Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMPARAN UNTUK HENDRA
Suasana di dalam kamar itu begitu hening Hendra masih menatap tajam ke arah Alena dengan napas yang memburu, sementara Bima dan kedua orang tuanya tertegun tak tahu harus berbuat apa. Air mata Alena masih menetes di pipinya yang memerah bekas tamparan tadi. Namun tiba-tiba, Alena menarik napas panjang, dengan tenang dan tegas ia melangkah turun dari tempat tidur. Kakinya sedikit gemetar, tapi ia tetap berdiri tegak di hadapan Hendra.
"Plak!"
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Hendra, suaranya begitu nyaring hingga membuat seluruh isi kamar seakan bergetar. Semua orang yang ada di sana terpaku mematung. Mata Bima, Ibu Ratna, dan Ayah Wijaya membelalak tak percaya. Tidak ada yang menyangka wanita yang selama ini lemah lembut dan selalu menunduk patuh itu berani mengangkat tangan pada mantan suaminya.
"Cukup!" teriak Alena dengan suara bergetar namun penuh kekuatan. "Cukup dengan semua penghinaanmu itu! Sudah cukup! Aku sudah menjauh dari keluargamu! Aku sudah pergi dari kehidupanmu! Aku sudah melepaskanmu, membebaskanmu agar kau bisa hidup tenang bersama wanita yang kau pilih! Tapi kenapa... kenapa kau tidak pernah bisa membiarkan aku hidup tenang sedikit saja? Apa kesalahanku sampai kau selalu datang menyakiti hatiku berulang kali?"
Alena menatap lurus ke mata Hendra yang masih terpaku memegang pipinya yang terasa panas. Air matanya semakin deras, namun suaranya tak kehilangan ketegasan sedikit pun.
"Kalau kamu nggak mau mengakui janin ini, nggak apa-apa! Aku nggak memaksamu! Aku nggak akan datang meminta nafsu atau meminta pengakuan darimu! Tapi tolong... jangan pernah menuduhku hamil dengan pria lain! Jangan pernah merendahkan harga diriku begitu hina!"
Alena lalu menoleh tajam ke arah Siska yang berdiri di belakang Hendra sambil tersenyum sinis. Alena melangkah mendekat, menatap mata Siska tanpa takut sedikit pun.
"Dan kamu Siska..." ucap Alena dengan nada yang sedikit merendah namun tetap menusuk.
"Urus suamimu itu dengan benar ! Jangan biarkan dia berkeliaran sembarangan menuduh orang ! Kalau perlu kunci saja dia rumah, biar tidak keluar mengganggu orang yang sudah tidak ada urusan dengannya! Ingat ya, jangan sampai mulutnya terlalu tajam... atau jangan salahkan aku kalau nanti mulutnya harus aku sapu bersih sampai tidak bisa bicara lagi!"
Alena menyeringai tipis, nada bicaranya terdengar sedikit lucu namun mengancam, membuat Siska tak sadar mundur selangkah sambil menutup mulutnya seolah takut benar-benar disapu.
"Kalian berdua... tolong keluar dari kamarku sekarang juga!" perintah Alena sambil menunjuk pintu dengan tangan gemetar. "Aku nggak mau ada kalian di sini satu detik pun lagi!"
Hendra mengeratkan rahangnya, wajahnya merah padam menahan amarah dan rasa malu. Ia melangkah maju hendak membentak balik, "Kamu sudah mulai berani sekali sekarang ya Alena! Siapa yang mengajarimu bicara begitu?"
"Keluar!" bentak Alena sekali lagi semakin keras.
Namun Hendra seolah tak mendengar, ia justru berdiri tegak di tempatnya seakan tak mau pergi. Melihat itu, Bima yang sedari tadi diam akhirnya melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia langsung meraih lengan Hendra dengan kuat.
"Sudah cukup mas! Silakan keluar sendiri, atau saya yang harus mengantar Bapak pergi secara paksa?" ucap Bima dengan suara rendah namun penuh wibawa.
"Kamu berani menyentuhku?!" Hendra mencoba melepaskan tangannya, namun cengkeraman Bima begitu kuat hingga ia tak berdaya.
"Silakan pergi sendiri secara baik-baik. Jangan memaksaku melakukannya dengan cara lain," ancam Bima tegas.
Melihat tatapan tajam Bima yang tak main-main, Hendra akhirnya terpaksa berjalan mundur. Bima berjalan di belakangnya hingga pintu kamar, lalu mendorong Hendra dan Siska keluar sepenuhnya. Tak lupa ia menutup pintu itu dengan rapat dan menguncinya pelan.
Setelah memastikan mereka benar-benar pergi, Bima berbalik kembali menghampiri Alena yang kini sudah jatuh berlutut di tepi tempat tidur sambil menangis sejadi-jadinya. Bahu gadis itu terguncang hebat menahan tangis yang tertahan sejak tadi.
Bima mendekat perlahan, lalu tanpa ragu ia memeluk tubuh Alena yang terguncang itu. Pelukannya begitu hangat, tulus, dan penuh perlindungan.
"Sudah... jangan menangis lagi... Tidak ada yang berani menyakitimu di sini..." bisik Bima lembut sambil mengusap punggung Alena pelan-pelan.
Di samping mereka, Ibu Ratna mendekat sambil mengusap bahu Alena dengan penuh kasih sayang. "Anakku yang tabah... Jangan kau tangisi pria yang tidak tahu berhargamu. Kau jauh lebih berharga dari apa pun."
Ayah Wijaya pun ikut mendekat dengan wajah penuh penyesalan. "Maafkan kelakuan anak itu ya... Sungguh tidak sopan sekali. Kalau kau mengizinkan, kami akan selalu ada di sini untuk melindungimu."
Alena memeluk erat dada Bima, seolah menemukan sandaran yang selama ini hilang dari hidupnya. Tangisnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Sementara itu di luar pintu kamar, Hendra berdiri mematung dengan napas yang masih memburu. Pipi kanannya terasa perih dan panas, bekas tamparan Alena yang seakan membakar kulitnya. Siska berdiri di sampingnya sambil menatap pintu itu dengan tatapan tidak suka.
"Sudahlah Mas... Kita pergi saja dari sini. Buat apa meladeni wanita yang sudah gila begitu?" ajak Siska sambil menarik lengan Hendra pelan.
Hendra melepaskan tangannya kasar. "Kau diam saja! Kau tidak tahu apa-apa!" bentaknya tanpa menoleh.
Siska mengerutkan kening, merasa kesal namun tak berani membantah. Mereka pun berjalan meninggalkan lorong rumah sakit dengan langkah berat.
Sesampainya di rumah, suasana langsung menjadi tegang begitu mereka melangkah masuk. Bu Sari sudah menunggu di ruang tengah dengan wajah cemas sekaligus tidak sabar. Begitu melihat wajah Hendra yang memerah dan tampak marah besar, Bu Sari langsung bangkit menghampiri.
"Hendra! Kamu dari mana saja? Kenapa wajahmu merah begitu? Apa yang terjadi di rumah sakit?" tanya Bu Sari bertubi-tubi sambil menatap wajah anaknya lekat-lekat.
Hendra melepaskan dasi dengan kasar, lalu duduk di kursi ruang tengah sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Tidak ada apa-apa Bu..." jawabnya singkat, berusaha menahan amarah yang masih tersisa.
"Tidak ada apa-apa? Kamu pikir Ibu tidak tahu apa-apa? Lihatlah wajahmu itu! Ada bekas tamparan di pipimu! Siapa yang berani melakukannya padamu?!" Bu Sari berseru kaget sambil memegang pipi Hendra dengan gemetar. Matanya langsung menatap tajam ke arah Siska yang berdiri diam di sudut ruangan. "Siska! Kamu yang melakukannya pada suamimu sendiri?!"
Siska langsung melangkah maju dengan wajah tak terima. "Ibu ini bicara apa sih! Mana mungkin aku berani menyakiti Hendra! Itu bekas tamparan si Alena!"
Mendengar nama Alena disebut, mata Bu Sari langsung terbelalak.
"Alena? Alena yang menamparmu?!" Bu Sari menoleh cepat ke arah Hendra. "Benarkah itu Hendra? Wanita yang dulu selalu menunduk patuh dan tak pernah bersuara itu berani menamparmu?"
Hendra menghela napas panjang, lalu menceritakan semuanya secara singkat mulai dari pertemuannya di lorong rumah sakit, tuduhan yang ia lontarkan, hingga tamparan yang Alena berikan.
Bu Sari mendengarkan dengan napas yang semakin berat. Wajahnya berubah-ubah dari kaget, marah, hingga tak percaya. Saat cerita selesai, Bu Sari berdiri gemetar di tengah ruangan.
"Jadi... Alena benar-benar hamil..." gumam Bu Sari pelan, matanya menerawang jauh seolah teringat sesuatu. "Dan kamu menuduhnya begitu... lalu ia menamparmu..."
"Ibu... Alena itu pasti wanita tidak tahu diri sekarang! Sudah berani melawan dan berbuat kasar!" potong Siska dengan nada kesal.
"Diam kau!" bentak Bu Sari tiba-tiba membuat Siska terkejut. "Kau tidak tahu apa-apa! Dulu Alena tidak pernah berbuat kasar sekalipun aku menindasnya habis-habisan! Kalau sampai ia berani menampar Hendra, berarti... berarti Hendra benar-benar telah melampaui batas kesabarannya!"
Bu Sari terduduk lemas di kursi, air matanya mulai menetes perlahan. Rasa bersalah yang selama ini ia coba sembunyikan kini kembali menyeruak dengan dahsyat.
"Alena hamil... cucu kandungku..." bisik Bu Sari dengan suara bergetar penuh penyesalan. "Dan Hendra... kau justru menuduhnya hamil dengan pria lain... Apa yang telah kau lakukan Nak... Kau benar-benar telah menyakiti hatinya..."
"Ibu membelanya terus saja!" Hendra berdiri dengan amarah yang kembali meluap. "Dia yang berani menamparku! Dia yang tidak tahu berterima kasih!"
"Dia menamparmu karena kau yang memancingnya!" Bu Sari menatap tajam anaknya. "Pikirkan Hendra! Sejak dulu Alena tidak pernah bersalah padamu! Dialah yang selalu sabar menghadapi kelakuan kita semua! Dan sekarang... saat dia sedang hamil dan sendirian... kau datang menuduhnya begitu kasar... Pantas saja dia marah!"
Bu Sari menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya ikut bergetar menahan tangis.
"Seandainya dulu aku tidak begitu memaksamu... Seandainya aku tidak begitu kejam padanya... Mungkin Alena tidak akan pergi... Mungkin sekarang dia masih ada di sini, membawa cucu kandungku..."
Suasana di ruang tengah itu seketika menjadi hening. Hanya terdengar suara isak tangis Bu Sari dan napas berat Hendra yang mulai menyadari bahwa mungkin saja... mungkin saja ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.
GIMANA, ADA YANG MAU REQ NGGAK ALENA NYA HARUS APA, IBU MERTUANYA GIMANA HENDRANYA GIMANA
bantu like ya