Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Teman dari Loteng
Kalimat Angie tentang seseorang yang menyimpan semua perasaan dalam diam mengikuti Erlyn sampai rumah.
Ia tidak percaya tarot.
Setidaknya, ia ingin tidak percaya.
Tetapi malam itu, saat les privat, Chisen duduk di seberangnya seperti biasa, mengetuk kertas ketika ia salah memindahkan satuan, dan Erlyn tanpa sadar memperhatikan tangannya. Tangan yang memegang pensil. Tangan yang memegang pisau. Tangan yang mungkin semalam memegang kuas sampai kanvas terluka.
"Soalnya yang dilihat, bukan tanganku," kata Chisen tanpa mengangkat kepala.
Erlyn tersentak. "Aku tidak lihat tangan Koh."
"Tadi iya."
"Koh terlalu percaya diri."
"Kamu terlalu mudah ketahuan."
Erlyn menunduk ke kertas, wajahnya panas. King of Cups di kartu Angie tiba-tiba muncul lagi di kepalanya. Tenang. Dingin. Memegang piala di tengah gelombang.
Ia mengusir gambar itu dengan paksa.
Beberapa hari kemudian, dua orang teman Chisen datang ke Jalan Kenanga.
Erlyn tahu karena dari ruang belajar, ia mendengar suara laki-laki tertawa keras di ruang tengah. Rumah ini jarang berisik. Jika Om Changli menerima tamu bisnis, suara mereka rendah dan rapi. Jika Jing berbicara dengan tetangga, nadanya lembut. Tawa yang satu ini berbeda, terlalu bebas, seperti tidak takut mengganggu dinding tua rumah kolonial.
"Chisen, serius, rumahmu tetap seram ya," suara itu berkata. "Kalau malam ada yang lewat pakai gaun putih, aku tidak heran."
Suara Chisen menyahut datar, "Itu kamu waktu mabuk."
Laki-laki itu tertawa lagi.
Erlyn keluar dari ruang belajar sambil membawa buku. Di ruang tengah, Chisen berdiri bersama dua laki-laki seumurannya atau sedikit lebih tua. Yang pertama tinggi, bahunya lebar, wajahnya cerah dan ekspresif. Ia memakai kaus mahal tetapi duduk seenaknya di sandaran sofa, seolah rumah ini miliknya sendiri. Yang kedua lebih tenang, berkacamata tipis, memegang ponsel dengan satu tangan dan memperhatikan sekitar tanpa banyak bicara.
Chisen melihat Erlyn lebih dulu.
"Erlyn."
Dua tamu itu langsung menoleh.
Yang ekspresif turun dari sandaran sofa seperti baru ingat sopan santun. "Oh. Ini adik baru itu?"
Chisen menatapnya.
Laki-laki itu mengoreksi cepat, "Maksudku, saudari tiri. Halo. Ong Juwanto."
Ia mengulurkan tangan.
Erlyn menyalaminya. "Tan Erlyn."
"Aku tahu. Chisen tidak cerita, tapi Tante Jing cerita sedikit."
Chisen berkata, "Mulutmu."
"Masih di tempatnya, bro."
Erlyn hampir tertawa.
Laki-laki berkacamata menunduk sopan. "Lie Chuan."
"Halo."
Chuan tidak banyak bicara, tetapi tatapannya tidak mengganggu. Ia seperti orang yang melihat lebih banyak daripada yang ia ucapkan.
Jing keluar dari dapur membawa teh dan kue kecil. "Juwanto, Chuan, lama tidak datang."
"Tante Jing, masakan Tante terkenal sampai grup kami," kata Juwanto cepat. "Hari ini kami datang dengan niat tulus."
"Niat makan?" tanya Chisen.
"Niat silaturahmi sambil makan."
Jing tertawa. "Kalau begitu nanti makan malam di sini."
Juwanto langsung menepuk bahu Chisen. "Lihat, ini baru keluarga. Tidak seperti kamu, tamu datang malah disuruh cepat pulang."
"Kamu bukan tamu. Kamu gangguan."
Cara Chisen bicara pada mereka membuat Erlyn diam-diam terkejut.
Ia tetap dingin, tetap pendek, tetapi bukan dingin yang sama seperti di sekolah atau di meja makan saat ada hal yang ia sembunyikan. Dengan Juwanto dan Chuan, Chisen terlihat sedikit lebih longgar. Bahunya tidak sekaku biasanya. Matanya sesekali bergerak dengan malas, tetapi ada hidup di sana.
