NovelToon NovelToon
Jerat Sang Mafia

Jerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Duda / Pernikahan kedua / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:128
Nilai: 5
Nama Author: SilvinaTracy

Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.

Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.

Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.

Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?

Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: HASIL TES

DORIAN CERVANTES

Bocah ini benar-benar menyusahkan begitu terbangun. Dia mencabut infusnya, darah mengalir cukup banyak, tetesannya mengotori pakaiannya dan juga lantai kamar.

Kuperiksa pakaiannya. Branya robek, begitu pula atasan dan roknya. Ada dua kemungkinan: dia berhubungan seks dengan seseorang lalu berakhir di ranjangku, atau dia lolos dari upaya pemerkosaan dan berakhir di kamarku karena aku lupa menguncinya.

Aku menghalanginya keluar dari kamar. Saat kucengkeram—dengan hati-hati agar tak mengenai bekas lukanya—aku tahu dia kesakitan. Aku perlu tahu apa yang terjadi, dan orang yang bisa memberiku jawaban sekarang hanyalah dia.

Dia menatap pakaiannya lalu melemparnya dengan frustrasi. Dia tak tahu apa yang terjadi. Katanya, saat tiba di pesta tak ada satu pun bekas di tubuhnya, dan ketika melihat foto punggungnya, dia tak mengerti bagaimana bekas itu bisa ada, atau apa yang kulakukan padanya selagi dia tak sadarkan diri.

Aku tak akan memperkosanya. Sudah cukup masalahku harus menikahinya, tak perlu kubuat lebih rumit lagi—apalagi saat dia sedang datang bulan, aku bukannya sinting. Terlebih setelah tahu darahnya sebanyak itu sampai mengotori pakaiannya seperti itu.

"Kau berhubungan seks?" tanyaku tanpa berbasa-basi. Aku tak tertarik pada detailnya atau apa pun.

"Di sini, di pesta?" Dia tampak bingung.

"Di mana lagi? Jawab sekarang," desakku, kehilangan sisa kesabaran yang bisa kuberikan padanya.

"Tidak. Aku ingat sedang naik ke atas, tapi aku merasa tak enak badan, dan cuma itu." Dia memegangi kepalanya seolah kepalanya sakit.

"Kau mungkin dibius. Antara itu atau kau minum terlalu banyak."

"Aku memang minum, tapi tidak sampai hilang kesadaran sepenuhnya," tegasnya.

"Dibius atau tidak, foto dirimu dan diriku sudah jadi konsumsi publik. Aku harap kau bisa bertahan menghadapi keadaan, dan kalau kau berani berbohong padaku, aku bersumpah demi hal yang paling kuhormati, kau akan menyesalinya seumur hidupmu." Dia tak berhenti menatapku lekat-lekat.

"Aku tidak peduli. Aku mau menikah dengan Iván, bukan denganmu, dan aku ingin pergi dari sini." Aku tak bisa menahan tawa.

"Dengan Iván? Kau tolol. Dia bukan tipe yang menikah. Kau benar-benar naif. Pada akhirnya, orang yang dikhianati selalu tahu paling terakhir." Dia menatapku dengan geram seolah tak percaya. Nanti juga dia akan lihat sendiri—dalam sekejap mata Iván akan menggandeng perempuan lain sebagai kekasih, lalu punya beberapa yang lain di luar sana.

"Iván tidak seperti itu," katanya marah.

"Tentu, kau lebih mengenalnya daripada aku yang menyaksikannya lahir." Gadis ini benar-benar tolol.

"Kau menyaksikannya lahir tapi mengharapkan aku jadi istrimu, padahal usiaku bahkan lebih muda darimu—tidak akan pernah." Dia melipat tangan di dada.

"Aku tidak akan menyeret namaku ke lumpur karena kau, jadi DEWASALAH." Aku akhirnya berteriak, membuatnya terlonjak.

Saat ponselku berdering dan kulihat di layar tertera nama Orlando, aku keluar dari kamar untuk mengangkatnya.

📱 "Kau dapat sesuatu?" tanyaku langsung.

📱 "Ya, dan aku tak tahu bagaimana kau akan menanggapinya. Aku sempat ragu saat memeriksanya, sudah lewat berjam-jam, dan aneh kalau zat yang mereka berikan masih ada dalam tubuhnya."

📱 "Langsung ke intinya, aku tak tertarik soal medis," pintaku tak sabar.

📱 "Dia diberi dosis tinggi obat bius pemerkosaan."

📱 "Bukankah itu obat perangsang?" tanyaku.

📱 "Bukan. Obat bius pemerkosaan digunakan untuk melumpuhkan korban supaya keesokan harinya dia tak mengingat apa yang terjadi. Tapi dosis yang diberikan padanya sangat tinggi," jelasnya. Sialan.

📱 "Oke. Terima kasih." Kututup teleponnya.

Amarah yang kurasakan tak ada tandingannya. Jadi ada obat bius pemerkosaan di rumahku, dan diberikan pada bocah itu, yang bisa saja mati.

Mereka memberinya obat, dia merasa tak enak badan saat naik ke atas, lalu masuk ke suatu kamar tempat seseorang mencoba memanfaatkannya, dan dia kabur—itu menjelaskan bekas-bekas cengkeraman itu.

Aku tak tahu apakah ada seseorang yang memang mengincarnya atau ini hanya kesempatan sesaat, tapi rencananya gagal begitu dia masuk ke kamarku, sebab di sini tak ada seorang pun yang berani masuk.

Aku kembali ke kamar, dan dia menatapku penuh benci karena telah menguncinya di dalam.

"Dokter kepercayaanku mengambil sampel darahmu saat memasang infus, dan kau masih punya obat bius pemerkosaan di tubuhmu."

"Apa?"

"Obat bius pemerkosaan membuatmu tak bisa membela diri, lalu kau tak akan ingat apa yang terjadi saat terbangun," jelasku.

"Jadi aku kabur, atau seseorang memperkosaku."

"Kalau kau sampai tidur dengan seseorang, pasti kau akan merasakannya dalam bentuk tertentu." Dia tampak sedikit lega, meski tak sepenuhnya.

Aku meninggalkan kamar, membiarkannya termenung di sana. Aku memesan makan malam untuknya di kamar, lalu pergi untuk melakukan beberapa panggilan telepon, tapi tak seorang pun tahu apa-apa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!