Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Tidak bisa dihubungi
"Babby..."
Seorang wanita cantik, dan seksi menghampiri Bagas dengan senyuman manisnya lalu memeluk Bagas dengan erat. Dan Bagas pun membalas pelukan tersebut.
"Kau sudah siap babby...?'' tanya Bagas sambil menangkup kedua pipi perempuan cantik tersebut.
Perempuan itu pun mengangguk dan tersenyum. Dan Bagas mengecup kening perempuan tersebut, kemudian mengecup bibirnya dengan lembut.
"Ayo..." Bagas menggandeng perempuan itu karena pesawat sebentar lagi akan segera lepas landas.
Di dalam pesawat first class yang mewah itu Bagas terus mendekap perempuan cantik tersebut. Begitu juga dengan perempuan itu dengan nyaman menyenderkan kepalanya di bahu Bagas seolah itu adalah tempat ternyaman baginya.
Setelah sekitar satu jam dua puluh lima menit, pesawat pun mendarat di bandara Juanda Surabaya. Bagas dan perempuan yang bernama Casandra lalu memesan taksi untuk mengantarnya ke hotel. Dan tak sampai lima belas menit mereka pun sampai di hotel mewah yang mereka pesan. Seorang petugas hotel pun mengantar keduanya menuju ke kamar mereka.
"Aaahhh... Akhirnya sampai juga..." Bagas langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk.
Iya, perjalanan dari Jakarta ke Surabaya cukup melelahkan buat Bagas. Namun Bagas tetap semangat karena di sampingnya ada Casandra yang selalu menemaninya.
"Apa kau lelah babby ...?'' tanya Casandra memposisikan tubuhnya di atas Bagas.
Bagas tersenyum sambil menatap Casandra.
"Lelahku selalu hilang karena ada kamu di sisi aku babby..." jawab Bagas lalu mengecup bibir Casandra.
Tak mau berlama- lama, Bagas membalikkan tubuhnya sehingga tubuh Casandra kini berada di bawahnya. Dan tak mau menunggu waktu lebih lama lagi ,mereka saling melepaskan kain yang melekat di tubuh masing- masing dan akhirnya mereka melakukan penyatuan.
"Kring...kring..." ponsel Bagas berbunyi.
Bagas yang sedang sibuk bergerak di atas tubuh Casandra pun tidak memperdulikan ponselnya yang tidak mau berhenti berdering. Dalam hatinya tentu saja mengumpat karena bunyi ponsel tersebut sempat mengganggu konsentrasinya saat melakukan penyatuan dengan Casandra. Hingga akhirnya terdengar lengkingan panjang dari mulut keduanya yang menandakan bahwa mereka berdua telah sampai pada puncak kenikmatan.
Dengan nafas yang masih memburu, Bagas merebahkan tubuhnya di samping Casandra. Sedangkan tangan kanannya mengambil ponsel yang ada di atas nakas.
"Siapa sih yang telpon...? Ganggu saja..." ucap Casandra sambil memanyunkan bibirnya merasa kesal karena penyatuannya dengan Bagas serasa tidak maksimal akibat bunyi telpon tadi.
Bagas menyalakan ponselnya dan melihat siapa yang telah menelponnya tadi. Dan ternyata ada dua panggilan tak terjawab yaitu dari Fikri sang asisten dan yang kedua dari Suzan. Ada juga pesan dari Fikri yang menanyakan keberadaan Bagas karena dia tidak menemukannya di bandara.
"Babby... Siapa yang nelpon...?'' tanya Casandra.
Bagas menoleh ke arah Casandra.
"Dari Fikri... Dia mencariku karena dia tidak menemukanku di Bandara..." jawab Bagas sambil membalas pesan dari Fikri kalau dia sudah sampai di hotel.
"Suzan juga menelpon, aku lupa tidak menghubunginya begitu aku sampai Surabaya..." sambung Bagas sambil menoleh sekilas ke arah Casandra yang masih berbaring di sampingnya.
Bagas lalu mengirim pesan pada Suzan untuk memberitahunya jika dia sudah sampai Surabaya dan dia tidak menjawab telpon darinya karena begitu sampai di Surabaya Bagas langsung bertolak ke perusahaan dan menemui para pegawai di sana.
Sedangkan Casandra memanyunkan bibirnya begitu Bagas menyebut nama Suzan. Tentu saja Bagas menyadari jika Casandra sedang cemburu. Bagas pun tersenyum lembut padanya sambil mengusap kepalanya.
"Jangan cemberut gitu dong babby..." ucap Bagas lalu mengecup kening Casandra.
