Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Itu Lagi
Laila sangat terkejut saat mengenali wajah pria yang tak sengaja bertabrakan dengannya. Segera Laila menarik diri dari dekapan pria itu dan merapihkan penampilannya.
"Kok lo ada di sini," ucap Laila dengan jutek.
Sementara itu Keira hanya diam mematung di samping Laila, ia sama terkejutnya hingga kehabisan kata-kata.
Teriakan Laila tadi menarik perhatian beberapa pengunjung kafe, termasuk Devan dan Tasya yang tengah menunggu mereka di meja, sempat pula Devan melihat kejadian Laila menabrak pria itu.
Segera Devan dan Tasya beranjak menghampiri Laila dan Keira.
"Sayang, kamu gak papa?" Devan memeriksa beberapa bagian tubuh Laila untuk memastikan.
"Gak papa sayang."
"Kamu kenal dia sayang?" tanya Devan, karena dengan jelas dia mendengar Laila meneriaki pria itu tadi.
Laila melempar pandangan pada kedua sahabatnya untuk meminta tolong menangani situasi ini. Belum sempat Laila dan kedua sahabatnya mengambil tindakan, pria itu justru dengan cepat ingin memperkenalkan diri dengan Devan.
"Perkenalkan Mas, saya Arjuna. Say-"
"Dia sepupu aku," potong Laila cepat.
Devan mengernyit, kemudian melempar pandangan kepada kedua sahabat Laila. Tasya dan Keira pun terdiam beberapa detik. Namun, melihat satu kali kedipan mata Laila mereka sudah mengerti kode dari Laila.
"Eee, iya. Ini tu," ucap Keira sedikit gugup.
"Sepupunya Laila dari Yogyakarta." Dengan cepat Tasya mengambil alih sandiwara mereka.
"Kok aku gak tau kamu punya sepupu dari Yogyakarta," ujar Devan curiga.
"Iya ini sepupu jauhku sayang, kebetulan banget ketemu di sini ya Mas Arjuna, hehehe," ucap Laila dengan ekspresi yang dipaksakan ramah dengan Arjuna, sesekali ia menepuk lengan Arjuna. Suasana canggung menyelimuti mereka.
Arjuna terlihat bingung, namun mencoba ikut alur dari sandiwara Laila dan kedua sahabatnya.
"Oh yasudah kalau begitu, Mas Arjuna perkenalkan saya Devan pacarnya Laila. Senang bertemu Mas di sini." Devan menyambut perkenalan singkat dari Arjuna tadi.
"Panggil saja Juna," balas Arjuna dengan senyum manisnya.
"Baik Mas Juna. Ini sekalian saja Mas Juna bergabung dengan meja kami di sana," ajak Devan.
Arjuna melirik pada Laila, sementara Laila sesekali melototinya tanda bahwa Laila ingin dia pergi dari sana.
"Tidak perlu Mas Devan, saya sudah selesai makannya. Jadi next time saja saya bergabung dengan kalian." Arjuna pamit dan berlalu dari hadapan mereka.
Laila dan yang lainnya melanjutkan maka siang mereka. Pesanan mereka sudah terhidang di atas meja. Semua senang dengan awal trip mereka pertama kali ini ke Bali, tapi tidak dengan satu orang yang terlihat gelisah sedari tadi.
Menyadari hal itu, saat Tasya dan Keira pergi ke kasir untuk membayar makanan mereka, Devan dengan lembut mencoba mencari tahu apa yang membuat pacarnya terlihat gelisah sedari tadi. "Tempatnya kurang bagus ya sayang?" tanyanya.
"Nggak kok bagus," jawab Laila seperti terkejut tiba-tiba ditanyai oleh Devan.
"Ada yang bikin kamu kesel ya?"
"Hah, nggak kok sayang. Aku... cuma lagi khawatir sama Papi aja." Akhirnya Laila menemui alasan untuk menutupi kegelisahan sejak bertemu Arjuna.
"Kenapa Papi kamu?"
"Papi kesehatannya akhir-akhir ini menurun, jadi aku khawatir ninggalin Papi sendirian."
Sesudah menyelesaikan pembayaran di kasir, Keira yang menyadari momen antara Laila dan Devan mengajak Tasya untuk pergi tanpa memberitahu kedua orang itu untuk memberi ruang kepada mereka mengobrol berdua saja.
"Yasudah kalau begitu, kita pulang saja besok," ajak Devan.
Laila terkejut mendengar hal itu, "Eh kok pulang, aku nggak papa sayang cuma khawatir aja, nanti aku bisa telponan sama Papi kok. Gak perlu sampe pulang juga kita."
"Beneran?"
Ditatapnya lekat Devan, kemudian kedua tangan Laila menangkup wajah kekasihnya dan menguyel pipi itu dengan penuh kegemasan hingga bibir Devan terjepit dan menyerupai bebek.
"Beneran sayangku," jawab Laila.
"Loh kok Tasya sama Keira lama banget sih." Laila mengedarkan pandangan mencari kedua sahabatnya.
