NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03

Sore berikutnya, Dimas benar-benar datang.

Maya baru pulang dari laundry tempat ia mengambil kerja tambahan. Tubuhnya masih sakit, kepalanya terasa berat, dan setiap kali ia mengingat kamar hotel itu, wajahnya panas karena malu. Ia belum sempat memproses apa pun. Belum sempat menangis dengan benar. Belum sempat mencari Pak Rudi untuk menuntut jawaban.

Mobil Dimas sudah berhenti di depan rumah.

Vina duduk di kursi penumpang, memakai kacamata hitam besar. Di belakang, dua laki-laki berbadan besar menunggu dengan tangan terlipat.

Maya berhenti di pagar.

“Untuk apa mereka?”

Dimas turun. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

“Biar Ibu tidak bikin drama di jalan.”

“Dimas, Ibu sudah bilang tidak mau.”

“Dan aku sudah bilang Ibu akan ikut.”

Maya menatap orang-orang di gang. Beberapa tetangga mulai melirik dari balik tirai. Ia tahu kalau ia berteriak, semua orang akan keluar. Tapi apa yang akan mereka lihat? Seorang ibu tua melawan anaknya sendiri. Lalu besok, namanya akan jadi bahan obrolan di warung sayur.

Vina membuka kaca mobil.

“Bu Maya, jangan mempersulit. Reservasi restoran sudah dibayar. Pak Burhan orang sibuk.”

Maya menggenggam tas kainnya.

“Aku bukan barang yang bisa kalian antar ke pembeli.”

Senyum Vina hilang.

Dimas memberi isyarat kepada dua laki-laki itu.

Maya mundur, tapi salah satu dari mereka sudah memegang lengannya. Ia meronta.

“Lepaskan! Dimas!”

Dimas tidak menatap matanya.

“Maaf, Bu. Nanti Ibu akan mengerti.”

Maya hampir tertawa karena kalimat itu. Maaf yang tidak menghentikan apa pun. Maaf yang dipakai untuk menutup dosa.

Ia dimasukkan ke kursi belakang. Dimas duduk di sampingnya, menjaga agar ia tidak membuka pintu. Sepanjang jalan, Maya menatap keluar jendela. Jalanan Jakarta padat seperti biasa. Motor menyelip, pedagang kaki lima mendorong gerobak, orang-orang pulang kerja dengan wajah lelah.

Tidak ada yang tahu seorang ibu sedang dibawa anaknya untuk ditukar dengan modal proyek.

Restoran itu berada di kawasan Menteng. Bangunannya bergaya kolonial, dengan lampu gantung dan meja kayu mahal. Di ruang privat, Pak Burhan sudah menunggu.

Ia memakai batik sutra yang terlalu ketat di perut. Cincin besar melingkar di jarinya. Ketika Maya masuk, matanya langsung turun dari wajah ke tubuhnya, lalu naik lagi dengan senyum yang membuat kulit Maya merinding.

“Akhirnya datang juga,” katanya. “Saya pikir Bu Maya malu-malu.”

Maya duduk karena Dimas menekan bahunya.

Di samping Pak Burhan, seorang perempuan dari biro jodoh tersenyum manis.

“Bu Maya, Pak Burhan ini serius mencari pendamping. Anak-anak sudah besar, rumah sudah ada, usaha lancar. Di usia kita, yang penting kan tenang.”

“Saya tidak mencari pendamping,” jawab Maya.

Senyum perempuan itu membeku.

Pak Burhan tertawa pendek. “Galak juga.”

Dimas segera berkata, “Ibu cuma kaget, Pak. Kemarin kurang sehat.”

“Tidak apa-apa.” Pak Burhan menuang teh ke cangkir Maya. “Perempuan yang sudah lama sendiri biasanya memang keras. Nanti kalau sudah ada suami, pelan-pelan lembut.”

Maya tidak menyentuh cangkir itu.

“Pak Burhan,” ucapnya, “saya datang karena dipaksa anak saya. Saya tidak berniat menikah dengan Bapak.”

