Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warisan?
Suara angin berembus pelan.
Aku membuka mata.
Untuk beberapa saat, aku tidak tahu di mana aku berada.
Langit terbentang luas di atas kepalaku, berwarna biru pucat dengan gumpalan awan putih yang bergerak perlahan. Udara terasa begitu bersih hingga paru-paruku seakan dipenuhi sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan.
Aku mengangkat tubuh. Rumput hijau membentang sejauh mata memandang.
Di kejauhan terdapat hamparan ladang, beberapa pohon tua, dan rumah-rumah kecil yang berdiri berjauhan. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada bunyi klakson atau keramaian kota.
Hanya suara burung dan angin.
Aku mengerutkan kening, “Di mana ini?”
Aku berdiri. Pemandangan di hadapanku terasa asing. Namun pada saat yang sama, ada sesuatu yang begitu familiar.
Sebuah jalan kecil membentang di antara ladang. Aku mengikuti jalan itu tanpa benar-benar tahu mengapa.
Semakin jauh aku berjalan, semakin kuat perasaan bahwa aku pernah berada di sini.
Lalu aku melihat sebuah rumah tua.
Rumah kecil dengan dinding batu dan atap yang sudah ditumbuhi lumut.
Di depan rumah terdapat taman sederhana. Bunga-bunga tumbuh liar di sepanjang pagar.
Dan di bawah pohon apel tua, seorang wanita duduk di kursi kayu. Rambutnya telah memutih. Punggungnya sedikit membungkuk.
Namun aku mengenali wajah itu.
“Nenek?” Wanita itu mengangkat kepala.
Senyumnya perlahan muncul, “Sofia.”
Dadaku terasa sesak. Aku berlari mendekatinya.
“Nenek!”
Aku memeluknya. Tubuhnya terasa hangat. Terlalu nyata.
Aku bahkan dapat mencium aroma bunga dan sabun yang selalu kuingat dari rumahnya.
“Nenek...” Suaraku bergetar.
“Kapan terakhir kali aku melihatmu?”
Nenek tertawa kecil, “Bukankah kau yang selalu terlalu sibuk untuk datang?”
Aku terdiam. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul.
“Aku minta maaf.”
“Tidak perlu.” Ia menepuk tanganku.
“Kau sudah dewasa sekarang.”
Aku menatap wajahnya, “Aku merindukanmu.”
“Aku tahu.”
Aku mengerutkan kening, “Bagaimana Nenek tahu?”
Nenek hanya tersenyum.
Kemudian ia menunjuk kursi di sebelahnya.
“Duduklah.”
Aku menurut.
Kami duduk di bawah pohon tua. Angin menggerakkan dedaunan di atas kepala kami.
Untuk beberapa saat, kami hanya diam.
Kemudian aku menyadari sesuatu.
“Nenek.”
“Hm?”
“Ini aneh.”
“Apa?”
“Aku sedang bermimpi, kan?”
Nenek tersenyum, “Menurutmu?”
Aku menatapnya.
“Tentu saja.”
Aku menunjuk sekeliling, “Tidak mungkin aku tiba-tiba berada di desa ini. Aku bahkan tidak sedang di sini.”
“Dan?”
“Dan kita sedang berbicara dalam mimpi.”
“Lalu apa yang aneh?”
Aku tertawa kecil karena frustrasi, “Di zaman sekarang, mimpi tidak seharusnya bisa terasa seperti ini.”
Nenek tertawa, “Manusia modern terlalu percaya bahwa semua hal harus memiliki penjelasan.”
Aku terdiam.
“Tidak semua hal harus kau mengerti hari ini.”
Aku menatapnya, “Nenek tahu sesuatu?”
Senyumnya menghilang perlahan.
“Aku tahu tentang buku itu.”
Jantungku berhenti sesaat, “Buku?”
Nenek mengangguk.
“Buku yang kau bawa pulang.”
Aku menelan ludah, “Bagaimana Nenek tahu?”
“Karena buku itu sudah berada di keluarga kita jauh sebelum kau lahir.”
Aku membeku, “Apa?”
Nenek bangkit perlahan dari kursinya.
Ia berjalan menuju rumah.
Aku mengikutinya.
