NovelToon NovelToon
KUTUKAN KUYANG

KUTUKAN KUYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Tumbal
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Teror yang mengguncang Desa Keramat sudah melahirkan kondisi yang mencekam bagi warga.

Dimana ada banyak anak-anak yang menghilang, wanita hamil, dan bahkan orang dewasa tak luput dari serangan tersebut.

Siapakah penerornya?

Ikuti kisah selanjutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tragedi

Adzan subuh sudah selesai. Tetapi tangisan di rumah Uhung belum berhenti.

Berita kematian Uhung dan bayinya menyebar cepat seperti api.

“Ini pasti ulah Kuyang!”

"Kita harus cari siapa pelakunya!"

“Bakar hidup-hidup jika ketemu!!”

“Jangan beri kesempatan untuk hidup...”

Suara-suara amarah yang menggelegar tak dapat lagi untuk di tahan.

Sementara itu, di rumah betang, jenazah Damang Jaya sudah dibaringkan. Ditutup dengan kain putih.

Dayang Sari duduk di sampingnya, menggenggam duhung dan kalung manik hitam. Matanya masih terlihat bengkak.

Arkan kembali ke rumah betang dengan membawa Pak Taslim dan dua orang warga lainnya.

“Dayang... kita harus umumkan. Atok meninggal karena sakit,” kata Arkan pelan. Ia berbohong demi melindungi Dayang Sari dari amukan warga.

Pak Taslim menatap curiga. “Sakit? Mendadak? Sama seperti Uhung?”

Dayang Sari hanya menggeleng. Tidak sanggup bicara.

"Saya juga baru tau, karena di telpon Dayang Sari. Atok Damang mendadak sesak kena angin duduk," Arian menyela.

Pak Taslim terdiam sejenak, dan akhirnya meminta warga untuk segera menggali kubur tiga liang. Dimana untuk Uhung, anak Uhung, dan juga untuk Damang Jaya.

Saat mentari naik di ufuk timur, warga pesisir sungai Mahakam tampak begitu heboh, berita meninggalnya Uhung dan anaknya, beserta Atok Damang, menjadi berita yang hangat di perbincangkan.

****

Malam mulai merangkak. Orang-orang bertakziah ke rumah Uhung, dan hanya beberapa orang saja yang ke rumah Atok Damang.

Entah mengapa, mereka merasa janggal dengan semua peristiwa tersebut.

"Mengapa sangat kebetulan? Atok Damang meninggal bersamaan dengan Uhung?" ucap Pak Taslim dengan keningnya yang berkerut.

Pak Thamrin tampak mengurut janggutnya. "Aku merasa jika ada yang salah dengan semuanya," ia menimpali.

"Jangan begitu... Nanti jatuhnya fitnah. Apalagi orangnya sudah meninggal," Pak Muslim menyela.

"Tapi.. Jika di lihat dari cara kematian Uhung, dia itu tidak bunuh diri," Apoi menyangkal. Sebab ia yang pertama kali menemukan jasad Uhung tersangkut di dahan pohon.

Serentak para warga menatapnya.

"Bagaimana kamu bisa menyimpulkannya?" Pak Muslim menyela. Ia merasa gugup saat bertanya.

"Karena lidahnya tidak menjulur, dan bagaimana mungkin ia bisa sampai di atas dahan tersebut? Matanya membeliak karena melihat sesuatu yang sangat mengerikan," Apoi berusaha menjelaskan dengan sangat detail.

Para warga merasa bergidik ngeri. "Lalu, Atok Damang? Mengapa mereka bisa meninggal secara bersamaan? Dan semenjak Dayang pulang ke kampung, semua mulai terasa aneh," Pak Taslim menimpali.

Mendadak mereka merasakan bulu kuduk yang meremang.

"Kenapa aku jadi merinding, ya?" Pak Muslim bergidik ngeri. Ia mengambil kunci motornya. "Saya pulang dulu. Perasaan saya tidak enak," ucapnya, lalu beranjak dari balai.

"Saya juga mau pulang. Perut saya memulas," ucap Apoi, dan meraih senternya.

Melihat Muslim dan Apoi pulang ke rumah, warga satu persatu meninggalkan balai, dan entah persaan apa yang membuat mereka merasa sangat tak nyaman. Seolah ada yang memperhatikannya.

*****

Malam semakin larut. Dayang Sari duduk termangu di sudut rumah betang. Lututnya ditekuk, dan menopang dagunya. Sedangkan Arkan berniat hendak pulang

"Dayang... Saya pulang dulu. Saya merasa tak enak dengan pandangan warga jika berdua di rumah dengan kamu," ucapnya dengan ragu.

Jauh di dalam hatinya, ia ingin sekali menemani sang gadis.

Dayang Sari mengangguk pelan. Tanpa menjawab apapun. Seba saat ini, perasaannya amatlah terguncang.

"Pulanglah, sebelum warga mencurigai semuanya," jawanya dengan suara yang pelan dan bergetar, tetapi juga serak.

Deeeegh!

Arkan merasakan detak jantungnya terhenti sejenak. Sebab suara yang keluar dari tenggorokan Dayang Sari bukanlah suara manusia biasa.

Ia yang hampir pergi, menghentikan langkahnya.

Dadanya bergemuruh. Ia melihat Dayang Sari sudah masuk ke dalam kamar Damang Jaya.

Mendadak suara lolongan anjing bersahutan, dan membuat Arkan merasakan bulu kuduknya meremang.

"Tidak... Tidak... Dayang, lawan Dayang, jangan!" ucapnya dengan wajah pucat.

Di kamar, tubuh Dayang Sari sudah menggigil. Kalung manik darah di genggamannya terasa panas. Duhung di sampingnya bergetar sendiri.

Dari dalam dadanya terdengar suara.

“MINUM SEKARANG... HISAP... ATAU KAU YANG AKAN MATI...”*

Itu suara Induk Jarum. Kutukan itu menuntutnya.

Setiap cicit perempuan harus jadi Kuyang. Harus ada tumbal setiap waktu yang ditentukan. Kalau tidak, tubuhnya sendiri yang akan dihisap dari dalam.

Dayang Sari mencakar lehernya. “Tidak... aku tidak mau... Aku guru TK... aku sayang anak-anak...” tolaknya. Ia sudah berbaring di atas ranjang kayu. Ia mencoba meronta, tetapi di dalam dirinya, kendali jauh lebih kuat

Arkan berlari ke dalam kamar. Ia tersentak kaget dengan apa yang di lihatnya, dan berusaha untuk menahannya.

“Dayang, kamu harus kuat! Kita cari cara lain!”

Tapi tubuh Dayang Sari terangkat sendiri. Matanya memutih. Rambutnya menjuntai. Kekuatan Induk Jarum jauh lebih besar.

BRAAAK!

Jendela terbuka dengan sendirinya. Angin maa nan dingin menerobos masuk.

Tubuhnya bergetar hebat. Kepalanya lepas dari badan. Usus dan organ dalam menjuntai. Berubah menjadi Kuyang. Dan terbang melayang.

Arkan hanya bisa berteriak tertahan. Ia tak ingin membuat warga tau. Ia menutup mulutnya, dengan mata yang membeliak.

“DAYANG!!!”

Ia menggelengkan kepalanya.

Dayang Sari melesat dari jendela. Kemudian menembus kegelapan malam.

Degupan di jantung Arkan memburu sepuluh kali lipat lebih cepat.

Ia bersandar di daun jendela. Ia akan menunggu Dayang Sari untuk pulang, sembari menatap tubuh sang wanita yang terbaring tanpa kepala dan organ dalam tubuh.

Jika saja ada yang mengambil tubuh tersebut, maka Dayang tidak akan dapat kembali, dan ia akan mati sebelum subuh.

****

Dayang Sari melesat di tengah kegelapan malam yang kian sunyi. Suasana begitu hening, sebab ketakutan warga mulai memuncak.

Rumah-rumah tampak sunyi. Warga mulai terlelap dengan tidurnya, meski ketakutan masih menyelimuti hati mereka.

Tetapi di rumah Uhung, istrinya masih berduka, isakan tangisnya masih terdengar samar.

Wanita itu kehilangan dua orang yang dicintainya sekaligus.

Di ujung kampung, terdapat sebuah rumah tampak sendiri. Di dalamnya terdapat satu keluarga dengan tiga anak yang masih kecil. Anak bungsu berusia satu tabun, masih dalam kondisi sedang pandai merangkak dan berjalan berpegangan dinding.

Di saat kedua orangtuanya terlelap dalam tidur, ia justru terbangun. Lalu merangkak dan bermain sendirian.

Dayang Sari mengendus aroma darah yang sangat segar, dan dengan cepat melayang menuju ke arah rumah korban.

Dan aat ini, langit tanpa sinar bulan.

Bayi itu bermain sendirian, tanpa berisik, tanpa suara tangisan.

Hingga saat yang tepat, Dayang sudah berada di jendela.

Tetapi sang bayi justru merangkak ke dapur, dimana dinding rumah betang di bagian itu tampak lebar.

Dayang berputar ke sisi dapur, dan dengan cepat menyusup masuk melalui celah dinding.

Bayi itu terdiam saat melihat Dayang Kuyang yang sudah menyeringai dengan dua bola mata merah dan juga gigi taring yang tajam dan meruncing.

"Maafkan aku..." ucap Dayang Sari kepada sang bayi yang menatapnya dengan melongo.

Suara Dayang Sari terdengar parau, sebab itu adalah suara kutukan.

Srrrrrrrk!

Dua lubang di ubun-ubun tertancap, dab ia menghisapnya dengan cepat. Tidak ada darah yang menetes.

Bayi itu kejang, dan perlahan tubuhnya lemas, sebab sudah kehabisan darah.

tubuh mungil itu ambruk, dan tergeletak di lantai tanpa nyawa.

Dayang Sari langsung pergi dan menghilang. Ia melesat di kegelapan malam, dan di sertai dengan suara lolongan anjing.

Arkan yang tak tidur, masih menunggu di bawah jendela. Ia mendengar suara ketukan, dan dengan cepat membukanya.

Wuuuussh!

Dayang Sari masuk dengan cepat, dan Arkan menutup jendela dengan terburu-buru.

Arkan melihat bagaimana Dayang menyatu dengan tubuh yang ditinggalkannya saat tadi.

1
tati st🌼🌼
next
tati st🌼🌼
ikut ngos2an jadinya😅
Siti Yatmi
aduh..pas tegang..eh udahan....
neni nuraeni
semoga Arkan tidak ketauan dan segera mndptkn 2 minyak,,, 💪💪 Arkan 💪💪💪pula buat kak thornya biar upnya dbnykin🤭,lnjutt
FiaNasa
semangat Arkan kau pasti bisa
tati st🌼🌼
ayo semangat arka kamu pasti berhasil
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
semoga Arkan berhasil,semangat Arkan,, semngt juga buat kak thor nya
Siti Yatmi
ayo arkan semangat kamu pasti bisa..💪 author cantik juga yg semangat yah up nya...😍
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: 😘😘😘😘😘😘😘
total 1 replies
neni nuraeni
lnjuttt
neni nuraeni: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
FiaNasa
baguslah sudah ada titik terang untuk bisa melepaskan kutukan itu
tati st🌼🌼
🧡🧡🧡🧡🧡
tati st🌼🌼
katanya dlm sebulan gak bakal.minta tumbal dulu,dasar iblis janji palsu
neni nuraeni
iiihhh sllu deh bikin aku pnsrn Bae kak thor mah🤭🤭,, lnjuttt lahhh
FiaNasa
klau cuma ngomong aja mau cari jalan kluar tanpa bertindak mana bisa Arkan,,dr awal cuma ngomong terus tp gak ada tindakan
FiaNasa: udah tak siapin gayung ni thor buat getok si arkan😅😅😅
total 2 replies
neni nuraeni
kuyang oh kuyang kau meresahkan sekali,,, pengen tak bakar kau kasian dayang
neni nuraeni: betul itu kak 😂😂tapi jijay juga kali kak😁😁
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Damang Jaya meninggal?

Semoga Dayang Sari dan Arkan menemukan cara agar bisa memutus mata rantai kutukan itu..

Kasihan kan Dayang Sari kalau harus jadi Kuyang terus 😭
neni nuraeni
ih tatut.. semoga mereka bisa menemukn cara agar dayang terlepas dr kutukan itu
Anggita.🤗
Syng sekali, gadis ko jd kuyang😫, mungkin kh ilmu hitam itu diturunkan dri kakek buyutnya ya.
Secara ilmu hitam itu katanya turun temurun, dan harus punya pewaris, isshh geri juga ya. 😫
Anggita.🤗
Saya dulu juga pernah diganggu kuyang thor, saat ber 2 sm ank ku yg waktu itu msh balita drumah.
Sumpah deh takut bngt, waktu itu aku lg haid, pas waktu hampir tengah malem diganggu.
Nafas nya berat dan nyaring,😫persis diatas atap dikamarku.

Saking takut nya aku baca ayat kursi, Allhamdulillah dia pergi juga, dan trdengar dia jatuh.
Anggita.🤗: betul bngt.
total 2 replies
Anggita.🤗
Wahh ada bahasa daerah nya, atau bahasa Banjar🤭thor, kalimantan selatan merupakan suku Banjar.
Sya sendiri punya suami orang Banjar, tetapi saya asli suku Dayak, salam persahabatan dan salam sehat thor ku. ☺
Anggita.🤗: oh gitu🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!