Ruangan langsung sunyi.

Dimas menatapnya tajam. “Bu.”

Pak Burhan meletakkan teko dengan pelan. Senyumnya masih ada, tapi matanya berubah.

“Anak Ibu sudah menerima tanda jadi.”

Maya menoleh ke Dimas.

Dimas menghindari tatapannya.

“Berapa?”

“Bukan urusan Ibu,” gumam Dimas.

“Berapa harga ibumu?”

Wajah Dimas memucat.

Pak Burhan tertawa. “Jangan disebut harga. Saya ini orang terhormat. Saya bantu anak Ibu karena saya ingin hubungan baik.”

“Saya tidak punya hubungan baik dengan Bapak.”

“Nanti punya.” Pak Burhan mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Maya.

Maya menarik tangannya cepat.

“Jangan sentuh saya.”

Wajah Pak Burhan mengeras.

“Bu Maya. Saya sudah sabar karena menghormati Dimas. Tapi jangan lupa, saya bisa membuat hidup kalian sulit. Vendor hotel tempat Ibu kerja itu salah satu rekan saya. Laundry kecil tempat Ibu ambil cucian juga bisa saya tutup ordernya. Mau kerja apa nanti?”

Maya menatapnya.

Jadi ini alasan mereka memilih laki-laki itu. Uang dan ancaman.

“Lebih baik saya menyapu jalan daripada tidur di rumah laki-laki seperti Bapak.”

Perempuan biro jodoh terpekik pelan.

Dimas berdiri. “Ibu sudah keterlaluan.”

Pak Burhan menatap Maya dengan napas berat. “Kamu pikir masih muda? Masih bisa memilih? Perempuan seusiamu harusnya tahu diri. Kalau bukan karena anakmu datang baik-baik, saya tidak akan buang waktu.”

“Kalau begitu jangan buang waktu lagi.”

Maya berdiri.

Pak Burhan membanting cangkir ke lantai, pecahannya menyebar. “Duduk!”

Dimas menarik lengan Maya. “Minta maaf.”

“Tidak.”

“Minta maaf, Bu!” seru Dimas lagi

“Lepaskan dia!”

Suara itu datang dari pintu.

Maya menoleh, lalu membeku.

Di ambang ruang privat, berdiri beberapa pria berjas hitam. Di depan mereka, seorang pria tinggi dengan wajah dingin menatap ruangan seperti sedang menilai sampah.

Raka Wijaya.

Bekas gigitan di lehernya samar tertutup kerah kemeja, tapi Maya tetap melihatnya.

Darahnya seolah berhenti mengalir.

Pak Burhan berdiri setengah. “Siapa kalian?”

Seorang pria berjas maju. “Kami dari pihak Tuan Raka. Ada laporan pemaksaan dan transaksi tidak sah terkait Bu Maya Lestari.”

Dimas menegang. “Transaksi apa? Ini urusan keluarga.”

Raka tidak melihat Dimas. Matanya hanya tertuju pada Maya.

“Kamu selalu membiarkan orang menyeretmu seperti ini?”

Kalimat itu dingin, tapi entah kenapa membuat mata Maya panas.

Ia ingin menjawab bahwa tidak. Bahwa ia sudah berusaha. Bahwa ia lelah. Tapi di depan semua orang, suaranya hilang.

Pak Burhan mendengus. “Tuan Raka? Raka Wijaya?”

Wajahnya berubah begitu nama itu sampai di kepalanya.

Raka melangkah masuk.

“Pak Burhan, saya tidak peduli urusan kotormu. Tapi perempuan ini adalah saksi dalam kasus yang sedang saya selidiki.”

Maya mengangkat kepala.

Saksi?

Pak Burhan menelan ludah. “Kasus apa?”

“Staf hotel saya dijebak tadi malam. Ada obat dalam minuman. Nama Pak Rudi sudah kami kantongi.”

Maya hampir jatuh.

Jadi dia tahu.