Kami masuk ke ruangan kecil yang dipenuhi perabotan tua.
Di dinding tergantung beberapa foto keluarga.
Aku memperhatikan salah satunya.
Foto seorang pria tua.
Kemudian seorang wanita muda.
Dan beberapa orang yang tidak kukenal.
Nenek membuka sebuah laci tua.
Dari dalamnya ia mengeluarkan kotak kayu kecil.
Kotak itu tidak sama dengan kotak tempatku menemukan buku tersebut.
Namun ukirannya hampir serupa.
Aku mendekat, “Ini apa?”
“Peninggalan keluarga.”
Nenek membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas tua.
Sebagian sudah menguning.
Sebagian lainnya hampir rapuh.
“Buku yang kau temukan itu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.”
“Kenapa?”
“Karena keluarga kita menyimpannya.”
“Untuk apa?”
Nenek menatapku.
“Untuk mengingat.”
“Mengingat apa?”
“Bahwa beberapa kisah tidak pernah benar-benar mati.”
Aku mengerutkan kening, “Nenek, aku tidak mengerti.”
Ia duduk kembali.
“Dengarkan baik-baik, Sofia.”
Nada suaranya berubah serius.
“Buku itu bukan buku kutukan.”
Aku terdiam.
“Bukan benda yang akan membunuhmu.”
“Lalu kenapa aku terus memimpikan semua itu?”
“Karena kau membacanya. Nenek tidak tau bagaimana dia berakhir padamu, ibumu sudah menjualnya ke tempat lain. Mungkin memang takdir saja yang mengembalikannya padamu.”
“Jadi buku itu memang penyebabnya?”
“Bukan begitu.”
Nenek menggeleng.
“Buku itu tidak menciptakan mimpi. Buku itu hanya membuka sesuatu yang sudah ada.”
Aku menatapnya bingung. “Apa maksudnya?”
“Buku itu adalah kumpulan kisah.”
Nenek mengambil salah satu kertas tua.
“Dahulu, leluhur kita adalah orang-orang yang mencatat sejarah. Mereka bukan bangsawan besar. Bukan pula orang-orang yang namanya akan ditulis dalam buku sejarah.”
Ia tersenyum.
“Mereka hanya orang-orang yang senang mengumpulkan cerita.”
“Cerita?”
“Cerita tentang dunia.”
Aku terdiam.
“Mereka mencatat kehidupan orang-orang biasa. Pertunjukan di gedung opera. Kisah para seniman. Kehidupan keluarga bangsawan. Bahkan rumor yang beredar di jalanan.”
Aku mengingat isi buku itu.
“Termasuk Phantom?”
Nenek mengangguk perlahan.
“Termasuk kisah Phantom.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Jadi semuanya nyata?”
“Tidak.”
Jawaban itu datang begitu cepat hingga aku terkejut.
“Banyak bagian dari buku itu adalah sejarah. Sebagian adalah legenda. Sebagian lagi adalah cerita yang ditambahkan oleh orang-orang yang hidup setelahnya.”
“Lalu kenapa buku itu terlihat seperti...”
Aku mencari kata yang tepat.
“Seperti hidup?”
Nenek tersenyum.
“Itulah bagian yang tidak dapat kujelaskan.”
Aku menatapnya, “Jadi Nenek tidak tahu?”
“Tidak semua hal harus diketahui.”
Aku menghela napas, “Ini semakin membingungkan.”
Nenek meraih tanganku.
“Jangan takut.”
Aku menatap matanya.
“Buku itu tidak berbahaya.”
“Bagaimana Nenek bisa yakin?”
“Karena jika buku itu benar-benar berbahaya, keluargamu tidak akan menyimpannya selama berabad-abad.”
Aku terdiam.
“Lalu kenapa buku itu berpindah kepadaku?”
Nenek tersenyum.
“Mungkin sudah waktunya.”
“Waktunya untuk apa?”
“Untuk seseorang membaca kisah yang belum selesai.”
Aku menatapnya lama.
“Jadi ini takdir?”
Nenek tidak langsung menjawab.
Ia memandang keluar jendela.
“Takdir bukan sesuatu yang selalu membawa seseorang menuju tempat tertentu.”