Erlyn baru sadar bahwa ia selama ini hanya mengenal Chisen versi rumah.
Versi kakak tiri.
Versi guru les.
Versi penjaga gerbang sekolah.
Ada Chisen lain yang pernah hidup sebelum ia datang ke Jalan Kenanga.
Juwanto duduk di sofa sambil mengambil kue kedua. "Erlyn, kamu harus tahu, Chisen ini dulu kalau di sekolah mukanya begini terus."
Ia meniru wajah datar Chisen dengan sangat buruk.
Chuan meliriknya. "Itu wajahmu saat sembelit."
Erlyn gagal menahan tawa.
Chisen menatap Chuan. "Kamu datang untuk membantunya atau menguburnya?"
"Mengoreksi fakta," jawab Chuan tenang.
Juwanto menunjuk mereka berdua bergantian. "Lihat? Mereka semua melawanku. Kamu harus masuk timku, Erlyn."
"Tim apa?"
"Tim manusia normal di sekitar Chisen."
Chisen mengambil kue dari piring Juwanto. "Kamu dikeluarkan dari tim manusia normal sejak SMP."
"Fitnah."
"Catatan sekolah bisa membuktikan."
Erlyn menatap mereka, semakin heran. Chisen yang ia kenal tidak pernah bercanda sepanjang ini. Kalaupun bercanda, selalu pendek dan kering. Di depan Juwanto dan Chuan, ia tetap pelit ekspresi, tetapi setiap kalimatnya seperti punya sejarah panjang yang hanya mereka bertiga pahami.
Ada rasa asing yang kecil di dada Erlyn. Bukan sakit. Hanya kesadaran bahwa Chisen punya dunia yang tidak melibatkannya.
Makan malam hari itu lebih ramai daripada biasanya. Juwanto bercerita tentang Chisen yang pernah menghilang tiga hari sebelum deadline sekolah karena mengejar pameran kecil di Jakarta. Chuan sesekali menambahkan koreksi pendek yang membuat cerita Juwanto terdengar lebih masuk akal.
"Dia tidak menghilang," kata Chuan saat Juwanto mulai terlalu dramatis. "Dia meninggalkan pesan di grup."
"Pesannya cuma satu titik."
"Tetap pesan."
"Itu bukan komunikasi, itu penghinaan."
Chisen mengambil sayur tanpa melihat mereka. "Kamu membalas dengan dua puluh tujuh voice note."
Erlyn menatap Juwanto. "Dua puluh tujuh?"
Juwanto batuk. "Aku peduli pada teman."
"Kamu panik karena tugas kelompok belum selesai," kata Chuan.
Jing tertawa sampai harus menutup mulut dengan serbet. Bahkan Om Changli yang biasanya menjaga wibawa di meja makan ikut tersenyum.
"Dia kalau sudah melukis bisa lupa makan," kata Juwanto sambil mengambil udang. "Waktu di London dulu juga begitu."
Sendok Erlyn berhenti.
"London?" tanyanya.
Juwanto menoleh padanya, tampak senang karena punya pendengar baru. "Kamu belum tahu? Chisen pernah ikut pameran di London. Kecil sih, tapi untuk umur segitu gila juga. Dia waktu itu..."
Chisen meletakkan gelas di meja.
Tidak keras.
Tetapi cukup.
Juwanto langsung berhenti.
Chuan menatap Chisen sebentar, lalu menunduk minum teh.
Erlyn melihat semuanya. Gerakan kecil itu. Gelas yang diletakkan. Juwanto yang tiba-tiba menutup mulut. Chuan yang memilih tidak ikut campur.
"Waktu itu apa?" tanya Erlyn, meski ia tahu Chisen tidak ingin ia bertanya.
Juwanto batuk kecil. "Waktu itu... dia masih sangat muda."
"Dia melukis apa?"
"Erlyn," kata Chisen.
Suaranya rendah.
Peringatan.
Juwanto mengangkat kedua tangan. "Aku tidak bilang apa-apa."
Namun mulutnya sudah terlanjur bergerak lebih cepat daripada rasa takutnya.
"Koh Chisen dulu di London pernah pameran. Dia melukis... ya, sudahlah."
Chisen menatapnya.
Juwanto langsung mengambil udang lagi dan memasukkannya ke mulut, seolah makanan bisa menyelamatkan nyawanya.
Erlyn menatap Chisen.
Untuk pertama kalinya, ia merasa loteng di atas rumah itu bukan hanya ruang kerja.
Loteng itu mungkin menyimpan seluruh bagian Chisen yang tidak boleh disentuh siapa pun.