Olivia seorang penyanyi, karirnya semakin bersinar setelah mendapat warisan bros dari sang nenek yang dulunya juga seorang sinden terkenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindia Andin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ritual kedua
"mas tejo" Olivia menyusul tejo yang tengah menyiapkan untuk ritual nanti malam.
"apa vi? sik to... kurang dikit ini lho" ucap tejo menyiapkan bunga tujuh rupa yang di bawa Olivia kedalam mangkuk besar. semua peralatan terbuat dari kuningan
Olivia kembali duduk di ruang tamu sambil membuka sebungkus camilan
"apa?" tejo selesai menyiapkan semuanya
"aku mau tanya mas, banyak banget yang aku tanyakan" ucap Olivia sambil menaikan kakinya di sofa
"yo wis tanya apa? tak jawab" ucap tejo santai
"yang manggil aku waktu ritual itu siapa mas?"
"ya itu mbah buyut kamu, yang punya batu merah itu"
"trus, 2 kali aku di tampaki bayangan perempuan nyisir rambut"
"ya itu mbah buyut"
"nah ini yang paling penting, waktu aku ngasih bros itu ke salah satu orang, dapat 3 hari dia meninggal mas. apa ada kaitannya dengan bros ini mas?"
"itu hanya kebetulan aja vi.. sudah jangan terlalu di fikir"
"tapi mas"
"jangan Topa - tapi... Jalan-jalan yuk. cari angin" ajak tejo
Olivia mengikuti tejo, berbonceng di motor tejo.
"mau kemana mas?"
"mampir ke teman ku yuk vi, mumpung disini"
"sekalian cari duren mas"
"gimana kerjaanmu?"
"lancar mas, banyak job"
"sebentar lagi kamu jadi orang kaya, seperti nek Marni"
"aku ndak pingin kaya yang berlebihan mas, yang penting cukup. cukup buat beli rumah, cukup buat beli mobil. wis pokok e cukup"
"hmmm bisa aja kamu ini"
Setelah melewati beberapa belokan, tejo dan Olivia sampai di rumah yang memiliki halaman lumayan luas. seorang bapak-bapak duduk sambil mengipasi tubuhnya
"assalamu'alaikum pak" sapa tejo
"Walaikumsalam" saut orang itu masih memejamkan matanya "kamu lama sekali ndak kesini jo" tanpa membuka mata, orang itu tau yang datang tejo
"iya Pak, maaf baru mampir. sandi ada pak?"
orang itu membuka matanya
"saking lamanya ndak kesini, sampai ndak tau kalau sandi sudah meninggal" ucap pria itu
Tejo duduk di kursi di depan orang itu
"meninggal? kapan pak?"
"temanmu sampai kapan mau berdiri disitu?"
"duduk vi"
Olivia duduk di samping tejo
"besok 100 harinya"
"sandi sakit pak?"
"dia ndak kuat ngilmu, sudah aku larang tapi ndak bisa. ya wis"
tejo dan Olivia tak bersuara
"kamu nduk? temannya tejo?"
"iya Pak"
"kalau ndak yakin sama ilmu jangan coba-coba ya nduk"
"saya ndak ingin ngilmu pak"
Orang itu menatap tajam Olivia
"kamu ada darah kesitu lho nduk"
"saya ndak tau pak, saya takut dengan klenik dan yang lainnya"
"tapi kamu sudah melakukan sedikit kan"
Olivia menelan ludahnya yang terasa kering di tenggorokan
"kalau ndak yakin jangan di paksa, kamu ndak tau hasilnya nanti akan seperti apa"
"pak, saya mampir untuk bertemu sandi, maaf saya ndak tau kalau sandi sudah meninggal pak. saya mengaturkan turut berbela sungkawa"
"iya jo, terimakasih"
"saya pamit pak" ucap tejo bangkit dari tempat duduknya di ikuti Olivia
"Hati-hati ya nduk" pesan orang itu untuk Olivia
Olivia pergi meninggalkan rumah sandi, dari jauh Olivia menoleh ke arah rumah sandi, orang itu masih berdiri disana menatap Olivia
"mas... sangar yo orang e"
"bapak tirinya sandi itu vi"
"oww... "
"kenapa? kamu takut?"
"jujur iya mas... aku sebenarnya ndak mau mengikuti ritual nek Marni"
"kalau sekarang kamu ndak bisa mundur vi... sudah terlanjur"
"tapi mas"
"sudah dijalani aja"
hari sudah gelap. Olivia dan tejo kembali pulang ke rumah orang tua Olivia.
Tanpa tejo suruh, Olivia menggembok pagar rumahnya. Olivia masih hapal apa saja yang harus dilakukan.
