Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 18.Diamon Necklace
Pagi perlahan menyusup melalui celah tirai. Hujan semalam telah berhenti, menyisakan udara dingin dan aroma tanah basah yang masuk dari balkon.
Alessia membuka matanya perlahan.
Aneh.
Tidurnya terasa sangat nyaman. Bahkan terlalu nyaman.
Ada sesuatu yang hangat di sekeliling tubuhnya, membuatnya enggan bergerak. Bantalnya juga terasa jauh lebih empuk dari biasanya.
Alessia tersenyum kecil dalam keadaan setengah sadar.
“Hmm… nyaman sekali…”
Namun beberapa detik kemudian, kesadarannya kembali sepenuhnya.
Ia merasakan sebuah lengan melingkar erat di pinggangnya.
Mata Alessia langsung terbuka lebar.
Ia perlahan menoleh.
Vellano.
Wajah pria itu hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, masih tertidur dengan tenang. Bahkan tangan Vellano berada tepat di pinggang Alessia, sementara kepala Alessia bersandar nyaman di dadanya.
Alessia membeku.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
“AAAAAA!”
Vellano langsung terbangun dan hampir terjatuh dari ranjang.
“Apa?! Apa yang terjadi?!”
Alessia menunjuknya dengan wajah merah padam.
“Kenapa aku ada di sini?!”
Vellano yang masih setengah mengantuk menatap posisi mereka. Ia kemudian menghela napas panjang.
“Karena kau tidur di sini.”
“Aku tahu aku tidur di sini! Maksudku, kenapa aku ada di pelukanmu?!”
Vellano mengerutkan kening, lalu mengingat kejadian semalam.
“Oh.”
“Oh?! Hanya ‘oh’?!”
“Kau yang minta.”
Alessia terdiam.
“Aku?”
“Iya.”
“Mustahil.”
Vellano duduk sambil mengusap wajahnya. “Semalam petir semakin keras. Kau ketakutan.”
“Aku tidak takut.”
“Kau memeluk bantal.”
“Itu normal.”
“Lalu kau membuang bantal itu.”
Alessia mulai curiga.
“Terus?”
“Kau pindah mendekat.”
Wajah Alessia semakin merah.
“Lalu?”
“Kau bilang, ‘Peluk aku sebentar.’”
Alessia langsung menutup wajah dengan kedua tangan.
“Tidak mungkin…”
“Setelah itu kau sendiri yang memelukku.”
“Berhenti!”
Vellano akhirnya tersenyum geli.
“Bahkan kau sempat bilang kalau aku terlalu jauh.”
Alessia menatapnya dengan tatapan membunuh.
“Kalau kau mengulangi cerita ini kepada siapa pun, aku akan membunuhmu.”
“Tenang. Rahasiamu aman.”
“Bagus.”
“Tapi aku tidak bisa menjamin akan melupakan.”
Alessia mengambil bantal dan langsung memukul lengannya.
Vellano tertawa.
Untuk pertama kalinya, pagi setelah malam penuh hujan itu terasa jauh lebih hangat daripada biasanya.
Dan tanpa mereka sadari, jarak di antara keduanya kembali menyusut sedikit demi sedikit.
......................
Siang itu, setelah kejadian memalukan pagi tadi, Vellano sudah kembali berada di kantornya. Rapat panjang baru saja selesai. Ia duduk di balik meja, membuka laptop dan memeriksa laporan investasi yang terpampang di layar.
Beberapa angka membuat sudut bibirnya terangkat.
Harga saham beberapa perusahaan yang ia investasikan melonjak cukup tinggi. Keuntungannya bahkan jauh lebih besar dari perkiraannya.
“Lumayan,” gumamnya puas.
Entah mengapa, keberuntungan hari itu membuat pikirannya langsung tertuju pada satu orang.
Alessia.
Ia teringat wajah istrinya pagi tadi yang merah padam karena malu.
Senyumnya semakin lebar.
“Maxime.”
“Ya, Tuan?”
“Siapkan mobil. Aku mau membeli sesuatu.”
Tak lama kemudian, Vellano tiba di sebuah butik perhiasan mewah. Matanya langsung tertuju pada sebuah kalung berlian sederhana namun elegan.
“Yang itu.”
Maxime mengangguk. “Untuk Nyonya Alessia?”
Vellano hanya mengangguk kecil.
Namun sebelum transaksi selesai, sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.
“Jadi kau sekarang suka membelikan perhiasan untuk istrimu?”
Vellano menoleh.
Laura.
Senyumnya langsung menghilang.
Laura berjalan mendekat, memandang kalung itu lalu tersenyum sinis.
“Kasihan sekali. Perhiasan semahal itu diberikan kepada seseorang yang bahkan tidak pantas menjadi istrimu.”
Suasana butik seketika menegang.
Maxime bahkan menahan napas.
Vellano menatap Laura dengan tenang.
“Menarik.”
Laura mengangkat alis.
“Kau masih punya kebiasaan menilai sesuatu yang tidak pernah menjadi milikmu.”
Wajah Laura berubah.
Vellano melanjutkan dengan suara datar, tetapi tajam.
“Dan soal istriku, kau tidak perlu khawatir. Alessia tidak membutuhkan pengakuan darimu untuk tahu nilainya.”
Ia mengambil kotak kalung dari pelayan.
“Berbeda dengan seseorang yang harus merendahkan orang lain hanya agar merasa dirinya lebih tinggi.”
Laura terdiam.
Vellano berjalan melewatinya tanpa menoleh lagi.
“Maxime, kita pergi.”
Pintu butik tertutup di belakang mereka.
Sementara itu, Laura berdiri kaku dengan wajah penuh amarah.
Hari itu, Vellano bukan hanya membeli berlian.
