NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9 SUP KENTANG

****

Malam telah turun sempurna di atas langit Kastil Ravengard, dan cahaya bulan menelusup malu-malu melalui jendela-jendela tinggi istana. Angin malam yang menusuk hanya bisa ditahan oleh api unggun besar di ruang-ruang utama yang tetap menyala hingga larut.

Pintu gerbang utama istana terbuka pelan.

Grand Duke Darian von Ravengard baru saja kembali.

Langkah-langkahnya tegap, jubah militer hitamnya sedikit berdebu setelah seharian penuh mengurus urusan pertahanan di istana kekaisaran. Di wajahnya yang tegas dan dingin, tak tergambar sedikit pun kelelahan meski tubuhnya membawa beban laporan strategis dari sang Kaisar Severan.

Para pelayan langsung membungkuk hormat saat ia memasuki aula utama.

“Selamat datang kembali, Yang Mulia Grand Duke.”

Darian hanya mengangguk tanpa kata. Matanya menyapu sekeliling ruangan. Ia melihat bahwa aula tampak sangat sunyi. Entah mengapa, keheningan itu kini terasa berbeda. Seolah... ada ruang kosong yang biasanya diisi oleh keberadaan seseorang.

“Di mana Grand Duchess?” tanyanya datar.

Pelayan wanita itu sempat terdiam gugup, lalu menjawab ragu-ragu, “Yang Mulia Grand Duchess... berada di perpustakaan kastil, Yang Mulia. Sejak sore tadi.”

Darian tak berkata apa-apa lagi. Ia langsung berjalan cepat melewati koridor, jubah panjangnya berdesir ringan menelusuri lantai marmer istana.

Pelayan itu memandangi punggung Grand Duke mereka dengan mata melebar tak percaya.

“…Beliau… menanyakan keberadaan Nyonya?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Pintu perpustakaan dibuka dengan sangat hati-hati. Derit engsel kayunya nyaris tak terdengar.

Darian melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi aroma khas kayu tua, tinta, dan kertas perkamen. Lampu-lampu gantung menyala lembut, membiaskan cahaya kuning hangat yang memeluk ruangan perpustakaan seperti selimut.

Matanya segera menangkap sosok yang ia cari.

Iris tertidur meringkuk di salah satu sofa beludru dekat jendela besar. Sebuah buku tebal terbuka di atas pangkuannya, sementara satu tangan kirinya bertumpu pelan di atas perutnya yang kini mulai membuncit. Napasnya teratur dan tenang. Wajahnya tampak damai, meskipun masih menyisakan sedikit pucat.

Darian berdiri terpaku di kejauhan, menatap istrinya dalam diam. Cahaya bulan memantul di helai rambut perak Iris, membuatnya tampak bagaikan makhluk dari dimensi lain.

Untuk sesaat... Darian hampir lupa bahwa wanita ini dulunya hanyalah sebuah pion perjanjian politik demi aliansi wilayah.

Perlahan, langkah kakinya mendekat. Ia berdiri di sisi sofa, menatap wajah istrinya lekat-lekat. Ia lalu meraih selembar selimut wol tipis yang tersampir di sandaran sofa dan perlahan menyampirkannya ke tubuh Iris. Namun, saat ujung selimut itu bersentuhan dengan bahunya...

Kelopak mata Iris bergetar perlahan.

Iris mengerjap pelan, matanya masih buram sebelum akhirnya fokus pada sosok tinggi besar yang berdiri di hadapannya.

“…Darian?” panggilnya parau.

Darian langsung menarik kembali tangannya, merasa sedikit canggung. “Maaf. Aku tidak bermaksud membangunkanmu.”

Iris perlahan bangkit duduk, membenahi posisi selimutnya. Buku tebal di pangkuannya tergelincir jatuh, dan dengan sigap Darian menangkapnya sebelum menyentuh lantai.

“Sudah lama ya kau pulang...?” gumam Iris pelan, mengusap matanya.

Darian menatapnya sejenak, lalu bertanya dengan suara berat, “Kau sudah makan malam?”

Iris menunduk, menggeleng pelan.

“Aku… menunggumu pulang.”

Mata kelabu Darian sedikit melunak. “Aku sudah makan sedikit di istana kekaisaran,” katanya, namun saat melihat raut wajah Iris yang mendadak murung dan kecewa, ia langsung meralat ucapannya.

Suaranya berubah, terdengar sedikit lebih lembut dari biasanya.

“…Tapi aku bisa makan lagi kalau kau mau.”

Iris mendongak, menatap suaminya dengan bingung. “Apa kau… lapar?”

Darian menatapnya lurus. “Apa ada makanan yang ingin kau makan sekarang?”

Iris berpikir sejenak, menggigit bibir bawahnya ragu-ragu.

“…Kalau aku bilang aku ingin makan malam sekarang di jam segini, apakah kau akan menertawakanku?” tanyanya setengah bercanda.

Darian mengangkat sebelah alisnya. “Tidak.”

Iris tersenyum kecil. “Aku ingin sup sayur hangat… dan mungkin…” ia melanjutkan dengan rona malu-malu di pipinya, “...sepotong kecil puding mangga sebagai penutup.”

Darian menatapnya serius, lalu mengangguk kecil dan berdiri tegak. “Aku akan menyuruh pelayan dapur menyiapkannya.”

“Darian…” panggil Iris cepat sebelum suaminya melangkah pergi.

Darian menoleh ke belakang.

“Terima kasih,” ucap Iris tulus. “Karena... sudah pulang ke kamar malam ini.”

Darian tak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk singkat dan berlalu keluar ruangan untuk memanggil pelayan.

