Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.
Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.
Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.
Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.
Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.
Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Awal baru
"Anak-anak!"
Sebuah suara lembut yang sangat familier sukses membuat mereka semua spontan menoleh.
"Nona Seraphina?" gumam Airyn saat wanita anggun itu melangkah cepat mendekati mereka.
"Ayo ikuti saya kembali ke dalam. Diskusi para petinggi sudah usai dan kalian perlu mendengar hasilnya secara langsung." Tutur Seraphina dengan nada ramah namun penuh penegasan.
"Urusan kita belum selesai. Lihat saja nanti!" Cetus Stella tajam. Gadis bersurai pirang itu berbalik dengan langkah angkuh, disusul oleh Emery yang mengekor rapat di belakangnya.
Teira segera mendorong Andrew yang masih mencengkeram kerah jubahnya, lalu berjalan melenggang begitu saja. Andrew yang tampak amat gusar tidak punya pilihan selain menyusul di barisan belakang sambil menggeletukkan gigi. Sementara itu, Snow berjalan paling depan, tenang dan dingin tepat di balik langkah Seraphina.
"Flora, kau tidak apa-apa, kan?" Tanya Airyn cemas. Di balik kelembutan dan sifat pemalu gadis itu, rupanya tersimpan daya ledak elemen tanah yang luar biasa.
"A-aku tidak apa-apa," sahut Flora malu-malu, seketika kembali ke versi dirinya yang lugu dan pemalu.
"Kita harus segera kembali, ayo!" Ajak William pada kedua gadis di sampingnya.
Airyn menggamit jemari Flora dengan hangat. Mereka berjalan berdampingan menuju gedung aliansi, sementara William melangkah tegap menjaga mereka dari belakang.
Atmosfer di dalam ruang pertemuan terasa jauh berbeda. Para pewaris muda kembali menduduki kursi masing-masing, Kaelen yang melihat Airyn melangkah masuk langsung bangkit dan merengkuh keponakannya itu dalam pelukan erat.
Airyn tersentak kecil mendapat perlakuan mendadak sang paman. "Paman?"
Kaelen tidak menjawab. Ia perlahan melepaskan pelukannya, lalu menggenggam kedua telapak tangan Airyn begitu kuat—seolah takut gadis itu akan lenyap jika dilepaskan.
"Baiklah, Tuan dan Nona sekalian," pimpin Profesor Alistair berdiri di tengah meja dewan.
"Setelah melalui perdebatan panjang hari ini, Dewan Asteria bersama seluruh perwakilan penguasa elemen di dataran Astergald menetapkan keputusan akhir: kita akan mendidik dan mempersiapkan para Aetherist muda untuk menghadapi potensi bahaya perang. Terhitung mulai hari ini, seluruh Aetherist muda resmi menetap dan memulai pendidikan mereka di Asteria."
Ketuk!
Palu kayu diketukkan ke atas meja, meresmikan kesepakatan agung tersebut secara hukum benua.
Genggaman tangan Kaelen makin mengetat. Airyn tahu persis betapa khawatirnya pria di sampingnya ini. Dengan lembut, Airyn mengangkat sebelah tangannya menyentuh pipi Kaelen, memaksa iris mata sang raja untuk bertatap muka dengannya.
‘Jangan khawatir, Paman. Aku akan baik-baik saja,’ bisik Airyn lewat jalur telepati sihirnya seraya menyunggingkan senyum hangat.
Kaelen yang tak sanggup menahan haru kembali memeluk erat keponakannya. "Paman hanya takut kita berpisah lagi..." bisiknya lirih tepat di telinga Airyn.
Airyn menepuk-nepuk pelan punggung tegap sang paman. "Tidak apa-apa, Paman. Kita berdua sudah saling tahu di mana keberadaan masing-masing sekarang," hibur Airyn menenangkan.
Rasa haru menyeruak di dada—baru satu bulan mereka berkumpul kembali sebagai keluarga, dan kini keadaan memaksa mereka untuk berpisah lagi.
Di sudut ruangan lain, Robert sang kesatria pelindung juga memandang Flora dengan raut cemas. Berat baginya meninggalkan sang nona muda sendirian di tempat asing ini.
"Tak apa-apa, Robert. Aku sudah punya teman di sini," bisik Flora lembut sambil melirik ke arah Airyn yang sedang berpelukan dengan pamannya.
Melihat hal itu, Robert menghela napas lega. Setidaknya sang nona tidak benar-benar sebatang kara di kota yang asing ini.
Setelah prosesi penandatanganan dikrit kesepakatan selesai, para Aetherist generasi senior diberikan kesempatan terakhir untuk berpamitan.
Diskusi panjang nan sengit yang menguras tenaga itu, akhirnya ditutup tepat saat sang surya tergelincir ke ufuk barat, memancarkan pendar jingga keemasan.
Tak lama kemudian, sebuah Aether-Gate raksasa dibuka di tengah balairung untuk mengantarkan para penguasa senior pulang ke wilayah masing-masing.
"Airyn, rajin-rajinlah memberi kabar!" Seru Kaelen tepat di ambang pintu portal.
"Tentu, Paman! Aku janji!" Balas Airyn melambaikan tangan tinggi-tinggi hingga bayangan Kaelen tertelan pendar cahaya portal yang melenyap sempurna.
Kini, ruangan megah itu menyisakan delapan anak muda di bawah naungan tempat baru yang amat asing bagi mereka.
"Baiklah semuanya," pangkas Profesor Alistair menatap delapan pewaris di hadapannya.