Tejo mulai melakukan ritualnya, membaca mantra ketika Olivia sudah berbaring di depannya di kelilingi dengan dupa, bunga dan air tujuh rupa.
Olivia memejamkan matanya, menyelesaikan ritual sampai selesai.
Kini Olivia tidak takut lagi dengan suara yang menyapa sewaktu dia memejamkan matanya.
"mas, kamu mau pulang?" tanya Olivia setelah mengganti bajunya
"besok aja vi. kamu?"
"ikut tidur disini mas, kalau ndak ada kamu aku ndak berani tidur sendirian mas"
"yakin mau tidur disini sama aku"
"iya, ndak boleh?"
"kamu ndak takut aku perkosa?" goda tejo
"coba aja kalau berani"
"aku laki-laki normal lho vi. gimana?"
"ndak usah kamu paksa mas.. ayo kita lakukan sekarang" Olivia menggoda tejo dengan membelai wajah tejo
"wis wis vi... wooo ngawur... bisa di bunuh aku sama nek Marni"
"ndak berani to? hahaha... " goda Olivia
"kamu mau tidur dimana?"
"tidur diluar aja yuk mas, kasurnya dibawa keluar"
Olivia membantu tejo mengeluarkan kasur dari dalam kamarnya
sebenarnya Olivia enggan untuk menginap di rumahnya itu. ini kesempatan dia untuk mengorek informasi lebih jauh tentang nek Marni dan bros itu
ponsel Olivia berdering. panggilan masuk dari dimas
"halo mas"
"hay vi... kamu dimana?"
"aku masih di rumah ku mas"
"sendirian?"
"ndak.. ini sama mas tejo"
"mas tejo? siapa dia vi? kamu ndak pernah cerita"
"mas tejo ini yang bantu nenek ku mas"
"ow... oh ya. kamu jadi ngontrak rumah?"
"jadi mas, ada informasi?"
"ada, kebetulan Siska juga cari kontrakan, bagaimana kalau kalian berdua tinggal bareng"
"wah boleh tuh. enak ada temannya"
"aku mau tau rumah kamu vi. boleh video call?"
"boleh" Olivia mengganti saluran percakapannya menjadi video
"hay mas. ini namanya mas tejo" Olivia memperkenalkan tejo kepada dimas
"salam kenal mas tejo, kalian berapa orang disitu?"
"cuma berdua aja mas" jawab tejo
"berdua?" dimas diam memandang tejo
"tenang aja mas, Olivia aman bersamaku"
"haha... iya mas" tawa dimas getir
"sudah dulu ya mas. mungkin besok pagi aku kembali lagi ke Surabaya" ucap Olivia
"oke vi"
Percakapan mereka selesai
"vi... dimas kayaknya khawatir sama kamu"
"biasa aja sih mas. besok aku ada event, ngisi di gathering acara partai. mungkin dia khawatir aku ndak pulang"
"kamu ndak ada perasaan sama dia?"
"ada mas. tapi aku ndak berani mau bilang. malu"
"kalau sama aku?"
"ada... ada perasaan mau nonjok kamu" Olivia menonjok lengan tejo
"awww... "
"mas tanya"
"tanya aja" ucap tejo menghidupkan televisi
"nek Marni itu bagaimana sih mas?"
"lha kamu cucunya kok malah tanya sama aku"
"aku kan ndak dekat dengan nek Marni mas"
"tak kasih tau ya vi... nek Marni itu sebenarnya orangnya menakutkan. pernah aku tau nek Marni marah ke salah satu pekerjanya. ngeri vi. waktu kecil aku ikut bapak bpk ke rumah nek Marni, waktu itu ndak tau apa kesalahan pria itu, nek Marni seakan memiliki tenaga lebih, mengangkat tubuh laki-laki itu dan menghempaskan ke lantai"
"wihhh... ngeri mas"
"sebenarnya aku ndak mau meneruskan ritual ini vi, aku takut"
"aku iya mas, aku juga takut. tapi apa hubungannya bros dengan kematian tari ya mas?"
"anggap aja itu kebetulan vi"
"kamu yakin iki kebetulan" selidik Olivia
"he em.. kamu ndak ngantuk?"
"ngantuk mas" Olivia menarik selimutnya tidur di samping tejo
"kamu ndak takut kalau aku perkosa"
"jangan di perkosa mas.. ayok sekarang aku layani" tantang Olivia. seandainya tejo serius dengan tantangan Olivia, Olivia juga takut "
"wis tidur"
tejo memunggungi Olivia.
"mas... "
"wis tidur... mas mes ae" hardik tejo