Ara hanyalah seorang wanita biasa yang tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah meminum ramuan ajaib yang membawanya kembali ke masa lalu, tepat sebelum seseorang yang paling dicintainya meninggal dunia.
Bara. Lelaki yang dicintainya itu tengah berjuang melawan leukemia stadium akhir. Namun, kali ini Ara mendapatkan kesempatan untuk mengubah takdirnya.
Sayangnya, kesempatan itu hanya diberikan selama 14 hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon justjeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You
Ara melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah menunjukkan pukul satu siang.
Perutnya bahkan sudah berbunyi sejak tadi karena sejak pagi ia belum sempat sarapan. Kini, ia dan Bara sudah turun dari atap kampus dan berjalan beriringan menuju gedung utama.
"Bara, lo kemarin udah ngabisin ayam geprek gue, kan?" Ara menoleh kepadanya. "Sekarang gantian traktir gue makan, dong."
"Kalau gue ganti uangnya aja, gimana? Gue mau pergi habis ini."
"Pergi ke mana?"
"Rahasia."
Bara tersenyum jahil.
"Perjanjian lo tadi dimulai besok, kan? Jadi, perjanjian itu belum berlaku buat hari ini. Kapan-kapan aja gue traktir, habis gue ngejahilin lo lagi."
"Mulai lagi, deh, ngeselinnya."
Ara mendengus.
"Untung aja gue masih bisa sabar ngadepin tingkah laku lo."
"Ara!!! Lo ke mana aja?!"
Ara sontak menoleh ke arah sumber suara. Beberapa orang terlihat berlari menghampirinya.
Ada Sora, Yuvin, Yohan, bahkan Biruㅡkakaknya yang juga berkuliah di kampus yang sama.
Wajah mereka terlihat panik. Kecuali Sora.
Ara menghilang begitu saja setelah insiden kursinya yang diberi lem oleh Bara, sehingga mereka semua mencarinya ke berbagai tempat.
"Loh? Ini kenapa rame-rame gini?" Ara mengerutkan kening. "Kok ada Bang Biru juga?"
"Abang udah denger semuanya dari teman-temanmu."
Biru langsung menatap Ara.
"Mereka bilang kursimu diberi lem sama Bara. Bener?"
Ara belum sempat menjawab ketika tatapan Biru beralih kepada Bara.
"Bara, lo udah keterlaluan banget!"
Biru langsung melayangkan tinjunya ke wajah Bara.
Bugh!
Bara terjatuh tersungkur. Seketika, semua orang terkejut. Bara hanya terdiam beberapa saat sebelum mengusap sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah.
Ia tidak membalas. Bagaimanapun juga, ia sadar bahwa kejadian tadi memang merupakan kesalahannya.
"Abanggg!"
Ara langsung berlari menghampiri Bara.
"Apa-apaan, sih?! Jangan pakai kekerasan kayak gini, dong!"
Yuvin dan Yohan bahkan ikut terkejut mendengar ucapan Ara. Bukannya marah kepada Bara, Ara justru membelanya. Sementara Sora hanya menggigit bibirnya sendiri karena tidak tahu harus berbuat apa.
"Bara, lo nggak apa-apa?"
Ara mengulurkan tangannya.
"Maafin abang gue, ya. Dia cuma emosi sesaat."
Ara membantu Bara berdiri, kemudian mengambil tisu dari dalam tasnya dan mulai membersihkan darah di sudut bibir lelaki itu.
Sontak, tindakan tersebut membuat teman-temannya sekaligus Biru terdiam kebingungan. Seumur-umur, baru kali ini mereka melihat Ara bersikap begitu baik dan perhatian kepada Bara.
Tanpa sadar, Bara tersenyum tipis. Tatapannya tertuju pada Ara yang sedang membersihkan darah di sudut bibirnya dengan hati-hati.
"Gak masalah."
Bara menggeleng.
"Emang gue yang salah, Ra. Gue pantas dapetin hukumannya, kok."
"Kenapa kamu malah ngebela dia, Dek?"
Biru menatap adiknya dengan tidak percaya.
"Terus, nilaimu gimana?"
"Masih bisa ngulang, Bang."
Ara mengangkat bahu.
"Abang nggak perlu pusing. Lagian masih ada semester pendek. Gampang. Nanti aku ikut semester pendek aja."
"Sialan!"
Biru menatap Bara dengan curiga.
"Adek gue lo pelet pakai apaan sampai bisa jadi baik sama lo begini?"
"Saya nggak ngapa-ngapain dia, Bang."
Bara langsung mengangkat kedua tangannya.
"Saya berani sumpah!"
