NovelToon NovelToon
Mahabbah Yang Ternoda

Mahabbah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Bad Boy
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mardzan J.

“Affan, aku ingin nafkah batin.”

“Kalau kamu menginginkannya, aku bisa mencarikan pekerjaan untukmu sebagai PSK. Dengan begitu, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau.”

Hulya Anindita tidak pernah membayangkan pernikahan yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan justru berubah menjadi neraka. Menikah dengan Affandy Frazendra tanpa pernah bertemu sebelumnya membuat Hulya harus menjalani rumah tangga dengan seorang pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya sebagai istri.

Kebencian Affandy tidak berhenti pada sikap dingin dan pengabaian. Hulya harus menerima penghinaan, kekerasan, bahkan perlakuan kejam yang perlahan menghancurkan dirinya. Ironisnya, pernikahan itu justru terjadi atas keinginan Affandy sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resmi Suami Istri

Affandy baru saja selesai mandi. Ia merasa lapar, tetapi tidak ada makanan yang tersedia. Sebenarnya ia ingin membangunkan Hulya, tetapi merasa kasihan. Akhirnya, Affandy memutuskan untuk berbaring di atas ranjang sambil bermain ponsel.

Fokusnya buyar ketika Hulya merangkul pinggangnya. Affandy menoleh ke arah Hulya yang masih tertidur tanpa mengenakan hijab. Sebelum masuk ke kamar mandi tadi, ia memang telah melepaskan hijab wanita itu.

"Kenapa Hulya sangat cantik?"

"Jangan, Affan. Ingat, cuma Tiffany yang akan mengandung anak kamu."

Affandy merasa panas dingin. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika berada begitu dekat dengan perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya.

Tangannya terulur untuk membelai wajah Hulya.

"Mama mau cucu," lirihnya.

[] [] []

Pagi hari tiba, Hulya terbangun setelah tidur cukup nyenyak. Ia mengusap kepalanya dan baru menyadari bahwa dirinya sudah tidak mengenakan hijab.

"Tangan aku."

Hulya melihat pergelangan tangannya yang sedikit membengkak. Perlakuan Affandy tadi malam benar-benar di luar dugaan. Ia mencoba bangkit dari ranjang, tetapi tubuhnya terasa sakit.

"Aw!"

Dengan susah payah, wanita itu akhirnya bisa duduk.

"Badan aku kenapa sakit, sih? Padahal cuma tangan yang bengkak."

Biasanya bangun pagi membuat tubuhnya terasa segar. Namun, kali ini justru ada rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya.

"Jangan-jangan Affan..."

Hulya beranjak dari ranjang. Bahkan untuk berjalan pun terasa sulit.

"Affan."

"Affan, kamu di mana?"

Hulya keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur.

"Affan, kamu ngapain?"

"Aku buatin makanan buat kamu. Sudah selesai."

Hulya mengernyitkan dahi melihat tingkah laku pria itu. Sikap Affandy benar-benar berbeda dari kemarin.

Saat Affandy berjalan melewatinya sambil membawa piring berisi nasi goreng, pria itu terlihat gugup ketika Hulya menahan tangannya.

"Affan."

"Mmm..."

"Tadi malam kamu ngapain?"

"Ngapain?" Affandy balik bertanya.

"Kamu nggak ngelakuin sesuatu, 'kan?"

"Apa?" tanya Affandy dengan tatapan tajam. "Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Kamu sendiri yang menguji kesabaranku."

"Affan ... Aku bukan membicarakan hal itu."

"Terus?"

"Tadi malam kamu ngelakuin apa sama aku?"

"Ngelakuin apa? Jangan mikir yang aneh-aneh."

"Kamu nyakitin tangan aku. Tapi pagi ini badan aku sakit semua. Terus?"

"Terus apa?" tanya Affandy.

"Bagian tertentu badan aku terasa perih, Affan."

"Emmm ... Itu karena tangan kamu bengkak. Kamu makan dulu, habis itu kita ke rumah sakit."

"Kamu kenapa mengalihkan pembicaraan?"

"Mengalihkan apa, Hulya? Udah untung aku mau nganterin kamu periksa tangan kamu itu."

"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, Affan."

"Hulya..."

"Affan." Tatapan Hulya begitu dalam.

"Ka-kamu kenapa lihat aku begitu?"

"Kenapa kamu gugup?" tanya Hulya. "Biasanya juga enggak."

"Awas! Tanganku capek dari tadi pegang piring ini."

"Jawab dulu, Affan."

"Lebih baik kamu makan. Biar kita langsung pergi."

"Jangan bilang semalam kamu..."

"Apa?" potong Affandy. Ia takut Hulya akan mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengarnya.

"Kamu sudah..."

"Lepas, Hulya. Kalau kamu nggak mau makan, aku pergi sekarang."

Hulya akhirnya mengalah. Ia tidak ingin memperpanjang masalah tersebut.

Seperti biasanya, Hulya memilih bermain tenang dalam menghadapi kelakuan Affandy. Meski begitu, rasa penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya tetap mengganggu pikirannya.

Affandy meletakkan makanan di atas meja. Ketika menoleh ke belakang, ternyata Hulya sudah pergi.

"Hulya."

Wanita itu menoleh.

"Kamu mau ke mana?"

"Aku mau istirahat. Badan aku sakit."

"Sakit gimana? Gara-gara apa?"

"Aku juga nggak tahu. Jalan aja susah. Ini pun aku paksain."

Affandy menghampiri wanita itu.

"Mau aku gendong?"

