NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Ciuman yang Meruntuhkan

Bibir Arkana turun semakin dekat, dan kali ini tidak ada tempat lagi untuk bersembunyi dari pilihanku sendiri selamanya.

"Ara," bisiknya.

Aku menutup mata.

Jarak terakhir itu hilang.

Ciumannya tidak kasar. Justru terlalu lembut untuk seorang pria yang tangannya pernah memegang pistol, merobohkan musuh, dan merenggut seluruh keluargaku. Bibirnya menyentuh bibirku seperti pertanyaan yang telah dia tunggu bertahun-tahun untuk ditanyakan.

Aku diam.

Arkana langsung mundur.

"Lihat aku."

Aku membuka mata.

Tangannya masih di pinggangku, tetapi pegangannya longgar. Jika aku mendorong sedikit saja, dia akan melepaskan.

"Kau mau aku berhenti?"

Jawaban yang benar adalah iya.

Jawaban itu sudah kulatih sejak melihat tatapannya berubah di Restoran Lumière. Aku bisa mengingatkannya pada pengadilan, dokumen pengangkatan anak, usia kami, atau darah keluargaku yang masih tinggal di antara kami.

Tidak satu pun keluar.

Jemariku justru mencengkeram kemejanya.

Aku menariknya kembali.

Kali ini ciuman itu bukan pertanyaan.

Semua perasaan yang kutolak pecah sekaligus. Aku membalasnya dengan marah, seolah bisa menghukumnya karena membuat tubuhku menginginkan sesuatu yang seharusnya kubenci. Arkana menahan tengkukku. Bibirnya menjadi lebih dalam, lebih lapar, tetapi setiap kali aku menegang, dia melambat.

Kakiku bergeser di lantai basah.

Kami jatuh ke kolam.

Air menelan suara. Dingin menyergap kulit, lalu tangan Arkana menemukan pinggangku dan membawa kami ke permukaan. Aku menarik napas keras. Rambut menutupi wajahku.

Dia menyibakkannya.

"Kau terluka?"

Aku tertawa. Entah karena panik atau lega. "Kau selalu menanyakan itu."

"Jawab."

"Tidak."

Arkana memelukku di dalam air. Luka tembaknya belum pulih sempurna, jadi satu tanganku refleks menahan sisi tubuhnya.

"Kau sendiri?"

"Tidak penting."

"Bagiku penting."

Tatapannya berubah. Ada sesuatu yang hampir rapuh di sana.

Aku mencium bekas luka di balik kemeja basahnya.

Napas Arkana terputus.

Tangannya bergerak menyusuri punggungku, berhenti di kulit yang terbuka antara blus dan pinggang rok. Dia menunggu satu detik. Dua detik. Aku tidak menjauh.

Sentuhannya naik perlahan. Tidak pernah melewati apa yang belum kuberikan, tetapi cukup untuk membuat tubuhku bergetar.

"Dingin?" tanyanya.

"Bukan."

"Takut?"

"Iya."

"Padaku?"

Aku menatap wajah yang kusimpan sejak usia tujuh tahun. "Pada diriku sendiri."

Arkana menempelkan dahinya ke dahiku. "Aku tidak akan mengambil lebih dari yang kaupilih malam ini."

"Kau sudah mengambil terlalu banyak."

"Kalau begitu ambil kembali."

"Bagaimana?"

"Pilih aku karena kau menginginkanku, bukan karena kau berutang nyawa."

Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhirku.

Aku melingkarkan tangan ke lehernya dan menciumnya lagi.

Arkana mengangkat tubuhku sedikit di dalam air agar kakiku berpijak pada kakinya. Dinding kolam dingin menempel di punggung, sementara telapak tangannya hangat di bawah kain basah. Ciumannya turun ke sudut rahang, lalu berhenti ketika napasku berubah.

"Terlalu jauh?"

Aku menggeleng.

"Katakan."

"Tidak."

"Tidak apa?"

Aku tahu dia memaksaku memberi jawaban yang tidak bisa disalahartikan.

"Tidak terlalu jauh."

Baru setelah itu bibirnya bergerak ke leherku. Tanganku menyentuh bekas luka di sisi tubuhnya. Di bawah kain kemeja, kulit di sana terasa tidak rata dan masih sensitif. Arkana mengisap napas ketika jariku melewatinya.