Dimas menatap Maya, bingung. “Tadi malam? Ibu dari mana?”

Pertanyaan itu terdengar lucu.

Ketika ia diseret, diancam, hampir dijual, anaknya tidak bertanya apakah ia baik-baik saja. Tapi begitu ada laki-laki berkuasa di ruangan, ia baru penasaran.

Raka memberi isyarat. Dua pengawalnya mendekat ke Dimas.

“Jangan sentuh dia,” kata Maya tiba-tiba.

Semua orang menoleh.

Raka menatapnya. “Dia memaksamu.”

“Saya tahu.” Maya menggenggam tasnya. “Tapi dia anak saya. Urusannya dengan saya nanti.”

Raka diam beberapa detik.

“Baik.”

Ia menatap bawahannya. “Bawa Bu Maya keluar.”

“Saya bisa jalan sendiri,” kata Maya.

Raka mendekat. Jarak mereka tinggal satu langkah. Wangi tubuhnya sama seperti semalam, membuat napas Maya kacau.

“Kamu yakin?”

Maya ingin berkata iya.

Tapi lututnya tiba-tiba lemas.

Raka menangkap sikunya sebelum ia jatuh.

Sentuhan itu membuat ruang privat terasa semakin sempit.

Dimas melihat tangan Raka di lengan ibunya. Matanya melebar. “Ibu kenal dia?”

Maya menarik lengannya, tapi Raka tidak langsung melepas.

“Itu bukan urusanmu,” jawab Raka.

Pak Burhan tiba-tiba tertawa gugup. “Tuan Raka, kalau perempuan ini ada urusan dengan Anda, saya mundur. Tidak perlu dibesar-besarkan.”

“Sudah besar sejak kamu membeli manusia lewat anaknya.”

Wajah Pak Burhan pucat.

Raka menoleh ke pengacaranya. “Serahkan rekaman restoran dan bukti transfer kepada polisi. Biar mereka tentukan pasalnya.”

Dimas panik. “Tuan, tunggu! Saya tidak menjual Ibu. Saya hanya menerima bantuan modal.”

“Dengan syarat ibumu menikah?”

Dimas tidak bisa menjawab.

Raka menatapnya seperti menatap benda tidak berguna.

“Kalau kamu bukan anaknya, kakimu sudah patah sebelum aku masuk.”

Maya merinding mendengar nada itu.

Ia seharusnya takut. Tapi yang ia rasakan justru rasa aman yang asing.

Di luar restoran, hujan mulai turun.

Raka membawanya ke mobil hitam yang menunggu di depan. Maya berhenti sebelum masuk.

“Tuan Raka.”

Ia menoleh.

“Tentang semalam…”

Mata Raka menggelap.

“Kita bicara di tempat lain.”

“Tidak. Saya hanya ingin bilang saya tidak sengaja masuk ke kamar Anda. Saya tidak tahu apa yang diberikan Pak Rudi. Saya tidak meminta semua itu.”

Raka menatap wajahnya yang pucat.

“Aku tahu.”

Dua kata itu membuat tenggorokan Maya tercekat.

Ia tidak sadar betapa takutnya ia tidak dipercaya sampai pria itu mengucapkannya.

Namun sebelum ia bisa bernapas lega, Raka membuka pintu mobil dan berkata dengan nada yang kembali dingin.

“Tapi bukan berarti semuanya selesai. Ada hal yang harus kamu jelaskan. Termasuk kenapa setelah malam itu, kamu kabur tanpa meninggalkan satu kata pun.”

Maya menatapnya.

Kabur?

Apakah ia seharusnya duduk di samping ranjang seorang CEO dan meminta sarapan?

Belum sempat ia menjawab, tubuhnya kembali goyah. Hujan, lelah, malu, dan tekanan dua hari terakhir menumpuk menjadi gelap di depan matanya.

Hal terakhir yang ia lihat adalah wajah Raka berubah tegang.

“Maya!”

Untuk pertama kalinya, laki-laki itu memanggil namanya.

Lalu dunia padam.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!