Ia menoleh kepada Ara.
"Ra, mending nggak usah ngebaikin gue kayak gini. Gue nggak mau yang lain malah jadi salah paham."
Ara terdiam sejenak.
"Tapi lo selama ini dicap jelek sama teman-teman dan anak kelas, kan?"
Ia menatap Bara.
"Apalagi hobi lo yang suka ngerjain gue bikin teman-teman gue jadi benci sama lo dan ngejauhin lo kayak gini."
Ara menghela napas.
"Gue nggak mau lo sendirian terus."
Tatapannya melunak.
"Gue mau lo juga temenan sama yang lain."
"Gak perlu, Ra."
Bara tersenyum tipis.
"Gue emang jahat. Gue nggak pantas punya teman."
Ia menundukkan pandangan.
"Gue juga udah biasa sendirian."
Sakit banget hati ini waktu kamu ngomong kayak gitu, Bara. Aku cuma pengin kamu membuka diri dan berteman dengan yang lain di sisa waktumu ini.
"Bara!"
Seseorang tiba-tiba memanggil dari kejauhan.
"Kamu dicariin ke mana-mana dari tadi. Ternyata ada di sini."
Seorang wanita berjalan menghampiri mereka.
"Eh, ini rame-rame ada apaan, ya?"
Bara langsung menoleh.
"Ah, nggak ada apa-apa."
Ia kemudian berdiri.
"Mau pergi sekarang?"
"Ya udah, yuk."
Bara menoleh kepada Ara.
"Gue duluan, ya, Ra. Sampai besok."
Ara hanya mengangguk. Ia membiarkan Bara pergi bersama wanita yang baru saja datang itu.
Jika ini terjadi di masa lalu, mungkin Ara sudah merasa kesal. Mungkin ia juga akan merasa cemburu.
Namun, kali ini tidak. Ara tahu siapa wanita tersebut. Marissa Baruna. Kakak kandung Bara.
Ara hanya tersenyum melihat kedekatan keduanya yang dari kejauhan memang terlihat seperti sepasang kekasih.
"Ra, itu ceweknya Bara?"
Yuvin memandang ke arah Marissa.
"Cakep banget!"
"Gila, Vin."
Yohan ikut menimpali.
"Gue aja sampai mau ngiler waktu tadi lihat pakaiannya yang kayak gitu."
"Sama, Han."
Yuvin mengangguk serius.
"Bahkan pikiran gue hampir melayang sampai ke mana-mana."
Ara langsung menatap keduanya dengan malas.
"Yuvin, Yohan, otak lo berdua mending dijual aja, deh. Nggak guna."
Kemudian, pandangannya beralih kepada Biru yang masih terlihat tercengang menatap kecantikan Marissa.
"Bang, itu mulutnya ditutup."
Ara menunjuk wajah kakaknya.
"Nanti ada cicak masuk, loh."
"Gila..."
Biru masih menatap Marissa.
"Seksi banget!"
Ia menoleh kepada Ara.
"Dek, kamu mau bersaing sama dia? Mending mundur aja. Kamu udah jelas kalah."
Ara memutar bola matanya.
"Emangnya dia beneran pacarnya Bara, Ra?"
Kali ini Sora yang bertanya. Ara langsung menatap sahabatnya itu setelah selesai mengumpati sang kakak dalam hati.
"Gue nggak tahu."
Ara mengangkat bahu.
"Bukan urusan gue juga."
Ia kemudian memegang perutnya.
"Udah, ah. Gue mau makan dulu. Laper."
"Ikuuuuuttttt!"
"Abang juga ikut."
Mereka semua akhirnya berjalan menuju kantin dan mulai sibuk memilih makanan masing-masing. Namun, Sora tiba-tiba menarik tangan Ara dan mengajaknya menjauh dari keramaian.
"Ada apa?"
Ara menatapnya.
"Ra, lo nggak jadi ngikutin Bara?"
"Habis makan, lo ikut gue."
Ara menatap Sora dengan serius.
"Kita pergi berdua aja. Kayaknya gue tahu tujuan mereka."
"Ke mana?"
"Gue inget rumah sakit tempat Bara dulu dirawat."
Sora terdiam sejenak.
"Oke."
Ia kemudian mengangguk.
"Gue ngikut lo aja."
...---...
"Itu tadi teman-teman kamu?"
Marissa berjalan di samping Bara.
"Terus, cewek yang berdiri di sebelah kamu tadi yang sering kamu ceritain itu, ya?"
Ia tersenyum kecil.
"Si Ara yang sering kamu jahilin itu?"
"Iya."
Bara mengangguk.
"Tadi aku naruh lem di kursinya sampai dia nggak bisa berdiri."
Ia menyentuh sudut bibirnya yang masih terasa nyeri.
"Kakaknya marah, terus mukul aku."
"Kamu nggak apa-apa?"
Marissa langsung menghentikan langkah.
"Ada yang sakit, nggak?"
Bara tersenyum.
"Gak apa-apa, Kak. Aku juga yang salah."
Ia kemudian terkekeh kecil.
"Aku sebenarnya malah senang karena Ara sekarang udah mulai nganggep aku ada."
Bara menatap lurus ke depan.
"Kak Icha tahu sendiri, kan? Dia selalu ngejauh setiap kali aku ngejahilin dia."
"Kamu juga aneh banget."
Marissa menggeleng.
"Kalau suka, ya bilang. Bukannya malah dikerjain sampai pernah masuk got segala."
Ia menatap Bara dengan tegas.
"Dia itu wanita, Bara. Jangan kayak gitu lagi. Kakak nggak suka."
"Iya, maaf."
Bara menundukkan kepala.
"Soalnya reaksi Ara lucu banget."
Marissa tersenyum melihat adiknya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah Bara terlihat sedikit lebih bahagia.
Sepertinya, ia memang harus segera bertemu Ara. Ada sesuatu yang ingin dibicarakannya mengenai Bara. Marissa hanya ingin melihat adiknya bahagia sebelum semuanya terlambat.
"Kamu masuk ruang rawat dulu, ya?"
Marissa menepuk bahu Bara.
"Kakak mau beli makanan dulu."
Bara hanya mengangguk. Ia kemudian masuk ke ruang rawatnya dan berganti pakaian dengan pakaian rumah sakit.
Bara memang sudah rutin menjalani perawatan di rumah sakit. Itulah yang membuatnya sering absen kuliah dan tidak terlalu dekat dengan teman-teman sekelasnya.
Sembari menunggu dokter datang, Bara berbaring di atas ranjang sambil menatap langit dari balik kaca jendela kamar rawatnya. Sesekali, ia menghela napas pelan. Pikirannya kembali tertuju kepada Ara.
"Ara..."
Bara tersenyum kecil.
"Aku sayang banget sama kamu."
Tatapannya masih terpaku pada langit.
"Sayangku benar-benar tulus ke kamu."
Ia terdiam sejenak.
"Andai aja aku bisa jujur kalau aku lagi nggak baik-baik aja dan sebenarnya butuh kamu di sisiku."
Bara menghela napas.
"Tapi aku sadar kalau aku cuma jadi cowok brengsek di mata kamu."
Ia tersenyum getir.
"Aku memang nggak seperti cowok-cowok lainnya."
Bara menatap langit yang perlahan berubah warna.
"Maka dari itu, mungkin lebih baik hubungan kita seperti ini terus aja."
"Aku cuma nggak mau nyakitin kamu."
Ia menelan ludah.
"Aku juga nggak mau bikin kamu nangis karena aku."
Bara memejamkan mata.
"Semoga kamu mau maafin aku, Ra."
Senyumnya kembali terukir tipis.
"Aku janji bakal selalu ada buat kamu selama dua belas hari ke depan."
Ia menggenggam selimut di atas dadanya.
"Doakan aku supaya aku bisa kuat nemenin kamu."
Bara menarik napas panjang.
"Aku sayang kamu, Ara Moana."
Tanpa Bara sadari, seseorang berdiri diam di balik pintu. Seorang wanita yang sejak tadi tidak sengaja mendengar seluruh perkataannya. Tangannya perlahan meremas dadanya sendiri.
Ia berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia benar-benar tidak sengaja mendengar Bara berbicara sendiri.
Namun, setiap kata yang keluar dari mulut lelaki itu terasa seperti menghantam dadanya berkali-kali. Ara tidak pernah tahu. Tidak pernah menyangka.
Ternyata, Bara benar-benar menyukainya. Bukan sekadar suka. Perasaan lelaki itu ternyata sedalam itu.
Ara menundukkan kepala. Dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis.
Bara...
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Ara semakin yakin dengan satu hal. Ia tidak peduli bagaimana caranya. Ia tidak peduli sesulit apa takdir yang harus dilawannya. Ia akan membuat Bara bahagia.
Selama dua belas hari yang tersisa, Ara akan memberikan seluruh kebahagiaan yang bisa ia berikan kepada lelaki itu.
Karena kali ini... Ara tidak ingin Bara pergi dengan membawa penyesalan. Dan ia juga tidak ingin kembali ke masa depan dengan penyesalan yang sama.