"Sakit?"

"Teruskan."

Aku menyentuhnya lagi, lebih lembut. Bekas luka itu ada karena tubuhnya pernah menutup tubuhku dari peluru. Kebencian yang kusimpan bertahun-tahun terasa kecil di hadapan bukti yang bisa kuraba.

Arkana menangkap tanganku dan mencium telapak tangan.

Gerakan itu begitu lembut hingga mataku panas.

"Jangan membuatku menangis," bisikku.

"Aku belum melakukan apa-apa."

"Itu masalahnya."

Kami tetap di kolam sampai bibirku kebas dan tubuhku menggigil. Arkana mengangkatku ke tepi, membungkus bahuku dengan handuk, lalu menjaga jarak saat aku berdiri.

Tidak ada kemenangan di wajahnya.

Hanya kesabaran.

***

Di kamar, aku menatap diri sendiri di cermin.

Bibirku memerah. Rambut basah menempel di bahu. Tidak ada bekas paksaan di tubuhku, tidak ada pintu terkunci, dan tidak ada ancaman.

Aku memilihnya.

Itulah yang membuatku mual.

Aku mencuci wajah berkali-kali, tetapi rasa bibir Arkana tidak hilang. Wajah ibu muncul di ingatan. Tubuh Kakak di gang. Ayah berlutut di depan pria yang baru saja kucium.

"Apa yang kulakukan?" bisikku kepada cermin.

Ponsel bergetar. Mbak Tania menelepon.

Aku membiarkannya dua kali, lalu menjawab pada panggilan ketiga.

"Kamu baik-baik saja?"

"Iya."

"Jawabanmu terdengar seperti tidak."

Aku duduk di lantai dekat ranjang. "Aku menciumnya."

Mbak Tania diam.

"Aku yang menariknya kembali," lanjutku. "Dia bertanya apakah harus berhenti. Aku tidak menyuruhnya berhenti."

"Kamu menyesal?"

Air mataku jatuh. "Aku tidak tahu."

"Apakah dia menyakitimu?"

"Tidak. Itu masalahnya. Dia lembut."

"Laras, dengarkan aku. Kamu boleh bingung. Kamu boleh berubah pikiran besok. Pilihan malam ini tidak mengikat seluruh hidupmu."

"Aku mengkhianati keluargaku."

"Mencintai seseorang tidak menghapus orang-orang yang telah hilang. Tapi kamu juga tidak wajib menghukum diri seumur hidup untuk membuktikan bahwa kamu masih mengingat mereka."

Aku menutup mata. "Aku belum bilang mencintainya."

"Belum."

Kata itu menusuk lebih tepat daripada tuduhan.

Setelah telepon berakhir, aku tetap duduk di lantai sampai pintu diketuk.

"Ara."

"Pergi."

"Buka pintu."

"Aku ingin sendiri."

Arkana tidak memaksa masuk. Dia duduk di sisi lain pintu. Bayangannya terlihat melalui celah bawah.

"Aku tidak akan meminta maaf karena menciummu," katanya. "Tapi aku akan menunggu sampai kau tidak membenci dirimu karena membalasnya."

"Kau tidak mengerti."

"Aku mengerti kau dibesarkan untuk membenciku oleh ingatanmu sendiri."

Jantungku berhenti sesaat.

"Apa maksudmu?"

"Aku tahu ada bagian masa laluku yang tidak bisa kauampuni."

Dia tidak mungkin tahu semuanya. Jika tahu siapa aku, dia tidak akan duduk setenang itu di luar pintu.

"Aku tidak menyukaimu," kataku.

"Tidak apa-apa."

"Jangan berharap apa pun."

"Aku akan membuatmu menyukaiku perlahan."

"Sombong."

"Buka pintu dan katakan itu di wajahku."

Aku tidak membuka pintu. Namun untuk pertama kalinya sejak masuk kamar, aku bisa bernapas tanpa merasa akan tenggelam.

Bayangannya tetap di luar selama hampir satu jam. Dia tidak berbicara lagi. Ketika akhirnya langkahnya menjauh, aku membuka pintu.

Di lantai ada secangkir teh hangat, pakaian kering, dan obat untuk pergelangan kakiku. Tidak ada bunga, hadiah, atau catatan romantis. Hanya benda-benda yang kubutuhkan.

