Bagaikan seorang Cinderella, Belinda Caleste yang memiliki tubuh gemuk dan penampilan tidak menarik tiba-tiba saja dilamar oleh sang idola yang dia puja selama ini. Semua itu berawal dari aksinya yang mengintip sang idola saat mendengar suara anak-anak. Belinda kepergok dan karena aksi nekatnya, dia justru dilamar oleh sang idola, Evan Barack. Belinda tentu saja menerima meski pernikahan mereka dilakukan dengan sebuah perjanjian sebab Evan mengajaknya menikah hanya untuk memanfaatkan Belinda agar publik tidak mengetahui keberadaan si kembar yang mengaku sebagai putranya. Dia tidak ingin ada scandal yang bisa mempengaruhi kariernya dan menikahi Belinda adalah pilihan tepat apalagi mereka sepakat untuk berpisah setelah dia menemukan ibu Oliver dan Xavier namun semua tidak berjalan sesuai dengan rencana dan ketika saatnya sudah tiba, di mana mereka harus berpisah setelah kebenaran akan Xavier dan Oliver terkuak, akankah Evan menceraikan Belinda seperti kesepakatan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Daddy Datang
Evan sudah akan pergi karena sebentar lagi Jimmy datang menjemputnya. Beberapa makanan telah dia siapkan untuk Belinda dan si kembar. Padahal dia tidak perlu merepotkan diri untuk hal itu tapi dia iba dengan Belinda yang sudah begitu lelah untuk membuat makanan lagi.
Meski makanan yang dia buat adalah makanan mudah dan makanan instan tapi dia merasa cukup puas karena dia tidak pergi begitu saja. Sepuluh menit lagi Jimmy sudah akan datang, Evan masuk ke dalam kamar si kembar di mana kedua anak itu masih tidur begitu juga dengan Belinda.
Sesungguhnya dia tidak mau mengganggu Belinda tapi dia harus melakukannya agar Belinda tahu jika dia sudah akan pergi tapi ketika dia masuk ke dalam kamar yang dia dapati justru Oliver dan Xavier yang sedang duduk di samping Belinda.
Oliver dan Xavier langsung meletakkan jari mereka ke bibir agar Evan tidak berisik yang bisa membuat Belinda terbangun. Evan memanggil kedua anak itu dengan menggunakan lambaian tangan. Oliver dan Xavier pun segera berlari menghampiri Evan tanpa menimbulkan suara.
“Bagaimana dengan keadaan kalian berdua?” Evan meraba dahi kedua anak itu yang ternyata sudah tidak panas lagi.
“Kami sudah sembuh Daddy,” jawab Oliver.
“Benar, Daddy. Kami sudah baik-baik saja,” ucap Xavier pula.
“Bagus, itu berarti kalian sudah bisa aku tinggal!”
“Apa Daddy akan pergi bekerja?”
“Ya, aku sudah harus pergi tapi untuk hari ini saja, kalian tidak boleh berbuat nakal. Aku sudah membuatkan makanan Jadi kalian tidak perlu merepotkan Belinda lagi. Biarkan dia beristirahat karena dia lelah menjaga kalian berdua semalaman. Apa kalian mengerti dengan apa yang aku maksudkan?”
“Mengerti, Daddy,” ucap Oliver dan Xavier.
“Bagus. Aku harap kalian tidak membuat Belinda lelah dan biarkan dia beristirahat. Ingat, jangan berbuat nakal!” Evan kembali mengingatkan karena dia ingin kedua anak itu tidak membuat Belinda lelah untuk hari ini saja.
Oliver dan Xavier mengangguk sebagai tanda jika mereka mengerti. Evan menghampiri Belinda yang sedang tidur bahkan dia mendengkur dengan keras. Bisa dilihat jika Belinda menjaga kedua anak nakal itu. Sebaiknya tidak dia ganggu.
“Jika Daddy ingin mencium kakak lakukan saja, jangan malu-malu!” ucap Xavier dengan pelan.
“Benar, kami tidak akan melihat!” Oliver menutup mata begitu juga dengan Xavier.
“Jangan menggodaku, aku tidak ingin menciumnya. Ingat jangan nakal!” Evan menyangkal, sebaiknya dia pergi saja.
“Yeah, kenapa Daddy tidak jadi mencium kakak?” tanya Oliver.
“Benar, kami tidak akan mengintip!”
“Jangan sembarangan bicara!” Evan buru-buru keluar. Apa kedua anak itu melihat apa yang dia lakukan tadi? Semoga saja tidak karena setelah Belinda tidur, dia kembali mencium dahi Belinda untuk yang kedua kali.
Evan berpamitan pada Oliver dan Xavier saat Jimmy sudah datang. Dia berpesan pada mereka untuk tidak pergi ke mana pun, dia pun mengatakan pada mereka untuk tidak sembarangan membuka pintu. Oliver dan Xavier cukup patuh, tapi setelah Evan pergi mereka pun mulai bermain namun tidak senakal seperti biasanya karena keadaan mereka masih belum cukup pulih dan mereka juga tidak ingin membuat keributan yang bisa membangunkan Belinda.
