NovelToon NovelToon
LAST TRIP EXPRESS

LAST TRIP EXPRESS

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 - Benda Pusaka

Keheningan pascakejadian di ruang pribadi Madam Helga menggantung pekat di ruang depan kantor Last Trip Express. Jam dinding tua bermodel kuno berdetik lambat, mengiringi jemari Damar yang sibuk merapikan berkas-berkas tur perdana di atas meja kayu.

Meskipun pikirannya mencoba fokus pada laporan perjalanan, bayangan cermin kuno dan derita tersirat di wajah sang atasan terus terngiang-ngiang.

Tiba-tiba, suara derit halus memecah kesunyian. Dari balik gorden beludru hitam, Madam Helga keluar. Ia kini sudah mengenakan syal bulu mewahnya kembali, tatanan rambutnya rapi tanpa sehelai pun yang menyimpang, dan tatapan matanya kembali dingin nan tajam. Topeng keangkuhannya telah terpasang rapat.

"Saya ada urusan penting dengan Dewan Transmisi Gaib di Sektor Pusat," ujar Madam Helga datar, membetulkan sarung tangan sutra hitamnya. "Rapikan semua dokumen itu, kunci pintu depan, dan jangan menyentuh apa pun yang bukan milikmu. Saya akan kembali sebelum pagi tiba."

"B-Baik, Madam," jawab Damar reflek mengangguk cepat.

Tanpa sepatah kata lagi, Madam Helga mengibaskan tangannya. Kabut keemasan merekah di udara, dan dalam sekali kedipan mata, sosok wanita itu menguap sepenuhnya dari ruangan, meninggalkan keheningan yang serasa lebih berat dari sebelumnya.

Damar menghela napas panjang, menurunkan bahunya.

"Galak banget, padahal tadi udah mau melunak dikit," gumamnya pelan.

Pria muda itu melanjutkan pekerjaannya merapikan lembaran kertas itinerary. Saat ia menyusun bundel dokumen terakhir di meja belakang dekat rak arsip tua, tangannya secara tidak sengaja menyenggol tumpukan buku tebal di sudut meja.

BRAK!

Sebuah kotak kayu hitam berukuran sedang terjatuh dari selipan rak bawah, menghantam lantai kayu tebal hingga penutupnya terlepas. Isi kotak itu berserakan di sekitar kaki Damar.

"Aduh, teledor banget sih gue," cetus Damar panik. Ia berlutut cepat-cepat untuk memunguti benda-benda yang berserakan.

Sebagian besar isi kotak adalah gulungan perkamen tua yang rapuh, kristal pelindung yang retak, dan segel kuno berdebu.

Namun, sebuah buku bersampul kulit tebal berwarna cokelat pekat menarik perhatiannya. Sampulnya terbuat dari kulit hewan tua dengan ukiran garis-garis emas yang pudar oleh zaman.

Di bagian tengahnya terdapat lambang bunga mawar yang terlilit rantai perak—simbol yang sama persis dengan ukiran pada jam saku Chrono-Compass miliknya.

Buku itu terbuka di lantai, memperlihatkan halaman-halaman kertas merang yang menguning.

Damar memungut buku tersebut. Tangannya gemetaran tipis saat menyapu debu halus di permukaannya. Lembarannya dipenuhi dengan tulisan tangan rapi yang menggunakan aksara kuno—perpaduan antara simbol Jawa Kuno dan kaligrafi Latin klasik dari ratusan tahun lalu.

Damar tidak bisa membaca deretan kata-katanya, namun bau tinta herbal dan aura sihir lembut yang menguar dari lembaran itu terasa begitu familiar.

Saat ia membalik halaman demi halaman secara acak, gerakan jemarinya mendadak terhenti di halaman tengah.

Napas Damar tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar.

Di halaman itu, terlukis sebuah sketsa terperinci yang dibuat menggunakan tinta hitam dan sapuan cat air tipis.

Lukisan itu menggambarkan sosok seorang pria muda yang berdiri di samping panggung teater kuno, mengenakan jubah panjang gaya abad ke-19 dengan sebuah lentera gaib di tangannya.

Namun, bukan gaya pakaian atau latar belakangnya yang membuat darah Damar mendadak terasa membeku. Melainkan wajah pria dalam lukisan itu.

Garis rahangnya, bentuk matanya yang agak tajam namun memancarkan kelembutan, tahi lalat kecil di sudut alis kirinya, hingga struktur rambut ikalnya yang sedikit berantakan.

Wajah itu adalah salinan sempurna dari wajahnya sendiri. Wajah Damar.

"I-Ini ... apa-apaan ...?" bisik Damar dengan suara gemetar hebat. Tangannya sampai bergetar kencang hingga lembaran kertas tua itu berderit pelan.

Damar mendekatkan buku itu ke matanya, mencoba mencari kesalahan atau ilusi optik. Namun semakin ia memperhatikannya, semakin jelas bahwa lukisan itu memang menggambarkan dirinya—atau seseorang yang berparas identik dengannya dari era yang jauh melenceng dari zamannya saat ini.

Di sudut bawah lukisan tersebut, ada sebuah catatan kecil yang ditulis dengan tinta merah pudar. Berbeda dengan bagian buku lainnya yang berbahasa aksara kuno, kalimat di pojok bawah ini ditulis dalam Bahasa Melayu-Jawa klasik yang masih bisa dieja oleh Damar.

"Untuk jiwamu yang terikat janji. Pemandu Pertama Last Trip Express. Walau ingatanmu terhapus oleh siklus reinkarnasi, takdir akan selalu membawamu kembali ke sisiku untuk membayar utang darah kita."

Seketika, kepala Damar dihantam oleh gelombang rasa pusing yang teramat sangat!

BZZZZZT!

Pendengarannya berdengung kencang. Kilasan-kilasan bayangan asing yang samar mendadak meledak di dalam kepalanya bagaikan kilatan petir. Suara lonceng gereja tua yang berdentang di tengah malam, bau asap kebakaran teater, jeritan wanita yang memanggil nama "Damar", dan uluran tangan berdarah yang memegang liontin batu hitam.

"Agh ...!" Damar memegang pelipisnya dengan tangan kanan, meringis kesakitan seraya terduduk lemas di lantai kayu.

Sensasi menyakitkan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum lenyap begitu saja, meninggalkan Damar yang terengah-engah dengan peluh dingin membasahi dahinya.

Damar menatap buku di tangannya dengan pandangan campur aduk—antara tidak percaya, takut, dan kebingungan yang luar biasa.

Pemandu Pertama? Utang darah? Siklus reinkarnasi?

"Gue ... gue pernah kerja di sini sebelumnya?" bisik Damar pada ruangan yang sepi. "Wawancara kerja itu ... kontrak tinta merah itu .... Apa itu semua bukan kebetulan?"

Pikiran Damar berputar liar menyusun kepingan-kepingan puzzle. Sikap Madam Helga yang mendadak menerimanya kerja tanpa ragu walau dia penakut setengah mati, tatapan kerinduan wanita itu saat menatap cermin kuno, dan reaksinya yang sangat sensitif saat Damar mencoba mendekatinya.

Apakah sosok pria yang berada di balik kabut cermin di ruang pribadi Madam Helga semalam ... adalah dirinya di kehidupan masa lalu?

Damar meraba dadanya yang berdegup kencang. Rasa hangat dan empati yang selalu ia rasakan saat membantu arwah-arwah seperti Pak Tejo dan Nadia ... apakah kepekaan emosi itu bukanlah bakat alami semata, melainkan ingatan jiwa dari masa lalunya sebagai pemandu tur gaib pertama di agen travel ini?

Tiba-tiba, jam saku Chrono-Compass di dalam saku celana Damar bergetar pelan.

Klak ... klak ... klak ....

Jarum peraknya yang berukir simbol elemen berputar liar, sebelum akhirnya berhenti dan mengunci ke arah petunjuk simbol merah menyala. Sensasi dingin yang menyengat mendadak merayap naik dari ujung kakinya.

Ada aura gaib yang sangat asing, pekat, dan berniat jahat ... sedang berdiri tepat di luar pintu depan kantor Last Trip Express.

Damar menyergap buku tua itu, memasukkannya cepat-cepat ke dalam tas selempangnya, lalu berdiri pelan-pelan seraya menggenggam jam saku peraknya erat-erat.

Ketakutannya kini bukan lagi sekadar pada hantu-hantu biasa, melainkan pada kenyataan kelam tentang dirinya sendiri yang baru saja terkuak.

Sesuatu yang besar sedang mengintip di balik kegelapan malam, dan perjalanan Damar kini tidak akan pernah sama lagi.

1
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!