INVESTASI CINTA YANG SALAH
Oleh: AwandaMw
"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."
Sinopsis:
Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.
Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.
Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
***Bab 18 Lobi restoran dan Tekanan baru
🌸🌸🌸
Ruang privat di lantai atas restoran jepang kawasan Pacific Place itu bernuansa kayu gelap yang tenang. Suara gemercik air mancur buatan di sudut ruangan seharusnya memberi rasa damai, tetapi suasana di dalam meja perjamuan itu terasa begitu tegang dan menekan.
Aris Wijaya duduk di atas tatami dengan posisi tubuh kaku. Kemeja mewahnya tak lagi mampu menutupi guratan kecemasan di wajahnya. Lingkaran hitam menjejak jelas di bawah matanya. Di hadapannya, secangkir teh hijau yang sudah dingin sama sekali tak tersentuh.
Pintu geser kayu meluncur pelan.
Nadia melangkah masuk. Malam ini ia tampil sangat elegan dalam balutan gaun terusan hitam berpotongan simpel, dipadu dengan blazer warna gading. Bimo dan Pak Hendra menyusul di belakangnya, membawa dua map kulit tebal.
Aris refleks langsung berdiri dari duduknya, membungkuk kecil dengan gestur yang jauh dari kata angkuh—sangat berbanding terbalik dengan sikap jumawanya saat konferensi pers di Hotel Mulia beberapa waktu lalu.
"Nyonya Nadia... terima kasih sudah berkenan meluangkan waktu," ujar Aris dengan suara yang ditahan agar tak terdengar gemetar.
Nadia hanya mengangguk tipis tanpa mengumbar senyum, lalu menduduki kursi utama yang berseberangan dengan Aris. Bimo dan Pak Hendra mengambil posisi di sisi kiri dan kanan Nadia.
"Langsung saja ke intinya, Tuan Aris," kata Nadia dengan intonasi tenang, membuka pembicaraan tanpa perlu basa-basi. "Saya tidak punya banyak waktu untuk jamuan kasual."
Aris menelan ludah pait, lalu menggeser sebuah dokumen bertuliskan Rencana Restrukturisasi Utang Vanguard Group ke tengah meja.
"Seperti yang Anda ketahui, Nyonya Nadia... empat puluh persen obligasi jangka pendek Vanguard Group yang dipegang oleh PT Cakrawala Capital telah jatuh tempo hari ini," aku Aris seraya menautkan kedua tangannya. "Kami mengajukan permohonan perpanjangan tenor pembayaran selama enam bulan ke depan, dengan penyesuaian bunga yang menguntungkan pihak Anda."
Nadia tidak menyentuh dokumen itu sama sekali. Ia hanya meliriknya sekilas sebelum menatap manik mata Aris dengan pandangan membeku.
"Enam bulan?" Nadia terkekeh pelan—sebuah tawa halus yang terasa amat intimidatif. "Tuan Aris, waktu Anda menawarkan diri untuk 'menyelamatkan' Apex Media tiga puluh persen di bawah harga pasar, Anda tidak memberi saya tenggat enam bulan."
Wajah Aris mendadak memerah menahan malu. "Nyonya Nadia, saat itu saya hanya... saya hanya melakukan manuver bisnis biasa di depan media. Saya tidak bermaksud menyerang Anda secara pribadi."
"Bisnis adalah bisnis, Tuan Aris," pangkas Nadia cepat. "Dan secara kalkulasi bisnis, Vanguard Group saat ini memiliki rasio utang yang melebihi batas aman. Jika saya menyetujui perpanjangan tenor ini, Cakrawala Capital justru menanggung risiko gagal bayar yang lebih besar di kuartal depan."
Nadia memberi isyarat pada Pak Hendra. Pengacara senior itu menyerahkan dokumen lain yang sudah dipersiapkan timnya.
"Berdasarkan klausul akuisisi hak tagih yang kami pegang," Pak Hendra menjelaskan dengan suara berat dan profesional, "PT Cakrawala Capital berhak mengajukan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) atau langsung mengambil alih aset jaminan berupa tiga puluh lima persen saham entitas utama Vanguard Group jika pelunasan tidak terjadi dalam waktu dua kali dua puluh empat jam."
Aris terbelalak, napasnya memburu panik. "Tiga puluh lima persen saham?! Itu sama saja merampas kendali Vanguard Group dari tangan saya!"
"Bukan merampas, Tuan Aris," sahut Nadia dingin, menopang dagunya dengan jemari yang lentik. "Itu adalah konsekuensi dari ketidaksanggupan Anda mengukur kekuatan lawan sebelum melayangkan ancaman."
Aris mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menahan amarah yang bercampur dengan keputusasaan. Ia tahu betul bahwa jika kasus PKPU ini sampai bergulir ke pengadilan perserikatan bisnis, reputasi Vanguard Group akan hancur seketika, dan para investor asing akan menarik dana mereka secara masif.
