Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Setelah beberapa hari dirawat, dokter akhirnya menyatakan kondisi Puja sudah stabil dan mengizinkannya untuk pulang.
Jeffry dengan sigap mengurus administrasi dan membantu istrinya bersiap. Selama perjalanan pulang, Jeffry tak henti-hentinya menggenggam tangan Puja, memastikan istrinya merasa nyaman.
Namun, setibanya di depan rumah, kedamaian mereka terusik.
Ningrum sudah berdiri di teras dengan tangan bersedekap, menatap mereka dengan tatapan tajam dan sinis.
"Aduh, aduh... yang habis dari bulan madu," sindir Ningrum dengan nada melengking yang tidak menyenangkan.
"Bahagia sekali ya sampai sang suami jadi lupa kewajiban, nggak boleh ke pondok. Jadi istri jangan culas, Puja! Kamu pikir dunia ini cuma berputar di sekitar kalian berdua?"
Puja yang mendengar sindiran itu hanya tersenyum tipis.
Ia sama sekali tidak terpancing emosi. Dengan tenang, Puja mendekat ke arah Jeffry dan—seolah ingin menegaskan posisinya—ia mendaratkan kecupan ringan di pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Iri ya?" ucap Puja tenang, menatap Ningrum dengan tatapan yang sulit diartikan.
Puja kemudian beralih menatap Jeffry dan menarik lengan suaminya dengan lembut.
"Ayo, Mas, kita masuk. Tidak baik berlama-lama di sini, nanti kita malah bisa kena dosa gara-gara harus melihat 'kuman' yang mengganggu," ucapnya dengan nada sengaja, menyindir balik Ningrum.
Jeffry yang paham maksud istrinya langsung menatap Ningrum dengan tatapan tegas namun tetap menjaga kesopanan.
"Ningrum, sebaiknya kamu pulang ke pondok sekarang. Tidak ada urusan yang perlu kita bahas di sini, apalagi dengan cara bicara seperti itu," ucap Jeffry datar namun penuh wibawa.
Tanpa menunggu balasan dari Ningrum, Jeffry merangkul bahu Puja dan membukakan pintu rumah, meninggalkan wanita itu yang kini berdiri mematung di teras dengan wajah memerah karena menahan malu dan amarah.
Puja melangkah masuk ke dalam rumah yang sudah beberapa hari ditinggalkannya, lalu mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
Ia menoleh ke arah Jeffry yang baru saja menutup dan mengunci pintu depan.
"Mas..." panggil Puja dengan nada penasaran.
"Kenapa tadi dia mengatakan kalau kita bulan madu? Bukankah beberapa hari ini kita di rumah sakit?"
Jeffry berjalan mendekat, lalu tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan.
"Itu pasti ulah Abah, Dek," jawab Jeffry menjelaskan.
"Beliau sengaja bilang begitu ke mereka supaya mereka tidak banyak tanya atau mencampuri urusan kita lagi."
Puja mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mengangguk-angguk paham.
"Ohh... pantesan. Pintar juga ya cara Abah meredam mereka."
"Iya, Abah memang paling tahu cara menghadapi orang-orang seperti itu," balas Jeffry.
Ia kemudian menatap wajah istrinya yang masih menyisakan sedikit pucat, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Puja berdiri.
"Nah, sekarang perdebatan kecil tadi sudah selesai. Ayo, sekarang kamu istirahat lagi di kamar, biar badanmu benar-benar pulih dan besok bisa lanjut kuliah."
Puja menyambut uluran tangan suaminya dengan senyuman hangat, merasa bersyukur badai dalam rumah tangga mereka kini telah berganti dengan ketenangan dan dukungan penuh dari sang suami.
Puja duduk bersandar di atas ranjang dengan bantal yang ditumpuk tinggi, sementara Jeffry sedang menyiapkan segelas susu hangat di dapur.
Dengan saksama, Puja membuka aplikasi pesan di ponselnya, mencari kontak Bu Leny, guru bimbingan konseling di SMA mereka dulu yang dulu sangat mendukung mimpinya.
