Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi gede Jessica
Amel menepuk jidatnya sendiri."Lo oon apa gimana sih Jessica markonah, Lo tau kan suami Lo itu ganteng anjir kaya opa-opa Korea. Suami Lo pasti setiap hari nahan nafsunya agar gak nerkam Lo, gimana kalau suami Lo cari wanita lain buat nyalurin nafsunya? Emang Lo mau suami Lo udah nggak perjaka dengan wanita lain." Ucapnya menjelaskan.
Mendengar itu Jessica tiba-tiba terdiam, mencerna ucapan sahabatnya itu."Kok gua jadi takut ya, tapi nggak mungkin Mas Rey lakuin itu sama wanita lain." Batinnya.
"Jes!" Panggil Amel dengan sedikit keras membuat Jessica buyar dari lamunannya.
"Ihh tapi gua percaya kok Mas Rey nggak mungkin gitu, kalau sampai itu terjadi gua potong aja titidnya terus gua tinggalin deh suami gua," celetuk Jessica.
Membuat mereka menelan salivannya, mereka merasa ngilu mendengar ucapan Jessica.
"Sadis bener Lo Jes," ucap Viola.
"Terus Lo kapan ngasih hak pak Rey?" Tanya Anggun.
Jessica menghela nafas pelan."Mungkin nanti setelah gua lulus sekolah, gua juga udah ngomong ke Mas Rey gitu. Dan Mas Rey juga nggak papakok katanya bakal terus nungguin gua siap." Ucapnya.
"Yaudah deh terserah Lo." Ujar Amel pasrah.
***
"Sayang." Reyhan memanggil Jessica penuh nada riang kala memasuki mansion. Jam menunjukkan pukul 17.15 dimana, gadisnya itu pasti sudah pulang.
"Sayangggg... Baby." Reyhan semakin gencar memanggil Jessica saat dirinya sudah menaiki anak tangga.
Sedangkan Vero yang melihat tuannya itu dari belakang, hanya bisa menggeleng pelan. Sudah tau jika Mansion ini besar masih saja memanggil Jessica, ya jelas gadis itu tak menyahut.
Kadang Vero heran dengan tuannya jika sudah pulang dari kantor, sifatnya langsung berubah 180°. Percaya atau tidak, saat di kantor Reyhan sangat galak kepada karyawan. Belum lagi wajah dingin dan datarnya yang menjadi ciri khas.
Ceklek
Jessica masuk ke dalam kamar dan tak menemukan istrinya. Pria itu melonggarkan dasi dan membuang jasnya ke sembarang arah. Saat hendak membuka kemeja, ia tak sengaja mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.
Cepat-cepat Reyhan meraih handuk dan membuka pintu. Dan senyumannya semakin mengembang saat pintu tidak di kunci. Senyumnya mengembang kala melihat wajah Jessica yang terkejut.
"Astagfirullah Mas Rey, aku Kira siapa." Jessica hendak meraih handuk, namun sayangnya Reyhan lebih dulu mengambil benda tersebut. Alhasil, ia menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
"Mas siniin handuknya!"
Reyhan tersenyum smirk, menggelengkan kepalanya. Lantas pria itu melanjutkan membuka pakaiannya, membuat Jessica gemetar bukan main.
Jessica memundurkan langkahnya saat Reyhan mendekat. Jantungnya berpacu lebih cepat saat melihat Reyhan yang hanya menggunakan boxer.
"Mas mau apa?" tanya Jessica takut-takut. Dan sialnya lagi, Reyhan sudah mengukungnya di kaca pembatas.
Reyhan mendekatkan wajahnya "Kamu?" bisiknya tepat di telinga Jessica, membuat tubuh gadis itu meremang.
"Mas ihh minggir." Jessica mencoba mendorong dada bidang Reyhan, namun kedua tangannya itu lebih dulu di cekal oleh suaminya.
Perlahan, Reyhan mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya pada bibir mungil Jessica. Reyhan melumat habis bibir itu hingga ciumannya turun ke leher putih Jessica.
Merasa tak ada penolakan, Reyhan mengangkat tubuh Jessica, membawanya kedalam bathub. Dan berakhirlah dengan Reyhan yang sudah on.
Oh shit!
Reyhan menjauhkan bibirnya, menatap Jessica yang tengah menghirup oksigen banyak-banyak. Lantas pria itu membalikan tubuhnya memunggungi Jessica, membuat gadis itu terheran.
"Mas, kamu kenapa?"
"Tolong dong sayang gosokin punggung aku." pintanya tanpa mau melirik Jessica. Bukannya apa-apa, ia hanya takut khilaf. Di tambah lagi Jessica yang tak mengenakan apa-apa, membuat naluri prianya muncul.
