Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.
Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.
Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.
Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.
Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...
“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gajian
Hari itu tanggal gajian.
Seusai makan malam, Rizal duduk bersandar di ruang tengah rumah ibunya, kenyang dan nyaris mengantuk. Ponselnya bergetar di atas paha. Ia membuka layar, dan sebuah pesan dari bank muncul... gaji bulan ini sudah masuk.
Di ruang tengah itu semuanya terasa akrab. Televisi menyala dengan volume pelan, menayangkan sinetron yang tak ditonton siapa pun. Di dinding, foto-foto lama berderet rapi... Rizal kecil berseragam merah putih, Rizal saat wisuda, Rizal berdiri di samping ibunya dengan senyum kaku. Tak ada satu pun foto pernikahannya dengan Danti. Rizal tak pernah menyadarinya, dan malam ini pun tidak.
Belum sampai satu menit, seolah hidungnya bisa mencium uang dari jarak berapa pun, Bu Sumarni sudah duduk di sampingnya dengan senyum semanis gula.
"Sudah gajian, Zal?"
"Sudah, Bu."
"Alhamdulillah." Bu Sumarni menepuk dadanya, mengucap syukur dengan wajah berseri. "Ibu minta seperti biasa ya, Nak. Buat arisan sama keperluan bulanan. Kebutuhan Ibu kan banyak."
"Iya, Bu."
Rizal membuka aplikasi perbankan, mengetik beberapa angka, lalu menekan tombol kirim. Tak lama, ponsel Bu Sumarni berdenting di atas meja. Matanya berbinar puas begitu membaca jumlahnya.
"Makasih ya, Nak. Kamu memang anak ibu yang paling berbakti."
"Bang..." Rani menyikut lengan kakaknya sambil menyeringai. "Aku juga dong. Kuota habis, skincare habis, baju juga lagi pengen beli. Abang kan baik, nggak mungkin lupa sama adiknya."
Rizal mendesah, tapi sudut bibirnya terangkat. Ia mengetik lagi dan mengirim sejumlah uang ke rekening adiknya. Rani bersorak dan memeluk lengannya erat-erat.
"Makasih, Abang! Abang terbaik sedunia!"
Rizal tersenyum kecil. Rasa dihargai itu terasa hangat sekali setelah berhari-hari merasa tak dianggap di rumahnya sendiri. Mungkin itulah alasan ia betah di sini. Di rumah ini ada yang berterima kasih. Ada yang menyebutnya terbaik.
Di rumahnya sendiri, kata terima kasih sudah lama menjadi barang langka. Danti memang masih menyeduh kopinya setiap pagi, tapi tak lagi menunggu di pintu, tak lagi bertanya apa-apa.
Dan Rizal, yang tak pernah mau bertanya kenapa, memilih tinggal di tempat yang membuatnya merasa benar.
Ia membuka dompet dan mengeluarkan sebuah amplop tipis. Tadi pagi, sebelum berangkat kerja, ia sudah menarik tunai khusus untuk uang belanja. Ia menimbang amplop itu sebentar di telapak tangannya.
"Ini buat Danti," katanya. "Uang belanja bulan ini."
Bu Sumarni melirik amplop itu. Senyumnya mengendur. "Berapa itu?"
"Dua juta, Bu."
"DUA JUTA!"
Rizal tersentak. Rani ikut terbelalak.
"Zal, kamu waras?" Bu Sumarni memegang dada seperti hendak pingsan. "Dua juta cuma buat belanja dapur? Danti itu cuma berdua sama kamu di rumah! Ibu aja belanja sebulan nggak sampai segitu!"
"Tapi Bu, harga-harga sekarang naik. Beras, minyak, telur..."
"Halah, itu cuma alasan dia!" Bu Sumarni mengibaskan tangan. "Dengar Ibu, Zal. Perempuan itu kalau dikasih banyak, makin boros. Makin pintar cari alasan. Kamu lihat sendiri, dia sudah berani ngutang atas nama Ibu! Kamu pikir dia nggak bakal menyalahgunakan uang sebanyak itu?"
"Bu, tapi uang belanja kan..."
"Satu juta saja cukup!" potong Bu Sumarni. "Kalau dia pintar mengatur, satu juta itu lebih dari cukup. Kalau perlu, Ibu ajari cara masak hemat. Tapi jangan dikasih banyak-banyak. Nanti dipakai buat yang nggak-nggak! Lagian, laki-laki itu jangan terlalu royal sama istri, nanti dia merasa di atas angin. Dulu waktu Ibu muda, Ibu yang pegang semua uang rumah tangga, dan semuanya aman-aman saja!"
"Betul, Bang," timpal Rani. "Nanti uangnya habis buat dandan terus. Skincare mahal, baju baru. Abang harus tegas."