Di ruang makan pribadi, Grand Duchess tampak duduk dengan sederhana namun tetap elegan. Lilin-lilin aromaterapi menyala kecil, memberikan cahaya temaram yang memantul di peralatan makan porselen putih.

Di tengah meja, semangkuk sup sayur hangat mengepulkan uap tipis. Roti mentega tersusun rapi, dan mangkuk kecil berisi puding mangga berwarna keemasan bersinar lembut.

Iris duduk perlahan, memandangi mangkuk sup di depannya. Darian duduk di seberangnya dalam diam, namun tatapannya tak pernah lepas dari istrinya.

Iris mengangkat sendoknya, mengaduk pelan sup tersebut. “Akhirnya… makanan hangat yang layak hari ini,” gumamnya kecil.

Namun, baru saja sendok itu mendekat ke bibirnya, tubuh Iris menegang kaku.

Ia membeku. Aroma kuah sup yang tadinya tampak menggiurkan kini mendadak menusuk hidungnya dengan sangat tajam.

“Tunggu…” Iris meletakkan sendok dengan cepat, menahan napas, dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. “Aduh… maaf...”

Ia memejamkan mata kuat-kuat. Perutnya bergejolak hebat. Rasa mual mendadak naik dari ulu hati ke kerongkongannya. Kepalanya terasa pusing.

Darian langsung bergerak sigap. Ia berdiri dari kursinya, melangkah cepat dan berlutut di sisi kursi Iris, tangannya terulur mengusap punggung istrinya dengan lembut namun penuh kecemasan.

“Iris? Apa yang terjadi? Apa kau kesakitan?” Suaranya rendah dan tegang.

Iris menggeleng kuat-kuat, wajahnya memucat pasi. “Bukan… bukan sakit,” ujarnya terengah-engah. “Bau kuah sup ini… terlalu menyengat. Aku tidak tahan… aku mual sekali.”

Darian menatap mangkuk sup sayur itu seolah-olah benda itu adalah racun berbahaya. Ia mengernyit tajam, lalu menoleh ke arah pintu.

“Lisa!” panggilnya tegas.

Lisa yang siaga di luar langsung masuk, terkejut melihat sang Grand Duke berlutut di sisi nyonyanya.

“Angkat mangkuk sup ini dari sini sekarang juga!” perintah Darian tanpa bantahan.

Lisa segera menunduk dan membawa pergi mangkuk tersebut.

Iris masih memegang perutnya, matanya berkaca-kaca karena menahan rasa mual. Ia merasa kesal pada tubuhnya sendiri yang begitu lemah di depan pria yang baru saja mulai melunak kepadanya.

“Aku…” bisiknya parau, “Aku beneran nggak ngerti kenapa tubuhku jadi cengeng begini...”

Darian menatap wajah pucat Iris lekat-lekat. Untuk pertama kalinya malam itu, ia mengucapkan kalimat yang membuat hati Iris menghangat.

“Mungkin... dia yang tahu.”

Iris mengerjap kebingungan. “Siapa?”

Darian melirik pelan ke arah perut Iris yang mulai membuncit. “Anak kita.”

Iris tertegun.

“Dia tahu aku paling benci bau sayur itu sejak akademi militer,” ujar Darian ringan, mencoba mencairkan ketegangan. “Rasanya seperti mencium rumput basah.”

Iris tak bisa menahan tawa kecilnya di tengah rasa lemas. “Kau serius?”

Darian mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat tipis. “Aku benar-benar membencinya.”

Iris menatap suaminya lebih lama, lalu tertawa kecil, kali ini diiringi setetes air mata kelegaan. Tangannya mengusap perutnya dengan penuh kasih.

“Anak malang... kau ternyata sehati sama ayahmu ya, sama-sama pemilih makanan.”

Darian berdiri dan memberi gestur pada pelayan yang baru masuk. “Suruh dapur buatkan daging panggang yang matang sempurna. Untuk dua orang.”

Lisa terkejut sejenak. “Daging panggang, Yang Mulia? Tapi… ini sudah larut malam.”

Darian menatap tajam pelayan itu. “Segera siapkan.”

Lisa langsung membungkuk dan keluar. Darian kembali duduk di sisi Iris.

Iris menatap suaminya dengan binar haru di matanya. “Kau... benar-benar mau menemaniku makan selarut ini?”

“Aku akan menemanimu,” jawab Darian mantap. “Meskipun aku tidak lapar.”

Tak lama kemudian, pelayan kembali membawa dua piring besar daging panggang yang harum, lengkap dengan kentang tumbuk lembut dan puding mangga di sisi nampan.

Darian memotong kecil daging itu untuk Iris. “Makanlah, ini jauh lebih aman untuk perutmu.”

Mereka makan dalam keheningan malam yang nyaman. Sesekali mata mereka saling beradu pandang, tanpa kata-kata, namun segalanya terasa jauh lebih hangat dari sebelumnya.

Ketika Iris menghabiskan suapan terakhir puding mangganya, ia tersenyum lebar penuh kepuasan.

“Kau tahu, Darian?” bisiknya lembut.

Darian menoleh. “Apa?”

Iris menatapnya dengan mata violet yang berbinar terang. “Aku rasa... malam ini aku bukan cuma kenyang di perut.”

Darian menaikkan alisnya. “Lalu?”

“Aku kenyang… di hati.”

Darian tidak menjawab secara verbal. Tapi tangannya terulur perlahan, menggeser gelas air milik Iris agar lebih dekat. Sebuah gestur kecil yang sederhana, namun sarat akan perhatian.

Bersambung

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!