NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Jamuan

Rian mengangkat kedua tangannya, pura-pura menyerah.

"Baiklah. Gue nggak akan mengulanginya."

Devan tidak membalas. Ia menoleh kepada Aira.

"Kita kembali ke dalam."

Aira mengangguk dan mengikuti langkahnya. Saat mereka kembali memasuki ballroom, beberapa tamu yang tadi menyaksikan kejadian di balkon masih berbisik satu sama lain. Namun, Devan tidak menunjukkan ketertarikan untuk menanggapi mereka.

Ia kembali merangkul pinggang Aira, lalu mengajaknya menghampiri sekelompok tamu yang berdiri di dekat meja hidangan.

"Selamat malam, Pak Surya."

Seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas abu-abu menoleh. Senyumnya mengembang ketika melihat Devan.

"Devan! Saya kira kau belum datang. Oh, ini istrimu?"

Devan mengangguk singkat.

"Benar, Pak. Ini Aira, istri saya."

Aira menyambut uluran tangan pria itu dengan sopan.

"Senang bertemu dengan Anda, Pak."

"Senang bertemu denganmu juga, Aira." Pak Surya tersenyum ramah. "Saya sudah mendengar kabar pernikahan kalian. Cukup mengejutkan, mengingat Devan tidak pernah membicarakan rencana pernikahannya sebelumnya."

Aira melirik Devan sekilas sebelum menjawab.

"Memang tidak banyak yang mengetahui rencana pernikahan kami, Pak. Kami memilih untuk menjalaninya secara pribadi."

Devan menoleh kepadanya. Ia tidak menyangka Aira bisa menjawab dengan lancar tanpa terlihat gugup.

Pak Surya mengangguk, lalu kembali berbicara dengan Devan mengenai perkembangan perusahaan. Percakapan mereka berlanjut selama beberapa menit sebelum akhirnya Pak Surya berpamitan untuk menemui tamu lain.

Devan kemudian mengajak Aira menghampiri dua orang anggota direksi yang berdiri tidak jauh dari sana.

Malam itu, Aira menyadari bahwa tugasnya bukan hanya menemani Devan. Ia juga harus menghadapi berbagai pertanyaan dari orang-orang yang ingin mengetahui lebih banyak tentang pernikahan mereka.

Beberapa tamu bersikap ramah, tetapi tidak sedikit yang menunjukkan rasa ingin tahu berlebihan.

"Jadi, Nyonya Devan sekarang tinggal di Jakarta?" tanya seorang wanita yang mengenakan gaun merah marun.

"Iya, Bu."

"Sebelumnya bekerja di mana?"

Aira menjawab dengan tenang, "Saya mengurus sanggar tenun di Bantul."

Wanita itu mengangkat alis.

"Sanggar tenun? Menarik sekali. Saya tidak menyangka Devan akan menikahi seseorang dari bidang yang cukup jauh dari lingkungan bisnisnya."

Aira tersenyum tipis.

"Setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, Bu. Saya rasa itu bukan masalah selama kita bisa saling menghargai."

Wanita itu terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil.

Devan yang berdiri di samping Aira mendengar percakapan tersebut. Ia tidak menyela, tetapi memperhatikan bagaimana Aira menjawab tanpa kehilangan kesopanan.

Setelah wanita itu berpamitan, Devan menoleh kepada Aira.

"Kau cukup pandai menjawab pertanyaan."

Aira menatapnya sekilas.

"Saya hanya menjawab sesuai dengan apa yang ditanyakan."

"Pastikan kau tetap seperti itu sampai acara selesai."

Aira tidak menanggapi. Ia sudah terbiasa dengan cara Devan berbicara yang seolah-olah setiap hal harus menjadi perintah.

...____🍀🍀🍀🍀____...

Di sisi lain ballroom, Hadi Mahendra memperhatikan Devan dan Aira dari kejauhan.

Ia tidak menyangka keponakannya akan membawa Aira ke acara sebesar ini. Awalnya, Hadi mengira Devan hanya akan memperkenalkan perempuan itu sekadarnya untuk memenuhi tuntutan wasiat sang ayah. Namun, sejauh yang ia lihat, Devan tetap mendampingi Aira dan memperkenalkannya kepada sejumlah orang penting.

Hadi meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menghampiri mereka.

"Sepertinya kau mulai menikmati acara ini, Aira," katanya dengan senyum tipis.

Aira menoleh. "Acaranya cukup ramai, Tuan Hadi."

"Bagaimana dengan orang-orangnya? Apakah kau sudah terbiasa bertemu dengan para petinggi perusahaan seperti ini?"

"Belum sepenuhnya, tetapi saya sedang belajar menyesuaikan diri."