"Gendong apaan, sih? Kamu itu laki-laki. Jangan jilat ludah mu sendiri. Kamu, 'kan yang bilang kalau kamu nggak akan menyentuh aku."

Hulya menatap Affandy dengan tegas.

"Cukup ciuman itu saja. Walaupun kamu bilang khilaf!"

"Tapi aku sudah menjilat ludahku sendiri, Hulya," batin Affandy.

"Kenapa diam?" tanya Hulya.

"Kalau kamu nggak mau ke rumah sakit, kita makan sekarang."

"Aku nggak mau!"

"Tapi, Hulya..."

"Jangan paksa aku, Affan. Kalau kamu terus paksa aku, aku bakal pulang hari ini."

[] [] []

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Affandy masih duduk di atas ranjang bersama Hulya.

"Affan ... Emangnya kamu nggak ke kantor? Dari tadi di sini terus."

"Aku ke kantor setelah mengantar kamu ke rumah sakit."

"Aku nggak mau. Jangan paksa aku. Kamu nggak perlu repot-repot ngurusin aku."

"Tapi kamu sakit karena ulahku," batin Affandy sambil menatap layar ponselnya.

"Aku ke depan dulu, ya. Mau panasin mobil. Pokoknya kita ke rumah sakit."

Affandy berlalu pergi. Tak lama kemudian, terdengar suara pesan masuk dari ponsel pria itu. Hulya penasaran. Ia melirik layar ponsel yang menampilkan sebuah pesan:

"Setelah berhubungan, seorang istri akan merasakan perih saat hendak berjalan, Pak."

Deg!

Hulya terkejut. Ia tidak tahu apa maksud pesan tersebut. Dari nama yang tertera di layar, jelas bahwa Affandy sedang menghubungi seorang dokter. Namun, kenapa pesan yang dikirim dokter itu seolah mengarah pada hubungan suami istri?

"Affan melakukannya?"

"Tapi kapan?"

"Kenapa aku nggak sadar?"

"Hulya!"

Hulya segera meletakkan ponsel Affandy. Untungnya, pria itu tidak sempat melihat bahwa Hulya tadi memegang ponselnya.

"Mobilnya sudah siap. Kita pergi sekarang, ya."

"Benar nggak, sih? Affan melakukan itu sama aku?"

[] [] []

Sepanjang perjalanan, Hulya terus memikirkan sesuatu yang mungkin berada di luar dugaannya.

Antara percaya dan tidak, tetapi rasa sakit yang ia rasakan membuat dirinya semakin yakin bahwa Affandy telah melakukan sesuatu terhadapnya.

Sesampainya di rumah sakit, Hulya justru berhenti di depan ruang pemeriksaan dokter spesialis wanita.

Ia menoleh kepada Affandy.

"Ayo, jalan."

"Aku mau masuk ke ruangan ini."

"Ngapain?" tanya Affandy. "Tempat pengobatan tangan kamu bukan di sini."

"Aku tahu, Affan. Tapi aku mau ke sini."

"Tangan kamu penting, Hulya. Harus segera diobati."

"Setelah mengobati tangan aku, aku mau ke sini."

"Iya."

Akhirnya Affandy tidak jadi pergi ke kantor. Ia sibuk menemani istrinya berobat di salah satu rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.

Setelah memeriksakan kondisi tangannya, Hulya masih harus menunggu di ruangan tersebut.

Hampir tiga jam berlalu.

"Hulya ngapain di dalam, sih? Sudah jam segini belum keluar juga."

Di dalam ruangan, akhirnya hasil pemeriksaan yang ditunggu-tunggu Hulya tiba. Dokter memperlihatkan hasil pemeriksaan kondisi tubuhnya.

"Ibu pengantin baru?"

"Iya, Dok."

Dokter itu tersenyum.

"Gimana, Dok?"

"Jadi begini, Bu. Setelah berhubungan, Ibu memang bisa merasa perih pada bagian tersebut. Itu merupakan hal yang wajar."

"Berhubungan gimana, Dok?" tanya Hulya, masih belum mengerti.

"Ya ... Hubungan suami istri."

Hulya tercengang.

Ia tidak percaya bahwa kecurigaannya tadi ternyata benar. Namun, yang membuatnya bingung adalah mengapa Affandy tidak mau jujur kepadanya.

"Aku sudah menjadi milik Affan sepenuhnya," batin Hulya.

"Terima kasih, Dok. Saya permisi."

Hulya keluar dari ruangan dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan.

Kapan suaminya melakukan itu kepadanya? Ia sama sekali tidak tahu. Mungkin karena terlalu lelah sehingga tidak menyadari apa yang terjadi.

"Affan mengingkari janjinya."

Walaupun begitu, ada perasaan bahagia yang muncul di hati Hulya.

Ia sama sekali tidak mempermasalahkan jika Affandy telah melanggar ucapannya sendiri. Bahkan, tanpa sadar, muncul harapan dalam hatinya agar ia segera mengandung anak dari pria tersebut.

1
azzura faradiva
pantes aja ga ada yg baca,cerita sampah🤮😡
azzura faradiva
Thor..., please pemain perempuannya jgn di bikin lemah/menye².harus ambil sikap tegas menghadapi suami durjana macam dia,cerai aja udah!!!!
Mardzan J.: sabar sabar, baru juga beberapa part
total 1 replies
Tamirah
Kok ada suami model gini jadi istrinya kok yo betah,mbok ya minta cerai aja
Mardzan J.: sabar, nanti juga ada waktunya.
total 1 replies
azzura faradiva
kasih karma tu laki biar pedangnya karatan(impoten) biar ga banyak tingkah
Mardzan J.: sabar lho🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!