"Nah, dengar adikmu." Bu Sumarni mengangguk-angguk bangga. "Anak-anak Ibu ini memang pintar-pintar."
Rizal menatap amplop di tangannya.
Sebagian dirinya ingin membantah. Ia tahu harga-harga memang naik. Ia masih ingat nota belanja yang disodorkan Danti, deretan angka yang dulu membuatnya tercengang. Ia ingat Danti yang kelaparan, berdiri di depan karung beras kosong. Ia bahkan teringat bunyi perut istrinya yang berkeroncong di meja makan malam itu, dan bagaimana Danti buru-buru menekannya dengan telapak tangan supaya tak terdengar. Ingatan itu muncul begitu saja, tajam, lalu cepat-cepat ia tepis.
"Tapi, Bu... itu terlalu sedikit," ucapnya pelan. "Aku nggak mau Danti sampai kekurangan lagi."
"Kekurangan apanya?" Mata Bu Sumarni melebar, nadanya tersinggung. "Kamu lebih percaya dia daripada Ibu? Ibu ini sudah tiga puluh tahun mengatur rumah tangga! Ibu tahu berapa kebutuhan orang makan! Dia cuma pandai drama! Satu juta itu sudah banyak. Zaman Ibu dulu, dengan uang segitu, Ibu bisa memberi makan lima orang sebulan penuh!"
"Bukan begitu, Bu..."
"Atau kamu sudah lupa siapa yang membesarkan kamu?"
Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan tajam. Rizal langsung menutup mulutnya.
Hening beberapa detik.
Wajah Bu Sumarni tak lagi menyiratkan kemarahan, melainkan luka yang disajikan dengan sempurna. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar. "Ibu cuma pengen yang terbaik buat kamu, Zal. Ibu nggak mau kamu dimanfaatkan."
Rizal menunduk. Dadanya sesak oleh perasaan yang tak bisa ia jelaskan, antara ingin membela dan takut dicap durhaka lagi. Dan seperti biasa, pilihan paling mudah adalah pilihan yang tak memerlukan keberanian.
"...Ya sudah, Bu," bisiknya akhirnya. "Satu juta saja."
"Nah, begitu dong." Senyum Bu Sumarni langsung merekah. Ia menepuk-nepuk pipi anaknya dengan puas. "Itu baru anak Ibu. Bijak."
Rizal merasakan sesuatu mengendap di dadanya, seperti ampas kopi di dasar cangkir... pahit dan tak bisa diaduk lagi. Ia ingin menarik kembali ucapannya, tapi lidahnya sudah terlanjur setuju, dan tangan ibunya sudah terlanjur menggenggam uang itu.
Rizal membuka amplop, mengeluarkan beberapa lembar, lalu menyerahkannya ke tangan ibunya yang sudah menunggu dengan sabar. "Sisanya buat Ibu simpan. Buat nambah arisan."
"Aduh makasih, Nak." Bu Sumarni menerimanya sambil tersenyum lebar. "Ibu doakan rezekimu makin lancar."
Rani menutup mulut dengan telapak tangan, menahan seringai. Ia dan ibunya sempat bertukar pandang sekilas, penuh arti. Jurus pertama sudah mulai bekerja. Langkah berikutnya tinggal menunggu waktu. Dalam hati, Rani sudah menghitung hari sampai Vanya bisa diperkenalkan secara resmi.
Rizal sendiri tak melihat semua itu. Ia hanya menatap amplop yang kini tampak jauh lebih tipis, lalu memasukkannya ke saku dengan perasaan campur aduk.
"Satu juta," ulangnya dalam hati. "Pasti cukup. Danti kan pintar mengatur."
Menjelang pukul sembilan, Rizal pamit pulang. Bu Sumarni mengantarnya sampai ke pintu sambil menyodorkan bungkusan plastik hangat berisi ikan bakar dan sambal.
"Nih, sisa tadi. Bawa pulang, buat kamu aja." Ia merendahkan suara. "Jangan dikasih ke Danti ya, Zal. Nanti dia makin gemuk, makin nggak enak dilihat."
Rizal mengangguk saja tanpa bertanya, tanpa berpikir.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ada suara kecil yang berbisik, suara yang entah milik siapa, mungkin hati nuraninya yang masih tersisa.
"Kamu tahu itu nggak cukup."
Rizal mengabaikannya lagi.
Mobilnya meluncur membelah malam, menjauh dari lampu teras rumah ibunya yang terang benderang menuju rumah yang jendelanya hanya diterangi cahaya redup.
Sepanjang jalan, ia mencoba menyusun kalimat untuk menjelaskan jumlah uang itu pada Danti, tapi tak satu pun terdengar masuk akal, bahkan di telinganya sendiri. Di kaca spion, bungkusan ikan bakar itu tergeletak di kursi belakang, masih mengepulkan aroma sambal, dan ia tak sekali pun menoleh.
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,