Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Pagi itu, udara di dalam kamar kost Liana terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Keheningan yang sunyi mendadak pecah oleh dering nyaring alarm ponsel di atas meja kayu kecil.
Liana mengerang pelan, baru saja hendak membuka matanya yang terasa berat.
Namun, belum sempat ia mendudukkan tubuhnya dengan tegak di atas kasur tipis itu, sebuah gelombang mual yang luar biasa dahsyat mendadak naik dari ulu hatinya, menghantam dadanya tanpa ampun.
Perutnya terasa seperti diaduk-aduk dengan kasar oleh tangan tak kasat mata.
Rasa mual itu begitu mendesak dan menyiksa. Tanpa sempat berpikir atau bahkan memakai alas kaki, Liana langsung meloncat dari kasur.
Ia berlari sekencang mungkin keluar kamar, menyusuri lorong kost yang masih sepi, dan menerobos masuk ke kamar mandi umum di ujung koridor.
Hoeeekkk!
Liana jatuh berlutut di atas lantai semen yang dingin di depan kloset.
Tubuhnya melengkung, mencengkeram pinggiran keramik dengan kuku-kuku yang memutih saat ia muntah hebat.
Dada dan tenggorokannya terasa terbakar. Perutnya bergejolak mengeluarkan cairan asam yang menyiksa hingga air matanya meleleh membasahi pipi.
Ia terus memuntahkan apa saja yang bisa dikeluarkan, menyisakan tubuh yang gemetar hebat dan napas yang memburu liar dalam keheningan kamar mandi yang pengap.
Sambil terduduk lemas di lantai yang basah dan dingin, Liana bersandar pada dinding.
Ia mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya, menyeka sisa air liur dan air mata di wajahnya dengan punggung tangan yang gemetar parah.
Di tengah usahanya untuk menenangkan diri, sebuah kilasan ingatan yang mengerikan mendadak melintas di kepalanya.
Pikirannya tiba-tiba ditarik paksa pada sebuah fakta medis yang selama ini ia abaikan, ia tekan, dan ia sangkal setengah mati karena terlalu sibuk bekerja demi melupakan trauma neraka malam itu.
"Tunggu..." bisik Liana parau. Suaranya bergetar di dalam ruangan sempit itu.
Jantungnya mulai berdegup kencang, menciptakan ritme kepanikan yang bertalu-talu di dadanya.
Liana meraba saku daster tidurnya dengan panik, mencari ponsel yang untungnya sempat ia sambar saat berlari tadi.
Dengan jemari yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya, ia membuka aplikasi kalender.
"Sekarang tanggal berapa...?" gumamnya, matanya menatap nanar angka-angka di layar digital tersebut.
Detik itu juga, napas Liana tercekat. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah disedot habis.
"Biasanya tanggal 18 aku sudah menstruasi," bisik Liana pada kesunyian yang mencekam.
"Tapi sekarang, sudah lewat hampir tujuh minggu dari tanggal seharusnya."
Sejak malam terkutuk di semak-semak pergudangan itu, Liana memang hidup dalam penyangkalan total.
Ia terlalu takut untuk memeriksa kalender menstruasinya, terlalu ngeri untuk menghadapi kenyataan.
Namun kini, angka di layar ponselnya tidak bisa berbohong.
Tubuh Liana seketika membeku bagai batu es. Kenyataan itu menghantamnya dengan begitu brutal, layaknya hantaman godam besar yang menghancurkan seluruh sisa kewarasannya.
Ia sudah terlambat datang bulan selama hampir tujuh Minggu.
"N-nggak... Nggak mungkin. Ini cuma karena aku stres. Iya, aku cuma kecapekan kerja..." Liana meracau, berusaha keras menepis ketakutan gila yang mulai merayap dan mencengkeram isi kepalanya.
Bertekad untuk mengusir pikiran buruk itu, Liana memaksakan diri untuk bangkit dengan bertumpu pada wastafel. Langkahnya limbung.
Ia menyalakan keran, berniat mencuci mukanya dengan sabun pembersih wajah beraroma buah yang ada di sana agar merasa lebih segar dan waras.
Namun, begitu ia memencet botol sabun dan setetes cairan sabun itu mengenai tangannya, aroma buah yang biasanya terasa manis dan sangat ia sukai itu menguar ke udara.
Deg.
Bagi indra penciuman Liana saat ini, bau sabun itu mendadak tercium sangat menyengat, menusuk hidung, dan begitu menjijikkan.
Aroma yang biasanya menyegarkan itu kini terasa seperti racun yang memuakkan.
Perutnya kembali bergejolak hebat, jauh lebih brutal dari sebelumnya.
Hoeeekkk!
Liana kembali muntah, mencengkeram wastafel erat-erat seolah hidupnya bergantung pada benda porselen itu.
Tubuhnya menolak wewangian itu dengan reaksi yang teramat ekstrem.
Setelah gejolak itu mereda, Liana perlahan merosot ke lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding kamar mandi yang dingin.