Devan mendekatkan wajah ke telinga Laila, lalu berbisik, "Mereka tu paham banget ya kalo aku lagi pengen berduaan aja sama pacar aku."
Laila terkejut dan spontan menjauh sedikit dari wajah Devan yang terlalu dekat.
"Dasar mereka berdua tuh," ucap Laila sembari tersenyum malu.
"Yok jalan," ajak Devan.
Mereka berdua memutuskan berjalan sedikit dari kafe untuk menikmati pemandangan pantai yang memukau siang ini. Langit yang cerah dan matahari yang memantulkan cahayanya semakin menyatu dengan lautan yang membiru.
"Sayang coba kamu berdiri di situ deh," pinta Laila.
"Di mana sayang?"
"Di bawah pohon kelapa yang pendek itu sayang," ujar Laila. Ia menunjuk sebuah pohon kelapa yang di belakang pohon itu pemandangan lautan terlihat jelas.
"Di sini?" tanya Devan memastikan.
"Iya sayang, siap ya aku fotoin," ujar Laila.
"Kirain apa sayang, ternyata mau fotoin aku."
Laila hanya terkekeh singkat dan mengeluarkan ponsel dari tasnya, bersiap untuk memotret kekasihnya itu.
"Siap sayang?"
Devan memasang gaya andalannya, "Udah sayang."
"Ih apan sih setiap foto selalu pake gaya dua jari itu," protes Laila.
"Gayanya gimana dong sayang, arahin dong," pinta Devan.
Laila yang sedang mengatur pencahayaan di ponsel-nya teralih fokusnya saat melihat sosok Arjuna yang berada tak jauh di belakang Devan. Ia zoom kamera ponsel untuk memastikan yang ia lihat benar-benar Arjuna. Ternyata itu benar Arjuna yang berada tak jauh dari mereka.
"Sayang, aku haus banget nih." Laila mencari alasan untuk bisa menjauhkan diri dari tempat itu.
Devan mendekati Laila, "Yaudah aku beliin minum ya buat kamu. Kamu mau apa sayang?"
"Aku ikut juga."
"Oh gak usah sayang." Larang Devan.
"Kenapa?"
"Panas sayang, kamu di sini aja ya," ujar Devan. Tangannya mengelus pucuk kepala Laila.
"Oke deh." Laila pun setuju.
Saat Devan menjauh mencari orang yang menjual minuman, Laila memakai kesempatan itu untuk menemui Arjuna yang tak jauh dari tempat ia berdiri.
Laila mempercepat langkahnya, hatinya yang sedari tadi gelisah diakibatkan oleh keberadaan Arjuna semakin ingin meledak rasanya.
"Maksud lo apa sih ngikutin gue sama temen-temen gue ke Bali."
Laila langsung mengonfrontasi Arjuna yang sedang duduk santai di salah satu kursi pantai.
Arjuna yang sedikit terkejut mencoba tetap tenang menghadapi Laila. Ia beranjak dari kursi dan mendekatkan diri dengan Laila.
"Saya sedang berlibur, ada yang salah dengan itu?"
"Dari luasnya wilayah Bali, BISA kebetulan banget lo ada di sekitaran gue dan temen-temen gue."
Arjuna mengedikkan bahu. Laila semakin memanas melihat respon santai pria itu saat dirinya sendiri sudah berada di ambang batas marahnya.
"Gue gak bodoh ya buat ngerti permainan lo sama. Papi," tegas Laila.
"Seperti dugaan, Dek Laila memang sangat pandai membaca situasi," balas Arjuna.
"Apaan sih, segala panggil gue dek lagi, merinding gue!" Laila bergidik ngeri mendengar Arjuna memanggilnya dengan sebutan 'dek'.
"Apa mau dipanggil sayang," ucap Arjuna bercanda.
"Masih bisa bercanda ni orang." Laila terheran melihat jawaban-jawaban yang keluar dari mulut Arjuna.
"Lo disuruh apa sama Papi di Bali?" tanya Laila kesal.
"Menjaga Dek Laila," jawab Arjuna singkat.
"Ngejagain gue? dari apa?"
"Gue ke sini bareng temen-temen gue, pacar gue, dan mereka bukan penjahat. Buat apa jaga gue, mendingan lo pulang sekarang," perintah Laila.
"Tidak bisa Dek, ini perintah."
"Lah sejak kapan lo jadi ajudan gue gini, gak ada kerjaan banget lo sampe ngikutin gue gini."
"Memang saya sedang cuti, jadi sedang tidak ada kerjaan." Laila semakin kesal dengan keasbunan Arjuna itu.
Laila sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Laila!" panggil seseorang dari kejauhan.
Saat menoleh sudah ada Tasya, Keira dan Devan sedang berjalan menuju ke arah mereka.
"Awas lo kalo cepu sama Devan, abis lo sama gue!" ancam Laila.
Arjuna mendengar ancaman itu bukannya takut justru ia merasa gemas dengan tingkah Laila.
...Bersambung... ...