Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MER BERUBAH
Tanpa rencana, tanpa ada yang mengharapkan. Seluruh tamu undangan panik dengan adanya geledug besar mengagetkan. Kilatan kelamaan sukses menggelapkan ruangan. Perayaan pesta ulang tahun ini menjadi kacau balau begitu geledug petir mematikan listrik satu desa.
“Emergency Tolong nyalain!” Seru Via panik.
Pembantu Via segera menyalakan beberapa lampu emergency di sekitar pesta. Papa via tak kalah tanggap, demi pesta sang putri tercinta ia rela naik ke balkon atas untuk mengganti lampu listrik dengan lampu emergency yang dipasangkankan. Ruangan kembali terang begitu lampu emergency dipasang Pppa Via. Memang tak seterang sebelumnya tapi itu lebih dari cukup untuk melanjutkan acara yang sempat tertunda.
“Maaf teman-teman, mari kita lanjutkan acara pemotongan kue,”
Tunggu, aku merasa ada sesuatu yang hilang. Mataku jelalatan menelusuri setiap para tamu undangan.
“Vallen dimana?!” Teriakku tanpa sadar.
Berpuluh-puluh pasang mata terfokuskan padaku. Bahkan yang seharusnya disini berperan utama juga mengamatiku.
“Vallen mana?!”
“Mer, bisa enggak lo kecilin suara lo? paling kak Vallennya lagi cari udara,” bisik Via terkena imbasnya, malu.
“Gak bisa Vi, Vallen trauma suara petir,”
“Woi kenapa pada diam semua? tuli apa bisu?!”
lanjutku panik, seolah dunia hanya boleh milikku.
“Tapi lo tenang dulu, lo bikin semuanya tambah panik,”
Dia mengelus punggungku. Aku hampir tak merasakannya karena fokus ku mencari orang yang kusayang. Napasku berderu, rasanya dunia telah jatuh menghantamku. Ya Tuhan, belum lama Vallen menghilang dan kini ia sudah jauh dariku lagi?
“Waktu Vallen hilang, nyawa jadi taruhannya! Gue enggak mau hal yang sama menimpanya lagi!”
Via menggigit bibir bagian bawahnya selagi menatapku,
“Apa lo segitu sayangnya dengan kak Vallen?”
“Jelaslah, dia tuh berarti banget buat gue!”
Tindakanku yang satu ini terbilang melampaui batas. Diundang baik-baik sebagai tamu yang paling diistimewakan, tanpa rasa malu, justru aku mengacaukan hari istimewa sahabatku hanya demi seorang Vallen.
“Maaf ya Vi, tolong, hanya sekali ini saja. Besok-besok, gue nggak akan ngecewain lo lagi, gue janji,”
Aku meninggalkan acara yang ditatap bingung oleh mereka semua.
---
Hujan masih saja menghantam seisi dunia malam. Pohon menari sesuai irama angin, disambut dengan kerasnya geleduk, ditambah dengan kilatan petir. Acara tetap berlanjut seiring kepergianku. Kata salah seorang tamu yang masih mengenali Vallen, ia melihatnya menuju ke arah kamar mandi. Aku hafal letak kamar mandi Via walau masih samar-samar karena Via lah yang lebih sering berkunjung ke rumahku. Ada sekitar tujuh kamar mandi dalam satu rumah. Jika Vallen ingin ke kamar mandi, tentulah kamar mandi terdekat yang ia kunjungi. Kamar mandi lantai bawah dekat ruang utama pesta.
Kuayunkan kakiku cepat menuju kamar mandi itu. Napasku berderu seiring tiap langkah kuhentakkan. Bayangan satu orang yang kucari entah kemana dengan rasa gundah. Seolah dunia terbalik, di mana seorang perempuan yang mencari sang kekasih.
Suara keras dentuman pintu mengakibatkan sekitar tak lebih keras dari alunan musik pesta. Tentu saja deentuman itu berasal dari tanganku. Aku mendobrak pintu masuk teras kamar mandi. Kuteriaki namanya agar barangkali ia dapat mendengarnya. Saat langkah ini memasuki teras, di sanalah seorang pria tengah berdiri menghadap cermin. Wajahnya basah bekas basuhan air dari keran. Terlihat warna yang seharusnya putih pada bagian sekitar pupil menjadi merah. Dialah sosok yang sedang kucari.
Kutepuk punggungnya kuat-kuat dari belakang. Rasa khawatirku seolah kami telah bertahun-tahun tak berjumpa.
