Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After Days
Beberapa hari berlalu sejak malam yang mengubah hidup Aragoto untuk selamanya—malam di mana ia mengetahui rahasia darah birunya dan malam di mana ia merenggut nyawa Jesslyn. Di kamar tidur pribadi Ratu Miyura yang megah dan dipenuhi hiasan sutra, suasana sore itu tampak lebih tenang dari biasanya.
Pintu kamar bergeser pelan, dan Aragoto melangkah masuk dengan hati-hati. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah keranjang rotan kecil beralaskan kain lembut. Di dalam keranjang tersebut, seekor anak kucing berbulu putih bersih dengan corak abu-abu di telinganya sedang meringkuk malu-malu.
Miyura, yang sedang duduk di kursi riasnya sambil menyisir rambut panjangnya, menoleh ke arah pintu. Alisnya terangkat sebelah, menampakkan rasa penasaran.
"Aragoto? Apa yang kau bawa di dalam keranjang itu?" tanya Miyura dengan nada penasaran yang terdengar manja, sementara sudut bibirnya tersenyum kecil menyambut pelayan sekaligus bayangan setianya.
Aragoto berhenti tepat beberapa langkah di depan sang ratu, lalu membungkuk hormat sebelum mengangkat keranjang tersebut sedikit lebih tinggi. "Yang Mulia, saya membawakan sesuatu untuk Anda. Saya berpikir... kucing kesayangan Anda yang berbulu hitam itu sepertinya kesepian di kamar yang sebesar ini."
Miyura berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekat. Begitu ia mengintip ke dalam keranjang dan melihat anak kucing putih berbulu lembut itu, kedua matanya langsung berbinar cerah. Wajah dingin sang diktator muda itu seketika melunak, menampilkan sisi kekanakan yang jarang sekali dilihat orang lain.
"Wah..." gumam Miyura takjub, lalu ia langsung mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkat anak kucing tersebut dari keranjang. "Dia sangat imut, Aragoto! Kau benar, kucing hitamku selama ini memang terlihat murung karena sendirian."
Anak kucing putih itu mengeong pelan saat berada di dalam dekapan hangat sang ratu. Miyura membawanya ke atas tempat tidur berkanopi, lalu membiarkan kucing hitam lamanya mendekati dan mengendus-endus pendatang baru tersebut.
Sambil mengelus bulu kedua hewannya dengan penuh kasih sayang, Miyura mendongakkan kepalanya, menoleh ke arah Aragoto yang berdiri dengan tenang di dekat pintu.
"Lihat mereka, Aragoto," ujar Miyura dengan senyuman lebar, suaranya terdengar begitu riang. "Mereka langsung akur, kan? Kau selalu tahu bagaimana caranya membuat hatiku senang di saat aku penat mengurus urusan kerajaan."
Aragoto membalas tatapan itu dengan ketenangan yang dipaksakan di balik topeng profesionalismenya. Ia menatap saudari kembarnya sendiri—orang yang tidak ia ketahui memiliki hubungan darah daripadanya—yang kini tersenyum begitu manis tanpa dosa, tidak sadar bahwa darah orang tak berdosa telah dikorbankan demi ketenangan singgasananya.
"Merupakan sebuah kehormatan bagi saya bisa melihat Anda bahagia, Yang Mulia," jawab Aragoto tenang, menyunggingkan seulas senyuman tipis yang tulus di bibirnya. "Semoga kehadiran kucing baru ini bisa menemani hari-hari Anda di istana."
Miyura kembali menoleh ke arah dua kucingnya yang kini saling berkejaran di atas seprai sutra, lalu tertawa kecil. "Tentu saja! Aku akan merawatnya dengan baik. Terima kasih banyak, Aragoto. Kau memang pelayan terbaik yang pernah kumiliki."
Aragoto hanya diam menanggapi pujian itu, menelan pahit di tenggorokannya sendiri sementara bayang-bayang masa lalu dan dendam yang mulai membara di luar istana terus berputar di dalam kepalanya.
Sambil asyik menggelitik dagu anak kucing putih yang baru saja diberikan oleh Aragoto, Miyura mendengus kecil. Senyuman ceria di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan ekspresi cemberut yang memperlihatkan sisi kekanakannya.
"Terkadang, aku benar-benar merasa muak, Aragoto," gumam Miyura pelan, suaranya terdengar kesal sembari membelai bulu halus kucing hitamnya yang sedang melingkar di atas pangkuannya. "Aku sangat membenci Ayah. Beliau selalu bersikap begitu tegas, mengekang setiap gerak-gerikku, dan melarangku melakukan apa pun yang benar-benar ingin kulakukan."
Miyura menoleh sekilas ke arah jendela besar kamar tidurnya, menatap bayangan langit malam istana dengan tatapan sinis. "Setiap kali aku ingin menikmati kebebasan atau sekadar bersenang-senang seperti gadis normal lainnya, yang selalu ia katakan hanyalah tuntutan dan aturan. Beliau tidak pernah peduli apa maumu; ia hanya menyuruhku duduk di singgasana, menjadi Ratu selanjutnya, dan menuruti seluruh ambisi gilanya tanpa boleh membantah."
Mendengar keluhan yang meluncur begitu saja dari bibir saudari kembarnya—gadis yang dinobatkan sebagai Ratu dan memegang kendali atas hidupnya—Aragoto hanya terdiam seribu bahasa. Ia tetap berdiri tegak di tempatnya dengan kedua tangan bersidekap di depan dada, memasang topeng ketenangan yang sempurna.
Di balik ekspresi datarnya itu, pikiran Aragoto bergolak hebat. Ia menatap Miyura dengan perasaan campur aduk; ada rasa iba melihat bagaimana saudari kandungnya itu dipenjara oleh ambisi sang Raja, namun di sisi lain, kebencian yang mendalam terhadap sang penguasa tiran semakin berakar kuat di dalam dadanya. Aragoto tahu betul betapa kejamnya bayang-bayang kekuasaan yang telah merusak keluarga mereka, membuat mereka berdua terjebak dalam lingkaran darah, takhta, dan penderitaan yang tak berujung.
Miyura berhenti mengelus kucingnya, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap Aragoto yang berdiri diam di dekat pintu. Senyuman tipis kembali menghiasi bibirnya setelah ia meluapkan kekesalannya tentang sang raja.
"Oh, iya," ucap Miyura sambil menunjuk anak kucing putih di pangkuannya dengan jari telunjuknya. "Ngomong-ngomong, siapa nama kucing putih imut ini? Kau sudah menyiapkan nama untuknya, Aragoto?"
Aragoto sedikit menundukkan kepalanya, merespons pertanyaan sang ratu dengan tenang. "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya belum sempat memikirkan atau menentukan namanya."
Mendengar jawaban itu, Miyura justru tersenyum lebar, tampak antusias. "Wah, kalau begitu biarkan aku saja yang memberinya nama!"
Miyura menatap lekat-lekat anak kucing putih berbulu lembut itu sambil berpikir sejenak, lalu kembali bersuara dengan riang. "Hmm... bagaimana kalau kuberi nama Shiro? Karena bulunya seputih salju dan bersih." Ia kemudian menoleh ke arah kucing hitam yang berada di sebelah kanannya, lalu memperkenalkan peliharaan lamanya itu kepada si pendatang baru. "Dan yang ini, kenalkan, namanya Kuro, kakak seniornya yang setia menemaniku di kamar ini."