Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di sudut Griya Harta Emas yang temaram, Gilang terduduk sendirian dengan tatapan kosong menembus dinding tua. Ia menyandarkan punggungnya pasrah ke sandaran kursi kayu, terbenam dalam badai kecemasan yang mendera pikirannya,sebuah kekhawatiran hebat yang bermuara pada satu nama,sang gadis detektif.
Beberapa saat kemudian, ia meloncat berdiri. Jari-jemarinya memegang erat permukaan tembok yang dingin, lalu ia mulai berjalan mondar-mandir tak tenang. Usapan kasar berulang kali mendarat di tengkuknya yang tegang. Keningnya mengerut rapat, melipat sejuta beban yang tak tertampung lagi.
Setelah letih membakar energi dengan kegelisahan, ia kembali terhempas duduk di balik meja, lalu terkurung dalam lamunan panjang.
Bibi Sinta melangkah mendekat dengan raut wajah sarat keprihatinan. Ia menarik kursi kayu di hadapan Gilang lalu mendaratkan tubuhnya pelan. “Kau masih di sini?” tanyanya menembus keheningan.
Pria di depannya masih bergeming, membuat Bibi Sinta mendesah pelan. “Ya ampun, bicaralah, ada apa lagi?” tanya Bibi Sinta lagi, berusaha memancingnya keluar dari cangkang ketakutan.
“Aku sungguh tidak mengerti kenapa…” gumam Gilang pelan, hampir tenggelam oleh desis angin malam.
“Apa maksudnya?” tanya Bibi Sinta membujuk.
“Kenapa aku sangat khawatir. Coba kau lihatlah situasiku sekarang, hidupku sekarang di tangan Ichikawa,” ucap Gilang seraya mendadak bangkit, kembali bergerak mondar-mandir liar sembari menggigit jari telunjuknya dalam hembusan napas yang memburu. “Jika aku tidak menemukan Emma, maka seluruh kekayaanmu akan disita. Bahkan nanti, aku bisa saja diseret ke medan perang. Selain itu, hiena dan burung bangkai di sekeliling Griya Harta Emas siap menerkam apa pun juga.”
Ancaman gulung tikar dan kebangkrutan total dari Ichikawa mengintai di depan mata. Bayang-bayang kemiskinan siap menerkam kapan saja. Namun anehnya, ketakutan terbesarnya malam ini justru tertuju pada keselamatan Bella, si gadis pencari jejak nekat itu. Di mata Bibi Sinta, ekspresi liar dan rapuh bosnya itu menyinarkan satu hal yang nyata: pria ini sedang jatuh cinta.
“Lalu… kenapa… aku… malah mencemaskan dia?”
Bibi Sinta berdiri tegak, matanya menatap tajam ke dalam iris mata Gilang. “Maksudmu gadis detektif itu?” tanya Bibi Sinta membongkar keraguan.
“Siapa?” tanya Gilang menembak balik cepat.
“Apa dia yang kau maksud?” ucap Bibi Sinta menyunggingkan senyum tipis.
“Dia?” ucap Gilang dengan mata membelalak lebar. Kepalanya menengok berulang kali ke kiri dan ke kanan secara canggung, keningnya melipat makin dalam. “Apa aku bilang begitu?”
“Sayang sekali, tidak ada obat untuk penyakit cinta,” ujar Bibi Sinta terkekeh menyindir.
“Hei, dengar ya, tolong jaga bicaramu. Penyakit cinta? Aku Mas Gilang, pria hebat di kota tua! Wanita tercantik di Jayakarta merayu, tapi aku tak peduli! Aku ini dambaan gadis!” gumam Gilang cepat, kata-katanya meluncur tajam berusaha keras menepis kenyataan.
“Itulah penyakit cinta,” ejek Bibi Sinta makin puas.
Mulut Gilang menganga lebar, kehilangan kata-kata untuk membalas.
“Kau tidak menggubris semua gadis cantik itu, tapi sekarang, lihat dirimu. Gadis detektif itu mencuri hatimu,” ucap Bibi Sinta menatapnya penuh kepastian.
“Bukan, bukan seperti itu,” ucap Gilang cepat seraya mengibaskan sebelah tangannya di udara, berusaha menyangkal tuduhan itu.
“Ya lalu apa?” tanya Bibi Sinta sambil bersedekap dada.