Ia menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan mulai menangis histeris dalam diam.
Bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan di tenggorokan agar tidak terdengar ke luar.
Tubuhnya menolak bau wewangian. Tubuhnya menuntut rasa mual di pagi hari.
Ini adalah gejala klasik yang tidak bisa lagi ia sangkal dengan alasan stres atau kelelahan.
Di dalam rahimnya, di dalam tubuh yang dijaganya dengan penuh kehormatan selama dua puluh dua tahun ini, benih dari monster kejam malam itu tampaknya telah tertanam dan mulai tumbuh.
Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjelma menjadi kenyataan yang paling mengerikan.
Sementara tangis Liana pecah di lantai kamar mandi kostnya yang dingin, suasana di penthouse apartemen mewah milik Kenzo justru dipenuhi ketegangan yang pekat.
Asap rokok membubung ke langit-langit ruangan yang luas.
Tiga orang pria dengan pakaian kasual namun berkelas—yang tidak lain adalah petinggi geng motor Black Cobra—duduk di sofa kulit dengan raut wajah serius.
Mereka baru saja menyampaikan laporan perkembangan perburuan yang diperintahkan oleh pemimpin mereka.
"Kami sudah menyisir seluruh area pergudangan, memeriksa CCTV di persimpangan jalan malam itu, bahkan memeriksa beberapa klinik terdekat," ucap salah satu pria bertubuh tegap dengan tato ular di lengannya. Ia menggelengkan kepala pelan.
"Hasilnya nihil, Bos. Jalur itu terlalu gelap, dan sepertinya wanita itu tahu cara menghilang dengan cepat. Kami belum menemukan keberadaan wanita itu."
Kenzo yang berdiri di dekat jendela besar sambil menatap pemandangan kota langsung mengeraskan rahangnya.
Tatapannya sedingin es, mencerminkan kekecewaan sekaligus kemarahan yang tertahan.
Tangannya yang memegang cangkir kopi hitam mengepal kuat hingga buku jarinya memutih.
Bagaimana bisa seorang wanita biasa lolos dari radar pencarian Black Cobra?
Melihat ketegangan yang menyelimuti Kenzo, William—atau yang biasa dipanggil Willy, sahabat sekaligus orang kepercayaan Kenzo di dunia bawah—mencoba mencairkan suasana.
Ia menyandarkan punggungnya ke sofa sambil menatap Kenzo dengan senyum jahil yang memprovokasi.
"Sebenarnya, apakah dia wanita yang cantik, Kenzo? Sampai-sampai seorang pemimpin Black Cobra yang biasanya tidak peduli pada wanita, mendadak mengerahkan seluruh anggota untuk mencarinya?" tanya Willy dengan nada menggoda.
Bugh!
Tanpa diduga, sebuah bantal sofa kecil melayang cepat dan telak menghantam wajah Willy.
Kenzo melemparkannya dengan akurasi yang luar biasa dan wajah tanpa ekspresi.
"Aduh! Sialan, sakit tahu!" gerutu Willy sambil menangkap bantal tersebut, sementara dua anggota lainnya berusaha menahan tawa melihat tingkah konyol sang wakil ketua.
Willy membenahi posisi duduknya, lalu kembali terkekeh pelan.
"Tapi serius, ini pertama kalinya aku melihatmu sefrustrasi ini hanya karena seorang wanita. Sepertinya pimpinan tertinggi geng Cobra sedang jatuh cinta, hah?"
"Diam!!" bentak Kenzo dengan suara baritonnya yang rendah dan penuh penekanan.
Kilatan mata Kenzo seketika membuat seisi ruangan membeku.
Suasana santai itu lenyap dalam sedetik, berganti dengan aura intimidasi yang pekat.
" Cinta?"
Kenzo tahu itu bukan cinta. Itu adalah kepemilikan.
Obsesi gelap yang lahir dari malam terkutuk itu telah mencengkeram akal sehatnya, dan ia tidak akan tenang sebelum menemukan wanita itu.
Kenzo melirik jam tangan Rolex hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pukul tujuh lewat lima belas pagi. Sisi gelapnya harus segera ditidurkan, karena sisi profesionalnya sudah menanti di rumah sakit.
Ia berbalik, mengambil jas dokter putih bersih yang tersampir di dekat pintu, lalu memakainya dengan gerakan yang sangat rapi.
Perubahan auranya begitu cepat—dari seorang bos mafia kejam menjadi seorang dokter spesialis yang berwibawa.
"Ayo kita berangkat kerja ke tempat masing-masing," ucap Kenzo dingin kepada teman-teman gangsternya.
"Dan ingat, pencarian tetap berjalan. Aku ingin identitas wanita itu ada di mejaku secepatnya."
Dengan langkah tegap dan pembawaan yang tenang, Dokter Kenzo melangkah keluar dari apartemennya, siap mengenakan topeng malaikat penolongnya di Rumah Sakit Husada.
seru ni
up lgi kkak
biasa ny kn CEO perusahaan ,,
tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak