Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.
Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.
Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.
Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.
Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?
Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Mimpi Aneh
"Sejak aku terbangun, warna mataku sudah berubah menjadi biru," ucap Chongyue sambil melipat kembali kain itu dengan hati-hati. "Itulah sebabnya aku pergi ke pegunungan untuk mencari tanaman obat."
Sampai sekarang, dia masih belum mengerti penyebab perubahannya itu.
Sebelum jiwanya berpindah ke tubuh ini, mata Xuan Chongyue sama sekali tidak memiliki keanehan. Namun, setelah dia terbangun, warna kedua matanya justru berubah menjadi biru kristal.
Semua itu terasa sangat aneh.
"Chongyue..." Bei Mingye mengulang nama itu perlahan. "Nama yang bagus."
Tatapannya jatuh pada lembaran kain yang kini berada di tangan Chongyue.
"Berdasarkan isi surat itu, keluargamu sepertinya bukan orang biasa."
Jika memang demikian, dia bisa memanfaatkan jaringan intelijen Istana Shiyue untuk menyelidikinya.
Chongyue bayi ditemukan di Benua Timur. Kemungkinan besar, keluarga kandungnya juga berasal dari wilayah yang sama.
Setelah menyimpan kain itu ke dalam pakaiannya, Chongyue kembali menatap Bei Mingye dan bertanya, "Kenapa kau masih di sini?"
Bei Mingye mengangkat sebelah alisnya. "Beginikah caramu memperlakukan orang yang baru saja menyelamatkan nyawamu? Kalau tadi aku tidak turun tangan, sekarang kau sudah menjadi mayat."
Chongyue mendengus pelan. "Kalau bukan karena kau menarikku jatuh ke jurang waktu itu, aku pasti sudah meninggalkan keluarga Xuan sejak lama."
Mendengar balasan itu, Bei Mingye hanya tertawa kecil. "Lalu, menurutmu kau bisa pergi sejauh apa?Selama kau masih berada di wilayah Kerajaan Timur, keluarga Xuan akan terus memburumu."
Chongyue terdiam.
Dia tidak bisa membantah perkataan itu. Dengan kekuatannya saat ini, mustahil baginya menghadapi seluruh keluarga Xuan secara langsung.
"Kau mampu bertarung melawan Xuan Qing, seorang seniman bela diri tingkat lima, selama itu."
Bei Mingye menatapnya penuh perhatian.
"Dari kecepatan dan kekuatan yang kau tunjukkan, sekarang kau seharusnya berada di tingkat tiga."
"Aku sudah tahu." Chongyue mengembuskan napas pelan.
"Tapi hanya mengandalkan tenaga dalam saja masih jauh dari cukup. Tanpa kekuatan elemen, aku tetap berada dalam posisi yang tidak menguntungkan."
Menjadi seorang seniman bela diri memang tidak sulit. Selama kondisi fisik seseorang cukup baik, siapa pun bisa berlatih.
Namun, di Benua Timur, kekuatan elemen jauh lebih menentukan daripada sekadar tenaga dalam.
Xuan Meng, Nona Keempat keluarga Xuan, adalah contohnya.
Dia bukan hanya seorang seniman bela diri tingkat enam, tetapi juga menguasai dua elemen sekaligus, yaitu kayu dan api.
Karena bakatnya yang luar biasa, Xuan Meng dikenal sebagai salah satu jenius terbaik di Kerajaan Dong dan menjadi putri yang paling dibanggakan Xuan Yang.
Xuan Meng, Xuan Qing, dan Xuan Qingqing terlahir dari ibu yang sama, yaitu Du Ru.
Chongyue telah memukuli Xuan Qingqing hingga parah. Du Ru jelas tidak akan tinggal diam. Kemungkinan besar, dia akan meminta Xuan Meng untuk membalasnya.
"Nanti malam aku akan menjemputmu. Aku akan membawamu ke suatu tempat," ucap Bei Mingye sambil berbalik melangkah ke arah pintu.
Langkahnya berhenti tepat di ambang pintu.
Dia menoleh sambil tersenyum tipis. "Untuk sementara, istirahatlah dulu."
Setelah mengucapkan itu, sosoknya menghilang dari depan kamar.
Chongyue hanya bisa menghela napas panjang.
Apakah semua pria di zaman ini memang selalu bertindak sesuka hati?
Dia bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju lemari kayu tua di sudut ruangan.
Sebelumnya, dia telah memasukkan beberapa set pakaian yang masih layak pakai ke dalam sebuah bungkusan kain. Namun, ketika Bei Mingye pergi tadi, pria itu lupa mengembalikan bungkusan miliknya. Akibatnya, kini hanya tersisa dua stel pakaian lusuh dengan warna yang telah memudar di dalam lemari.
Tatapan Chongyue kemudian beralih pada pakaian yang sedang dikenakannya.
Gaun putihnya sudah dipenuhi noda darah. Di beberapa bagian, kainnya bahkan robek akibat tebasan pedang Xuan Qing. Luka-luka di tubuhnya juga masih perlu dibersihkan.
Dengan tubuh yang masih terasa berat, Chongyue mengambil seember air dari sumur, kemudian memanaskannya di atas tungku.
Setelah airnya cukup hangat, dia mulai membersihkan setiap luka di tubuhnya dengan hati-hati.