Jessica mendelik acuh melihat tingkah suaminya. Namun ia tetap melakukan apa yang Reyhan suruh.
***
"Sayang, kamu tau gak kenapa suami kamu ini nggak ganteng?" Tanya Reyhan yang tengah meletakkan kepalanya di paha Jessica. Sehabis makan malam, kedua pasutri itu langsung melangkah ruang keluarga untuk menghabiskan waktu berdua dengan Jessica duduk disofa sambil mengusap rambut suaminya yang berada dipahanya.
"Kenapa?" Tanya Jessica yang masih mengusap rambut Reyhan.
"Hei Sayang, kamu tau kenapa aku nggak ganteng?" Tanyanya menekan kata-kata itu.
"Iya kenapa Mas?" Tanya Jessica yang masih sabar.
"Gini nih punya bayi jumbo kalau udah mulai , sabar Jes." Batin Jessica.
Reyhan spontan bangun dari tidurnya, pria itu duduk dengan mata yang menatap tajam istrinya. Reyhan ang ditatap seperti itu hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apakah ucapannya ada yang salah.
"Sayang, aku bilang. Kamu tau kenapa aku nggak ganteng!" Tanyanya lagi, menekan kata-kata itu sekali lagi. Melihat wajah bingung dari gadisnya membuat Reyhan berdecak kesal.
"Ck! sayang, apa kamu baru aja bilang jika aku nggak ganteng! Huaaa kamu jahat."
"Eh?"
"Jangan nangis dong Mas, aku tadi gak ngerti apa yang kamu omongin dari tadi. Emangnya apasi maksudnya?"
"Harusnya kamu jawab 'Kata siapa Mas nggak ganteng, suami aku itu sangat ganteng' gitu, tapi kenapa kamu malah menjawab 'kenapa' seolah aku ini memang nggak ganteng!" Gerutunya kesal, dengan bibir yang sudah mengerucut sebal.
Jessica terdiam, mencerna ucapan Reyhan. Astaga, ia baru paham, pantas saja bayi besarnya ini merajuk.
"Gak- gak gitu Mas..." panik Jessica melihat Reyhan yang sudah tertidur memunggunginya seperti anak kecil.
"Mas..."
"Mas Rey..."
"Gak gitu maksud aku Mas..." ujarnya menggoyangkan bahu Reyhan yang sudah terdengar suara isakan kecil.
"Kamu jahat hiks..."
"Mas!" Dengan gemas Jessica menggigit pundak pria tanpa baju itu kencang, membuat sang empu menjerit.
"Huaa kamu gigit aku sayang hiks...!" Reyhan berbalik menatap Jessica kesal. Berani sekali istrinya ini mengigit nya.
"Huaaa kamu jahat." Pecah sudah tangisan Reyhan.
Jessica panik dibuatnya.
"Maaf, udah jangan marah dan nangis lagi." bujuknya, memeluk Reyhan erat. "Mas itu ganteng ko, ganteng banget. Di mata aku Mas itu pria tertampan yang pernah Jessica temui." lanjutnya, mencubit pipi Reyhan gemas.
"Sayanggg." Reyhan mati-matian menahan senyumnya. Pipinya sudah merona merah karna ucapan istrinya itu. Ah sial, ia terlihat seperti anak gadis yang baru jatuh cinta.
"Blushing ciee."
"Aaaa sayang baper." Reyhan menenggelamkan wajahnya di dada Jessica, malu sekali rasanya. Harusnya ia sebagai pria yang membuat Jessica blushing, tapi.... ah istrinya itu memang benar-benar.
Jessica terkekeh melihat tingkah Reyhan. Gadis itu mengecup kening Reyhan lama. Membuat Reyhan mendongak menatap nya.
"Yang ini juga mau Sayang." Reyhan memonyongkan bibirnya.
Cup
Jessica mengecup sekilas, namun tengkuknya segera di tahan oleh Reyhan. Pria itu memperdalam ciumannya sampai Jessica memukul-mukul pundaknya yang menandakan ia kehabisan nafas.
***
Pukul 18.00
Saat Jessica dan Reyhan akan menonton film didalam kamar.
Jessica Ia mengeluarkan berbagai snack dan minuman itu, lalu di susunnya dengan rapi di atas kasur. Gadis itu menatap Reyhan yang sudah meletakkan selimut tebal berwarna abu-abu di sampingnya.
"Ada list film emangnya?"
"Ada dong, tapi gak tau kamu dah pernah nonton atau belum."
"Apa emangnya?"
Reyhan menyalakan televisi di hadapannya, mencari film yang akan ia tonton bersama Jessica. "Ini."
