NovelToon NovelToon
Takut Sial, Mau Tunangan

Takut Sial, Mau Tunangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Idola sekolah
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: whimsy quinn

menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.

Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.

Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.

Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Kuku Dulu

"Lo nanyain orang tua kandungnya, kan? Orang tua kandung Kenya... dua-duanya udah gak ada."

"Semua?" Archard memastikan.

"Iya," Kaisan mengangguk.

"Terus sekarang dia tinggal sama siapa?"

"Sama orang tua angkatnya."

"Bapak atau ibu?"

"Iya, bapak ibu." Kaisan menghela napas pendek sebelum melanjutkan ceritanya yang agak rumit. "Jadi gini... nyokap kandungnya Kenya itu telat nikah karena sibuk ngejar karier. Terus akhirnya nikah sama duda, yaitu bokap kandungnya Kenya. Nah, terus..." Kaisan tampak mengetuk-ngetuk setir, mencoba mengingat urutan waktunya. "Antara Kenya umur sembilan atau sepuluh tahun, bokap kandungnya meninggal."

Archard menyimak dalam diam.

"Karena nyokapnya ngerasa Kenya masih kecil dan butuh figur ayah, nyokapnya nikah lagi. Tapi Kenya gak pernah bisa deket sama bokap tirinya itu. Sialnya, gak lama setelah itu nyokap kandungnya didiagnosis kanker. Sekitar tiga atau empat atau lima tahun kemudian... nyokapnya juga meninggal."

Archard berdecak pelan mendengar estimasi waktu Kaisan yang berantakan.

"Gue gak inget detail tahun-tahunannya, Ar!" bela Kaisan seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran sahabat robotnya itu. "Terus, setelah nyokap kandungnya meninggal, si bokap tiri ini nikah lagi sama cewek lain. Dan sekarang, Kenya tinggal sama mereka berdua. Jadi statusnya, Kenya tinggal sama dua orang tua tiri."

Mata Archard sedikit bergeming. "Mereka... baik atau jahat?"

Kaisan langsung tertawa renyah mendengar diksi yang digunakan Archard. "Bahasa lo kayak anak SD aja, Ar. Orang tuanya baik, kok. Fasilitas Kenya dicukupi banget, rumahnya mewah, kan? Tapi Kenya-nya aja yang tetep gak bisa menerima kehadiran mereka. Hubungan mereka biasa aja. Dibilang deket jelas enggak, tapi dibilang sering ribut juga enggak. Dingin aja."

"Terus dia punya saudara gak?"

Kaisan bergumam pendek. "Dulu nyokapnya sempat hamil pas sama bapak tirinya, tapi meninggal karena kelilit tali pusar."

"Oh." Archard manggut-manggut, mulai memahami potongan teka-teki kehidupan Kenya.

"Jadi lo gak perlu khawatir. Kalau lo mau nikahin dia—"

"Nih, lo yang anter." Archard langsung memotong kalimat Kaisan, menjatuhkan tas ransel Kenya ke atas pangkuan cowok itu, lalu membuka pintu mobil dengan cepat tanpa mau mendengar ocehan tidak bermutu sahabatnya lagi.

Kaisan terbelalak, berdecak kesal. "Gini nih ya rasanya punya temen robot!"

Dengan kesal, Kaisan menurunkan kaca jendela mobilnya, lalu melemparkan tas Kenya keluar hingga mendarat tepat di dekapan Archard yang belum melangkah jauh.

"GUE GAK MAU, AR! LO AJA YANG ANTERIN SENDIRI!" teriak Kaisan sekuat tenaga sebelum menutup kaca jendela dengan cepat dan langsung menginjak gas, meninggalkan area sekolah.

Archard hanya bisa menatap malas ke arah mobil Kaisan yang menjauh, lalu menunduk, menatap tas malang milik Kenya yang kini berada di tangannya. Mau tidak mau, dialah yang harus mengantarkannya.

•••

Sekarang Silva sudah berada di kamar Baffin. Tadi, saat di gerai burger Silva mengajak untuk mengubah hubungan mereka menjadi teman saja, Baffin langsung menolaknya mentah-mentah. Alasan Baffin sederhana: Silva bisa membantunya terhindar dari cewek-cewek agresif di sekolah.