Aku membawa semuanya masuk.

Tehnya masih hangat ketika kuminum. Arkana pasti meminta petugas menggantinya beberapa kali selama menunggu. Kesadaran kecil itu menyakitkan lebih dalam daripada ciuman kami.

Malam tersebut aku tidur dengan lampu jingga menyala. Di luar jendela, laut gelap dan tidak berujung. Setiap kali terbangun, aku menyentuh bibir sendiri untuk memastikan kejadian di kolam bukan mimpi.

***

Kami kembali ke Jakarta keesokan siang.

Sepanjang perjalanan Arkana tidak menyentuhku. Dia membaca dokumen di tablet, menerima dua telepon, dan memperlakukan malam sebelumnya seperti rahasia yang tidak akan digunakan untuk menekanku.

Ketika tiba di Vila Arkana, aku melihat tanggal pada kalender ruang musik.

Delapan tahun sejak Gilang pergi akan genap dua minggu lagi.

Bi Sum menemukan pakaian basah di koper dan melihatku dengan rasa ingin tahu. "Kalian berenang malam-malam?"

"Aku terpeleset."

"Bos juga?"

"Dia menangkapku."

Bi Sum tersenyum kecil. "Sejak dulu memang begitu. Kamu jatuh, dia yang paling panik."

"Bi Sum, jangan mulai."

"Bibi tidak bilang apa-apa."

Dia membawa pakaian pergi sambil tetap tersenyum. Aku menatap pintu yang tertutup dan bertanya berapa banyak orang di rumah itu yang telah melihat perubahan kami sebelum aku sendiri berani mengakuinya.

"Kapan Kak Gilang pulang?" tanyaku saat makan malam.

Sendok Arkana berhenti.

"Kenapa membicarakannya sekarang?"

"Kau berjanji delapan tahun."

"Dia masih menyelesaikan urusannya."

"Berarti dia akan pulang."

Arkana meletakkan sendok. "Kau menciumnya kemarin, lalu hari ini bertanya tentang pria lain."

"Aku menungguku sebelum mengenalmu sebagai..."

"Sebagai apa?"

Aku tidak menjawab.

"Pria yang kauinginkan?" Dia tertawa pendek tanpa humor. "Katakan."

"Aku tidak tahu apa yang kuinginkan."

"Tapi kau tahu ingin menunggu Gilang."

"Dia berjanji akan kembali untukku."

Arkana berdiri. Kursinya bergeser kasar.

"Dia tidak akan datang untuk mengambilmu."

"Kau tidak berhak menentukan."

"Aku yang memberinya pendidikan, nama di dunia bisnis, dan jalan pulang. Aku tahu apa yang mampu dia ambil."

"Aku bukan hadiah dalam perjanjian kalian."

"Benar." Arkana mendekat, kedua tangannya bertumpu di meja. "Kau milikku karena kau memilih kembali kepadaku tadi malam."

Aku menamparnya.

Suara itu menggema di ruang makan.

Arkana tidak bergerak. Bekas merah muncul di pipinya.

"Jangan pernah menyebutku milikmu," kataku.

Matanya menjadi gelap. "Kau benar."

Dia mengambil kunci mobil dan pergi.

Mesin meraung melewati gerbang. Aku berdiri di jendela ruang musik sampai halaman kosong.

Satu jam berlalu.

Lalu tengah malam.

Kemudian pukul tiga pagi.

Arkana tidak pulang.

Tidak ada pesan dari Bayu, Jagal, atau pengawal yang berjaga di gerbang untuk menjelaskan ke mana dia pergi.

Aku duduk di depan jendela dengan selimut di bahu dan ponsel di tangan. Setiap cahaya kendaraan membuatku berdiri. Setiap kali bukan mobilnya, dadaku semakin sesak.

Aku mengetik namanya berkali-kali, tetapi tidak pernah menekan tombol panggil. Harga diri menahan tanganku, sementara ketakutan mengingatkanku pada darah yang pernah memenuhi telapak tangan di jalan hujan.

Saat matahari mulai memucatkan langit, aku akhirnya mengerti hal yang paling tidak ingin kuakui.

Aku tidak hanya menyukai Arkana.

Aku telah jatuh cinta kepada pria yang seharusnya paling kubenci.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!