NovelToon NovelToon
Penyesalan Seorang Calon Suami

Penyesalan Seorang Calon Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nittagiu

Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hidup yang Seharusnya

Beberapa minggu setelah kembali ke rumah orang tuanya, kehidupan Ayana perlahan mulai menemukan ritmenya kembali.

Setiap pagi, ia kembali mengenakan pakaian kerja, mengambil tasnya, lalu berangkat ke rumah sakit seperti yang sudah biasa ia lakukan selama bertahun-tahun.

Hanya saja, kali ini rumah sakit yang ia datangi bukan lagi rumah sakit tempat ia bekerja ketika masih tinggal bersama Angga.

Sekarang Ayana bekerja di salah satu rumah sakit milik kakeknya dari pihak ibu. Rumah sakit itu berada tidak jauh dari rumah orang tuanya. Sejak kecil, Ayana sudah cukup mengenal tempat tersebut. Keluarganya memang sudah lama berkecimpung di dunia medis.

Kakeknya adalah seorang dokter yang kemudian mengembangkan beberapa rumah sakit. Ibunya juga pernah menjadi dokter sebelum akhirnya lebih banyak berada di rumah setelah menikah dengan ayah Ayana.

Ayah Ayana sendiri merupakan seorang pengusaha yang cukup sukses. Setelah menikah, ibunya memilih untuk mendampingi suaminya dan lebih banyak mengurus keluarga.

Karena itulah dunia medis sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi Ayana. Sejak kecil, ia sudah terbiasa mendengar pembicaraan tentang rumah sakit, dokter, pasien, dan berbagai hal yang berhubungan dengan pekerjaan ibunya maupun kakeknya.

Namun ketika dewasa, Ayana memilih menjadi dokter bukan karena tuntutan keluarga. Ia memang menyukai profesi itu. Dan selama bertahun-tahun ini, ia menjalani profesinya dengan sungguh-sungguh.

Ketika bertunangan dan tinggal bersama Angga, Ayana tetap bekerja. Ia tetap pergi ke rumah sakit, tetap menangani pasien, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang dokter di rumah sakit di kota tempat dia dan Angga tinggal.

Hanya saja, tanpa ia sadari, setelah rencana pernikahan ditentukan, ada banyak hal yang mulai berubah. Sebagian besar pikirannya tertuju pada persiapan pernikahan. Memikirkan bagaimana caranya membuat hubungan itu bertahan.

Bahkan ketika masalah mulai muncul, Ayana tetap berusaha percaya bahwa semua bisa diperbaiki. Ia pernah berpikir bahwa selama dirinya cukup sabar, cukup mengerti, dan cukup bertahan, mungkin suatu hari Angga akan memilihnya sepenuhnya. Ternyata tidak.

Dan sekarang, ketika semua itu sudah berakhir, Ayana mulai menyadari bahwa hidupnya sebenarnya masih ada. Ia hanya sempat melupakan bagaimana rasanya menjalani hidup tanpa terus memikirkan orang lain.

Di rumah sakit yang baru, Ayana mendapatkan posisi yang lebih tinggi dibandingkan tempat kerjanya sebelumnya. Ia dipercaya memegang tanggung jawab yang lebih besar dan terlibat dalam beberapa kegiatan medis yang sebelumnya tidak pernah ia tangani.

Awalnya Ayana sempat merasa tidak nyaman. Ia takut orang-orang menganggap dirinya mendapatkan posisi tersebut hanya karena ia adalah cucu pemilik rumah sakit.

Karena itu, Ayana justru berusaha lebih keras. Ia datang tepat waktu. Ia tidak pernah menggunakan nama keluarganya untuk mendapatkan perlakuan khusus. Jika ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.

Jika ada pasien yang membutuhkan perhatian lebih, ia tidak pernah memilih berdasarkan status ataupun latar belakang keluarga. Baginya, pasien tetap pasien. Pekerjaannya tetap pekerjaan. Dan nama besar keluarganya bukan alasan untuk membuatnya bekerja setengah hati.

Beberapa minggu pertama berjalan cukup melelahkan. Tetapi justru di situlah Ayana merasa dirinya perlahan kembali. Setiap kali mengenakan jas putih, ia merasa seperti menemukan bagian dari dirinya yang sempat hilang.

Bukan karena ia menjadi orang lain ketika bersama Angga. Tidak. Ayana tetap Ayana. Hanya saja, selama beberapa waktu ia terlalu sibuk memperjuangkan sebuah hubungan sampai lupa bahwa ia juga memiliki kehidupan yang harus dijalani.