Silva yang merasa hanya dijadikan tameng tentu saja langsung protes keras. Namun, Baffin membalas dengan kalimat telak bahwa kalau orang-orang tahu mereka sekarang cuma berteman, Silva justru akan makin diejek oleh siswi yang membencinya.

Kalimat itu masuk akal, tapi dasar Silva keras kepala, ia tetap ingin menentangnya. Sampai akhirnya kalimat terakhir Baffin sukses membungkamnya, "Orang tua kita juga gak akan setuju."

      Setelah menutup obrolan, Baffin langsung menariknya pulang. Karena tidak tahu jam berapa Bunda Airin akan pulang ke rumah, Silva memilih untuk mengamankan diri dari interogasi ibunya di kamar Baffin.

Ditambah lagi, Baffin sudah mewanti-wanti bahwa Silva harus membuatkannya nasi goreng malam ini sebagai bayaran ponsel baru. Jadi, sepertinya Silva terpaksa mendekam di kamar cowok itu sampai malam.

Sebenarnya, ini situasi yang sangat aneh. Baffin dikenal paling tidak suka kamarnya dimasuki orang lain, apalagi oleh Silva—gadis ceroboh pembawa huru-hara.Silva melirik jam dinding, lalu menatap Baffin. "Sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Aku mau pulang," ujarnya bersiap berdiri.

Namun, Baffin menahan pergelangan tangannya. "Kamu harus bikinin aku nasi goreng. Aku gak beliin ponsel itu gratis."

"Iya, nanti malem aku bikinin. Aku pulang ke rumah dulu sekarang."

"Bikinnya kan di rumahku," sahut Baffin tenang.

"Enggak mau. Nanti dimarahin Bunda kalau aku ngotorin rumah orang."

Baffin menatapnya datar. "Nasi gorengnya kan buat aku. Kalau bikin di rumahmu, kasihan Tante Airin terganggu. Masaknya di sini aja. Kamu yang bikin, nanti aku yang beresin sisanya."

"Ya udah, nanti malem aku kesini lagi."

Baffin tidak membalas lewat kata-kata. Dengan satu sentakan pelan namun bertenaga, cowok itu menarik lengan Silva hingga tubuh gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tepat di pangkuannya.

Silva yang terkejut sekaligus kesal refleks mengayunkan tangannya, memukul wajah Baffin agak keras. "Apin, ih!"

Baffin mengaduh pelan. Ia refleks memegang pipinya yang mendadak terasa perih. Ada garis kemerahan di sana.

Baffin beralih meraih jemari tangan Silva, memeriksanya. Kuku-kuku gadis itu ternyata sudah tumbuh cukup panjang.

Namun, Baffin tahu ini bukan tipe kuku yang sengaja dipanjangkan untuk estetika. Biasanya, kalau perempuan memanjangkan kuku, bagian pinggirnya akan dikikir agar terlihat runcing dan rapi. Sedangkan kuku Silva tumbuh begitu saja secara alami.

"Kenapa sudah panjang begini gak dipotong?" tanya Baffin.

"Sakit. Bunda kalau motongin kedalaman terus," cicit Silva jujur.

Baffin menaikkan sebelah alisnya. "Kamu masih dipotongin kuku sama Bunda?"Silva mengangguk tanpa dosa. "Makanya aku mau dipotongnya kalau sudah panjang banget. Biar gak bolak-balik ngerasain sakit."

Baffin menghela napas pendek. Detik berikutnya, tanpa aba-aba ia mendorong pelan tubuh gadis itu hingga terlempar ke atas kasur empuknya.

"Duh, Apin!" keluh Silva sambil memegangi punggungnya yang tidak sakit sama sekali.

Silva buru-buru bangkit, berniat kabur ke rumahnya. Namun, Baffin sudah lebih cepat mengambil posisi duduk di pinggir ranjang sambil memegang sebuah gunting kuku.

Sebelum Silva berhasil melangkah, Baffin kembali menariknya, membuat Silva jatuh terduduk di atas pangkuan cowok itu untuk kedua kalinya.

"Aku potongin. Gak akan sakit," ujar Baffin tenang.

Mata Silva langsung membola besar saat melihat benda tajam kecil di tangan Baffin. Ketakutannya mendadak bangkit.

Ia mulai menggeliat, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Baffin.