Hadi mengangguk pelan.

"Bagus. Menjadi bagian dari keluarga Mahendra tentu bukan hal yang sederhana. Ada banyak hal yang perlu dipahami, terutama ketika menyangkut perusahaan dan tanggung jawab keluarga."

Devan menatap pamannya.

"Kalau Paman ingin membicarakan perusahaan, sebaiknya kita membicarakannya pada waktu yang tepat."

Hadi tertawa kecil.

"Paman hanya berbincang dengan istrimu, Devan. Tidak ada salahnya mengenalnya lebih jauh, bukan?"

"Tentu saja. Selama pembicaraan itu tidak mengarah pada hal-hal yang tidak berkaitan dengannya."

Senyum Hadi tidak berubah, tetapi ia memahami maksud perkataan keponakannya.

"Baiklah. Paman tidak akan mengganggu kalian terlalu lama."

Sebelum pergi, Hadi kembali menatap Aira.

"Semoga kau menikmati malam ini."

"Terima kasih, Tuan Hadi."

Hadi meninggalkan mereka dan berjalan menuju beberapa anggota direksi yang sedang berbincang di dekat panggung.

Aira memperhatikan kepergiannya sesaat, lalu kembali menatap Devan.

"Apakah saya melakukan kesalahan?" tanyanya pelan.

Devan mengerutkan kening.

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Karena setiap kali saya berbicara dengan Paman Hadi, Anda selalu terlihat tidak nyaman."

Devan terdiam sebentar sebelum menjawab.

"Kau tidak perlu memikirkan urusanku dengan Paman Hadi. Persaingan di perusahaan bukan sesuatu yang perlu kau campuri."

Aira mengangguk.

"Baik, Mas Devan."

Devan kembali mengalihkan perhatian kepada para tamu yang mulai berkumpul di dekat panggung. Ia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai persaingannya dengan Hadi.

Bagi Devan, semakin sedikit Aira mengetahui urusan internal keluarga Mahendra, semakin baik.

Namun, ia tidak bisa mengabaikan satu hal. Sejak awal acara, Aira mampu menghadapi berbagai pertanyaan tanpa membuatnya harus turun tangan. Perempuan itu bahkan bisa menjawab sindiran Hadi dengan tenang.

Devan tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya kembali mendampingi Aira ketika pembawa acara mengumumkan dimulainya sesi sambutan.

...___🍀🍀🍀🍀___...

Jamuan makan malam berlangsung hingga mendekati pukul sepuluh. Setelah sambutan dari pihak manajemen dan beberapa percakapan dengan rekan bisnis, para tamu mulai meninggalkan ballroom.

Devan berpamitan kepada beberapa orang sebelum akhirnya mengajak Aira menuju pintu keluar.

Begitu mereka masuk ke dalam mobil, Aira menghela napas pelan. Sejak tadi ia berusaha menjaga sikap dan menjawab pertanyaan para tamu dengan sopan. Kini, setelah acara selesai, ia bisa sedikit lebih tenang.

Devan duduk di sampingnya sambil memeriksa beberapa pesan di ponsel.

"Acara tadi berjalan cukup baik," katanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Aira menoleh.

"Syukurlah kalau begitu."

"Setidaknya kau tidak membuat masalah."

Aira kembali memandang ke luar jendela. Ia tidak ingin memperpanjang percakapan yang hanya akan membuat suasana semakin canggung.

Mobil melaju meninggalkan hotel, membelah jalanan Jakarta yang masih ramai.

Beberapa menit kemudian, Devan menyimpan ponselnya dan melirik Aira.

"Tentang kejadian dengan Rian tadi, jangan terlalu memikirkannya."

Aira terdiam sejenak.

"Saya akan berusaha melupakannya, Mas Devan."

Jawaban itu terdengar sopan, tetapi tidak menunjukkan bahwa Aira benar-benar sudah melupakan penghinaan tersebut.

Devan menyadarinya. Namun, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

Akhirnya, ia kembali mengalihkan pandangan ke depan. Perjalanan menuju penthouse berlangsung dalam keheningan.

Malam itu, mereka berhasil melewati jamuan Mahendra Group tanpa menimbulkan masalah yang lebih besar. Namun, bagi Aira, beberapa ucapan yang didengarnya masih sulit dilupakan.

Sementara itu, Devan memilih untuk tidak membahasnya lebih jauh.

Setidaknya, untuk malam ini.

Bersambung...

1
Muft Smoker
Devan gengsi ny msh Segede Bulan ,,
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
Muft Smoker
kasih kopi Aira ,, biar jernih fikiran si Devan ,, 🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!