Xuan Han terbangun di dalam gua sembari mengingat kalimat tentang cinta. Ia hanya tahu namanya, tidak ada yang lain, kecuali kalimat itu.
Berbekal rasa penasaran tentang identitasnya ia mulai menelusuri hutan, bertemu para kultivator, hewan-hewan buas dan berbagi hal unik di dunia itu.
Perlahan-lahan ingatannya kembali pulih dan pada saat ia tahu jika kebenarannya menyakitkan, akankah ia mau menerimanya?
Ikuti perjalanannya yang memegangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harta langit
Naga itu kemudian menurunkan kepalanya. Matanya yang merah menatap Xuan Han. Tubuh Xuan Han tanpa sadar ketakutan dan menegang. Tangannya mencoba mengambil busur dan anak panah, namun semua anak panahnya sudah habis atau terjatuh saat ia berlarian.
Naga itu menyeringai. Membuka mulutnya dan segera melesat. Itu semakin dekat dan lebih dekat.
Sangat cepat. Xuan Han hanya refleks mengangkat kedua tangannya di depan wajah. Tetapi, tiba-tiba ketika bibir bawah naga itu hampir menyentuh mulutnya, naga itu berhenti. Xuan Han bisa melihat sosoknya yang menyeramkan dengan bulu-bulu halus di sekitar bibirnya. Embusan napasnya terasa panas. Bagaimana ia bernapas, itu mengingatkannya dengan kerbau yang sedang marah.
Xuan Han mematung.
Setelahnya kepala naga itu melesat ke belakang sembari meraung-raung marah. Tubuhnya yang melingkar di sekitar pohon juga tertarik. Tidak lama ada raungan yang menggelegar. Ternyata, kera hitam itu menariknya, melemparkannya ke dalam hutan. Suara tubuhnya yang besar terjatuh menimbulkan getaran dan kerusakan hutan.
Kera besar itu meraung.
Xuan Han menutup telinganya. Di sekitarnya ada pohon-pohon yang beterbangan karena ulah naga itu, karenanya ia dapat melihat kera besar itu. Dengan matanya yang hitam, kera itu menatap Xuan Han. Mendengus dan segera berlari mendekat. Jika diperhatikan, ada beberapa luka sayatan di bahunya dan beberapa di perutnya.
Xuan Han tercengang.
Dengan kakinya yang lemah ia berusaha berdiri, mengumpat, kenapa ini bisa terjadi padanya. Ia tertatih-tatih berjalan.
Namun akhirnya kaki kera besar itu mendarat di sampingnya. Xuan Han membeku sebentar, tapi beruntung ia tidak terluka sama sekali. Tidak jauh darinya ada tebing yang curam. Xuan Han menelan ludah pahit. Akan tetapi, ia menemukan celah dan matanya yang redup kembali bersemangat. Berusaha mendekatinya dengan susah payah, namun ketika mencapai 10 meter dari gua itu, tubuhnya tiba-tiba terangkat. Ia bergidik ngeri melihat pohon-pohon besar dan tebing di bawah. Berteriak ketakutan. Ini ulah kera besar itu. Tapi, tiba-tiba naga yang terjatuh itu bangkit, meraung lalu melesat. Bahkan sebelum naga itu sampai, kain yang dipakai Xuan Han robek, hingga membuatnya terjatuh dan berteriak nyaring.
Tubuhnya membentur pepohonan lalu tanah. Rasanya seluruh tubuhnya remuk. Xuan Han perlahan-lahan membuka matanya.
Tidak mati saja sudah menjadi keberuntungannya. Tanah di bawahnya bergetar, dua raungan saling bersahutan. Naga dan kera besar itu saling mencabik-cabik.
Dengan tubuh yang terluka, Xuan Han berusaha mendongak.