"Apa... apa tidak ada pilihan lain, Nyonya Nadia?" bisik Aris parau, nada suaranya merendah serendah-rendahnya. "Saya siap menyerahkan lini bisnis pemasaran digital kami kepada Cakrawala Capital secara cuma-cuma, asal aset utama Vanguard Group tidak disita."
Nadia menatap Aris selama beberapa detik dalam keheningan yang menyiksa. Ia tahu kapan harus menekan musuh hingga jatuh, dan kapan harus mengunci pergerakan mereka tanpa membuat mereka mati kelaparan agar tetap bisa dimanfaatkan.
Nadia mengetukkan jarinya dua kali di meja kayu.
"Saya memberikan Anda satu jalan keluar," ujar Nadia akhirnya.
Aris mendongak cepat, matanya berbinar menangkap secercah harapan. "Sebutkan, Nyonya Nadia. Apa pun syaratnya."
"Pertama," papar Nadia tanpa kompromi, "serahkan seluruh hak pengelolaan lini media digital Vanguard Group kepada anak perusahaan Cakrawala Capital. Kedua, batalkan semua kontrak kerja sama eksklusif Anda dengan para klien yang dulu Anda bajak dari Apex Media, dan kembalikan mereka ke meja kami."
Nadia melangkah satu tingkat lebih jauh dalam memasang catur dominasinya.
"Dan yang ketiga... Anda harus merilis pernyataan maaf secara terbuka di media nasional terkait tuduhan tidak berdasar yang Anda lontarkan mengenai kapasitas saya dan stabilitas Cakrawala Capital."
Mendengar syarat ketiga, raut wajah Aris berubah kaku. Meminta maaf secara terbuka di media berarti mencoreng harga dirinya sendiri sebagai seorang pimpinan korporasi papan atas.
Namun, menatap mata Nadia yang tajam tanpa cela, Aris tahu ia tidak memiliki posisi tawar sedikit pun. Pilihannya sangat jelas: mengorbankan ego pribadinya, atau melihat seluruh kerajaan bisnis Vanguard Group rata dengan tanah dilibas oleh hukum finansial Cakrawala Capital.
Aris memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas berat yang sarat akan kekalahan mutlak.
"Baik..." jawab Aris serak, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin di luar ruangan. "Saya... saya menyetujui seluruh syarat Anda, Nyonya Nadia."
Pak Hendra segera menggeser draf kesepakatan baru ke hadapan Aris untuk langsung ditandatangani di atas meterai malam itu juga.
Nadia berdiri dari duduknya, merapikan blazer gading yang dikenakannya. Ia sama sekali tidak menunjukkan luapan kegembiraan over-ekspresif atas kemenangan telak ini. Bagi Nadia, ini hanyalah satu lagi langkah taktis untuk memastikan tidak ada pimpinan bisnis mana pun di kota ini yang berani meremehkan posisinya lagi.
"Penandatanganan resmi akan dilakukan besok pagi di kantor Cakrawala Capital pukul sembilan tepat," kata Nadia datar. "Jangan terlambat, Tuan Aris."
Nadia membalikkan badan, melangkah keluar dari ruang privat restoran tersebut diiringi Bimo dan Pak Hendra.
Saat berjalan menyusuri lorong utama kawasan Pacific Place yang megah, ponsel Bimo bergetar nyaring. Bimo melihat layar ponselnya sejenak, lalu mendekati Nadia dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Nadia," panggil Bimo pelan.
"Ada apa, Bimo?" tanya Nadia tanpa menghentikan langkah anggunnya.
"Pihak Kejaksaan Negeri baru saja memberikan konfirmasi," terang Bimo. "Draf surat tuntutan pidana resmi untuk persidangan Reno dan Sella minggu depan sudah rampung. Jaksa Penuntut Umum menetapkan tuntutan maksimal tanpa ada hal yang meragukan."
Nadia menghentikan langkahnya sejenak di depan dinding kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit Jakarta.
"Berapa tahun tuntutannya?" tanya Nadia pelan.
"Empat tahun delapan bulan penjara untuk Reno Pratama, dan tiga tahun enam bulan untuk Sella Anindya," jawab Bimo tegas. "Ditambah kewajiban membayar ganti rugi seluruh dana yang digelapkan atau aset pribadi mereka yang tersisa akan disita lelang oleh negara."
Nadia menatap pantulan dirinya di kaca bening tersebut. Senyuman tipis dan dingin kembali terukir di bibirnya—sebuah penanda bahwa roda keadilan yang ia gerakkan kini sedang bersiap melindas sisa-sisa kehidupan orang-orang yang pernah memintanya hancur.
"Bagus," bisik Nadia pelan pada heningnya malam. "Mari kita pastikan sidang minggu depan menjadi penutup yang sempurna untuk masa lalu itu."
🌸🌸🌸🌸