat jelas wajah panik pak Simon begitu takut dan khawatir. "Ada pak?" Javier memutar tubuhnya lagi, dan menatap ke arah pak Simon.

"Jangan banyak tanya, sekarang pergilah. Bos sedang marah besar."

"Tunggu dulu pak, ada apa ini? Kenapa bos marah besar? Setidaknya aku harus tahu kesalahanku apa pak?"

"Javier," Simon mengusap wajahnya dengan kasar. Ia percaya dengan anak ini. Javier tidak mungkin melakukannya. "Kau dituduh menjual beras."

Javier begitu terkejut. "Apa?" Ia lalu menggeleng cepat. "Saya tidak menjual beras pak,"

"Bapak percaya denganmu Javier, jadi pergilah sebelum bos menyadari kau ada di sini."

"Buat apa aku pergi, jika bukan aku pelakunya pak," Javier membela diri.

"Cih.... akhirnya kau kembali." pria paruh baya dengan kepala plontos itu tersenyum jahat.

Simon terkejut saat menyadari bosnya itu sudah ada di belakangnya.

Dan...Gyyyyyyuuuurrrrrr!

Tubuh Javier sudah basah oleh limbah air pembuangan pabrik. Javier terkejut ketika mendapati tubuhnya basah. Air limbah merebak mengeluarkan bau tidak sedap. Mengganggu penciuman orang-orang yang ada di sekitar Javier. Simon begitu panik dan mundur beberapa langkah, Ia tidak bisa membantu.

"Berani kau menjual beras yang ada di gudang, benar-benar anak tidak tahu berterima kasih." Ia menggeram dengan mata menyalang tajam.

Javier menggeleng, "Aku tidak pernah menjual beras di gudang, tuan." Ia berusaha membela diri.

"Cih, mana ada pencuri mengaku," pria yang menyiram Javier tertawa sinis. Ia kemudian memprovokasi orang-orang untuk mengusir Javier dari tempat itu.

“Kita habisi saja anak ini lagi! Tidak ada gunanya kita bicara dengan anak keras kepala ini!”

"Aku sudah bilang tidak pernah menjual beras di gudang." Suara Javier begitu menggelegar di sana.

"Kau berani melawanku." Pria berkepala plontos itu langsung mengangkat tangannya dan menampar pipi Javier begitu kuat sampai membuat Javier tersungkur di tanah.

"Sebelum kau di pecat, kau harus membayar beras yang sudah kau jual itu. Ingat, jika kau berani kabur. Di ujung dunia pun aku akan berhasil menemukanmu." Pria itu menendang beberapa kali tubuh Javier.

"Ahhhhh..." Javier meraung kesakitan.

"Jangan ada yang menolongnya, jika salah satu diantara kalian berani, aku tidak akan segan-segan memecat kalian! " tegas pria itu memberi ancaman. Ia membuang ludahnya di sana, lalu meninggalkan Javier yang tak berdaya.

Mereka sama sekali tidak berani membantu Javier. Javier hanya bisa menangis. Simon menatap sendu, ikut menjatuhkan air matanya melihat keadaan Javier. Simon tidak perduli, ia memilih membantu Javier dan siap di pecat. Ia membawa Javier untuk memberikan pertolongan. Sementara dari jauh, nampak seorang pria yang sedari tadi berdiri di sana sedang menghubungi seseorang.

BERSAMBUNG

❣️ Readers tersayang tinggalkan jejak kalian ya. Kasih komentar agar aku tahu kehadiran kalian di sini 😍😘 Salam sehat selalu 🤗🤗🤗

💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌

💌 BERIKAN VOTEMU 💌

💌 BERIKAN BINTANGMU💌

1
marBowo yuNi
Luar biasa
Surta Siahaan
karyamu sungguh indah thor, tetap. semangat dgn karyamu yg lain, baru x ini sya baca novel sebagua ini, biasanya cerita perselingkuhan dan pengkhianatan, tp ini it's amazing, saya suka, salam kenal dr saya u anda, sukses sll u karya terbaik berikutnya, alias critanya gk bertele2
salam sejahtera buat, kt sehat sll buat klrgnya😘😘
Surta Siahaan
semangat ya thor karyamu luar biasa
jgn lupa persatukan viera dgn javier, heheee
bunga cinta
makin seru
Li5naJait
kapan buatnya?? akhhhj author curang, ngintip sendirian 😁😁😁
Li5naJait
aku benar2 tdk mengerti dgn pemikiran Alfinso, harusnya yg dibereskn itu Valerie, loe punya uang, kekuasaan, tp mengatasi satu wanita gila aza tdk bs, justru membuat masalah jd rumit. Mafiaa apaan sperti itu
Li5naJait
Alfonso jd egois tdk bijak. mereka saling memcintai, jika mereka bs saling menerima, apa masalahnya. Harusnya yg Alfonso lakukan adlh menyingkirkan Valerie, bukan malah menghancurkan perasaan Javier dam Viera, Alvonso aneh
Li5naJait
kenapa dibuat rumit, bicaran dgn Xaviera, biarka dia mengambil keputusannya utk terus bersama atau tdk, bukan malah meninggalkan Viera begitu aza
Li5naJait
harusnya Javier membicarakannya dgn Viera tohhh perbuatan Valerie tdk ada hubungannya dgn Javier, bahkan dia jg korban kegilaan Valerie. kapan Valerie dan Alexander ini musnah, koq masih baik2 aza mereka dgn kejahatannya
Izza Kadir
betul2 sedih boleh bayangkan aq kat tempat die 😭😭😭😭
Darisha Asley
Happy ending
Darisha Asley
sukses selalu ya thor
Darisha Asley
Ceritanya memuaskan
Darisha Asley
Saya mampir kesini lagi thor
Muhiddin Muhi
lebih menekankan ke kisah percintaan, bukan mafia nya. ceritanya berbeda jauh dengan judul nya. 🙏🙏🙏
saya cantikkj
apa kabar Deng Alex n valeria
saya cantikkj
bunuh vier skarang Dy s kaya apa vier mw memaafkan Valeria lagi
saya cantikkj
asyek
saya cantikkj
ini cerita dari awal sudah bikin mewek
saya cantikkj
kabar mamax Javier gimana y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!