NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Kota Besar

Satu bulan telah berlalu sejak Gala melangkahkan kaki keluar dari gerbang desa. Kota besar yang dulu hanya ia dengar namanya dari cerita orang-orang, kini berdiri gagah dan megah tepat di hadapannya. Penuh hiruk-pikuk, gedung-gedung menjulang tinggi menembus awan, lalu lintas yang tak pernah berhenti, serta persaingan hidup yang keras dan tak kenal ampun.

Selama satu bulan itu, tak ada satu pun pekerjaan ringan atau nyaman yang menyambut Gala. Pria itu harus berjuang sekuat tenaga, menundukkan kepala, dan memeras keringat demi sekadar bertahan hidup di tengah keramaian yang terasa asing. Hari-harinya dimulai jauh sebelum matahari terbit, saat udara masih dingin dan jalanan masih sepi, ia sudah berjalan kaki berkilometer-kilometer menuju lokasi proyek pembangunan untuk bekerja sebagai buruh bangunan. Mengangkat batu bata, mengaduk semen, mengangkut pasir, semua ia kerjakan dengan tekun.

Bila pekerjaan di lokasi berhenti sementara atau penghasilannya terasa belum cukup untuk makan dan menabung, Gala tak tinggal diam. Ia beralih menjadi kuli angkut di pasar induk yang sangat luas, mendorong gerobak berisi sayuran seberat ratusan kilogram, memikul peti buah yang keras dan tajam hingga bahunya terasa panas dan kaku.

Keringat menetes berlebihan, bercampur debu jalanan, hingga matanya terasa perih dan panas, tenggorokannya kering kerontang seolah terbakar. Untuk menghemat uang, seringkali ia hanya makan sepotong roti keras atau sepiring nasi hangat dengan sayur bening saja. Sebagian besar upah yang ia peroleh disisihkan dan dimasukkan ke dalam amplop tua yang selalu ia simpan di bagian paling dalam tasnya, disimpan rapat-rapat demi satu tujuan, pulang membawa kesuksesan.

Setiap malam, saat berbaring di atas kasur tipis yang berderit dan empuk hanya di bagian pinggir, tubuhnya terasa nyeri dan pegal luar biasa. Namun tangan Gala tanpa sadar selalu meraba sapu tangan bermotif bunga melati yang diberikan Mawar sebelum berangkat, benda kecil itu menjadi tanda janji, menjadi pengingat bahwa ia harus kembali dengan kemenangan, dan mereka akan bersatu selamanya.

“Sabar ya, Mawar… Aku pasti berusaha sekuat tenaga, sampai tetes keringat terakhirku,” bisik Gala pelan di dalam kegelapan, menahan rasa sakit di tubuh sekaligus rindu yang menyayat hati hingga ke ulu hati.

 ***

Hari itu, cuaca kota terasa mendung kelabu, awan hitam menumpuk tebal di langit, angin berhembus kencang membawa debu dan daun kering berputar di udara. Gala baru saja selesai membantu memuat barang berat di sebuah gudang besar. Ia berniat pulang lebih awal, beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pekerjaan keesokan harinya. Ia berjalan menyusuri trotoar yang agak sepi di pinggir taman kota yang rindang, tangannya memegang tas kain lusuh yang berisi bekal sisa makan siang dan baju ganti.

Tiba-tiba, suara jeritan panik dan melengking memecah keheningan sore itu.

“Tolong! Tolong! Tas saya diambil! Kembalikan tas saya!”

Gala menoleh cepat ke arah sumber suara. Dari seberang jalan raya, terlihat seorang pria tua berjalan tertatih-tatih, napasnya terengah-engah sambil menunjuk ke arah sosok bertudung yang berlari kencang menerobos keramaian. Sosok itu memegang erat tas kulit berwarna cokelat, wajahnya tertutup sebagian kain, matanya melirik liar ke kiri dan kanan mencari jalan paling cepat untuk lolos.

Detik itu juga, naluri ingin menolong bergerak kuat di dalam dada Gala. Tanpa berpikir panjang, ia menyingkirkan tas kainnya ke pinggir tembok, lalu membuka langkah lebar-lebar, menancapkan kakinya kuat di tanah, dan bergerak lari memotong jalan untuk menghadang.