Ia semakin yakin bahwa Alessia layak mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pembelaan dari suaminya sendiri.
......................
Sore itu, Vellano akhirnya tiba di mansion dengan sebuah kotak kecil berisi kalung berlian di tangannya. Hari ini sahamnya naik tinggi, investasinya menghasilkan keuntungan besar, dan entah mengapa ia merasa ingin memberikan hadiah kepada Alessia.
Begitu masuk, ia langsung mencari istrinya.
Ternyata Alessia sedang duduk santai di balkon, menikmati udara sore sambil membaca.
“Alessia!” panggil Vellano.
Alessia menoleh.
Vellano yang berniat berjalan dengan penuh wibawa justru mempercepat langkahnya. Namun baru beberapa meter dari balkon—
Bruk!
Kakinya tersandung ujung karpet.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ia jatuh ke lantai dengan posisi yang sama sekali tidak mencerminkan seorang CEO berkelas.
Alessia membeku.
Vellano juga membeku.
Dua detik kemudian, Alessia menutup mulut.
Lalu tertawa.
“HAHAHAHA! Vellano!”
“Jangan tertawa.”
“Kau jatuh!”
“Aku tahu.”
“Dan caramu jatuh—”
“Aku bilang jangan tertawa!”
Alessia justru semakin tertawa sampai matanya berair.
Dengan harga diri yang tersisa, Vellano bangkit dan merapikan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku sengaja.”
Alessia berhenti tertawa. “Sengaja jatuh?”
“Untuk menghiburmu.”
“Alasan paling buruk yang pernah kudengar.”
Vellano akhirnya menyerah. Ia mengeluarkan kotak kecil dari sakunya dan menyerahkannya.
“Aku punya hadiah.”
Alessia membuka kotak itu. Matanya langsung membesar melihat kalung berlian di dalamnya.
“Untukku?”
“Untuk siapa lagi?”
Alessia tersenyum lebar. “Cantik sekali.”
“Anggap saja bonus karena investasiku sedang bagus hari ini.”
Alessia menatapnya sebentar, lalu tanpa berpikir panjang mendekat dan mengecup bibir Vellano.
Vellano langsung terpaku.
Alessia pun baru sadar apa yang dilakukannya.
Keduanya membeku.
Vellano kemudian berpaling sambil menahan senyum.
Kalau begini caranya, aku harus lebih sering membeli hadiah untuk istriku.
Ia melirik Alessia diam-diam.
Investasi terbaik ternyata bukan saham.
Ini jauh lebih menguntungkan.
Setelah kejadian memalukan di balkon tadi, Vellano akhirnya berhasil mengembalikan wibawanya—setidaknya menurut dirinya sendiri.
Ia membuka kotak kecil itu dan mengambil kalung berlian tersebut. Liontin berbentuk huruf A menggantung indah, berkilau terkena cahaya sore.
“Berdiri,” kata Vellano.
Alessia menurut dengan sedikit canggung. Vellano berdiri di belakangnya lalu perlahan memasangkan kalung itu di leher istrinya.
Begitu selesai, ia memandang Alessia melalui pantulan kaca pintu balkon.
“Cantik.”
Alessia langsung diam.
“Kalungnya,” lanjut Vellano.
Alessia menoleh tajam. “Aku tahu.”
Vellano tersenyum. “Aku sebenarnya memuji pemakainya.”
Wajah Alessia seketika memerah.
“Jangan bicara sembarangan.”
“Kenapa? Kau malu?”
“Tidak.”
“Wajahmu merah.”
“Karena panas.”
Vellano melirik ke langit sore yang justru cukup sejuk.
“Begitu?”
Alessia mendengus, lalu menyentuh liontin di lehernya. “Tapi ini mahal, kan?”
“Lumayan.”
“Kalau begitu jangan sampai kau jatuh miskin.”
Vellano mengangkat alis.
Alessia menatapnya serius. “Aku hanya pantas memakai barang mahal.”
Vellano tertawa kecil. “Begitu rupanya.”
“Jadi mulai sekarang kau harus bekerja lebih keras.”
“Baru ku belikan satu kalung, sudah memerintah ku bekerja lebih keras?”
“Tentu. Standar hidupku tinggi.”
Vellano menggeleng sambil tertawa. “Istriku ternyata sangat materialistis.”
Alessia tersenyum puas. “Kau baru sadar?”
Vellano menatapnya beberapa saat. Di balik sifatnya yang keras, liar, dan suka membalas perkataan orang dengan tajam, Alessia sebenarnya memiliki sisi yang lembut dan humoris.
Dan anehnya, sisi itulah yang semakin membuat Vellano sulit menjaga jarak.
Ia mendekat dan berkata pelan, “Kalau begitu, aku harus hati-hati.”
Alessia mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Karena ternyata mempertahankan istri lebih mahal daripada membeli perusahaan.”
Alessia langsung mengambil bantal sofa dan memukul lengannya.
“Dasar CEO pelit!”
Tawa Vellano memenuhi balkon.
Hari itu, kalung berlian tersebut bukan hanya hadiah. Tanpa mereka sadari, itu menjadi simbol kecil bahwa hubungan mereka telah berubah jauh dari sekadar kontrak.
......................
Pagi yang seharusnya tenang di mansion Vellano berubah menjadi mimpi buruk.
Jam baru menunjukkan pukul enam ketika sebuah teriakan histeris memecah keheningan.
“TUAN! TUAN VELLANO!”
Suara salah satu maid terdengar gemetar dari lantai bawah....
...****************...
Apa yang terjadi?🥹
Oh iya author sangat senang jika ridersku ingin memberikan kritik yang membangun dan juga saran.
Terimakasih untuk yang sudah mampir, jangan lupa untuk tinggalkan jejak.
Salam sejahtera dan damai untuk semuanya 🥰