Sore itu, setelah menyelesaikan pemeriksaan beberapa pasien, Ayana duduk sebentar di ruang kerjanya. Ia membuka berkas di atas meja sambil menikmati segelas air putih.

Ponselnya tergeletak di samping laptop. Tidak ada lagi pesan dari Angga. Mungkin karena beberapa pesan yang masuk tidak pernah lagi ia buka.

Dulu, hal kecil seperti itu bisa membuat pikirannya kacau. Sekarang tidak lagi. Ia sudah menerima bahwa hubungan mereka memang telah selesai.

Bukan karena ia tidak pernah mencintai Angga. Justru karena pernah mencintai dengan sungguh-sungguh, Ayana tahu bahwa tidak semua cinta harus dipertahankan sampai seseorang kehilangan dirinya sendiri.

Ketukan di pintu membuat Ayana mengangkat kepala. Seorang dokter yang bekerja di bagian manajemen berdiri di depan pintu.

“Ayana, kamu masih sibuk?” Kepala dokter senior yang tidak asing lagi terlihat di pintu ruangan Ayana.

Ayana menggeleng. “Sudah selesai. Ada apa?”

Pria itu masuk dan duduk di kursi di depan meja Ayana. “Aku diminta menyampaikan sesuatu kepadamu.”

“Kenapa tidak langsung dari bagian manajemen?” Ayana menatapnya dengan sedikit heran. “Memangnya ada apa?” tanyanya.

Pria itu menyerahkan sebuah berkas dan meletakkannya di atas meja merja. Ayana meraih berkas itu lalu membaca halaman pertama.

“Tentang posisi ini?” Tanya Ayana.

Pria itu mengangguk. “Beberapa waktu terakhir, manajemen sedang melakukan penataan ulang beberapa bagian. Mereka membutuhkan dokter yang bisa menangani tanggung jawab lebih besar.”

Ayana kembali melihat berkas tersebut. Posisi yang ditawarkan cukup menarik. Tanggung jawabnya memang lebih besar daripada pekerjaannya sekarang, tetapi masih berada dalam bidang yang ia kuasai.

“Aku baru beberapa minggu di sini,” ujar Ayana.

“Itu bukan masalah. Mereka sudah melihat rekam pekerjaanmu.”

Ayana tidak menjawab. Ia kembali membaca berkas tersebut dengan lebih teliti. Ada rasa senang yang muncul di dalam hatinya. Bukan karena jabatan itu, tapi ia senang karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang membuatnya kembali memikirkan masa depan. Bukan masa depan bersama seseorang, tetapi masa depan dirinya sendiri.

“Aku boleh memikirkannya dulu?” tanya Ayana.

“Tentu saja.” Pria itu berdiri. “Besok atau lusa kamu bisa memberikan jawaban.”

Setelah pria tersebut keluar, Ayana kembali menatap berkas di tangannya. Ia bersandar di kursi. Pikirannya tiba-tiba melayang pada beberapa tahun terakhir.

Ia pernah membayangkan masa depan bersama Angga. Pernikahan yang bahagia, rumah yang nyaman. Kehidupan sederhana bersama orang yang ia cintai. Ia bahkan pernah berpikir akan melepaskan karirnya dan akan memilih mengabdikan diri pada Angga sama seperti yang dilakukan ibunya puluhan tahun ini.

Semua itu pernah terlihat begitu jelas di kepalanya. Sekarang semuanya sudah tidak ada. Anehnya, Ayana tidak lagi merasa hidupnya kosong. Mungkin karena selama ini ia terlalu fokus melihat sesuatu yang hilang sampai lupa bahwa masih banyak hal yang ia miliki.

Ia masih memiliki orang tua yang menyayanginya, pekerjaan yang ia cintai, kemampuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, dan yang paling penting, ia masih memiliki dirinya.

Ayana tersenyum kecil. Dulu, ketika memutuskan untuk menikah dengan Angga, ia pernah berpikir bahwa itulah awal kehidupan barunya. Sekarang ia tahu bahwa ternyata bukan begitu.

Pernikahan bukan satu-satunya kehidupan yang bisa ia jalani. Cinta juga bukan satu-satunya alasan seseorang bisa bahagia. Ada banyak hal lain yang selama ini ia miliki, tetapi sempat ia letakkan di belakang karena terlalu sibuk memperjuangkan seseorang.

