Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Perang Saraf di Bursa Saham
Selamat membaca...
___________
Suasana di lantai empat puluh lima Adijaya Tower mendadak berubah menjadi medan perang yang memanas. Layar-layar monitor besar di ruang rapat utama menampilkan grafik saham Adijaya Group yang merosot tajam akibat aksi jual dan beli secara tidak wajar oleh akun-akun anonim.
Evan melangkah lebar memasuki ruang rapat dengan aura intimidasi yang meluap-luap. Di belakangnya, Aura mengekor dengan langkah tenang namun pandangan matanya sangat fokus.
Di dalam ruangan, Siska Adijaya dan Raka sedang duduk di kursi direksi dengan senyum kembang kempis yang dipaksakan. Beberapa jajaran pemegang saham minoritas tampak gelisah membicarakan anjloknya nilai saham anak perusahaan Adijaya Properti.
"Ada apa dengan rapat mendadak ini?" suara Evan menggelegar dingin, memutus kebisingan di dalam ruangan.
Siska menegakkan posisi duduknya, menyandarkan tangan di atas meja dengan lagak memegang kendali. "Evan... akhirnya kau datang juga. Kami terpaksa menggelar rapat darurat karena harga saham anak perusahaan kita merosot lima belas persen hanya dalam waktu satu jam! Pasar panik, Evan."
Raka menimpal dengan nada provokatif, "Sebagai Komisaris Utama, kau dianggap lalai mengantisipasi serangan spekulan pasar. Jika ini dibiarkan sampai penutupan bursa sore nanti, kerugian kita bisa mencapai ratusan miliar!"
Evan mendudukkan dirinya di kursi kebesaran Presdir, melipat kedua tangannya di atas meja tanpa sedikit pun menunjukkan rasa cemas.
"Serangan spekulan?" pungkas Evan seraya mengumbar senyum tipis yang sarat akan cemoohan. "Kalian menyebut aksi hostile takeover dari Pratama Group ini sebagai sekadar serangan spekulan?"
Siska dan Raka tersentak kecil. Mereka tidak menyangka Evan bisa menebak keterlibatan Aris Pratama begitu cepat.
"Tuan Evan," sela Aura yang berdiri di samping layar monitor utama, membuka dokumen analisis transaksi real-time yang baru saja ia selesaikan. "Berdasarkan penelusuran portofolio dan pola transaksi lima belas menit terakhir, aksi borong saham ini menggunakan tiga perusahaan cangkang yang terdaftar di Singapura. Ketiganya terhubung pada satu rekening penampung milik Pratama Holdings."
Jajaran pemegang saham di dalam ruangan seketika kasak-kusuk, terpukau oleh kejelian analisis Aura.
Aura menatap Siska dan Raka dengan pandangan lurus tanpa gentar. "Selain itu, penjualan saham secara masif yang memicu kepanikan pasar ini berasal dari pemblokiran dana internal sebesar sepuluh persen... yang secara kebetulan disetujui oleh akun direksi Nyonya Siska dua jam lalu."
Brak!
Siska menepuk meja dengan wajah merah padam. "Jj-jangan asal bicara kau, Aura! Kau hanya seorang asisten sekretaris, tahu apa kau tentang transaksi pasar modal?!"
"Dia adalah istriku sekaligus kepala tim akuntansi forensik Adijaya Group," potong Evan dengan nada suara yang membekukan atmosfer ruangan. "Ucapannya adalah representasi resmi dariku."
Evan berdiri, memandangi Siska dan Raka dengan tatapan menusuk.
"Kalian mengira kerja sama rahasia kalian dengan Aris Pratama bisa menjatuhkanku dari kursi ini?" desis Evan dingin. "Kalian menjual saham internal untuk memicu penurunan harga, lalu memberi kesempatan pada Aris untuk membeli saham tersebut dengan harga murah. Sebuah taktik pengkhianatan yang sangat dangkal."
Raka mulai panik, menyikut lengan ibunya. "I-itu tidak benar! Kami hanya berusaha menyelamatkan aset!"
"Bimo," panggil Evan tanpa menoleh.
"Siap, Tuan Presdir," Bimo maju selangkah seraya menyerahkan sebuah tablet digital pada Evan.
Evan menekan beberapa tombol di layar tablet tersebut. "Detik ini juga, aku menyuntikkan dana cadangan sebesar lima ratus miliar rupiah dari rekening pribadi keluarga Adijaya untuk memborong kembali seluruh saham yang dijual Aris di bursa."
Layar monitor utama seketika berubah warna. Grafik nilai saham Adijaya Properti yang tadinya merosot tajam, mendadak melonjak naik secara vertikal dengan kecepatan fantastis!
Aksi buyback instan bernilai fantastis yang dilakukan Evan tidak hanya menyelamatkan harga saham perusahaan, tapi juga menjebak Aris Pratama dalam kerugian puluhan miliar karena saham murah yang ia incar mendadak melambung tinggi dalam hitungan detik.
Para pemegang saham minoritas di dalam ruangan seketika bersorak lega dan memberikan tepuk tangan riuh atas keputusan jenius Evan.
Siska mengepalkan tangannya rapat-rapat, tubuhnya gemetaran menahan malu dan kekalahan telak di depan jajaran direksi. Rencana B yang disusunnya bersama Aris untuk menggulingkan Evan justru berbalik menghancurkan investasi pribadi milik Pratama Group.
Evan melangkah mendekati Siska, menundukkan tubuhnya sedikit hingga berbisik tepat di samping telinga ibu tirinya itu.
"Sampaikan pada Aris Pratama..." bisik Evan dengan senyum mematikan. "Bermain api denganku di bursa saham hanya akan membuat perusahaannya terbakar menjadi abu. Dan untukmu, Siska... wewenangmu di yayasan dan anak perusahaan resmi kucabut mulai hari ini."
Siska membelalak tak percaya saat Evan kembali menegakkan tubuhnya, meraih jemari Aura dengan lembut di depan semua orang.
"Rapat selesai," tegas Evan.
Aura menatap profil wajah Evan dari samping. Ketegasan, kehebatan, dan rasa percaya diri yang dipancarkan pria itu benar-benar membuat hatinya makin terikat erat.
Namun, saat mereka melangkah keluar dari ruang rapat, ponsel Aura di dalam tasnya bergetar pelan. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor asing yang baru.
'Evan memang menang di bursa saham, Aura... Tapi bagaimana dengan adikmu di rumah barunya?'
Aura seketika membeku di lorong kantor. Wajah bahagianya mendadak sirna digantikan oleh rasa horor yang mencekat tenggorokan.
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...