Di depannya ada gua. Jika ia berhasil masuk, maka dirinya bisa selamat. Menggertakkan giginya, ia berusaha bangun. Dengan kakinya yang terluka, mungkin karena ranting-ranting pohon, Xuan Han berjalan tertatih-tatih. Rasanya sangat menyakitkan, namun ia berhasil mencapai mulut gua dan terjatuh. Dengan kedua tangannya merangkak hingga masuk.
Di dalam gua yang gelap, beberapa tanaman rambat tumbuh dan ada beberapa kulit ular yang mengering. Batu-batu kecil bergetar dan berjatuhan. Xuan Han menyandarkan tubuhnya di dinding gua. Berusaha mengatur napasnya.
Baru ia merasakan ketenangan, tiba-tiba getaran demi getaran bermunculan dan batu-batu di dinding gua perlahan-lahan runtuh. Melihat ke mulut gua, ada embusan angin kencang. Xuan Han terbelalak. Itu adalah hidung kera besar. Lalu ia menggunakan matanya untuk mengintip ke dalam gua. Rupanya kera itu juga mengincar Xuan Han.
“Aku hanya orang biasa, mengapa kau juga ikut mengejarku?”
Menggertakkan giginya, menggunakan tongkat kecil di sekitar, Xuan Han berusaha berjalan pergi. Kera besar di luar mendengus dan memukul tebing dengan tangannya. Di dalam, Xuan Han merasa pusing dan beberapa kali terjatuh. Ia kesulitan menjaga keseimbangannya. Lalu suara kelelawar muncul, dan mereka segera datang dengan ekspresi panik lalu berusaha keluar.
Xuan Han hanya menunduk menghindari mereka.
Setelah berjalan dengan susah payah, ia akhirnya tiba di dua jalan berbeda. Ketika ia berpikir untuk memilih jalan yang mana, suara desingan muncul dari salah satunya. Lalu ular hijau merayap keluar dari sana. Xuan Han menelan ludahnya. Ini benar-benar mengerikan dan ia tidak tahu mengapa harus bisa seperti ini.
Segera dengan sisa tenaganya ia berusaha berjalan ke jalan yang lain. Ular besar itu mendesis. Matanya tajam, lalu melesat ke arahnya. Xuan Han panik, namun beruntung batu-batu di dinding bergetar lalu jatuh ke tubuh ular itu hingga membuatnya berteriak.
Memanfaatkannya, Xuan Han terus berjalan. Sayang sekali ada lembah yang dalam di depannya. Ia diam di sana, sementara ular itu dengan ganas melesat ke arahnya. Menghela napas. Tidak punya pilihan lain, ia segera melompat.
Tubuhnya diterpa angin, lalu akhirnya masuk ke dalam air yang dalam. Karena tubuhnya terluka, rasanya perih. Xuan Han memejamkan matanya sebentar sebelum akhirnya ia berusaha pergi ke pinggir. Ular di atas segera muncul dan menemukan mangsanya melesat ke arahnya. Xuan Han terbelalak. Ia ingin segera berlari dan ular itu memiliki ekspresi penuh kepuasan.
Tapi tiba-tiba, suara mendesing muncul disertai cahaya putih yang melesat. Ada garis-garis muncul di tubuh ular itu lalu tubuhnya terpotong-potong menjadi beberapa bagian.
Xuan Han mencari sumbernya, tapi ia tidak menemukannya. Berbaring di pinggir kolam, napasnya jadi cepat. Diam sebentar, akhirnya ia tertarik dengan cahaya ungu yang berkedip-kedip di permukaan kolam.
“Kristal roh?”
Xuan Han berpikir sebentar, lalu mengertakkan giginya. Ia kembali masuk ke kolam untuk mendapatkannya. Tubuhnya terasa lemah, dan ia ingat bagaimana Li Yin menggunakannya.
“Apa bisa digunakan seperti itu?”
Ia ragu-ragu. Tapi kemudian memecahkannya pada batu. Kristal itu pecah menjadi beberapa potongan. Xuan Han menghirup napas panjang-panjang.
