NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18: Tak Ada Lagi Panggilan Bernama Kayla

Azka merasa ada tepukan di tubuhnya. Dengan setengah sadar, ia membuka mata. Wajah Visha terlihat samar dengan latar belakang cahaya dari jendela menyambut pagi yang telah tiba.

“Mhh..” gumamnya pelan.

Tapi kemudian Visha mengucapkan sebuah kalimat yang membuat ia langsung terbangun. “Sudah hampir jam delapan, kamu masih belum mau bangun?” ungkapnya.

Seketika saja Azka langsung terhenyak, bangkit dari tidurnya. Ia mengambil handphone, melihat jam yang ternyata masih pukul setengah enam pagi.

“Ya ampun, Visha. Kamu ngerjain aku,” ucap Azka lega.

“Habisnya kamu dari tadi aku bangunin susah sekali.”

Azka memegang rambutnya sendiri, sedikit menjambak lalu membaringkan tubuh ke ranjang.

“Lho, kok tidur lagi? Ayo buruan bangun, mandi, sarapan. Aku sudah buatkan sandwich di meja,” ujar Visha.

“Kamu tidak masak omelet?”

Melihat suaminya terdengar kecewa, Visha berkata, “Ya sudah, sekarang aku masakin omelet juga. Tadinya aku pikir kamu akan lebih kenyang kalau sarapan sandwich.”

“Asik! Gitu dong,” sahut Azka girang.

“Tapi aku tidak akan masakin kalau kamu masih tiduran di sini,” ucap Visha.

Mendengar itu, Azka langsung bangun, mencium kening Visha, mengambil handuk yang tergantung di pintu lemari, lalu menuju kamar mandi. Merasa lega karena menyadari istrinya sudah tidak marah lagi.

Beberapa menit kemudian, Azka sudah rapi dengan seragam kerjanya. Ia terlihat masih menguap karena tidur kurang nyenyak.

“Kamu tadi malam kemana sih?” tanya Visha yang memang sudah menahan pertanyaan sejak tadi malam.

Azka menjawab santai, “Aku ke kafe, minum kopi.”

“Aku tidak mau ya kamu jadikan peristiwa semalam sebagai kebiasaan. Kalau kita sedang ada masalah, jangan lari. Jika alasanmu karena aku diam, kamu kan tahu saat aku marah, aku pasti diam. Tapi aku tetap layani kamu, aku akan jawab pertanyaanmu selama bukan tentang hal yang sedang aku kesalkan,” tegas Visha.

“Aku hanya butuh waktu meredam kemarahanku, tapi setelahnya, aku pasti akan bicara,” sambungnya.

Tidak mau memperpanjang masalah, Azka mengesampingkan egonya dengan menyetujui Visha. “Iya, aku paham. Sekali lagi aku minta maaf ya,” ucap Azka sambil makan omelet yang ada di meja.

“Eh itu sandwichnya juga dimakan!” kata Visha.

Dengan mengangkat jempolnya, Azka menjawab “Oke, siap!”

***

Siang datang perlahan, diselimuti langit meski cerah merona tapi tetap seperti ada sesuatu yang kurang. Kantor berjalan seperti biasa, datar, nyaris membosankan.

Hari ini menandai tujuh hari sejak Kayla terakhir kali masuk kerja. Tanpa kabar lanjutan setelah telepon beberapa hari lalu. Tak ada jejak kehadiran yang membuat Azka semakin gelisah. Rasanya seperti Kayla menghilang begitu saja, entah ia sedang apa sekarang.

Azka menatap layar laptop, jari-jarinya diam di atas keyboard. Saat itulah, suara getaran memecah lamunan. Ia terdiam sejenak, jantungnya seperti tertunda beberapa ketukan. Ia meraih handphone, mengangkatnya cepat akibat reaksi refleks tangan lebih dulu sebelum pikiran sempat memproses.

“Maaf sekali, Pak. Saya baru sempat memberi kabar. Saya besok sudah bisa masuk ya, Pak,” ucap Kayla di telepon.

Terdapat sebuah jeda sebelum Azka menjawabnya dengan singkat, “Oke, siap.”

Panggilan masih tersambung, keduanya diam. Kayla seperti menunggu jawaban lanjutan, sedangkan Azka juga berpikir hal yang sama.

Azka tidak tega kalau langsung mengakhiri panggilan tersebut.