"365 days? Kayaknya pernah denger. Tapi kok covernya... mas! Jangan aneh-aneh ya!"
"Ini gak aneh sayang."
"Aku gak sepolos itu untuk gak tau itu film apaan! Aku pernah tau itu dari aplikasi toktok. Ganti!"
"Ckk, kenapa sih?"
"Kalau nonton itu bukannya kita nonton tapi malah ngelakuin adegan kayak di film nanti, aku gak mau!"
"Ya udah ganti deh. Ini mau?"
"Red notice? Bukan aneh-aneh kan isinya?"
Reyhan menggeleng. "Gak tau, dari genre nya sih action-comedi."
Jessica mengangguk. "Boleh kalau ini."
Reyhan memulai film itu, ia kemudian mengambil posisi berbaring di belakang tepat di dekat sandaran kasur dan ia membuka tangannya. "Sini sayang."
Jessica menatap Reyhan kemudian mengambil satu keripik kentang. Ia lalu tertidur di depan Reyhan dan pinggangnya langsung di dekap Suami. "Aku gak bakalan ke mana-mana, Mas, biasa aja dong meluknya."
Reyhan terkekeh, ia mengecup pipi Jessica."Nyaman banget meluk kamu tuh."
Jessica memasukkan satu keripik kentang yang ukurannya lumayan besar ke mulut Reyhan."Diem, nonton film aja." Reyhan mengangguk.
Keduanya sudah larut terhadap film Netflix di hadapan mereka. Jessica yang selalu menyuapi snack kepada Reyhan dan Reyhan yang selalu menerimanya dengan senang hati.
Reyhan menghembuskan nafasnya di tengkuk Jessica. Gadis itu sudah melepas cardigannya dan hanya menyisakan tank top hitamnya saja. Tangan Reyhan mengelus perut rata Jessica, film di depannya seperti sudah tidak menarik. Bukan berarti film nya tidak bagus, film nya bagus tetapi Jessica lebih menarik perhatiannya.
"Tangan."
Peringatan Jessica itu di balas kekehan oleh Reyhan. Lelaki itu malah memasukkan tangannya ke dalam tank top Jessica dan mengelus secara langsung perut rata Jessica. "Halus." Reyhan mengecup tengkuk Jessica, ia menghirup aroma istrinya. "Kenapa kamu wangi banget sih!"
"Mandi parfum aku tiap hari."
Reyhan tersenyum, ia tau tentu itu bukan jawaban, Reyhan hanya bercanda. Tangannya mulai naik, ia menyusupkan tangannya ke bra milik Jessica dan langsung bertemu gundukan hangat yang terasa pas di tangannya.
"Ini om-om satu di biarin malah ngelunjak."
Reyhan tertawa mendengar itu. "Boleh kan?"
"Hemm."
Tangan kiri Reyhan ke belakang tubuh Reyhan, melepas kaitan bra gadisnya. Setelah itu, tangannya ke depan lagi, menangkup pay*d*ra yang satunya.
"Gak usah di remes, aku mau nonton. Kalau mau megang diem aja."
"Yang, ganti posisi," rengek Reyhan.
"Kenapa?" Tanya Jessica.
"Mau nenen."
Jessica berdecak. "Gak usah, tangannya udah dapet juga."
"Ayo lah.... Kan kamu udah janji kalau aku nggak bakal ngerokok lagi asal nenen."
"Tangannya tapi gak boleh kemana-mana kalau nenen!"
"Janji!"
Jessica menghela nafas panjang. Ia mengangguk. Reyhan juga sudah pernah melihat bagaimana tubuh atasnya. Jessica juga tidak pernah melihat tatapan Reyhan yang tidak tulus, Reyhan selalu menatapnya tulus dan bersungguh-sungguh, bukan hanya tatapan nafsu saja.
Jessica memundurkan tubuhnya saat Reyhan sudah berdiri. Ia memberikan tempat Reyhan dan lelaki itu langsung tertidur di depannya dengan menghadapnya. Ini sama saja dengan Jessica yang nonton sendiri dan Reyhan yang nyusu.
Reyhan menurunkan tank top Jessica dari atas. Bibirnya langsung melahap put*ng Jessica dan kedua tangannya memeluk tubuh Jessica.
"Awas kalau tangannya keliaran!"
Reyhan melepas sebentar put*ng Jessica.
"Enggak, aku mau nyusu aja. Bentar lagi paling tidur."
"Ng4ny4tnya jangan kenceng, aku mau nonton."
"Iya, diem ini."
"Dasar bayi gede padahal umur udah tua."
Tak lama terdengar suara dengkuran halus, Jessica menatap suaminya yang masih menyus* dengan sudah tertidur pulas. Tak terasa Jessica pun ikut terlelap.