Tidak lama pecahan kristal itu terbang, menjadi cahaya ungu lalu masuk ke dadanya, perlahan-lahan menyatu ke jantungnya. Dua cahaya merah yang berputar-putar bergerak semakin cepat dan akhirnya menyatu dengan cahaya ungu kristal itu. Lalu setelah beberapa saat, cahaya itu masuk ke jantungnya. Xuan Han merasakan sakit dan berteriak. Ia mencengkeram batu-batu yang ada di sekitarnya. Kepalanya terasa membesar dan mengecil. Ia bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dan keras. Di saat bersamaan jantungnya sedikit membesar. Ada energi yang kuat mengalir ke seluruh tubuhnya. Xuan Han merasakan kepanasan. Ia berteriak kesakitan, sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. Suaranya bergema dalam gua itu.
...----------------...
Sementara di luar, hutan yang dulunya penuh warna hijau dan perawan kini hancur oleh dua binatang buas yang saling bergulat itu. Suara naga dan kera itu menggelegar. Pohon-pohon hancur, terbakar dan tumbang. Tanah di sekitar mereka bergetar. Namun, tidak lama perlahan-lahan awan-awan mulai muncul. Tidak jelas dari mana arahnya. Mereka semakin banyak dan menutupi langit hitam malam. Lalu ada kilat putih dan suara guntur bergema.
Xiao Meimei yang berusaha membantu Li Yin menoleh ke langit. “Kakak, apa dia selamat?”
Li Yin tidak segera menjawab. Melihat ke langit di mana dua monster itu bertarung, rasanya orang seperti Xuan Han sulit selamat. Namun ketika menyentuh tangannya, melihat apa yang ada di dalamnya, Li Yin tidak tahu harus menjawab apa.
Xiao Meimei sepertinya tidak terlalu peduli dengan pertanyaannya, ia hanya diam menonton. Mereka berada cukup jauh dari dua monster itu, sehingga getaran-getarannya sedikit terasa.
Tidak lama, seperti ada lubang angin topan atau lubang hitam di langit. Angin bertiup dan daun-daun beterbangan ke dalam lubang di langit seolah sedang menyerap apa yang ada di sekitarnya.
“Kakak, apa itu?”
Li Yin tidak menjawab.
Suara lonceng besar bergema. Dua monster yang sedang bertarung tiba-tiba berhenti dan menatap langit.
Tiba-tiba dari dalamnya perlahan-lahan pagoda biru cerah dengan gantungan lonceng muncul. Lonceng itu berbunyi sembari bergoyang-goyang.
Tiba-tiba energi gravitasi yang kuat menekan. Dua kaki monyet itu ditekan ke tanah. Ia mengertakkan giginya. Naga itu juga menyentuh tanah, tidak bisa bergerak. Angin bergerak dalam kekacauan, membawa ribuan daun-daun yang berguguran. Petir berkedip-kedip dan guntur meraung. Bunyi lonceng itu bergema.
Perlahan-lahan pagoda dan lonceng itu turun.
Tubuh kera besar itu perlahan-lahan terangkat. Ada ekspresi keras kepala dan kebencian di wajahnya. Ia berusaha mencengkeram tanah di sekitar, namun perlahan-lahan tubuhnya terangkat. Naga itu juga berusaha melingkari tubuhnya, namun itu juga sia-sia. Pada akhirnya kera itu terangkat dan begitu juga naga itu. Dalam usaha terakhirnya, naga itu meraung menyemburkan api, sementara kera itu ingin memukulnya, tapi tiba-tiba keduanya lenyap. Perlahan-lahan pagoda dan lonceng itu mulai kembali masuk ke lubang hitam dan malam kembali menjadi tenang.
Dari kejauhan, Wang Hao berdiri dan tersenyum. “Itu... Itu harta langit.”
Nona Xie di sampingnya hanya berdiri menatap malam yang kembali normal.