“Berhenti!” seru Gala lantang, suaranya bergema tegas.

Si pencuri itu terkejut setengah mati, tak menyangka ada orang yang berani dan sigap menghadangnya di tengah jalan. Ia mencoba membelokkan arah larinya secara tiba-tiba untuk mengelak, namun kecepatan dan ketangkasan Gala terlalu tinggi. Tubuh si pencuri akhirnya menabrak keras ke bahu Gala, kehilangan keseimbangan, lalu jatuh tersungkur ke aspal yang keras. Tas yang dicurinya terlempar jauh, berguling beberapa meter sebelum berhenti di dekat pagar taman.

Si pencuri itu bangkit dengan cepat, melihat beberapa orang lain mulai berlari mendekat karena tertarik keributan itu, akhirnya memilih melarikan diri ke gang sempit di sela-sela gedung tanpa membawa apa-apa lagi.

Gala tak mengejar, ia segera berjalan mendekati tas itu, mengangkatnya dengan hati-hati, lalu berbalik menghadap pria tua yang kini berjalan mendekat perlahan dengan wajah pucat ketakutan.

“Bapak tidak apa-apa? Apakah ada yang terluka?” tanya Gala sambil menyerahkan tas itu kembali ke pemiliknya.

Pria tua itu memegang tasnya erat sekali, seolah takut tas itu akan hilang lagi, lalu menatap Gala lekat-lekat dari atas sampai bawah. Meski napasnya belum tenang, sorot matanya tajam namun menyiratkan rasa syukur yang mendalam.

“Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak,” ucap pria tua itu penuh berwibawa. “Jika kau tidak berani menghadang penjahat itu tadi, saya pasti akan kehilangan dokumen-dokumen yang sangat penting dan berharga di dalam tas ini. Kerugiannya bisa mencapai triliunan rupiah, bahkan bisa menghancurkan usaha yang saya bangun puluhan tahun.”

“Sama-sama, Pak. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan setiap orang. Bapak tidak perlu berlebihan berterima kasih,” jawab Gala sambil tersenyum tulus, lalu berbalik hendak mengambil tas kainnya yang tadi diletakkan di pinggir jalan.

Pria tua itu mengangguk pelan, matanya tak lepas dari wajah pemuda itu. Ia melangkah mendekat dan menyodorkan tangan.

“Perkenalkan, nama saya Hans Winata.”

“Saya Gala, Pak.” jawab Gala sambil menyambut uluran tangan itu dengan sopan dan hormat.

Pak Hans menatap Gala lebih lama lagi, memperhatikan tangan pemuda itu yang penuh kapalan dan bekas luka kecil, baju yang lusuh dan sederhana namun tetap terlihat bersih dan rapi, serta tatapan mata yang jujur, tenang, dan tanpa kepura-puraan sedikit pun. Di tengah kota besar yang penuh tipu muslihat dan kepentingan diri sendiri, kejujuran seperti ini sungguh langka ditemukan.

Pak Hans lalu merogoh saku dalam jas mahalnya, mengambil selembar kertas cek dan pena emas, lalu menuliskan sejumlah angka yang sangat besar, jumlah yang membuat mata Gala terbelalak tak percaya, nilainya setara dengan penghasilannya bekerja keras selama berbulan-bulan bahkan hampir satu tahun penuh.

“Ini sebagai tanda terima kasih saya, Nak Gala. Ambillah, ini belum seberapa dibandingkan kerugian besar yang mungkin saya alami jika tas ini benar-benar hilang,” kata Pak Hans sambil menyodorkan kertas itu.

Gala menatap kertas cek itu sejenak, lalu menggeleng pelan dan menolaknya dengan sopan namun tegas.

“Maaf, Pak Hans. Saya tidak bisa menerimanya.”

“Mengapa? Bukankah kau sangat butuh uang? Saya tahu betul bagaimana keadaan anak muda yang merantau ke kota ini, berjuang mati-matian demi bertahan hidup,” tegas Pak Hans, sedikit terkejut sekaligus kagum.