Rasa perih langsung menjalar ketika air menyentuh luka yang masih terbuka. Namun, ekspresi Chongyue tidak berubah sedikit pun.
Rasa sakit seperti ini bukan apa-apa dibandingkan dengan berbagai siksaan yang pernah dia alami di kehidupan sebelumnya.
Setelah selesai membersihkan lukanya, Chongyue mengganti gaun putihnya dengan pakaian hitam sederhana.
Pakaian itu merupakan pemberian seorang pelayan tua yang diam-diam merasa kasihan kepadanya beberapa tahun yang lalu. Karena pernah tersangkut hingga sedikit robek, pemilik tubuh ini tidak tega mengenakannya lagi. Dia justru menyimpannya di dalam lemari, seolah pakaian sederhana itu merupakan benda yang sangat berharga.
Melihat pakaian itu, hati Chongyue terasa sedikit hangat.
Ternyata, di tengah keluarga Xuan yang dipenuhi kekejaman, masih ada seseorang yang pernah menunjukkan sedikit kebaikan kepada pemilik tubuh ini.
Setelah semuanya selesai, tubuh Chongyue perlahan terasa lebih ringan.
Pil obat yang diberikan Bei Mingye sepertinya mulai menunjukkan khasiatnya. Luka di dalam tubuhnya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi rasa sakit yang tadi terasa menusuk kini sudah jauh berkurang.
Rasa kantuk yang berat perlahan menyerangnya.
Tanpa banyak berpikir, Chongyue berbaring di atas ranjang.
Tak lama kemudian, dia tertidur.
Di dalam mimpinya...
Chongyue berdiri di sebuah dataran yang sangat luas.
Di hadapannya terbentang lautan manusia yang seolah tidak memiliki ujung. Suara-suara ramai terdengar dari segala penjuru, tetapi dia tidak memahami apa yang sedang mereka bicarakan.
Di tengah kerumunan itu, seorang pria bertubuh tinggi sedang menggendong seorang bayi.
Tidak jauh dari pria itu berdiri seorang wanita dengan paras yang luar biasa cantik. Di samping wanita tersebut berdiri seorang anak kecil, sementara di sisi anak itu berdiri seorang pria lain.
Tatapan Chongyue langsung tertuju kepada pria lain tersebut.
Sepasang mata pria itu berwarna biru kristal. Warna yang sama persis dengan matanya sekarang.
Dia berusaha mendekat untuk melihat wajah pria itu dengan lebih jelas.
Namun, sebelum dia sempat melihatnya, seluruh pemandangan di hadapannya tiba-tiba berubah.
Api berkobar ke segala arah.
Langit berubah menjadi merah darah, sementara jeritan manusia menggema dari berbagai penjuru.
Makhluk-makhluk berwujud manusia dengan taring tajam—vampir—berlarian di tengah lautan manusia. Mereka menerkam siapa pun yang berada di hadapan mereka.
Darah mengalir di mana-mana.
Jeritan kesakitan dan teriakan penuh ketakutan bercampur menjadi satu, menciptakan pemandangan mengerikan yang membuat seluruh dataran berubah seperti neraka.
Dalam waktu singkat, tempat yang sebelumnya dipenuhi manusia berubah menjadi lautan mayat.
Chongyue membeku.
Pemandangan itu...
Begitu mirip dengan tragedi mengerikan yang pernah dia alami di kehidupan sebelumnya.
_________________
Chongyue membuka matanya perlahan.
Langit di luar jendela telah berubah jingga, menandakan hari mulai mendekati malam.
Dia bangkit dan duduk di atas ranjang, lalu memijat pelipisnya. Mimpi tadi masih tergambar jelas di dalam pikirannya.
Namun, yang paling mengganggunya bukanlah kemunculan para vampir tersebut.
Melainkan empat sosok yang muncul sebelum semuanya berubah menjadi lautan api.
Wanita itu, anak kecil itu, bayi itu, dan... Pria bermata biru.
Ini bukan pertama kalinya mereka muncul dalam mimpinya. Sebelumnya, Chongyue juga pernah melihat wanita, bayi, serta anak kecil itu.
Hanya saja, kali ini sosok pria bermata biru ikut muncul.
Yang lebih mengejutkan, warna mata pria itu benar-benar sama dengan warna matanya sekarang.
Mungkinkah...
Mungkinkah pria itu memiliki hubungan darah denganku?
Chongyue mengembuskan napas pelan.
Semakin banyak petunjuk yang muncul, semakin besar pula rasa penasarannya terhadap identitas tubuhnya ini.
Dia harus menemukan jawabannya suatu hari nanti.
Setelah mengusir berbagai pikiran yang memenuhi kepalanya, Chongyue turun dari ranjang dan berjalan keluar menuju halaman.
Suasana di luar begitu tenang.
Sejak kejadian siang tadi, tidak ada siapa pun yang datang mengganggunya lagi. Sepertinya ancaman Bei Mingye benar-benar membuat mereka takut.
Chongyue mendongak menatap langit yang mulai menggelap.
Bei Mingye...
Siapa sebenarnya dirimu?
Semakin mengenal pria itu, semakin sulit juga baginya untuk menebak identitas sebenarnya.
Yang jelas, kekuatan Istana Shiyue jauh lebih besar daripada yang dia bayangkan.
Jika ingin bertahan hidup di dunia ini, dia harus segera memahami kekuatan-kekuatan yang ada di Benua Timur.