“Baik pak, itu saja, terima kasih,” kata Kayla hendak mengakhiri telepon lebih sopan dari sebelumnya.

“Sama-sama,” jawab Azka dingin.

Telepon pun berakhir. Keduanya sama-sama menyadari situasi yang tidak biasa namun dengan perbedaan sudut pandang.

Azka memiliki pemikiran untuk memberi batasan baru, sedangkan Kayla mengira Azka sedang marah kepadanya karena tidak memberi kabar selama beberapa hari terakhir.

Hari berlalu cepat.

Pagi kembali datang dengan jalanan yang masih basah sisa hujan tadi malam. Hawa di luar terasa menusuk hingga menembus tulang. Suasana kantor memperlihatkan banyak pegawai yang mengenakan jaket hangat karena tidak tahan terhadap cuaca dingin itu.

Pintu ruangan Azka terbuka pelan, nyaris tanpa suara. Azka tengah menatap layar laptop, namun pikiran melayang entah ke mana. Pada saat bersamaan, ia dikejutkan dengan kedatangan Kayla yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

Tangan kanan memegang segelas kopi yang masih mengepulkan uap, sementara di tangan kiri ada roti dibungkus kertas coklat sederhana.

Kayla melangkah mendekat, lalu meletakkan keduanya di meja Azka. Kemudian duduk perlahan di kursi seberang, tepat di hadapan lelaki yang sempat ia hindari selama seminggu penuh.

“Pak Azka, saya minta maaf, kemarin tidak memberi kabar. Saya belikan kopi sama roti sebagai bentuk permintaan maaf saya ya?” ucap Kayla dengan nada manja memelas.

“Please,” lanjutnya sambil mengedipkan mata tiga kali.

Azka menatap Kayla beberapa detik, memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. Namun, ketika melihat ekspresi tulus yang terpantul di wajah wanita itu, Azka menarik nafas dalam-dalam.

Ia tak ingin memperkeruh suasana, paling tidak, bukan sekarang. Mengingat ia belum tahu apa yang telah dialami oleh Kayla beberapa hari kemarin.

Dengan gerakan perlahan, Azka meraih gelas kopi yang disodorkan, lalu mengambil bungkusan roti. Tidak ada senyum lebar atau kata sambutan hangat, hanya anggukan kecil sebagai bentuk penerimaan.

“Iya, saya paham Sesil, sebenarnya kamu tidak perlu seperti ini. Oh ya, bagaimana dengan kondisi ibu? Sudah sehat?” kata Azka berusaha untuk mencairkan suasana.

Perubahan begitu jelas terdengar, Azka tak lagi memanggilnya dengan nama Kayla. Tapi mereka berdua seperti saling memahami satu sama lain. Tidak ingin terlalu mempermasalahkannya.

“Syukurlah kesehatannya membaik, sekarang sudah bisa ditinggal,” jawab Sesil.

Baru saja ingin melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Azka memberitahu kalau ia hendak pergi keluar ruangan. “Maaf Sesil, saya kebetulan sedang ada janji, jadi sekarang harus pergi dulu ya,” ujarnya.

“Oh, iya Pak. Saya juga mau kembali ke ruangan dulu. By the way, makasih ya supportnya kemarin. Walau saya tidak sempat balas, tapi itu sangat berarti buat saya,” kata Sesil yang kemudian berjalan keluar menuju pintu.

Mendengar ucapan Sesil barusan, tiba-tiba saja Azka terdiam. Ia melihat Sesil berjalan keluar ruangan dengan perasaan ingin menghentikan, tapi ia tahu itu tidak mungkin dilakukan.

Seketika saja Azka ingin membatalkan komitmen untuk membuat batasan baru dengannya. Ia tidak menyangka kalau Sesilia ternyata menghargai perhatian yang ia berikan.

Hanya saja kemarin ia terlalu berprasangka buruk dengan menilai kalau Sesil tidak menganggapnya.

Kelabilan Azka kembali muncul.

Ia dikuasai oleh perasaan-perasaan yang selama ini berhasil disembunyikan. Semua upaya sia-sia hanya karena satu kalimat dari Sesil tadi.

Untuk menghindari kesalahan terulang, Azka langsung berinisiatif bicara dengan Noval. Tak lama Sesil pergi, ia menghubungi Noval, tapi tidak diangkat. Ia pun memutuskan keluar dari ruangan, mencari keberadaan Noval.

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!