"Gak akan sakit, Cilpaaa..." bujuk Baffin, melembutkan suaranya yang biasa datar.

"Aku gak mau dipotong!" tolak Silva panik, langsung menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.

"Diem." Satu kata tegas dari Baffin entah kenapa langsung membuat Silva membeku. Meskipun tangannya masih disembunyikan, ia tidak lagi memberontak.

Baffin menatap wajah Silva dari jarak dekat, lalu pandangannya terkunci pada goresan tipis di pipi gadis itu. "Ini... pasti gara-gara kuku kamu sendiri. Wajah aku juga barusan kecakar sama kamu nih. Ini bahaya, harus dipotong."

Silva mengerucutkan bibirnya. "Gak apa-apa. Bagus kalau bisa buat nyakar. Biar orang yang cari gara-gara sama aku di sekolah langsung aku cakar mukanya."

"Jangan suka ribut di sekolah, Cilpa," tegur Baffin pelan.

"Aku gak ribut. Sananya yang mulai duluan!" bela Silva tidak mau kalah.

Baffin terdiam sejenak, menatap lekat mata bulat Silva. "Mulai sekarang, jangan berantem lagi. Kamu nempel aja terus sama aku."

Baffin memperbaiki posisi duduk mereka agar Silva lebih nyaman. "Kalau orang gak suka sama kamu karena kamu dekat sama aku, kamu gak usah marah atau bales pakai otot. Kamu makin dekat aja sama aku di depan mereka. Itu sudah cukup buat balas dendam."

Silva mengerjap-erjap, mencoba mencerna taktik itu. "Gitu, ya?"

Baffin mengangguk yakin. "Itu gak capek dan gak sakit. Tapi lawan kamu pasti bakal langsung kalah telak."

Silva tampak berpikir sebentar, lalu dengan kepolosan yang hakiki, ia mendongak menatap Baffin. "Dekatnya ngapain? Peluk? Kayak gini?"

Tanpa ragu, Silva mengalungkan kedua lengan mungilnya ke pinggang Baffin, memeluk cowok itu erat-erat dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang laki-laki itu. posisinya masih terduduk di atas paha Baffin di pinggir ranjang.

Baffin membeku seketika. Jantungnya berdegup satu kali lebih kencang. Ia mati-matian menahan senyumnya yang hampir lolos karena merasa geli sekaligus gemas dengan tingkah spontan Silva. Ia berdeham kecil, berusaha memasang kembali wajah datar andalannya.

"Sudah, pokoknya aku potongin dulu kuku kamu. Ini bahkan nyakitin diri kamu sendiri," ujar Baffin mengalihkan pembicaraan.

"Emangnya mukaku lecet?" tanya Silva mendongak dari dekapan Baffin.

Baffin mengangguk. "Kayanya kegores pas kamu tidur."

Baffin mengambil tangan kanan Silva, lalu mengarahkan jemari lembut gadis itu untuk meraba pipinya sendiri yang terluka.

Silva mengusap-usap bagian itu perlahan. Memang terasa ada bekas garis luka tipis yang agak perih.

"Pantesan pas aku nyuci muka sama skincare-an tadi agak perih," gumam Silva baru sadar.

Sebenarnya ia memang sering mendapati wajahnya lecet kecil saat bangun tidur, tapi ia tidak pernah paham apa penyebabnya.

Begitu Baffin hendak menarik tangannya untuk mulai memotong, kepanikan Silva kembali muncul. Ia refleks ingin menarik tangannya menjauh. Namun, Baffin bergerak lebih cepat untuk mengunci pergerakan gadis itu.

Lengan kiri Baffin melingkar protektif di pinggang Silva, merapatkan tubuh mereka, sementara tangan kanannya memegang jemari kiri Silva yang akan menjadi target pertama.

Baffin menatap mata Silva yang berkaca-kaca ketakutan. "Satu kuku dulu," bisik Baffin meyakinkan. "Kalau sakit, gak akan aku paksa lagi."

1
Ai Oncom
❤️❤️❤️
chill: makasih ya sudah mampir.. baca juga buku yang satunya. 📖📖
total 1 replies
falea sezi
😒 cwek manja g guna sial teros
falea sezi
🤣🤣 ceroboh dan goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!