NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Bayangan di Balik Pintu Kaca

Matahari pagi menyusup malas melalui celah-celah gedung tinggi di pusat distrik finansial, memantulkan kilau keemasan pada dinding kaca antipeluru gedung pencakar langit Lu Group. Di ruang kerja pribadi lantai paling atas yang beraroma kayu cendana, Lu Jingyan berdiri tegak menghadap jendela besar. Setelan jas hitam tailored berbalut rapi di tubuh atletisnya, sementara tangannya menggenggam secangkir kopi hitam yang mulai mendingin. Pikirannya tidak sedang melayang pada laporan keuangan kuartal ketiga atau pembersihan sisa-sisa faksi Zhao Tianming yang kini mendekam di balik jeruji besi. Pikirannya tertuju pada satu nama: Lin Meiying.

Pintu ruang kerja berukir mahoni itu diketuk pelan tiga kali sebelum dibuka dari luar. Sekretaris Han melangkah masuk dengan langkah sigap, membawa sebuah tablet digital dan map laporan harian.

"Tuan Muda," lapor Sekretaris Han dengan suara tertahan dan penuh kehati-hatian. "Tim pengawas intelijen kita di lapangan melaporkan sebuah perkembangan yang cukup mengejutkan pagi ini di kediaman kontrakan distrik utara."

Jingyan langsung membalikkan badannya. Tatapan matanya yang tajam menghujam ke arah sang asisten. "Perkembangan apa? Apa terjadi sesuatu pada Nyonya Meiying atau keluarganya?"

"Bukan ancaman fisik, Tuan Muda," jawab Sekretaris Han sambil menyerahkan tablet digital yang menampilkan rekaman foto CCTV jarak jauh. "Tadi malam, setelah membaca buku catatan peninggalan almarhum suaminya, Nyonya Meiying terlihat meninggalkan rumah seorang diri menuju sebuah wartel kecil di ujung gang. Ia melakukan panggilan telepon ke salah satu kantor redaksi surat kabar investigasi independen terbesar di ibu kota."

Jingyan sedikit menyipitkan matanya, mengamati foto-foto digital tersebut. "Kantor redaksi investigasi? Apa yang ia bicarakan dengan mereka?"

"Dari transkrip sadapan ringkas yang berhasil kita peroleh melalui jaringan lokal, Nyonya Meiying mencoba membongkar kembali dokumen rahasia dan salinan surat peninggalan almarhum Chen Guowei mengenai rekayasa struktur di proyek lantai 35," jelas Sekretaris Han. "Ia bertekad membawa kasus pembunuhan suaminya ke media publik karena tidak percaya bahwa penangkapan Zhao Tianming semata-mata murni karena kasus korupsi keuangan korporat."

Mendengar penjelasan itu, ekspresi Jingyan tidak menunjukkan kepanikan, melainkan sebuah senyum tipis penuh kekaguman yang tersungging di sudut bibirnya. Di balik kerapuhan fisik dan penderitaan hidup yang menghimpitnya selama setahun ini, Lin Meiying ternyata memiliki ketegaran mental dan keberanian luar biasa seorang istri yang tidak mudah tunduk pada ketidakadilan. Wanita itu adalah singa betina yang siap menerjang siapa saja demi mencari kebenaran bagi suaminya.

Namun, tindakan Meiying itu juga membawa risiko bahaya yang sangat besar. Meskipun Zhao Tianming sudah jatuh, jaringan kotor dan antek-antek sisa faksi lama di luar sana masih mengakar luas. Jika Meiying bergerak sendirian menghadapi para wartawan tanpa pelindung yang tepat, ia bisa menjadi target empuk bagi pihak-pihak yang ingin meredam skandal tersebut selamanya.

"Jangan biarkan staf redaksi surat kabar itu menerbitkan berita mentah malam ini," perintah Jingyan dengan nada suara dingin dan mutlak. "Ambil alih pergerakan informasi tersebut secara halus."

"Baik, Tuan Muda. Apakah kita akan menghentikannya?" tanya Sekretaris Han.

"Tidak. Kita tidak menghentikannya," sanggah Jingyan tegas. "Kita justru akan membuka jalan lebar-lebar baginya. Hubungi pemimpin redaksi surat kabar investigasi itu secara anonim atas nama 'Yayasan Keadilan Korporat'. Katakan pada mereka bahwa dokumen yang dipegang Meiying adalah valid, dan berikan mereka akses penuh terhadap arsip digital tambahan yang membuktikan keterlibatan oknum dewan komisaris lama."

Sekretaris Han tertegun sejenak, memahami strategi besar yang sedang dimainkan atasannya. "Anda ingin menggunakan tangan media publik untuk menghabisi sisa-sisa duri di dalam dewan komisaris secara terbuka?"

"Tepat sekali," jawab Jingyan sambil berjalan kembali ke balik meja kerjanya. "Selama ini para petua tua di dewan kehormatan merasa kebal hukum karena mereka bersembunyi di balik dinding birokrasi internal keluarga Lu. Sudah saatnya dunia luar melihat borok busuk yang mereka pelihara selama ini. Dan biarkan Meiying berdiri di garis depan sebagai saksi kebenaran."