Gilang menunjuk ke arah Bibi Sinta dengan raut ragu. “Kau tahu… apa… a… apa sebutannya humanisme?”
“Humanisme?” tanya Bibi Sinta penuh keheranan, keningnya melipat bingung.
“Nah, iya itu. Humanisme.”
“Kemanusiaan.”
“Saat ini aku cemas dan merenungkan cintaku pada manusia lain. Kau paham, kan?” tegas Gilang mencari pembenaran.
Bibi Sinta menghela napas panjang, bangkit berdiri dari duduknya. Ada rasa kasihan bercampur geli melihat bosnya yang tangguh kini tak berkutik dihantam penyakit cinta. “Ya sudah, jangan cemas.”
“Seharusnya aku seret dia dari sana. Karena aku tidak boleh meninggalkannya di sana. Iya, kan?” tanya Gilang menuntut persetujuan.
Melihat Gilang yang terus terpuruk dalam kecemasan kosong, Bibi Sinta merasa perlu menyentil kesadaran bosnya itu untuk segera bertindak mencari sosok bernama Sachimoto yang sedang diburu Bella.
“Kalau ada waktu senggang, kau carilah Sachimoto. Duduk dan merasakan khawatir tidak akan mengubah apa pun. Berhentilah khawatir dan bertindaklah seperti Mas biasanya! Lakukan apa yang perlu dilakukan,” perintah Bibi Sinta tegas.
Gilang sempat mengalihkan pandangan dan bungkam seketika. Matanya bergulir memikirkan ucapan itu, lalu kembali menatap Bibi Sinta dengan sorot mata yang mendadak menyala.
“Benarkah?” Gilang mengangguk kecil pada dirinya sendiri, lalu melangkah lebar beranjak pergi. “Kau benar.”
Bibi Sinta tertegun menatap punggung Gilang yang bergerak cepat menuju pintu keluar. “Kau mau ke mana?”
“Melakukan tugasku dengan caraku sendiri,” sahut Gilang tanpa berpaling, meninggalkan ruangan dengan kepastian yang mantap.
Gilang melangkah keluar dari Griya Harta Emas, lalu berlari lurus ke depan menghampiri mobil milik mata-mata suruhan Ichikawa yang sedang terparkir di seberang.
Melihat Gilang mendadak berlari ke arahnya, mata-mata itu dengan sigap langsung menaikkan kaca mobilnya rapat-rapat, lalu cepat-cepat memejamkan mata berpura-pura tertidur pulas.
Tok! Tok! Tok!
Gilang mengetok-ngetok kaca mobil jeep itu tanpa sabar. Mata-mata di dalam akhirnya membukakan kaca pintunya dengan raut wajah yang amat kesal, sebab Gilang sudah terlalu sering memperlakukannya bak sopir pribadi.
“Apa, astaga!” geramnya sengit seraya menurunkan kaca. “Jika kau minta tumpangan lagi, aku tidak mau!”
“Terserah,” ucap Gilang singkat, mengabaikan omelannya.
“Iya, iya, iya. Baiklah. Tolong tulis saja ini,” mohon Gilang tanpa basa-basi, “Sachimoto. Pria Jepang, pertengahan tiga puluh.”
Mata-mata itu melirik Gilang dengan kening berkerut.
“Ayo cepat tulis!” bentak Gilang melotot.
Pria itu tersentak kaget, lalu tergesa-gesa merogoh kantongnya, menarik keluar secarik kertas kecil dan pulpen.
“Profesinya adalah pelukis. Di antara penduduk Jayakarta, coba kau cari orang itu. Sampaikan ini pada Komisaris Ichikawa. Karena menemukan Emma itu penting, maka dia harus teliti. Mengerti?” pangkas Gilang tegas.
Mata-mata itu mengangguk-angguk pasrah. “Iya.”
“Bagus!”
Gilang langsung berbalik dan berlari kembali menuju Griya Harta Emas. Ia mendorong pintu, lalu menyempatkan diri melambaikan tangan dengan gaya santai pada mata-mata itu sebelum menyusup masuk. Tak lama setelah masuk, ia kembali membuka pintu sedikit hanya untuk melambaikan tangannya sekali lagi.
Dari dalam mobilnya di kejauhan, mata-mata itu mendengkus tajam. Menganggap lambaian itu sebagai ejekan kasar, raut wajahnya makin tertekuk kesal dengan kening mengerut dalam.