"Selama berada di Asteria, tidak peduli apa status kalian di luar sana, entah tuan muda, seorang nona, atau bahkan seorang putri sekalipun, kalian semua berkedudukan setara sebagai murid. Mulai besok, kalian akan menjalani latihan intensif untuk memaksimalkan kekuatan kalian. Tak hanya fisik, wawasan sejarah dan strategi pertempuran kalian juga akan diuji."
Alistair melanjutkan, "Malam ini, silakan beristirahat di peraduan kalian. Besok fajar kita berkumpul kembali disini."
Usai pengumuman, mereka diantar kembali ke tempat peristirahatan. Koridor wisma terasa lumayan sepi tanpa kehadiran para pengawal dan rombongan kerajaan.
"A-Airyn... bolehkah aku menginap di kamarmu malam ini?" Tanya Flora pelan saat mereka menyusuri lorong.
Airyn langsung menyambutnya bersemangat. "Tentu saja! Kamarnya sangat luas, justru terasa sepi kalau aku sendirian di dalam."
"Aku ambil baju ganti dulu, ya," pamit Flora.
Airyn mengekor di belakangnya. Ternyata kamar Flora berada tepat di sebelah kamarnya. Rasa penasaran mendorong Airyn untuk ikut masuk kedalam.
Begitu pintu terbuka, suasana teduh langsung menyapa. Sebuah pohon rindang tumbuh kokoh tepat di tengah ruangan, berpadu dengan ornamen cat hijau pastel dan aroma harum dedaunan hutan yang menenangkan. Sangat kontras dengan kamar Airyn yang serba biru bahari.
"Sejuk sekali di sini," puji Airyn terpana.
Flora tersenyum manis lalu mulai mengeluarkan beberapa stel pakaian ganti dari dalam lemari—semuanya bernuansa hijau, merah muda pastel, dan putih yang sangat cocok dengan kepribadiannya.
"Hei, sedang apa kalian?"
Sebuah suara mendadak mengejutkan mereka berdua. William sudah berdiri santai di ambang pintu yang terbuka.
"Kau ini bikin kaget saja!" Seru Airyn sambil memegangi dadanya.
"Pintunya terbuka lebar, makanya aku masuk," Sahut William menyunggingkan senyum tanpa dosa.
Airyn yang jengkel berniat mendorong pintu untuk menguncinya keluar, namun pemuda bersurai nila itu justru melangkah masuk lebih dulu ke dalam kamar Flora. Sikap sok akrab William makin memicu rasa kesal Airyn.
"Ayo, Airyn! Aku sudah selesai," pangkas Flora seraya memeluk buntalan pakaian gantinya.
Airyn buru-buru menarik lengan Flora menuju kamarnya sendiri, sengaja mengabaikan William yang berniat mengekor lagi. Begitu Flora berhasil melangkah masuk ke kamarnya, Airyn dengan sigap langsung membanting pintu kayu itu.
BAM!
Hidung William hampir saja membentur permukaan kayu keras yang tertutup rapat persis di depan wajahnya. Di balik pintu, pemuda itu hanya bisa tertawa kecil, memaklumi tingkah sengit sang Putri Tidebay, lalu melangkah santai menuju kamarnya sendiri yang tak jauh dari sana.
Airyn juga terkekeh saat menyadari William tak bisa lagi mengganggu. Ia segera membukakan pintu lemari agar Flora bisa menata pakaiannya.
"Kamar ini benar-benar cocok untukmu, Airyn," puji Flora begitu melihat dekorasi serba biru lengkap dengan air mancur kecil di tengah ruangan.
"Ah, ini masih ada sisa pakaian Paman." Airyn mengeluarkan stel pakaian Kaelen, melipatnya dengan sangat rapi, lalu menyimpannya di rak paling atas.
"Kau sangat telaten melipat baju, Airyn," puji Flora kagum.
Airyn tertawa kecil sambil menggaruk pelipisnya.
"Hehe, jangan memujiku begitu. Seperti kata Stella tadi, aku tumbuh di tempat yang serba terbatas, jadi sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri. Siapa juga yang menyangka kalau aku ini seorang putri terlebih lagi Aetherist?"
Raut wajah Flora mendadak berubah redup.
"Aku... kehilangan ayah dan ibuku saat masih berumur sepuluh tahun. Sejak saat itu, Robert yang merawat dan menjagaku," bisiknya menunduk sedih.
Airyn menghentikan aktivitasnya. Dengan penuh kehangatan, ia mendekat dan merengkuh tubuh Flora dalam pelukan erat.
"Tidak apa-apa, Flora. Sekarang setidaknya kau punya aku sebagai temanmu, kan?" bisik Airyn tulus.
Flora tersenyum haru. Gadis yang berpostur lebih pendek itu membalas pelukan Airyn dan menyenderkan kepalanya di bahu sang putri Tidebay. "Terima kasih banyak, Airyn."
Airyn melepaskan pelukannya perlahan seraya tersenyum lebar. "Pernah mencoba roti panggang khas Tidebay?" tanyanya mengalihkan suasana agar kembali ceria.
Flora menggeleng polos.
Airyn melangkah ke meja makan dan mengambil piring yang berisi roti penyambutan kemarin.
"Ini sebenarnya jauh lebih nikmat kalau dimakan saat baru matang. Tapi karena sudah dingin... ya tetap enak kok. Nanti kalau bisa pakai dapur, aku buatkan yang baru!"
Flora tertawa pelan dan menerima potongan roti itu dengan senang hati. Keduanya pun menghabiskan sisa malam itu dengan menikmatinya di balkon kamar, berbincang dan tertawa di bawah langit malam Asteria yang dipenuhi hamparan bintang.