Sementara itu, di sebuah warung kopi sederhana dekat terminal bus kota, Lin Meiying duduk terpaku di atas bangku plastik merah. Di hadapannya, secangkir teh panas mengepulkan uap tipis, namun ia sama sekali tidak menyentuhnya. Tangannya yang gemetar menggenggam erat sebuah telepon genggam murah berlayar pusam.

Baru saja ia menerima panggilan balik dari kepala redaksi harian Suara Investigasi. Pihak redaksi menyatakan sangat tertarik dengan dokumen dan surat peninggalan suaminya, serta mengajak Meiying untuk melakukan pertemuan tatap muka secara eksklusif sore ini di sebuah kafe remang-remang dekat kawasan industri pusat kota guna menyerahkan salinan bukti fisik secara langsung.

Ada rasa takut yang mencengkeram dada Meiying. Bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang kemiskinan dan intimidasi membuatnya trauma pada setiap orang asing yang menjanjikan pertolongan. Namun, bayangan wajah mendiang suaminya di dalam surat terakhir itu menguatkan kembali tekadnya. Ia tidak boleh mundur. Demi Anqi, demi ibunya, dan demi keadilan kematian Guowei, ia harus melawan para monster berdasi itu.

"Ibu... nanti pulang sekolah, apakah Ibu akan pergi lagi?" suara kecil Anqi mengejutkan lamunan Meiying ketika ia menjemput putrinya siang itu.

Meiying tersenyum hangat, menyembunyikan seluruh badai kekhawatiran di balik tatapan matanya. Ia berjongkok, merapikan kerah baju seragam sekolah Anqi. "Ibu hanya pergi sebentar untuk mengurus pekerjaan penting, Sayang. Nanti sore, Ibu pasti sudah di rumah menunggumu."

Pukul empat sore lewat sepuluh menit, Meiying tiba di kafe yang dimaksud. Suasana kafe itu tampak sepi, hanya diisi oleh beberapa pelanggan yang duduk di sudut ruangan. Meiying memilih meja di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke jalan raya. Ia mengeluarkan amplop cokelat tebal berisi salinan surat Guowei dan dokumen proyek dari dalam tas usangnya, lalu meletakkannya di atas meja dengan tangan basah oleh keringat dingin.

Tepat pukul setengah lima, pintu kafe berderit dibuka. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap berjas abu-abu melangkah masuk, menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan, lalu berjalan lurus menuju meja tempat Meiying duduk.

"Nyonya Lin Meiying?" tanya pria berjas abu-abu itu dengan suara berat.

Meiying mengangguk pelan, berdiri menyambutnya. "Ya, benar. Anda dari redaksi Suara Investigasi?"

Pria itu tersenyum tipis, namun ada sesuatu yang janggal dari sorot matanya—bukan senyum ramah seorang jurnalis, melainkan senyum dingin penuh tipu muslihat. Sebelum pria itu sempat duduk, dari arah meja di sudut ruangan, tiga orang pria bertubuh kekar berjaket kulit mendadak bangkit berdiri dan bergerak cepat menutup akses pintu keluar kafe.

Wajah Meiying seketika pucat pasi. Insting bertahan hidupnya berteriak kencang. Ia telah masuk ke dalam perangkap! Pria di hadapannya bukan jurnalis, melainkan orang suruhan sisa-sisa antek korporat yang ingin merampas dokumen bukti tersebut dan membungkamnya untuk selamanya.

"Serahkan amplop itu sekarang secara baik-baik, Nyonya Meiying," desis pria berjas abu-abu itu dengan nada mengancam sambil merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil berkilau tajam. "Atau kau dan keluargamu tidak akan pernah melihat matahari terbit besok pagi."

Meiying mundur hingga punggungnya membentur dinding kaca kafe. Tidak ada jalan keluar. Napasnya memburu, ketakutan yang luar biasa melumpuhkan sekujur tubuhnya. Ia mengangkat amplop cokelat itu tinggi-tinggi, siap merobeknya agar hancur bersama nyawanya.

Namun, sebelum pisau di tangan pria itu sempat terayun, suara dentuman keras memecah kesunyian sore hari.

Brak!

Pintu kaca utama kafe hancur berkeping-keping dalam satu hantaman keras. Tiga orang pengawal bertubuh raksasa berbalut jas hitam seragam mendesak masuk dalam hitungan detik, langsung melumpuhkan para penjahat berjaket kulit dengan teknik bela diri tingkat tinggi yang brutal dan cepat. Baku hantam singkat terjadi, dan dalam waktu kurang dari sepuluh detik, seluruh orang suruhan itu terkapar tak berdaya di lantai keramik.

Dari balik kepulan debu pecahan kaca pintu masuk, sesosok pria tinggi dengan setelan jas hitam elegan melangkah masuk dengan tenang. Aroma mahoni yang sangat familier menguar di udara.

Lu Jingyan berdiri di hadapan Meiying, menatap wanita itu dengan sorot mata penuh kekhawatiran yang tidak lagi bisa disembunyikannya.

Meiying tertegun hebat, napasnya tersenggap-senggap, matanya membelalak lebar menatap pria yang kembali menyelamatkan hidupnya dari ambang maut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!