Jemari Puja dengan sigap mengetikkan pesan penjelasan mengenai keputusannya untuk mengalihkan beasiswa ke Yogyakarta kepada Norma.
ia menuliskan dengan tulus bahwa Norma memiliki potensi yang luar biasa dan ia sangat berharap sahabatnya itu bisa mendapatkan kesempatan emas tersebut.
Setelah menekan tombol 'kirim', Puja meletakkan ponselnya dan menghela napas lega.
Tidak butuh waktu lama, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Bu Leny muncul di layar.
Waalaikumsalam, Puja. Ibu sudah membaca pesanmu. Ibu sangat terharu dengan kebaikan hatimu, Nak. Ibu memahami kondisi kesehatanmu saat ini. Keputusanmu sangat mulia, apalagi Norma memang salah satu siswa berprestasi yang sangat layak mendapatkan beasiswa tersebut.
Puja tersenyum lebar saat membacanya. Ia lalu melanjutkan membaca kalimat berikutnya:
Ibu setuju untuk membantu proses pengalihan beasiswa ini. Tolong sampaikan kepada Norma untuk segera datang ke sekolah besok pagi dengan membawa dokumen kelengkapan administrasinya agar segera Ibu proses ke pihak penyelenggara beasiswa di Yogyakarta. Cepat sembuh ya, Puja.
"Alhamdulillah," bisik Puja pelan.
Ia segera membalas pesan Bu Leny dengan ucapan terima kasih, lalu tak sabar ingin segera mengabari Norma.
Tepat saat itu, Jeffry masuk ke kamar membawa segelas susu.
"Ada apa, Dek? Kok wajahnya berseri-seri sekali?" tanya Jeffry sambil meletakkan gelas di nakas.
"Mas, Bu Leny setuju!" seru Puja antusias.
"Norma boleh ambil beasiswaku. Besok dia harus ke sekolah buat urus administrasinya."
Jeffry tersenyum tulus, merasa bangga melihat istrinya yang begitu peduli pada kebahagiaan orang lain, bahkan di tengah masa pemulihannya sendiri.
"Baguslah, Dek. Kamu memang perempuan yang hebat."
Puja segera membuka aplikasi pesan dan mencari kontak Norma.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena rasa haru yang masih membuncah, ia mengetikkan kabar gembira tersebut untuk sahabatnya.
Norma, alhamdulillah Bu Leny sudah membalas pesanku. Beliau setuju kalau beasiswanya dialihkan ke kamu. Besok kamu diminta datang ke sekolah pagi-pagi ya, bawa semua dokumen kelengkapan administrasinya biar bisa langsung diproses ke pihak penyelenggara di Yogyakarta.
Belum sampai satu menit, ponsel Puja bergetar hebat. Bukan pesan balasan, melainkan panggilan suara dari Norma. Puja segera mengangkatnya.
"Halo, Norma?"
Suara di seberang sana terdengar pecah. Norma menangis sesenggukan, isakannya terdengar begitu kencang hingga membuat Jeffry yang sedang membereskan pakaian di lemari menoleh heran.
"Puja, kamu beneran? Kamu nggak bohong, kan?" tanya Norma di sela-sela tangis bahagianya.
Puja tersenyum lebar, meski matanya juga ikut berkaca-kaca.
"Iya, Norma. Aku serius. Ini kesempatan kamu, kamu layak mendapatkannya."
"Terima kasih, Puja. Terima kasih banyak. Kamu benar-benar sahabat terbaik yang pernah aku punya. Aku... aku benar-benar nggak tahu harus membalas kebaikanmu pakai apa lagi," ucap Norma masih tersedu-sedu.
"Sudah, jangan nangis lagi," bujuk Puja lembut.
"Yang penting besok kamu siapkan semuanya. Fokus ke masa depan kamu di sana, ya?"
"Iya, Puja... besok pagi-pagi sekali aku akan langsung ke sekolah. Terima kasih, Puja... sekali lagi terima kasih!"
Setelah panggilan berakhir, Puja meletakkan ponselnya dengan perasaan yang begitu lega.
Ia menatap ke arah Jeffry yang kini sudah duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman.
Puja tahu, dengan keputusan ini, ia telah memberikan masa depan yang lebih cerah bagi sahabatnya, dan itu adalah salah satu rasa bahagia yang paling murni yang pernah ia rasakan.