“Mer, kok kamu di sini? pestanya kan baru dimulai,”
“Elo yang ngapain di sini! gue dateng nyariin lo!"
Tiba-tiba emosiku naik lagi. Aku sungguh khawatir padanya. Bagaimana tidak? aku nyaris kehilangannya lagi.
Tangannya terangkat, menyapu areaku keningku, mangalap habis keringatku. Masa bodoh apa yang sedang dilakukannya. Yang kupanikkan hanya satu, keselamatannya.
“Kamu ini lari-lari hanya demi nyari aku ya?”
Pertanyaan macam apa ini! ingin sekali ku jitak dahinya agar ia sadar betapa kejamnya ia menghilang lagi. Begitu rasa lega merayap di hatiku, justru ia melontarkan pertanyaan lugu itu.
“Dasar Vallen jah—“
“Sssttt,”
Ucapanku terhenti begitu telunjuknya ia lekatkan pada bibirku, membisukanku. Bahkan, ia tak mengizinkanku meneteskan setitik air mata. Ia sudah menarikku dalam pelukannya. Sudah menjadi hobinya meluluhkanku ketika aku hendak marah, itulah Vallen. Aku tak bisa benar-benar marah padanya.
“Jangan lagi keluarkan tenagamu untukku Mer, aku tak bisa tak pantas mendapatkannya. Besok-besok, akulah yang akan berjuang mengeluarkan semua tenagaku hanya untukmu seorang,”
---
VALLEN POV
Senin, 10 Desember 2018
Tadi malam sudah cukup nyata bagiku untuk membuat janji kepada diriku sendiri. Aku tak mau merepotkannya lagi. Pagi-pagi sekali, aku sudah siap di depan rumahnya. Menungguinya. Itu sebagai bukti pertama kesungguhanku bahwa aku ingin membahagiakan hatinya. Bahkan ia belum selesai mandi, diriku ini sudah duduk manis di depan. Mer sudah menyuruhku untuk ke dalam, tapi aku tak menginginkannya. Aku masih belum siap bertemu mamanya dan mamaku. Aku masih benci padanya yang tak menganggapku sebagai seorang anak. Ya, itulah rahasiaku.
Begitu selesai, Mer keluar dengan berseragam lengkap. Wajahnya tampak lesu, mungkin pengaruh pesta semalam.
Selama perjalanan kami saling tenggelam dengan keheningan. Biasanya Merlah yang pertama kali membuka pembicaraan. Entah kenapa ia hari ini.
Aku bukanlah lagi orang yang pandai berbicara duluan. Kami berjalan beriringan menuju sekolah, tapi sialnya, terasa ada jarak diantara kita. Lebih tepatnya, ia yang membangun jarak itu.
Aku mengernyitkan alis, bertanya-tanya, ada apa dengan dirinya hari ini? Ingin kugandeng tangannya tapi aku ragu, sepertinya ia sedang ada masalah. Apa karena aku? Apa karena semalam? Apa karena diriku yang ingin menyendiri sementara tanpa pamit padanya?
“Mataharinya bagus yah,”
“Mana ada matahari, kamu datangnya kebagian gini,”
Gagal Sudah, kubilang aku tak lagi orang yang pandai berbicara duluan. Rasanya memalukan, sudah jelas ketahuan itu hanyalah sekadar basa-basi. Aku ingin bertanya tapi tak kuasa akan hal itu. Lidahku kelu, tubuhku memanas, takut suatu hal buruk terjadi begitu pertanyaan yang menggelisahkan kuucapkan menyinggung hatinya. Wal akhir, aku hanya bisa diam membisu dimakan keheningan.
Kami berjalan berdua bersama angin, jangkrik, dan sepi. Ia memang berada disisiku. Aku dapat melihat raganya yang tak jauh-jauh tapi aku merasa hatinya sedang menjauh
---
Kamis, 13 Desember 2018
Sudah tiga hari Mer masih menghindariku. Saat ku tanya ada masalah apa, ia selalu menggelengkan kepala seolah tak terjadi apa-apa. Sulit untukku memercayainya. Setiap kuajak ia ke kantin untuk makan bersama, alasan seolah dipikirkannya. Setiap ku ajak berangkat sekolah, ia hanya diam menatap jalanan depan. Setiap kuajak bicara berdua, ia selalu berusaha mencari kesempatan untuk bisa pergi dari hadapanku. Mer menghindariku ku, tapi tetap bukan menjadi alasanku untuk menghindarinya. Aku telah berjanji. Kali ini, akulah yang berusaha sekuat tenaga.