"Abisnya istrimu gangguin kita aja..." sahut Casandra lagi- lagi sambil memanyunkan bibirnya.
"Iya... Iya... Ponselnya udah aku matiin, sekarang nggak ada yang berani gangguin kita lagi..." Bagas memeluk tubuh polos Casandra.
Casandra pun tersenyum. Iya, begitu Bagas memeluknya, rasa kesal Casandra langsung hilang.
"Kau mau lagi...?'' tanya Bagas sambil menatap wajah Casandra.
"Mau dong mas..." jawab Casandra dengan manja.
Bagas pun terkekeh sambil mencolek hidung mancung Casandra. Iya, Bagas sangat gemas jika Casandra sedang manja padanya. Tanpa membuang waktu lagi Bagas langsung memposisikan tubuhnya di atas tubuh Casandra. Mereka pun kembali melakukan penyatuan untuk yang kedua kali.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Fikri, asisten Bagas sudah beberapa kali menghubungi nomor Bagas. Namun nomornya tidak aktif juga. Padahal siang ini jadwalnya untuk pergi ke anak perusahaan untuk mengecek masalah yang ada di sana.
"Aduh pak Bagas kenapa nggak bisa dihubungi sih, apa aku ke kamarnya saja..." ucap Fikri sambil melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua siang.
Padahal pukul satu seharusnya mereka sudah dijadwalkan untuk meninjau pabrik. Namun sudah beberapa kali Fikri menghubungi Bagas, nomornya tetap tidak aktif juga.
Ketika Fikri akan melangkah menuju kamar Bagas, tiba- tiba ponselnya berdering. Dan yang menelponnya adalah Suzan.
"Bu Suzan..." ucap Randy sambil menatap layar ponsel.
Fikri pun segera menerima telpon dari istri bosnya.
"Fikri , suamiku di mana...? Saya sudah beberapa kali menghubunginya tapi nomornya tidak aktif. Apa ada kendala...?"' tanya Suzan dari ujung telpon.
"Ehm... Begini bu Suzan... Sebenarnya...
Fikri pun memberitahu Suzan bahwa dia juga sudah beberapa kali menghubungi Bagas, namun nomornya tidak aktif. Terakhir Bagas mengirim pesan padanya bahwa dia sedang istirahat di hotel.
"Sepertinya pak Bagas masih tidur siang bu..." ucap Bagas.
"Apa...? Tidur siang...? Bukannya kamu dan suamiku sedang ada di perusahaan...?'' tanya Suzan.
"Tidak bu Suzan... Saya dan pak Bagas belum ke perusahaan..." jawab Fikri.
Lalu Fikri menjelaskan pada Suzan bahwa sejak pesawat mendarat di Bandara, Fikri belum bertemu dengan Bagas karena dia langsung istirahat ke hotel.
Mendengar penjelasan dari Fikri, Suzan terdiam beberapa saat. Iya, Suzan merasa heran. Padahal beberapa jam yang lalu Bagas membalas pesannya jika dia sedang berada di perusahaan, sehingga dia tidak mengangkat telpon darinya.
Namun Fikri justru mengatakan padanya jika mereka belum sempat meninjau perusahaan karena Bagas langsung istirahat di hotel.
"Ya sudah kalau begitu, kamu lihat ke kamar suamiku, perasaanku nggak enak. Saya khawatir suamiku sakit..." ucap Suzan.
Iya, Suzan beranggapan jika suaminya sedang tidak enak badan, jadi dia salah menulis pesan.
"Baik bu Suzan..." jawab Fikri.
Fikri segera menuju kamar Bagas di lantai empat. Dan sesampainya di depan kamar, Fikri mengetuk pintu. Namun beberapa kali Fikri mengetuk pintu, Bagas belum juga keluar.
"Ada apa dengan pak Bagas, apa dia masih tidur...?'' gumam Fikri.
Sementara itu di dalam kamar, Casandra membuka matanya karena mendengar suara pintu kamar diketuk.
"Babby..." Casandra membangunkan Bagas yang masih tertidur pulas di sampingnya.
Iya, setelah penyatuan tubuh mereka hingga dua ronde, membuat Bagas lelah dan tertidur dengan pulas dan melupakan bahwa siang ini dia harus meninjau pabrik.
"Hem..." sahut Bagas yang masih memejamkan matanya.
"Ada yang ngetuk pintu..." ucap Casandra.
"Siapa...?'' tanya Bagas perlahan membuka matanya.
"Nggak tahu, coba dicek..." jawab Casandra.