Sarah yang sedari tadi mengintai dan menunggu kesempatan sangat senang saat melihat Evan pergi. Itu adalah kesempatan baginya untuk mencari tahu kenapa Evan pindah dan tinggal di rumah yang sangat kecil itu. Dia harap tebakannya salah jika Evan menyembunyikan wanita di rumah itu.
Layaknya seorang penguntit, Sarah mendekati rumah Evan dengan cara mengendap-ngendap. Dia benar-benar ingin tahu, apakah gosip mengenai Evan benar atau tidak. Semakin dia dekat dengan rumah Evan, semakin dia dapat mendengar suara dua anak kecil yang bermain di dalam rumah.
Sarah mengernyitkan dahi, dia semakin ingin tahu saja.
Oliver dan Xavier masih bermain dan mulai berlari sambil berteriak sampai membuat Belinda terbangun dari tidurnya. Sarah yang semakin penasaran, mulai mengintip untuk melihat siapa kedua anak kecil yang ada di dalam rumah.
“Oliver, jangan lari. Daddy sudah berpesan kita tidak boleh nakal!” ucapan Xavier membuat Sarah terkejut. Daddy? Siapa yang dimaksudkan oleh anak itu dan siapa yang dipanggil oleh anak itu? Sarah kembali mengintip namun sulit karena dia tidak bisa melihat ke dalam.
“Kalian sudah bangun?” kini suara seorang wanita mengejutkan Sarah yang membuat Sarah semakin ingin tahu
Siapa wanita yang sedang berbicara itu? Jangan katakan Evan memang menyembunyikan kekasihnya tapi kedua anak itu?
Tak mau lagi bermain dengan pikirannya, Sarah bergegas untuk mencari tahu. Dia sangat ingin tahu, seperti apa wanita yang ada di dalam sana. Apakah lebih baik darinya atau tidak karena selama ini yang dikencani oleh Evan adalah wanita yang selalu cantik.
“Apa kalian berdua baik-baik saja?” tanya Belinda pada Oliver dan Xavier yang sedang bermain tanpa tahu jika akan ada tamu yang tak diundang datang ke rumah itu.
“Kami baik-baik saja, kakak," jawab Oliver dan Xavier.
"Baiklah, apa kalian sudah lapar?" tanya Belinda lagi.
"Tidak, kakak istirahat saja. Kami baik-baik saja!"
"Baiklah, tapi aku akan membuatkan kalian makanan!" Belinda pergi ke dapur saat suara bel pintu berbunyi.
"Kami yang akan membukanya!" ucap si kembar yang sudah berlari menuju pintu. Mereka lupa dengan pesan Evan apalagi mereka mengira jika Evan yang kembali.
"Daddy!" mereka berdua berteriak saat pintu dibuka. Sarah terkejut, begitu juga dengan si kembar karena bukan Evan yang kembali.
"Kakak siapa?" tanya Oliver pada Sarah.
"Oh, hm. Aku kekasih Evan!" ucap Sarah berdusta.
"Wah!" si kembar seperti mengagumi Sarah.
"Kalian siapa?" tanya Sarah pula.
"Kami putra Daddy!" jawab si kembar sambil tersenyum lebar.
"Apa?" Sarah sangat terkejut mendengar perkataan mereka.
"Ka-Kalian putra Evan?" tanya Sarah yang tidak mau mempercayai apa yang kedua anak itu ucapkan.
"Benar dan ibu kami ada di dalam!" ucap mereka berdua lagi.
"Apa?" Sarah kembali terkejut mendengar perkataan mereka berdua.
"Apa kakak ingin bertemu dengan ibu kami?" tanya Xavier.
"Te-tentu saja," Sarah menelan ludah, dia ingin lihat siapa wanita yang telah melahirkan kedua anak itu.
"Siapa yang datang?" tanya Belinda yang melangkah menghampiri mereka.
"Mommy!" si kembar berteriak memanggilnya, Belinda sangat heran. Kenapa si kembar memanggil dirinya dengan sebutan Mommy?
"Mommy, pacar Daddy datang!" teriak mereka yang berlari menghampiri Belinda.
"Apa?" Belinda terkejut begitu juga Sarah. Kedua mata Sarah melotot melihat Belinda. Apa tidak salah? Apa Evan sudah gila?
"Pas-pasti lelucon!" ucap Sarah yang pada saat itu juga, "Gubraakk!" Sarah jatuh pingsan sebab dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat jika Evan menikah dengan wanita gemuk dan jelek seperti Belinda.
Belinda terkejut begitu juga dengan Oliver dan Xavier. Mereka segera berlari mendekati Sarah yang tak sadarkan diri.