Ia berhenti.
“Kadang-kadang takdir hanya mempertemukanmu dengan sesuatu yang seharusnya kau temukan.”
Aku mengerutkan kening.
“Dan buku itu?”
“Sudah menunggumu.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Nenek...”
Aku menggenggam tangannya.
“Apa aku harus terus membacanya?”
Nenek menatapku.
“Tidak ada yang memaksamu.”
“Kalau aku berhenti?”
“Tidak akan terjadi apa-apa.”
“Benarkah?”
“Benar.”
“Kalau aku terus membaca?”
“Juga tidak akan terjadi apa-apa.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kalau begitu kenapa semuanya terasa begitu nyata?”
Nenek tersenyum, “Karena sebuah cerita yang baik memang seharusnya membuatmu merasa hidup di dalamnya.”
Aku tertawa kecil.
“Itu bukan jawaban.”
“Memang.”
Aku menghela napas, “Nenek selalu seperti ini.”
“Dan kau masih selalu terlalu banyak bertanya.”
Kami tertawa bersama.
Namun kemudian wajah nenekku berubah serius.
“Sofia.”
“Ya?”
“Jika kau terus membaca, jangan takut pada apa yang kau lihat.”
“Kenapa?”
“Karena ketakutan sering kali membuat manusia salah memahami sesuatu.”
Aku diam.
“Jangan langsung percaya pada apa yang dikatakan orang lain tentang Phantom.”
Aku terkejut.
“Nenek tahu tentang Phantom?”
“Sedikit.”
“Siapa dia?”
Nenek menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Lalu bagaimana aku bisa tahu?”
“Kau akan menemukannya sendiri.”
“Nenek—”
Angin tiba-tiba bertiup lebih kencang.
Aku menoleh.
Pepohonan bergoyang.
Suara nenekku terdengar semakin jauh.
“Sofia...”
“Nenek?”
“Jangan takut pada kisah yang kau baca.”
Aku berdiri.
“Nenek!”
“Dan ingat...”
Suara itu semakin samar.
“Tidak semua monster terlihat seperti monster.”
Aku berlari ke arahnya.
“Nenek!”
Seketika semuanya menjadi putih.
...----------------...
Aku membuka mata.
Napas terengah-engah.
Langit-langit kamar menyambutku.
Aku terdiam.
Jantungku berdetak begitu keras hingga aku dapat mendengarnya sendiri.
Aku menatap jam di meja samping tempat tidur.
Pagi. Aku duduk perlahan.
Mimpi itu.
Nenek.
Buku.
Phantom.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Aku mengusap wajah.
“Tidak mungkin.”
Aku tertawa kecil, “Ini hanya mimpi.”
Namun kata-kata itu terdengar tidak meyakinkan bahkan untuk diriku sendiri.
Aku turun dari tempat tidur.
Tanpa sadar, kakiku membawaku menuju meja kerja.
Buku tua itu masih berada di sana.
Tertutup.
Aku berdiri di depannya.
Terdiam.
Perkataan nenek terus terngiang di kepalaku.
Buku itu tidak berbahaya.
Buku itu hanya membuka sesuatu yang sudah ada.
Jangan takut pada kisah yang kau baca.
Aku menarik napas.
Tanganku perlahan meraih sampul buku.
Aku membukanya.
Halaman-halamannya terbuka dengan mudah.
Aku mencari bagian terakhir yang kubaca sebelum tertidur.
Satu halaman.
Dua halaman.
Kemudian aku menemukannya.
Aku mengenali tulisan itu.
Bab tentang gedung opera.
Mataku berhenti.
Dan tanpa sadar, aku berbisik, “Jangan bergerak.”
Aku membeku.
Itu kalimat terakhir yang kuingat dari mimpiku.
Aku menatap halaman tersebut lebih lama.
Lalu perlahan membalik halaman berikutnya.
Ada tulisan. Tulisan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tanganku berhenti di udara. Jantungku berdegup semakin cepat.
Aku menyadari sesuatu. Mungkin nenek benar.
Buku ini tidak membawaku ke dalam sebuah mimpi.
Mungkin buku ini sedang membawaku...
kembali ke sebuah kisah yang belum selesai.