Kini ia tidak ingin mengulanginya. Ayana memasukkan berkas tersebut ke dalam tas. Hari mulai sore ketika ia keluar dari rumah sakit. Langit terlihat sedikit mendung. Angin berembus cukup pelan ketika Ayana berjalan menuju mobilnya.

Sebelum masuk, ia berhenti sebentar. Ia menatap gedung rumah sakit di belakangnya. Tempat itu memang milik keluarganya. Namun Ayana tidak ingin dikenal hanya sebagai cucu pemilik rumah sakit. Ia ingin membangun namanya sendiri.

Dan mungkin tawaran tadi adalah salah satu kesempatan untuk melakukannya. Di perjalanan pulang, Ayana tidak langsung menuju rumah. Ia mampir sebentar membeli makanan kesukaan ibunya.

Hal kecil yang dulu jarang ia lakukan karena pikirannya selalu dipenuhi banyak hal. Sesampainya di rumah, ibunya langsung menyambutnya.

“Kamu pulang lebih cepat?” Wanita paruh baya itu tersenyum.

Ayana mengangguk sambil menyerahkan kantong makanan. “Aku beli ini untuk Ibu.”

Ibunya tersenyum. “Kenapa tiba-tiba?”

“Memangnya tidak boleh?” Ayana menatap garang.

Ibunya tertawa kecil. “Boleh, sayang.” Mereka kemudian duduk bersama di ruang makan.

***

Malamnya, setelah berada di kamar, Ayana kembali membuka berkas tawaran tersebut. Ia membaca semuanya sekali lagi. Kali ini, ia tidak merasa takut. Ayana mengambil pulpen dan meletakkannya di atas meja.

“Sepertinya aku memang harus mulai memikirkan diriku sendiri,” gumamnya pelan.

Ia tersenyum. Bukan senyum karena ada seseorang yang datang ke dalam hidupnya. Untuk saat ini, Ayana hanya ingin kembali menjalani hidup yang dulu pernah ia miliki sebelum memilih berjuang bersama Angga.

Hidup sebagai seorang dokter, sebagai seorang anak, sebagai perempuan yang memiliki impiannya sendiri. Dan mungkin, tanpa ia sadari, keputusan kecil untuk menerima tawaran itu akan membawa Ayana kepada banyak hal baru. Termasuk seseorang yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan hadir dalam hidupnya.

1
sutiasih kasih
baguslah.... setidknya tau diri..
Lee Mba Young
semoga bangkrut syukurin 🔥
Dew666
💜
Anita Giu: Tq 🥰🙏
total 1 replies
Septiyani Hasanah
ceritanya mlh mirip drama ai di pine
Anita Giu: Boleh lanjut baca, Kak 🥰
Masih jauh ceritanya 🙏
total 1 replies
Septiyani Hasanah
,katanya blm nikah tapi kok serumah ya
sutiasih kasih
trbuang g tuh.... stelah otw bangkrut si paling ngrecokin angkat tangan.... dgn trus terang tak ingin lgi saling trkait😅😅😅😅😅
sutiasih kasih
terus"in aja jdi laki" bodoh bin tolol....
km sibuk jdi malaikat untuk perempuan lain.... tpi lupa dgn perasaan calon istrimu🙄🙄
Ma Em
Bagus Ayana sdh pergi dan akan menikah dgn Keenan Ayana jgn karena cinta sama Angga kamu jadi bodoh , biarkan Angga dgn Rara wanita pilihan Angga , semoga acara pernikahan Ayana dgn Keenan tdk ada halangan dan gangguan serta dilancarkan sampai hari H .
Mawar
angga laki2 bodoh, rela membatalkan pernikahannya demi membatu org lain gk msuk diakal.
Nda
Ayana lebih baik tinggalkan saja Angga
jadi laki² kok nggak tegas hufftt..
Setyowati Setyowati
laki" yg bodoh tidak menggunakan otak dan akalnya untuk berfikir..
dan ini pr untuk Ayana bahwa GK semua pengertian akan indah pada akhirnya.... tinggalkan saja laki" plin plan seperti itu Na
Nda
Angga Angga,bikin greget aja sh🥱
Setyowati Setyowati
dialognya Sangat kurang kak .. kebanyakan kalimat ..coba banyakin percakapan, mungkin lebih hidup dan yg baca bisa berimajinasi...maaf kak kalau komplen🙏🙏
Anita Giu: Masukan yg bagus 😍
Nanti aku buat seperti itu 🥰
Terimakasih yaa 🥰
total 1 replies
Setyowati Setyowati
semoga sampai end'
Anita Giu: Luv Kak 🥰❤️🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!