“Benar, Pak. Saya memang butuh uang, sangat butuh. Tapi saya menolong Bapak bukan karena mengharap imbalan atau upah. Saya ikhlas melakukannya karena itu hal yang benar. Saya tidak mau mengubah kebaikan menjadi sesuatu yang bernilai materi saja,” jawab Gala mantap, matanya menatap lurus ke mata Pak Hans tanpa ragu atau takut.

“Ibu saya selalu mengajarkan sejak kecil, jika menolong orang lain jangan mengharap balasan, karena kebaikan itu sendiri adalah balasan, dan keberuntungan pasti akan datang dari jalan yang tak disangka-sangka.” tambah Gala dengan nada lembut.

Pak Hans terdiam sejenak, lalu senyum tipis namun hangat dan tulus terukir di bibirnya. Rasa hormat dan kekaguman perlahan mengisi tatapan pria tua itu. Selama puluhan tahun berbisnis dan berkeliling dunia, ia jarang sekali menemukan orang yang tetap teguh pada prinsip kejujuran dan ketulusan di tengah godaan materi sebesar itu. Terutama anak muda yang sedang berjuang keras seperti Gala.

“Kau anak yang luar biasa, Gala. Kejujuran dan ketulusanmu sungguh berharga, jauh lebih mahal daripada uang kertas apa pun,” ucap Pak Hans pelan dan tulus.

“Kalau kau tidak mau menerima uang sebagai hadiah, bagaimana jika kau bekerja dengan saya? Saya memiliki banyak perusahaan di berbagai bidang, mulai dari properti, perdagangan, hingga investasi yang tersebar di seluruh negeri bahkan hingga ke luar negeri. Selama ini saya kesulitan mencari orang yang bisa dipercaya sepenuh hati seperti kamu. Saya butuh orang yang jujur, tekun, dan berprinsip.”

Pak Hans terdiam sejenak, menatap wajah pemuda itu yang penuh keheranan, lalu melanjutkan dengan nada serius namun ramah.

“Bagaimana kalau saya tawarkan posisi staf pengawas proyek di salah satu perusahaan properti saya? Gajinya lebih dari cukup untuk kebutuhanmu, ada tunjangan tempat tinggal, dan peluang berkembang yang sangat besar jika kau bekerja dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.”

Jantung Gala berdegup kencang tak percaya, rasanya seperti bermimpi indah. Ia tak pernah membayangkan nasib baik akan datang secepat dan seindah ini. Namun ia segera mengumpulkan kesadarannya, menunduk sedikit dengan sopan dan rendah hati.

“Terima kasih banyak atas kepercayaan dan tawaran baik anda, Pak Hans. Saya menerima tawaran ini dengan senang hati dan rasa syukur yang besar. Saya berjanji akan bekerja sebaik mungkin, menjaga kepercayaan yang Bapak berikan, dan tidak akan mengecewakan Bapak maupun perusahaan,” ucap Gala dengan suara mantap.

“Bagus, sangat bagus! Besok pagi pukul delapan tepat kau datang ke kantor pusat saya di gedung Winata Lantai 20. Tanyakan pada resepsionis, katakan kau diundang oleh Hans Winata. Saya menantikan kerja sama dan kesuksesan kita ke depannya,” kata Pak Hans sambil menepuk bahu Gala pelan dengan penuh rasa hormat.

Setelah berpamitan, Gala berjalan meninggalkan taman itu dengan langkah yang kini terasa jauh lebih ringan dan berisi, meski bahunya masih terasa sisa lelah hari-hari sebelumnya. Di dalam hati, rasa syukur meluap-luap seolah air sungai yang tak pernah berhenti mengalir.

“Mawar... dengarkanlah. Jalanku mulai terbuka lebar, cahaya mulai menyinari jalan yang aku tempuh. Semakin cepat aku sukses, semakin cepat pula aku bisa pulang, menjemputmu, dan kita bisa bersatu selamanya,” batin Gala seraya menatap langit yang perlahan mulai terang kembali, seolah awan mendung tadi hanyalah ujian kecil sebelum sinar matahari kembali menyapa dengan kehangatan penuh.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!