Aku tetap berusaha untuk menemuinya sebagaimana ia yang berusaha untuk menghilang. Aku sengaja bangun pagi-pagi untuk membuat puding rasa coklat kesukaan kami dulu dan aku yakin ia masih menyukainya. Kuatur napasku sebelum menemuinya. Dengan penuh harap semoga saja ia sudah tak menghindariku lagi.
Mataku jelalatan memandang seisi kelas, mencari sosoknya. Akan tetapi, tempat biasanya ia bersinggah tampak kosong ditinggal Sang Pemilik. Dalam hati aku merutuki Gun yang selalu berbuat ulah sehingga sekelas kena batunya, telat jam istirahat karena diceramahi guru.
“Kak Vallen nyari Mer?”
Kuputar leherku hingga membentuk sembilan puluh derajat mencari Sang Pemilik Suara.
“Iya, lo tau?”
“Enggak,”
“Ya sudah, gue pamit,”
belum tuntas kumelangkah pergi, Via lebih dulu menarik tanganku. Mau tak mau, aku harus berbalik badan untuk menatapnya yang entah kenapa menundukkan kepala. “Gue bisa bantu kak,”
Via merogoh saku roknya, mencari sesuatu. Aku tak sempat bertanya tapi Via telah mengeluarkan sebuah ponsel putih. Ibu jarinya dengan lincah mengotak-atik layar sentuh ponselnya. Tak menunggu waktu lama, benda mungil persegi panjang sudah menempel pada telinga.
“Halo Mer, cepetan ke kelas sekarang! pacar lo pingsan waktu nyariin lo di kelas!”
“ Halo, siapa maksud lo? Valle—“
T u u t
Aku tak sengaja mendengar percakapan mereka yang di loudspeaker. Belum tuntas Mer bertanya, Via lebih dulu menutup ponselnya.
“Udah Kak, kak Vallen itu ber arti banget buat Mer. Kalau ternyata Mer datang, itu tandanya dia masih cinta sama kakak. Gue permisi,”
Aku sendiri tak tahu seperti ada hawa-hawa tak nyaman. Ia tersenyum kepadaku dengan kaku seraya memunggungiku untuk pergi. Begitu cepat, sampai-sampai aku tak sempat berucap terima kasih. Namun nyatanya, jam istirahat hampir berakhir dan Mer tak kunjung balik ke kelas.
---
SILVIA POV
Di satu ruangan tersendiri, suasana menegangkan antar dua orang terjadi. Bel selesai istirahat hampir berbunyi tapi keduanya masih saling bertatapan empat mata. Itulah aku dengannya. Aku tak mengerti dengan perasaannya. Apa gerangan masalah yang tengah menimpa sahabatku ini? Belum lama ia sungguh memperhatikan kak Vallen, menghawatirkan traumanya, dan sekarang Mer justru tak peduli pada kak Vallen yang rela berdiri di depan kelas hingga selama ini. Meski berusaha kulawan tapi rasa ini tak tertahankan. Aku kesal melihat keegoisan sahabatku ini.
“Kak Vallennya nyariin lo, dia dah nungguin lo dari tadi!”
“Bukan urusan gue,”
Dengan entengnya Mer berbicara begitu. Aku baru tahu ternyata sahabatku ini bisa menjadi super nyebelin. Mengingatku yang sudah banyak merelakan.
“Lo egois Mer, dulu aja lo ngejar, giliran sudah di depan mata lo malah ngehindar,”
“Lo nggak usah ikut campur masalah gue dan Vallen deh. Lo cukup dukung gue aja!”
“Tentu gue harus ikut campur, lo sahabat gue Mer!”
“Sahabat?”
Baru kali ini aku ingin mencabik-cabik wajahnya Mer yang tertawa sinis. Meremehkan seolah sahabat yang sebentar namun bermakna sudah tak terjadi lagi di antara kita. Angin di sekitar kami pun ikut meregang, membuat jemari bergetar ingin segera memotong rahangnya. Aku marah, marah pada sahabatku yang sampai saat ini ku banggakan, kecuali detik ini.
“Lo nganggep kita sahabat tapi sekarang udah enggak gue anggap gitu tuh. Kalau lo emang sahabat gue Vi, lo jujur tentang semua ini. Apa pantas disebut sahabat jika salah satu menyembunyikan rahasia besar?”
“Maksud lo apa?”
Tidak ada jawaban darinya. Tak ada sepatah kata pun yang menerangkan kebenaran. Mulutnya terkunci, kaki dihentakkan, meninggalkan ruangan dan pada akhirnya selalu ada permusuhan dibalik persahabatan.
---
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici