NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10- PESTA DI BALIK TIRAI KLINIK

Lampu-lampu kota Jakarta mulai berpendar temaram di balik jendela mobil saat senja perlahan merangkak turun. Aspal basah bekas hujan deras memantulkan bias cahaya merah dari lampu belakang kendaraan, berkilau bagai tetesan darah yang tercecer di sepanjang jalan protokol.

Di dalam kabin sedan antipeluru Varell Group, hanya ada kesunyian yang dingin dan kaku.

Aku menyandarkan kepalaku ke sandaran jok kulit hitam, membiarkan mantel tebal milik Adrian tetap menyelimuti bahuku yang masih terasa beku. Di sampingku, Adrian Varell duduk dengan postur tubuh yang luar biasa rileks untuk seorang pria yang baru saja melompati maut di bibir jurang jembatan layang. Sebuah laptop berlayar ganda terbuka di pangkuannya. Cahaya kebiruan dari layar memahat garis rahangnya yang tegas, memantulkan angka-angka pergerakan bursa saham yang bergulir cepat tanpa henti.

Jemarinya yang panjang dan kokoh mengetik beberapa perintah transaksi dengan ketukan berirama lambat.

"Pukul empat lewat lima belas menit," suara bariton Adrian memecah keheningan kabin tanpa ia mengalihkan pandangannya dari layar bursa. "Darmawan Arkana baru saja menandatangani pelepasan seluruh surat berharga subordinasi milik Arlena Holding ke entitas lepas pantai kita di Singapura. Orang tua itu mengira dia sedang menyelamatkan uang kasnya dari potensi krisis sebelum berita kecelakaan mobil putranya meledak di pasar modal besok pagi."

Sudut bibirku terangkat membentuk seringai dingin. "Darmawan menjual surat utang itu dengan harga diskon delapan belas persen, bukan?"

Adrian menghentikan ketukan jarinya sejenak. Ia memiringkan kepala, menatapku lurus di bawah temaram lampu kabin mobil. Sepasang mata hitam kelamnya menyipit tipis, menyelidiki batas ketepatan tebakanku.

"Persis delapan belas koma dua persen," sahut Adrian pelan. "Bagaimana kamu bisa tahu angka itu begitu presisi, Nona Arlena? Bahkan pialang saham kawakan pun butuh kalkulasi kepanikan selama beberapa jam untuk menebak rasio diskon pelepasan darurat seperti ini."

Aku menatap pantulan diriku di kaca jendela yang basah oleh rintik gerimis. Bagaimana aku bisa tahu? Karena di kehidupanku yang dulu, Darmawan Arkana membualkan angka itu berulang kali saat makan malam keluarga besar kami. Dia tertawa terbahak-bahak sambil meneguk anggur merah termahalnya, memamerkan bagaimana ia merampok hak subordinasi Arlena Holding tepat di hari Ethan meninggal, mengunci Ayah dalam cengkeraman utang sebelum akhirnya menelan seluruh dividen keluarga kami hidup-hidup.

Dulu, angka delapan belas koma dua persen itu adalah belati yang menancap di dada keluargaku.

Hari ini, angka itu menjadi tali jerat yang kupasangkan sendiri ke leher dinasti Arkana.

"Ketamakan orang seperti Darmawan sangat mudah diprediksi, Tuan Varell," jawabku datar, menoleh dan membalas tatapannya tanpa sedikit pun gentar. "Dia selalu merasa dirinya adalah serigala paling cerdik di lantai bursa, padahal dia hanyalah hyena yang terbiasa memakan bangkai. Begitu dia mencium aroma kepanikan, dia akan melempar apa pun demi mempertahankan likuiditas tunai jangka pendeknya."

Adrian memandangi wajahku selama beberapa detik yang hening. Tatapannya begitu dalam dan tajam, seolah sedang mencoba menyingkap lembar demi lembar rahasia yang tersembunyi di balik mata gadis sembilan belas tahun di hadapannya.

"Kamu terlalu berbahaya untuk dibiarkan berjalan tanpa pengawasan, Nadia," bisik Adrian rendah, ada nada ketertarikan yang liar bergetar di balik suaranya. "Ayahmu mengira dia sedang melindungi anak domba yang polos di ruang rapat tadi siang. Dia tidak tahu bahwa dia sedang memelihara seekor ular berbisa yang tahu persis di mana harus menyuntikkan racunnya."

"Jika saya seekor ular," kataku sambil mencondongkan tubuhku ke arahnya, aroma kayu cedar dan tembakau dingin kembali menyeruak di antara kami, "bukankah Anda adalah pemburu yang paling menikmati desisan racun itu, Tuan Varell? Anda tidak akan menginvestasikan miliaran rupiah dan mempertaruhkan leher Anda sendiri di jembatan layang tadi jika Anda hanya menginginkan sekutu yang lemah dan penurut."

Adrian tidak membantah. Sudut bibirnya berkedut tipis membentuk senyuman berbahaya—senyuman seorang pria yang tahu bahwa ia baru saja menemukan rekanan paling mematikan di seluruh kota.

"Mobil sudah sampai di klinik, Tuan Besar," suara Bastian dari kursi pengemudi terdengar melalui partisi interkom.

Sedan hitam kami melambat, membelok masuk ke area parkir bawah tanah sebuah gedung klinik swasta berlantai lima di kawasan distrik empat. Klinik ini terisolasi dari pusat keramaian, tersembunyi di balik deretan pohon mahoni tua yang lebat. Tempat ini bukan fasilitas medis umum, melainkan rumah sakit privat berizin khusus yang saham mayoritasnya dimiliki secara rahasia oleh Varell Group—tempat di mana para konglomerat menyelesaikan masalah kesehatan mereka tanpa terendus oleh media massa ataupun aparat kepolisian.

Pintu mobil terbuka. Bastian berdiri siaga dengan payung hitam besar terbentang, memayungi kami dari gerimis yang masih enggan reda.

Begitu kakiku menginjak lantai semen parkiran bawah tanah, udara lembap bercampur bau antiseptik menyambut indra penciumanku. Di ujung koridor lift barang, dua pengawal bersenjata terselubung membungkuk hormat saat Adrian melintas.

"Bagaimana kondisi target di lantai tiga?" tanya Adrian pada kepala pengawas klinik yang sudah menunggu di depan pintu lift khusus.

"Tuan Muda Arkana sudah selesai dioperasi darurat, Tuan," lapor kepala pengawas itu seraya menekan tombol lantai tiga. "Tiga tulang rusuknya retak, patah tulang selangka kiri, dan ada pendarahan internal di rongga dada. Kami sudah memasang penstabilan organ dan memberinya obat bius lokal dosis menengah sesuai instruksi Nona Arlena. Dia sadar, tapi pita suaranya dan gerak fisiknya terkunci oleh pengaruh relaksan otot."

Aku tersenyum puas. Relaksan otot dosis menengah. Sebuah metode medis yang elegan untuk membuat seseorang tetap mendengar, melihat, dan merasakan rasa sakit di sekelilingnya, namun lumpuh total untuk berteriak atau memberi peringatan.

"Dan tamunya?" tanyaku dingin.

"Nona Selena Marvia tiba lima belas menit yang lalu melalui pintu samping lantai satu," lanjut kepala pengawas itu. "Sesuai skenario pesan teks yang dikirimkan, dia mengira lantai tiga sudah disterilkan oleh keluarga Arkana untuk merayakan keberhasilan skenario kecelakaan. Dia saat ini berada di dalam kamar rawat inap VIP 301 bersama Tuan Muda Ryan."

Ting.

Pintu lift berdenting pelan saat tiba di lantai tiga.

Lorong lantai ini dilapisi lantai linoleum putih bersih tanpa cela. Lampu-lampu neon di langit-langit memancarkan pendar putih dingin yang menyilaukan. Tidak ada perawat yang berlalu-lalang, tidak ada suara dengung mesin medis umum. Hanya ada keheningan mutlak yang mencekam, dijaga oleh empat pria berjas hitam yang berdiri mematung di sepanjang dinding.

Adrian melangkah di sampingku, tangannya terbenam santai di saku celana panjangnya. "Panggung sudah disiapkan untukmu, Nadia. Mau saya menemanimu ke dalam?"

"Tidak perlu, Tuan Varell," jawabku tanpa menoleh, jemariku merapikan kerah mantel hitamnya yang masih membalut kemeja putihku yang berdebu. "Pertunjukan ini adalah reuni dua sahabat lama. Terlalu banyak penonton hanya akan merusak keintiman momen ini."

Adrian menghentikan langkahnya beberapa meter di depan pintu kamar 301. Ia menatapku dengan tatapan mengevaluasi, lalu mengangguk pelan.

"Bastian ada di balik pintu darurat. Satu kedipan matamu, dan anak buah saya akan meremukkan sisa tulang gadis itu."

"Menghancurkan tulangnya terlalu murah untuk dosa yang ia miliki," balasku dingin. "Saya ingin menghancurkan jiwanya terlebih dahulu."

Aku melangkah maju sendirian. Pintu kamar rawat inap berlapis kayu jati gelap itu dilengkapi jendela kaca kecil kedap suara di bagian tengahnya. Melalui celah kaca itu, aku bisa melihat pemandangan di dalam ruangan.

Ruangan itu luas dan mewah, didesain layaknya kamar hotel bintang lima. Di tengah ruangan, Ryan Arkana terbaring tak berdaya di atas ranjang medis elektrik. Selang infus menancap di pergelangan tangannya, dan monitor detak jantung berbunyi teratur: pip... pip... pip...

Wajah Ryan pucat pasi bagai kain kafan, lebam keunguan mendominasi separuh pipinya, dan penyangga leher melingkar kaku menahan kepalanya agar tidak bergerak. Matanya terbuka lebar, namun pupilnya bergetar liar menatap sosok yang berdiri di samping ranjangnya.

Di sana, memunggungi pintu, berdiri Selena Marvia.

Selena tidak lagi mengenakan gaun krem manis yang tadi ia pamerkan di kafe kantor Ayah. Ia telah berganti pakaian mengenakan mantel merah marun yang menyala dan sepatu bot kulit bertumit tinggi. Di atas meja nakas di samping ranjang Ryan, sebotol sampanye mahal jenis Dom Pérignon yang sudah terbuka tergeletak manis di samping dua gelas kristal berkaki tinggi.

Selena sedang menuangkan cairan berbusa keemasan itu ke dalam gelas kristal dengan gerakan anggun dan percaya diri.

"Kamu luar biasa hebat, Ryan," suara Selena terdengar merdu, mengalun lembut di dalam ruangan, tidak menyadari bahwa sistem mikrofon tersembunyi menyiarkan suaranya langsung ke pelantang di telingaku. "Aku sempat panik setengah mati waktu Nadia tiba-tiba berlagak pintar di ruang rapat tadi siang. Aku kira rencana kita bakal berantakan total gara-gara gadis sialan itu."

Selena tertawa kecil, tawa manis yang begitu berbisa. Ia mengangkat gelas kristalnya ke udara, mengarahkannya ke wajah Ryan yang membeku kaku di atas bantal.

"Tapi ternyata kamu jauh lebih cerdik! Menghabisi Ethan di jalur lingkar barat adalah langkah paling jenius yang pernah kamu buat! Sekarang Edward Arlena pasti sudah kena serangan jantung di rumahnya, dan Nadia... ah, gadis bodoh itu pasti sedang menangis tersedu-sedu di ruang jenazah, meratapi mayat adik kesayangannya!"

Mata Ryan di atas ranjang bergetar hebat. Urat-urat di pelipis pemuda itu menegang tegang, napasnya memburu di balik masker oksigen. Ia berusaha menggerakkan tangannya, mencoba meraih ujung mantel Selena, mencoba membuka mulutnya untuk memperingatkan wanita itu bahwa pintu neraka telah terbuka lebar di belakang punggungnya.

Namun relaksan otot di dalam cairan infusnya bekerja terlalu sempurna. Tubuh Ryan terkunci bagai patung batu. Hanya dengusan tertahan yang keluar dari tenggorokannya: "Eungh... eunggh..."

Selena tersenyum geli melihat respons itu, mengira rintihan Ryan hanyalah ekspresi rasa sakit akibat luka pascakecelakaan.

"Jangan banyak bergerak dulu, Sayang," bisik Selena manja seraya duduk di tepi ranjang Ryan, mengusap pelan rambut pemuda itu yang basah oleh keringat dingin. "Setelah pemakaman Ethan lusa nanti, kita tinggal menunggu waktu yang tepat. Nadia yang sedang hancur lebur secara emosional akan dengan mudah kita dorong untuk menandatangani surat kuasa waris kepadamu. Dan setelah Arlena Holding jatuh ke tangan Arkana Group..."

Selena mencondongkan tubuhnya, membisikkan racun termanisnya tepat di depan masker oksigen Ryan.

"...kamu bisa menyingkirkan Nadia selamanya, dan kita berdua yang akan menikmati seluruh kekayaan keluarga Arlena di Paris. Kamu tidak lupa dengan janjimu untuk membelikan penthouse di tepi Sungai Seine untukku, kan?"

Tepat pada detik itu, jemariku mendorong handel pintu kamar 301 ke bawah.

Klek.

Pintu terbuka tanpa suara di atas engsel hidroliknya.

Langkah sepatuku mendarat di atas lantai linoleum dengan ketukan pelan yang bergema nyaring di dalam ruangan yang sunyi.

Tuk. Tuk. Tuk.

Selena yang sedang memegang gelas sampanyenya mengernyit jengkel tanpa menoleh. "Suster, bukankah aku sudah bilang jangan masuk dulu? Aku sedang berbicara dengan Tuan Muda—"

"Penthouse di tepi Sungai Seine kedengarannya sangat romantis, Selena."

Suaraku mengalun tenang, lembut, namun memiliki daya hancur yang membekukan seluruh udara di dalam ruangan.

Selena membeku di tempatnya.

Senyuman manis di wajah wanita itu lenyap dalam hitungan milidetik. Gelas kristal di tangannya bergetar hebat hingga cairan sampanye keemasan tumpah membasahi seprai putih ranjang Ryan. Gerakan tubuh Selena melambat secara kaku saat ia perlahan memutar lehernya ke belakang, menatap ke arah pintu masuk.

Begitu matanya menangkap sosokku yang berdiri tegak dalam balutan mantel hitam Adrian, warna darah seolah tersedot habis dari seluruh wajah Selena. Kulitnya memucat seketika menjadi seputih dinding rumah sakit. Pupil matanya melebar hingga batas maksimal karena teror yang begitu mutlak.

"N-Nadia...?" bibir Selena bergetar hebat, suaranya tercekat di dasar kerongkongannya. "K-kamu... bagaimana bisa kamu ada di sini?!"

"Kenapa aku tidak boleh ada di sini?" tanyaku dengan senyum tipis yang ramah, melangkah perlahan mengelilingi ranjang medis Ryan. Setiap langkahku terasa seperti derap algojo yang mendekati tiang gantungan. "Bukankah kamu sendiri yang mengundangku untuk merayakan keberhasilan rencana di jalur lingkar barat?"

Selena bangkit dari tepi ranjang dengan gerakan panik hingga kakinya tersandung ujung mantelnya sendiri. Ia mundur teratur sampai punggungnya membentur dinding kaca yang menghadap ke arah kota. Matanya melirik liar ke arah ranjang Ryan, lalu beralih menatapku bolak-balik dengan napas yang memburu liar bagai mangsa yang terkepung.

"K-kamu... kamu seharusnya ada di rumah sakit bersama Ethan!" jerit Selena histeris, topeng keanggunannya runtuh menjadi serpihan kepanikan yang menjijikkan. "Ethan... Ethan kecelakaan! Mobilnya jatuh ke jurang!"

"Sayang sekali, Selena," bisikku seraya berhenti tepat di samping meja nakas, jemariku menyentuh leher botol sampanye Dom Pérignon yang masih dingin. "Adikku tidak jatuh ke jurang. Dia saat ini sedang tidur nyenyak di ruang rawat VVIP Rumah Sakit Pertamina, ditemani oleh enam pengawal bersenjata yang siap menembak mati siapa pun dari keluarga Marvia yang berani mendekat dalam radius seratus meter."

Napas Selena tercekat di tenggorokan. "T-tidak mungkin... Ryan bilang—"

"Ryan tidak bilang apa-apa padamu sore ini, Selena," potongku dingin, mengangkat botol sampanye itu perlahan. "Pesan teks yang kamu terima dari ponsel Ryan dikirimkan langsung oleh asisten Tuan Adrian Varell atas perintah saya."

Mendengar nama Adrian Varell terucap, tubuh Selena gemetar begitu hebat hingga giginya bergemeletuk satu sama lain.

Realitas yang mengerikan akhirnya menghantam otaknya yang licik: ini bukan pertemuan rahasia. Ini bukan perayaan kemenangan. Ini adalah sebuah jebakan tikus yang dirancang dengan presisi sempurna untuk memancingnya ke dalam sangkar pembantaian.

Selena menoleh panik ke arah Ryan yang masih terbaring kaku di atas ranjang. "Ryan! Bangun! Jelaskan pada Nadia! Jelaskan kalau kamu yang merencanakan semua ini! Aku tidak tahu apa-apa! Ryan, bicara!"

Ryan hanya mampu menatap Selena dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa putus asa dan kepahitan yang mendalam. Dari sudut mata pemuda itu, setetes air mata penyesalan mengalir turun membasahi bantal medisnya. Ryan tahu betul bahwa tidak ada satu kata pun yang bisa menyelamatkan mereka berdua dari jurang pembalasan ini.

"Berhenti berteriak seperti orang gila, Selena," suaraku kembali mengalun rendah, memotong histeria sahabat masa kecilku itu. "Ryan tidak akan bisa membantumu hari ini. Tiga tulang rusuknya patah, dan pita suaranya dikunci oleh obat penenang. Dia hanya bisa menonton, persis seperti caramu menonton kehancuran keluargaku selama ini."

Selena menelan ludah dengan susah payah, punggungnya semakin merapat ke dinding kaca dingin. Air mata kepalsuannya yang biasa ia gunakan untuk memanipulasi orang kini berubah menjadi air mata ketakutan murni.

"Nadia... dengarkan aku dulu," Selena mulai memohon, kedua tangannya terkatup di depan dada dengan postur menyedihkan yang dulu selalu membuatku luluh. "Kita ini sahabat sejak bangku sekolah menengah! Aku... aku dipaksa oleh Ryan! Demi Tuhan, Nadia, keluarga Arkana mengancam bisnis papaku! Ryan yang memaksaku untuk mendekatimu dan mencari tahu dokumen rahasia Arlena Holding! Aku tidak punya pilihan lain!"

Aku tertawa.

Sebuah tawa renyah yang mengalun jernih, namun memiliki nada kegelapan yang membuat bulu kuduk Selena meremang hingga ke akar rambutnya.

"Dipaksa?" Aku mengambil gelas kristal yang tadi dituangkan Selena, mengocok sisa cairan keemasannya perlahan. "Lalu, bagaimana dengan rekaman suara yang baru saja kudengarkan tiga menit lalu? Tentang penthouse di tepi Sungai Seine? Tentang menyingkirkanku selamanya setelah surat waris ditandatangani? Apakah Ryan juga menodongkan pistol ke kepalamu saat kamu merancang mimpi indah itu, sahabatku tercinta?"

Selena mematung. Wajahnya seketika kehilangan seluruh ekspresi manusianya, menyisakan kekosongan horor yang mengerikan. Segala kata-kata manis dan racun yang baru saja ia muntahkan di samping ranjang Ryan telah terekam sempurna. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada alibi yang bisa membebaskannya.

Aku melangkah maju dua tapak, memangkas jarak di antara kami hingga aroma parfum vanilanya kembali menusuk hidungku. Namun kali ini, aku tidak menghindar. Aku ingin mencium aroma ketakutan dari wanita yang telah mengkhianati kepercayaanku selama bertahun-tahun.

"Kamu tahu, Selena..." bisikku sangat pelan, tatapanku mengunci kedua bola matanya yang basah oleh air mata kehancuran. "Di kehidupanku yang dulu, aku selalu bertanya-tanya pada diriku sendiri: kesalahan apa yang pernah kuperbuat padamu sampai kamu begitu membenciku? Aku membagikan segalanya kepadamu. Pakaianku, perhiasanku, koneksi keluargaku, bahkan waktu berhargaku. Setiap kali keluarga Marvia hampir bangkrut, ayahkulah yang selalu menyuntikkan dana talangan tanpa pernah meminta bunga sepeser pun."

Aku mencondongkan wajahku lebih dekat ke telinganya, membiarkan napas dingin dari bibirku menyentuh kulit pipinya yang pucat.

"Lalu kenapa, Selena? Kenapa kamu begitu bernafsu melihat darah keluargaku tumpah ke tanah?"

Selena terengah-engah, dadanya naik turun dengan liar. Di bawah tatapan mataku yang menembus jiwanya, pertahanan terakhir wanita itu akhirnya hancur lebur. Kepura-puraannya menguap, digantikan oleh kobaran rasa iri hati dan kebencian busuk yang telah mengakar selama bertahun-tahun di dalam hatinya.

"Kenapa?!" desis Selena tiba-tiba, suaranya berubah menjadi pekikan serak yang penuh racun kebencian. "Karena kamu punya segalanya, Nadia! Kamu lahir dari keluarga Arlena! Kamu kaya raya, kamu cantik, semua orang menunduk hormat padamu tanpa perlu kamu berusaha! Sedangkan aku?! Keluargaku selalu hidup di bawah bayang-bayang belas kasihan ayahmu! Setiap kali orang melihatku, mereka hanya melihatku sebagai 'parasit kecil' yang menempel pada Nona Besar Arlena!"

Mata Selena merah menyala menatapku, air liur kemarahan memercik dari sudut bibirnya.

"Bahkan Ryan... pria yang paling kucintai sejak hari pertama masuk universitas... papanya memaksanya bertunangan denganmu hanya karena kamu punya saham Arlena Holding! Aku yang lebih dulu mencintai Ryan! Aku yang lebih pantas berdiri di sampingnya! Kamu cuma batu sandungan sialan yang harus disingkirkan agar aku bisa mendapatkan tempat yang seharusnya menjadi milikku!"

Pengakuan itu meledak di udara kamar rawat inap bagai guntur.

Di atas ranjang, Ryan memejamkan matanya rapat-rapat. Pemuda itu tidak sanggup lagi melihat kebusukan wanita yang selama ini menjadi rekan konspirasinya dibeberkan dengan begitu telanjang dan mengerikan.

Sedangkan aku? Aku hanya berdiri tenang mendengarkan setiap caci maki yang meluncur dari bibir Selena.

Tidak ada rasa sakit di hatiku. Tidak ada keterkejutan. Hati yang telah mati dan ditikam sepuluh tahun yang lalu tidak lagi memiliki ruang untuk terluka oleh kata-kata serangga rendahan seperti dia.

"Terima kasih atas kejujuranmu, Selena," ucapku tenang, senyuman tipis kembali terukir anggun di wajahku. "Setidaknya sekarang, aku tidak perlu merasa bersalah sedikit pun saat menghancurkan keluargamu sampai ke akar-akarnya."

Selena mendengus sinis di sela-sela tangis amarahnya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang rapuh. "Menghancurkanku?! Kamu pikir kamu siapa, Nadia?! Kamu cuma mahasiswi semester dua yang kebetulan beruntung hari ini! Papaku punya koneksi kuat di kementerian agraria dan bea cukai! Kamu tidak akan bisa menyentuh Marvia Corporation semudah itu!"

"Oh, benarkah?" Aku melirik arloji perak di pergelangan tangan kiriku.

Jarum jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit.

"Satu jam yang lalu," kataku pelan, "kejaksaan tinggi dan satgas bea cukai khusus telah menyegel kantor pusat PT Samudra Marvia Prima di kawasan pelabuhan. Empat kontainer ilegal milik papamu yang berisi tekstil selundupan dan barang larangan telah disita sebagai barang bukti tindak pidana pencucian uang."

Wajah Selena mendadak membeku. "A... apa...?"

"Dan sepuluh menit yang lalu," lanjutku tanpa belas kasihan, "seluruh rekening operasional keluarga Marvia telah dibekukan oleh otoritas perbankan atas permintaan konsorsium Varell Group sebagai kreditur utama jaminan dermaga barat. Papamu... saat ini sedang digiring ke gedung bundar kejaksaan agung untuk menjalani pemeriksaan maraton."

"BOHONG!" jerit Selena histeris, tangannya gemetar meraba tas tangannya, mengeluarkan ponsel mewahnya dengan panik.

Layar ponselnya berkedip menyala, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dari ibunya dan deretan notifikasi berita ekonomi darurat:

BREAKING NEWS: Kantor Pusat Marvia Corporation Disegel Kejaksaan Agung Terkait Skandal Kontainer Dermaga Barat.

BREAKING NEWS: Direktur Utama PT Samudra Marvia Prima Resmi Ditahan Sebagai Tersangka Pencucian Uang.

BREAKING NEWS: Bursa Efek Membekukan Perdagangan Saham Emiten Marvia Group Akibat Gagal Bayar Kewajiban Utang.

Ponsel di tangan Selena terlepas dari genggamannya. Benda persegi itu jatuh menghantam lantai marmer dengan suara retakan keras, memantul sebelum berhenti tepat di samping ujung sepatuku.

Dunia Selena runtuh seketika.

Kekayaan, status sosial, kemewahan yang selama ini ia banggakan, dan masa depan gemilang yang ia rancang di atas bangkai keluargaku—semuanya musnah tak bersisa hanya dalam tempo beberapa jam saja.

"Tidak... tidak mungkin..." Selena merosot ke lantai, kedua lututnya membentur marmer dingin tanpa daya. Tangannya mencakar kepalanya sendiri dengan histeris, air mata membanjiri riasan wajahnya yang kini luntur berantakan. "Papaku... rumahku... bagaimana dengan hidupku...? Nadia... tolong aku... kamu sahabatku, kan?! Tolong cabut tuntutan itu! Tolong bicara pada ayahmu!"

Selena merangkak di lantai, berusaha menggapai ujung rok hitamku dengan kedua tangannya yang gemetar penuh keputusasaan. Sosok wanita anggun nan manipulatif yang tadi menertawakan kematian Ethan kini tak ubahnya seekor pengemis kotor yang memohon secuil belas kasihan di bawah kakiku.

Sebelum tangannya sempat menyentuh kain bajuku, aku melangkah mundur satu tapak.

Aku membalikkan gelas kristal di tanganku, menumpahkan seluruh sisa cairan sampanye mahal itu tepat di atas puncak kepala Selena yang sedang bersujud di lantai.

Cairan keemasan yang dingin mengguyur rambut cokelat ikalnya, mengalir membasahi dahinya, menghancurkan sisa-sisa kehormatan terakhir yang ia miliki sebagai seorang putri keluarga kaya.

"Nikmati sampanyemu, Selena," bisikku dingin, menatap sosoknya yang terisak di bawah kakiku tanpa sebersit pun rasa iba. "Karena mulai besok pagi, kamu tidak akan pernah mencicipi sampanye mahal ini lagi seumur hidupmu. Kamu akan belajar bagaimana rasanya menjadi orang miskin yang diabaikan oleh pergaulan kelas atas kota ini."

Aku melepaskan gelas kristal itu dari genggamanku.

PRANG!

Gelas itu pecah berkeping-keping di atas marmer tepat di samping tangan Selena, serpihan kacanya memercik tipis menggores kulit jarinya hingga meneteskan darah segar. Selena menjerit pelan, meringkuk ketakutan bagai anjing yang dicambuk tuannya.

Aku berbalik, tidak lagi memedulikan pemandangan menjijikkan di belakangku.

Sebelum melangkah keluar dari ruangan, aku menatap ranjang Ryan untuk terakhir kalinya. Pemuda itu menatapku dengan mata yang basah oleh air mata, dipenuhi rasa ngeri dan permohonan yang bisu di balik masker oksigennya.

"Sembuhkan tulang rusukmu dengan baik, Tuan Muda Arkana," ujarku datar, setiap kata diucapkan dengan penekanan yang mutlak. "Karena setelah keluarga Marvia selesai dimusnahkan, giliran dinasti Arkana yang akan kuseret ke tiang pembantaian. Bersiaplah... karena nerakamu yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Pintu kamar rawat inap terbuka lebar saat aku melangkah keluar.

Di lorong luar yang dingin, Adrian Varell masih berdiri bersandar di dinding, menungguku dengan sebatang rokok yang baru saja dipadamkan di dalam asbak logam kecil. Sepasang mata hitam kelam pria itu berkilat penuh kekaguman gelap saat melihat langkah mantapku keluar dari ruangan berdarah itu.

"Selesai?" tanya Adrian dengan suara baritonnya yang rendah.

"Baru babak penyisihan pion, Tuan Varell," jawabku seraya melepas mantel hitamnya dari bahuku dan menyerahkannya kembali ke tangannya. "Besok pagi, dewan komisaris Arlena Holding akan menggelar rapat darurat untuk membersihkan sisa pengkhianat internal di jajaran direksi."

Adrian menerima mantelnya, namun jemarinya sengaja menahan pergelangan tanganku selama satu detik penuh. Tatapannya menatap lurus ke dalam mataku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan getaran magnetis yang berbahaya dari sosok sang penguasa pasar gelap itu.

"Hendra Arlena tidak akan menyerah semudah itu hanya karena rekannya di kementerian ditangkap, Nadia," bisik Adrian rendah di samping telingaku. "Pamanmu memegang kartu as lain tentang asal-usul keluargamu. Kartu yang bisa menghancurkan posisi ayahmu di Arlena Holding dalam sekejap."

Jantungku berdegup kencang mendengar peringatan itu.

Rahasia tentang kelahiranku. Misteri tentang siapa ayah kandungku yang sebenarnya—rahasia berdarah yang di kehidupanku dulu baru terbongkar beberapa hari sebelum Ryan menikam dadaku.

"Maka biarkan dia mengeluarkan kartunya," balasku dengan seringai mematikan yang tak gentar sedikit pun. "Karena kali ini... akulah yang memegang seluruh dek permainan."

Adrian tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang sarat akan pengakuan mutlak atas kekuatanku.

"Bagus," ucap Adrian seraya berbalik melangkah mendampingiku menyusuri lorong putih klinik menuju lift bawah tanah. "Mari kita lihat seberapa jauh racun Arlena mampu membakar kota ini sebelum fajar menyingsing."

Langkah kaki kami berdentum seirama di atas lantai linoleum, meninggalkan rintihan histeris Selena dan deru monitor jantung Ryan yang berdetak kacau di balik pintu kamar 301.

Malam pertama dari kesempatan keduaku telah ditutup dengan tumpahnya darah musuh-musuhku.

Pion keluarga Marvia telah ditumbangkan, nyawa Ethan telah diselamatkan, dan cengkeraman Arkana telah berhasil dipatahkan dari sektor riil. Namun di kejauhan, genderang perang korporasi yang sesungguhnya baru saja ditabuh di balik bayang-bayang bursa saham.

Dan aku... sudah siap menjadi ratu hitam yang akan membakar habis seluruh musuhku hingga tak bersisa.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!