Bagas lalu bangun, dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Kemudian Bagas berjalan ke arah pintu hanya dengan memakai pakaian bagian bawah, sedangkan tubuh bagian atasnya dibiarkan terbuka.
Begitu membuka pintu Bagas melihat Fikri berdiri di hadapannya.
"Pak... pak Bagas baik- baik saja...?'' tanya Fikri khawatir.
"Ya saya baik- baik saja..." jawab Bagas.
Bagas menguap.
"Ada apa...?'' tanya Bagas.
"Ehm... Pak, sekarang kan seharusnya kita meninjau pabrik. Kita sudah telat tiga puluh menit..." ucap Fikri.
"Oh astaga... Sorry saya lupa..." sahut Fikri sambil memijit keningnya.
"Sebentar ya, saya bersiap dulu..." ucap Bagas.
"Baik pak..." jawan Randy.
"Oya pak..." ucap Fikri ketika Bagas hendak menutup pintu.
Bagas pun mengurungkannya.
"Ada apa...?'' tanya Bagas.
Tadi bu Suzan menelpon saya..." jawab Fikri
Lalu Fikri memberitahu Bagas bahwa Suzan beberapa kali menghubunginya namun nomornya tidak aktif.
Bagas menghela nafas.
"Ya, nanti saya telpon balik istri saya..." jawab Bagas lalu menutup pintunya.
Bagas mengambil ponselnya di atas nakas lalu menekan tombol untuk menghidupkan ponselnya yang sejak tadi siang dia matikan agar tidak ada yang mengganggunya saat bercumbu dengan Casandra.
Setelah ponsel dihidupkan, ada beberapa pesan yang masuk dan juga panggilan dari Suzan dan juga Fikri.
"Sayang... nomor kamu kok nggak aktif...?''
"Kamu sudah kembali dari perusahaan...?''
"Alvaro ingin video call mas..."
Bagas menghela nafas setelah membaca pesan dari sang istri.
"Babby.. tadi siapa...?'' tanya Casandra yang masih tiduran di atas tempat tidur sambil menutupi tubuhnya yang polos menggunakan selimut.
"Fikri..." jawab Bagas sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
"Memang ada apa sih dia ke sini...? Ganggu saja..." tanya Casandra.
"Babbyyyyy...." rengek Casandra karena Bagas tidak menjawab.
"Sebentar babby..." Bagas sibuk mengirim pesan kepada Suzan.
"Iiiihhh... Kamu ngapain cuekin akuuu....?'' Casandra kesal karena Bagas sibuk dengan ponselnya.
"Iya sebentar babby... Aku balas pesan Suzan dulu..." jawab Bagas.
"Iiiihhh .... Dia lagi ...dia lagi... Gangguin aja deh... Sebel..." gumam Casandra sambil manyun dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Mendengar gumaman Casandra, Bagas melirik sekilas. Kemudian dia meletakkan ponselnya ke atas nakas, lalu menghampiri Casandra.
"Babby... Jangan ngambek dong... Tadi aku lupa nggak ngabarin Suzan, seharusnya begitu aku sampai Surabaya, aku langsung menghubungi dia. Suzan suka khawatir kalau aku nggak menghubungi dia, dan dia nggak bisa menghubungiku..." ucap Bagas sambil mengusap kepala Casandra.
"Suzan itu kan orangnya...
"Udah deh udah...udah ... Udah... Dari tadi bahas Suzan terus... Bosen tahu nggak... Merusak suasana saja..." Casandra ngambek.
"Iya maaf... Kan tadi kamu yang nanya duluan, makanya aku jelasin ke kamu..." sahut Bagas sambil mengusap pipi Casandra.
Casandra kembali memanyunkan bibirnya menandakan dia masih ngambek.
"Udah dong ... Jangan ngambek lagi... Oke aku janji nggak akan bahas Suzan lagi kalau lagi sama kamu ...." ucap Bagas sambil memegang dagu Casandra.
"Babby...." panggil Bagas karena Casandra masih diam.
Casandra menghela nafas lalu menatap Bagas.
"Maafkan aku ya ...." ucap Bagas.
Casandra pun mengangguk.
"Kamu udah nggak marah lagi sama aku kan...?'' tanya Bagas.
Casandra menggelengkan kepalanya.
"Mana mungkin aku bisa lama- lama marah sama kamu babby..." sahut Casandra.
Bagas lalu memeluk Casandra. Kemudian Bagas pamit pada Casandra untuk pergi bersama Fikri karena mereka harus meninjau perusahaan.
Casandra
Bersambung....